[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.122



Entah Saturnus harus mengekspresikan perasaannya dengan cara apa sebab ia mendapatkan kabar bahagia di saat anak dan istrinya sedang dirundung duka.


Karena khawatir melihat Siti yang muntah-muntah hingga wajahnya memucat, ia jadi memanggil dokter kenalannya untuk memeriksakan Siti. Dan menurut dugaan sementara dokter tersebut, Siti bukanlah sakit melainkan sedang mengandung. Namun, untuk memastikan, dokter tersebut menyarankan Saturnus membawa Siti ke rumah sakit agar diperiksa di dokter spesialis kandungan.


Menuruti saran sang dokter, Saturnus pun segera mengajak Siti malam itu juga ke dokter, sedangkan Dodi mereka titipkan dengan Damar sementara mereka pergi ke rumah sakit. Dan sesuai dugaan dokter sebelumnya, ternyata istrinya tersebut memang benar-benar tengah mengandung.


Rasa bahagia membuncah dan menyeruak begitu saja. Dirinya yang tadi ikut terlarut dalam kesedihan, dalam sekejap mata merasa begitu bahagia. Ia tak menyangka, setelah pagi tadi kabar bahagia kehamilan istri atasannya datang di saat gemuruh duka menyelimuti mereka, kini kabar bahagia itu juga mendatangi dirinya.


Saturnus tentu saja bahagia. Ia akan menjadi ayah kembali. Setelah hadirnya Dodi sebagai putra sambungnya, kini ia akan menambah satu anggota keluarga lagi yang berasa dari benihnya sendiri. Dikecupnya hampir seluruh wajah Siti sebagai ungkapan terima kasih karena telah bersedia menjadi ibu dari anak-anaknya.


"Terima kasih, terima kasih, terima kasih, sayang. Terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku, terima kasih sudah menerimaku menjadi suamimu. Terima kasih mau menjadikanku ayah Dodi, dan terima kasih kau sudah bersedia menjadi ibu dari anakku. Terima kasih atas hadiah terindah ini. Aku menyayangimu, sayang. I love you," bisik Saturnus lirih setelah mengecup seluruh bagian wajah Siti tanpa terkecuali.


Siti yang bukan hanya mendengar ungkapan terima kasih, tapi juga mendengar ungkapan cinta yang baru kali ini ia dengar dari suaminya tersebut, tentu saja merasa senang bukan main. Rasa bahagia membuncah hingga matanya berkaca-kaca. Ia pikir suaminya itu tak pernah mencintainya. Ia pikir, segala perhatiannya selama ini tak lebih dari rasa tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Tapi nyatanya, suaminya mencintainya. Akhirnya, ia bisa merasakan dicintai seorang pria. Akhirnya, rasa cintanya yang entah tumbuh subur sejak kapan berbalas juga.


"Ke-kenapa kamu nangis? Apa-apa ada kata-kataku yang salah? Atau ada kata-kataku yang menyinggungmu? Atau ada yang sakit?" cecar Saturnus panik saat melihat mata Siti yang memerah dan berkaca-kaca. Tak lama kemudian, air matanya pun luruh membasahi pipinya. Siti pun segera berhambur ke pelukan Saturnus yang dibalas Saturnus dengan dekapan erat dan hangat.


Siti menggeleng di dalam dekapan Saturnus.


"Nggak, kata-kata mas nggak ada yang salah ataupun menyinggungku. Justru sebaliknya, ini merupakan tangis bahagia. Bukan hanya bahagia karena aku kembali dipercaya untuk mengandung bayi mungil, buah hati kita, buah cinta kita, tapi juga karena ... karena ungkapan cin-cinta mas tadi," ujarnya dengan mencicit di ujung kalimat membuat Saturnus terperangah kemudian terkekeh kecil.


"Sebenarnya sudah cukup lama aku ingin mengungkapkannya, tapi ... tapi aku bingung bagaimana cara mengungkapkannya. Tapi karena hari ini hari spesial, Aku memberanikan diriku mengungkapkannya."


"Terima kasih, mas. Aku juga mencintaimu," ucap Siti membuat perasaan Saturnus kian bahagia.


Setelah mendengar penjelasan dokter dan menebus beberapa obat serta vitamin, mereka pun segera pulang.


"Jadi bagaimana?" tanya Damar yang ikut antusias mendengarkan kabar baik dari asisten pribadinya tersebut.


"Alhamdulillah, bos, positif," ujar Saturnus sumringah.


"Wow, selamat, Sat! Ternyata kecebong mu topcer juga. Hahaha ... " ucap Damar kemudian tergelak.


"Anak-anak bagaimana, tuan?" tanya Saturnus dengan wajah serius.


Damar menghela nafasnya dengan ekor mata melirik ke arah pintu kamar Raja dan Ratu.


"Mereka masih bersedih. Mereka masih benar-benar terpukul. Dodi juga begitu. Padahal belum lama ia merasakan kebahagiaan bersama Hendrik, tapi nyatanya itu juga merupakan hari terakhir mereka bisa bersama. Aku benar-benar tak menyangka kalau Dodi pun sudah tahu kalau Hendrik itu merupakan ayahnya. Aku salut dengan sikapnya yang tenang. Aku hanya berharap, mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan."


"Aku juga harap begitu, tuan. Kini saatnya mereka merasakan kebahagiaan. Sudah cukup kesedihan yang mereka rasakan selama ini," sahut Saturnus. "Oh ya, tuan, bagaimana dengan kabar perempuan itu?" tanya Saturnus yang penasaran dengan kabar terakhir Githa. Sebab sebelum mereka meninggalkan rumah sakit, kondisi Githa masih belum sadarkan diri karena kehilangan banyak darah.


Lagi-lagi Damar menghela nafasnya tapi kali ini lebih kasar.


...***...


"Bang," panggil Oryza membuat Damar yang sedang tertidur lelap seketika mengerjapkan matanya. Ia pun menoleh ke arah Oryza yang sudah duduk sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit menonjol.


"Iya, Hum. Kamu butuh sesuatu?" tanya Damar sigap. Ia merupakan definisi calon ayah super siaga. Tak peduli apapun itu, bila Oryza membutuhkannya ia akan segera bertindak tanpa kata ah apalagi nanti saja, esok saja.


Oryza mengangguk sambil meringis. Sebenarnya ia tak ingin merepotkan sang suami. Dirinya merupakan tipe perempuan yang pantang merepotkan kecuali dalam keadaan terdesak. Berbeda dengan kehamilan sebelumnya yang nyaris tak pernah merepotkan sang suami, kehamilannya kali ini justru membuatnya sedikit manja. Ia tak mau makan kalau bukan masakan dari suaminya sendiri. Beruntung suaminya merupakan suami siaga level 10 yang selalu bersedia melakukan apa saja apapun itu, tanpa penolakan.


"Bang, Ryza lapar. Tapi pinginnya makan sama sambal jengkol," cicitnya tak enak hati membuat Damar membulatkan matanya. D


iliriknya jarum jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pun Oryza yang sedikit menunduk karena merasa tak enak hati sebab ia tahu di kulkas mereka tidak menyimpan jengkol sama sekali. Ia kadang bingung sendiri, setiap kali pingin sesuatu pasti yang stoknya tidak tersimpan di dalam kulkas. Tempo hari ia juga pernah tiba-tiba ingin makan tumis paru cabai hijau.


Dan yang lebih parah, Oryza pernah ngidam kalua jeruk khas Ciwidey padahal hari sudah menjelang malam. Damar sampai keliling menghampiri hampir setiap pusat oleh-oleh untuk mendapatkan kalua jeruk yang diinginkan istrinya, tapi hingga matahari terbenam, ia tak kunjung mendapatkannya. Akhirnya ditemani Saturnus, ia pergi langsung ke daerah Ciwidey untuk mendapatkan kalua jeruk yang diinginkan istrinya itu.


"Ya udah, aku ke pasar pagi dulu aja sama Nora beli jengkolnya. Kamu nggak papa kan ditinggal sendiri?" tanya Damar memastikan.


"Ikut," cicit Oryza dengan wajah memelas.


"Tapi sekarang baru jam 2, sayang. Abang nggak mau kamu kecapean. Mana udara masih dingin juga, kamu tinggal aja ya sama anak-anak," bujuk Danar yang khawatir bila harus mengajak istrinya itu.


Oryza menggeleng cepat seraya mencebikkan bibirnya.


"Ikut, bang, please!" bujuk Oryza. Damar pun akhirnya pasrah menerima.


Sebelum pergi, Damar terlebih dahulu memastikan pakaian sang istri dengan memakaikan jaket tebal. Membantu memasangkan kaos kaki agar kakinya tidak dingin. Setelah dirasanya aman, barulah mereka pergi ke pasar pagi yang memang sudah buka sejak dini hari.


Sepanjang perjalanan, mereka isi canda tawa untuk mengusir kantuk yang seharusnya masih meraja. Setibanya di pasar, mereka bukan hanya membeli jengkol saja, tapi apa saja yang menarik minat mereka. Apalagi di pasar itu, sayur-mayur terlihat begitu segar menggoda. Pun ikan segar tampak beraneka jenisnya membuat mereka lapar mata.


Oryza tersenyum-senyum sendiri melihat bagaimana Damar memilih sayur-sayuran, buah-buahan, juga ikan, udang, dan daging. Sungguh tontonan yang luar biasa. Seorang CEO pemilik mall besar, justru berbelanja di pasar tradisional seperti ini. Padahal ia bisa saja meminta orangnya mengambil jengkol yang kemungkinan besar tersedia di supermarket yang ada di Angkasa Mall, tapi ia tidak melakukannya sebab ia pikir, itu akan merepotkan orang-orang. Karyawannya pun membutuhkan waktu untuk istirahat jadi ia tak ingin mengganggu waktu istirahat karyawannya dan lebih memilih berbelanja sendiri di pasar. Toh ia bilang ia sudah rindu berbelanja di pasar seperti ini. Mengingatkannya pada kenangan masa kecilnya dulu.


Setelah berbelanja, mereka tak langsung pulang. Mereka justru menghampiri pusat jajanan dan sarapan di sana. Mereka membeli aneka makanan dan cemilan seperti lontong sayur, putu ayu, getuk, risoles, pempek, dan lain-lain.


Setibanya di rumah, tak mau menunda waktu, Damar pun segera memasak sambal jengkol sesuai request sang istri. Setelah selesai, benar saja, Oryza melahap sambal jengkol itu dengan lahap. Tak sia-sia pikirnya berkorban waktu dan tenaga untuk memenuhi keinginan ngidam istrinya itu sebab Oryza memang benar-benar menyantapnya dengan wajah berbinar bahagia.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...