[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.110



Tak butuh waktu yang lama, akhirnya pesawat pribadi yang ditumpangi Damar dan Oryza telah mendarat di bandara Internasional Ngurah Rai. Dengan jemari saling bertautan, keduanya turun dari dalam pesawat dan disambut beberapa orang yang menurut Damar merupakan orang-orang yang bekerja dengan keluarganya.


"Keluarga Abang hebat banget. Ryza kayak mimpi jadi Cinderella aja udahlah ketemu pangeran tampan, kaya raya, baik hati pula. Masya Allah, para readers sampai ngiri loh bang, pingin disisain satu yang kayak Abang gini kata mereka. Kira-kira masih ada stok nggak ya bang biar bisa Ryza sampein ke para readers yang baca novel ini," ujar Oryza menggebu.


Mendengar penuturan itu, sontak saja Damar tergelak. Bahkan beberapa bawahan juga petugas bandara yang ada di sana sampai tertegun melihat tawa lepas Damar yang sungguh memesona.


"Duh, sayangnya setahu Abang yang kayak gini udah sold out semua! Tapi jangan khawatir, pantengin aja cerita author kita, D'wie, mungkin suatu hari nanti dia akan menciptakan cerita baru dengan tokoh kayak Abang gini atau minimal sebelas dua belas lah," imbuh Damar yang disetujui Oryza.


"Abang benar. Yuk kita dukung othor D'wie dengan terus kasih like, komen, vote, tonton iklan untuk memberi dukungan supaya othor D'wie tetap semangat berkarya."


"Ayo!" sahut Damar cepat seraya menuntun Oryza masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka untuk diantarkan ke tempat tujuan.


Tak butuh waktu lama, mobil yang membawa Oryza dan Damar telah memasuki area hotel. Lalu mobil itu berhenti tepat di depan lobi hotel. Beberapa orang berseragam rapi dengan earphone di telinga pun segera berdiri berjejer dengan salah satunya membukakan pintu mobil mereka.


Mendapatkan perlakuan seperti ini, jelas saja membuat Oryza kikuk sendiri. Ia merasa seperti seorang Chaebol di film-film Korea yang kerap ditontonnya.


Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Oryza tampak sudah bangun dan membersihkan diri. Setelah semalaman ia tampak resah gelisah sebab setibanya di Bali, Damar bukannya mempertemukannya dengan kedua buah hatinya, melainkan menyekapnya di kamar hotel. Damar beralasan Raja dan Ratu belum peluang dari jalan-jalan dengan grandma dan grandpa-nya. Saat malam hari pun, ia masih seperti dihalang-halangi bertemu kedua buah hatinya membuatnya semalaman merajuk.


"Bang, pokoknya hari ini aku harus ketemu Raja dan Ratu, nggak ada alasan lain! Awas kalau sampai Abang ngehalangin lagi, Ryza nggak akan kasih jatah 2 Minggu full?" Ancam Oryza membuat Damar yang baru saja menandaskan sarapannya membulatkan matanya.


"Hah! Yang benar aja Hum, bisa-bisa torpedo Abang karatan karena nggak dipelumasin!" ucap Damar dengan memasang wajah nelangsa.


"Oh jadi Abang ada rencana nggak mau ketemuin Ryza sama Raja dan Ratu lagi, gitu?" sembur Oryza dengan mata melotot. Ia bahkan sudah berdiri sambil berkacak pinggang menatap Damar yang kini memasang wajah innocent.


"Abang, kok malah diem sih! Beneran Ryza suruh puasa ... "


tok tok tok ...


Tanpa mempedulikan Oryza yang masih hendak menyemburkan omelannya, Damar langsung berlari ke arah pintu dan membukanya dengan tergesa.


"Tisya, kamu juga ada di Bali?" tanya Oryza bingung dan Tisya pun mengangguk seraya mendorong pundak Oryza menuju meja rias lalu ia memberikan kode pada wanita yang ikut dengannya agar melakukan sesuatu yang tidak Oryza mengerti.


"Eh ... eh ... Sya, aku mau diapain ini?" tanya Oryza bingung karena wanita yang ikut dengan Tisya tadi sibuk membersihkan wajahnya lalu memoleskan moisturizer dengan begitu cekatan.


"Udah, diam dan nurut aja apa yang mau dilakukan mbak Wika, ya nggak bang!" tukas Tisya seraya mengedipkan sebelah matanya pada Damar yang direspon dengan acungan jempol.


"Bang," panggil Oryza.


"Abang mau keluar dulu ya, Hum! Dandan yang cantik, bye!" ucap Damar acuh tak acuh tak mempedulikan dirinya yang kebingungan.


Oryza mencoba menerka-nerka sebenarnya ada apa ini? Seingatnya hari ini mereka tidak ada kegiatan yang spesial ataupun acara penting yang harus dihadiri. Hari pernikahan mereka juga masih 6 hari lagi, tapi mengapa tiba-tiba ia didandani sedemikian rupa? Bahkan kini ia sudah mengenakan gaun pengantin.


'Apa kami akan melakukan foto prewedding? Ah, mungkin itu. Tapi kenapa mesti pakai rahasia-rahasiaan segala sih?' monolog Oryza dalam hati.


Setelah sesi make up selesai dan ia pun telah mengenakan gaun pengantin serba putih bertabur Swarovski berwarna biru safir dan gold, Oryza pun berdiri di depan cermin. Dipandanginya wajah dan penampilannya yang terlihat begitu menakjubkan. Belum lagi mahkota yang terbuat dari taburan mutiara bercokol di atas kepalanya membuatnya bak seorang putri dari negeri dongeng. Bedanya ia mengenakan hijab, sedangkan putri-putri di negeri dongeng tidak.


"Wah, Anda benar-benar cantik nona! Dengan wajah polos saja, Anda sudah terlihat sangat cantik, apalagi telah didandani dan berpakaian gaun seperti ini, aura kecantikan Anda makin naik berlipat-lipat ganda. Tuan Damar pasti akan menatap Anda tanpa berkedip nanti, benarkan nona Tisya?" ucap Wika sang make up artists.


"Bener banget, mbak! Kasihan banget mantannya dulu, pasti dia akan makin menyesal setelah liat mantan istrinya terlihat makin cantik setelah bercerai dengannya," timpal Tisya.


"Benar non, laki-laki bodoh itu pasti akan menangis di pojokan kalau liat mbak Oryza udah kayak bidadari turun dari kahyangan kayak gini."


"Udah ih, kalian bikin aku malu aja. Sebenernya kita mau ngapain sih, Sya? Sumpah deh, aku penasaran. Kita mau foto prewedding ya?" tanya Oryza.


"Ada aja!" ujarnya seraya mengulum senyum. "Yuk, semua udah pada nungguin bintang utamanya datang!" imbuhnya membuat dahi Oryza makin berkerut penasaran.