![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
"Kalau mas emang mau, Siti ... Siti mau kok ngajarin," ucap Siti kikuk campur malu. Sebenarnya ia agak malu mengucapkan kalimat ini, tapi bukankah sekarang ia adalah istri dari Saturnus. Sudah kewajibannya melayani sang suami. Apalagi sepertinya, suaminya itu begitu polos dan buta akan hal dunia perskidipopoan. Sudah sepantasnya ia membimbing. Bukankah pahala istri yang memulai duluan itu sangat besar.
Gleg ...
Sontak saja mendengar penuturan itu, jakun Saturnus naik turun. Tak terbayangkan dirinya akan diajari seorang wanita untuk melakukan skidipopo untuk pertama kalinya. Padahal seharusnya dirinya lah yang memimpin, tapi dirinya benar-benar buta akan masalah perskidipopoan itu. Saturnus menimbang dalam hati, haruskah ia menerima penawaran itu.
Belum sempat Saturnus menjawab, Siti sudah lebih dahulu turun dari ranjang kemudian melepaskan satu persatu kain yang menempel di tubuhnya hingga menyisakan penyangga dada dan segitiga bermudanya saja yang menutupi area inti membuat Saturnus membelalakkan matanya.
"Ka-kamu mau ngapain? Pake ... buruan pake baju kamu," seru Saturnus panik seraya menutup matanya dengan telapak tangannya. Tak ada respon, Saturnus mengintip dari celah-celah jemarinya.
"Bawaan ... "
Dugh ...
Saturnus terguling di lantai karena terkejut sebab saat ia baru saja hendak mengintip dari celah jemarinya, ternyata wajah Siti telah berada tepat di depan wajahnya. Bukan itu saja yang membuatnya terkejut, tapi tubuh polos itu.
Saturnus mengerang kesakitan. Siti yang panik pun bergegas membantu Saturnus membuat pria itu kian salah tingkah. Saturnus pura-pura tak melihat pemandangan indah di depannya. Ia masih terlalu bingung, kikuk, takut, entahlah ... dia sendiri bingung dengan dirinya sendiri.
'Astaga, kamu mau ngapain sih buka baju gitu!'
"Siti, saya mohon kamu pakai baju kamu sekarang! Apa kamu nggak kedinginan tidak mengenakan pakaian seperti itu?" ucap Saturnus dengan wajah melengos ke samping.
Bukannya menuruti perintah Saturnus, Siti justru duduk di samping Saturnus sambil bergelayut di lengannya.
Eeeerrrrr ...
Saturnus merasa seakan tersengat aliran listrik ratusan volt saat tangannya bersentuhan dengan kulit polos Siti. Kini Saturnus makin kepanasan. Ia bingung bagaimana cara memadamkan panas di tubuhnya.
"Katanya mas mau belajar skidipopo, ayo Siti ajarin! Mas Unus gemesin banget deh, udah kayak anak perawan yang mau diajak belah duren," seloroh Siti jenaka seraya terkekeh geli.
Bukan hanya karena sikap polos Saturnus, tapi sikapnya juga yang sudah seperti sang penggoda. Padahal dahulu, saat dirinya pertama kali mengenyam nikmatnya surga dunia, Hendrik lah yang kukuh merayunya. Hingga akhirnya dirinya pasrah dibuai, tapi ia tak pernah bertindak lebih karena Hendrik lah yang selalu memimpin.
"Jadi gimana, mas? Mau apa nggak? Kalau nggak Siti pake baju lagi aja. Dingin tahu. Siti udah bela-belain kayak gini, malah dikacangin," Rajuk Siti dengan wajah memerah menahan malu. Tidak mudah baginya untuk membuang gengsi dan merendahkan harga diri. Ia hanya ingin mencoba menjadi istri yang berbakti. Meskipun belum ada cinta, tapi ia yakin setelah melakukan penyatuan, rasa itu akan perlahan hadir. Selain itu, tujuannya ini adalah untuk mengikis dosa masa lalu dan menimbunnya dengan taburan pahala. Entah dapat keyakinan dari mana, ia yakin, dengan melayani sang suami lebih dahulu, ia akan menuai banyak pahala.
Mulut Saturnus bungkam. Ia bingung harus berbuat apa dan bagaimana. Tubuhnya sudah panas dingin. Jantungnya bergemuruh, darahnya berdesir hebat, dan ada satu lagi yang membuatnya kian belingsatan dalam kebingungan, yaitu sesuatu yang ada di balik celananya mencuat memberontak. Membuat celananya kian sesak, seakan tak sabar ingin dibebaskan agar dapat bernafas dengan bebas.
Siti tersenyum sambil menggigit bibirnya, "pertama-tama mas harus baca doa dulu."
"Baca doa?" Beo Saturnus dan Siti mengangguk. "Bagaimana doanya?"
Siti pun lantas mengajarkan doa yang sebenarnya baru juga ia pelajari siang tadi.
"Setelah itu?" tanya Saturnus dengan wajah merah padam. Matanya bahkan tak berani memandang ke arah Siti. Ia terus menunduk seraya menahan geliat hasrat yang kian berpacu seiring tangan Siti yang mulai menyentuh tangannya. Lalu tangan Siti menarik tangan Saturnus dan meletakkan telapak tangannya di atas salah satu asetnya.
Saturnus yang terkejut saat tangannya sudah berada di atas squishy jumbo Siti lantas hendak menariknya, tapi tangannya lebih dahulu ditahan Siti sehingga membuat nafasnya kian memburu.
"Sebenarnya hal seperti ini nggak perlu diajarin, mas. Mas bisa menggunakan naluri mas sebagai lelaki. Tapi kayaknya, mas terlalu polos untuk ukuran lelaki dewasa. Siti jadi merasa begitu beruntung bisa mendapatkan mas sebagai suami. Mas seperti anugerah untuk Siti yang kotor ini," lirih Siti yang merasa terharu mendapatkan suami seperti Saturnus yang begitu terjaga.
Padahal apa kurangnya dari seorang Saturnus, selain tampan, yah walaupun masih kalah dibanding Damar, tapi tetap wajahnya itu tampan menurut Siti. Saturnus juga memiliki tubuh yang bagus, urat-uratnya yang menonjol menunjukkan kalau Saturnus itu pekerja keras. Kulitnya yang berwarna sawo matang terlihat begitu maskulin. Belum lagi pekerjaan Saturnus sebagai asisten pribadi pemimpin Angkasa Mall, sudah pasti termasuk pekerjaan yang mapan dan menjanjikan.
Seharusnya Saturnus bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari dirinya yang hanya wanita beranak satu. Lebih baik segala-galanya. Bukan seperti dirinya yang bukan hanya beranak satu, tapi anaknya pun hasil diluar nikah, pendidikan rendah, pekerjaan hanya seorang asisten rumah tangga, dan ia pun tak memiliki keluarga lain selain anak semata wayangnya. Ia tidak memiliki kelebihan sama sekali. Sebenarnya Siti merasa insecure dengan dirinya sendiri, tapi Siti berusaha menutupinya. Karena itu, ia berusaha melayani Saturnus dengan baik. Saturnus itu ibarat jackpot untuknya jadi harus ia jaga sebaik-baiknya.
Mendengar penuturan Siti, Saturnus lantas mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah Siti yang terlihat sendu dan bibir bergetar menahan tangis. Entah dapat keberanian dari mana, Saturnus mendekatkan wajahnya ke wajah Siti lalu menempelkan bibir keduanya.
Tentu saja perbuatan Saturnus membuat Siti membulatkan matanya. Saturnus tak pandai merangkai kata, jadi ia melakukan itu bermaksud membungkam mulut Siti agar berhenti merendahkan dirinya sendiri. Saturnus tak pernah mempermasalahkan masa lalu Siti. Adapun mempermasalahkan, bukan keadaan dirinya, melainkan si pembuat keadaan itu, siapa lagi kalau bukan Hendrik.
Saturnus bergeming tanpa melakukan apa-apa. Hidung dan bibirnya masih menempel di atas bibir dan Hidung Siti, tanpa bergerak sama sekali. Ia benar-benar bodoh masalah percintaan seperti ini.
Paham sang suami tengah bingung harus melakukan apa, Siti pun mengambil alih permainan. Siti memejamkan matanya lalu sedikit memiringkan wajahnya. Dikecupnya bibir Saturnus atas dan bawah bergantian. Melihat Siti memejamkan mata dan tampak menikmati, Saturnus pun secara naluri mengikuti apa yang Siti lakukan.
Kemudian tangan Siti yang berada di atas tangan Saturnus yang masih menangkup squishy jumbonya ia bimbing untuk melakukan gerakan mere*mas. Tanpa sadar, Saturnus mengikuti pergerakan Siti membuat Siti melenguh saat merasakan rema*san di atas squishy jumbonya.
Panas dan terbakar, inilah yang tengah Saturnus alami saat ini. Ia tak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Adrenalinnya begitu terpacu, kegiatan ini begitu menantang membuatnya ingin merasakan lebih.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...