[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.47



Melihat kedatangan Siti, segera saja Raja dan Ratu mendekati Siti yang baru saja datang menaiki angkot. Siti tersenyum lebar menyambut kedua bocah cilik yang menggemaskan itu. Melihat anak-anaknya justru mendekati Siti, membuat Hendrik meradang. Tapi ia tidak menunjukkan rasa kesalnya. Sedikit banyak, ia sadar, di sini, dirinya lah yang bersalah. Tapi tidak juga dengan mengabaikannya seperti ini. Bagaimana pun, dirinya tetaplah ayah kandung mereka.


"Raja, Ratu, mau ikut ayah kan?" bujuk Hendrik seraya berjongkok agar tubuhnya sejajar dengan Raja dan Ratu.


Kedua bocah itu lantas menoleh ke arah ayahnya, kemudian memutar leher saling berhadapan, hingga akhirnya mereka menggelengkan kepala dengan kompak.


Orang tua mana yang tak geram bila ditolak mentah-mentah oleh anak kandungnya sendiri? Begitu juga yang dirasakan Hendrik saat ini. Kepalanya seketika panas dengan jantung meletup-letup, tapi semua amarah dan ego harus ia singkirkan demi meraih simpati anak-anak dan juga Antam istrinya.


"Lho, kok nggak mau? Katanya dulu pingin jalan-jalan bareng ayah? Giliran ayah udah luangin waktu, kok kalian nolak sih?" ucap Hendrik dengan memasang wajah sendu.


"Itu dulu, waktu ayah sama bunda masih sama-sama. Waktu nggak ada Tante ulat bulu. Lagipula kata bunda, kalau pulang sekolah, kami harus langsung pulang, nggak boleh kemana-mana," tukas Raja, si anak pendiam, yang sekali bicara tegas seperti orang dewasa.


"Tapi nak ... "


"Maaf tuan, tapi Raja dan Ratu harus pulang sekarang juga," tukas Siti memotong.


"Diam kamu!" bentak Hendrik. "Kamu itu cuma seorang pembantu jadi nggak ada hak untuk ikut campur urusan saya dan anak-anak saya." ucap Hendrik dengan sorot mata mengintimidasi.


"Ayah kenapa malah syama bik Syiti? Bik Syiti kan benel, bunda pesan Abang sama Latu halus segela pulang, ndak boleh kemana-mana lagi," protes Ratu dengan memasang wajah sebal, tak suka melihat sikap kasar ayahnya pada Siti.


"Sayang, itu karena ayah pingin main sama kalian. Atau gini aja deh, ayah yang anterin kalian pulang, gimana?" tawar Hendrik.


Raja dan Ratu tampak berpikir, tapi Siti segera menolak.


"Yang mau saya anterin itu anak saya, bukan kamu, sialan!" geram Hendrik karena lagi-lagi Siti mengganggu dirinya yang hendak membujuk kedua anaknya. Ini kesempatannya untuk tahu alamat jelas mantan istrinya itu. Ia memang pernah melihat Oryza masuk ke lobi apartemen mewah, tapi ia tidak tahu dengan pasti benarkah Oryza tinggal di sana. Kalaupun iya, di lantai dan unit berapa?


"Ayo, kita naik mobil ayah!" ajak Hendrik seraya menggiring putra dan putrinya ke dalam mobilnya.


Siti hanya bisa menghela nafas pasrah. Semoga Oryza tidak marah, batinnya.


...***...


"Apa?" seru Oryza terkejut. Ia yang sedang duduk di sofa ruang kerja Damar sampai berdiri karena terkejut bercampur geram. "Mengapa dia bisa sampai ke apartemen?"


"Maaf mbak mbak, tadi tuan Hendrik maksa mau anterin anak-anak. Daripada dia bawa anak-anak jalan-jalan, jadi mending saya biarin dia anterin anak-anak. Saya pikir, tuan Hendrik cuma mau nganterin sampai ke depan lobi aja, taunya dia maksa ikutan mampir," jelas Siti yang kini memanggil Oryza mbak atas permintaan Oryza sendiri. Ia tak mau membuat Siti seperti pembantunya. Lagipula usia Siti ternyata hanya lebih muda beberapa bulan saja, jadi ia meminta Siti memanggil dirinya mbak saja. Selain itu, mengingat Dodi memiliki hubungan pertalian darah walau berbeda ibu, Oryza pun memperlakukan Dodi seperti anaknya sendiri. Terserah bila ayahnya tak mau mengakui, selagi Siti tetap bersikap baik dan tidak macam-macam, ia akan tetap memperlakukan mereka dengan baik.


"Jadi sekarang dia lagi ngapain?"


"Dia sedang tiduran di sofa sambil main hp mbak. Kalau anak-anak sesudah makan siang, mereka tidur."


"Dasar gila! Ya udah, kamu lihatin aja dan jaga jarak. Jangan sampai dia macam-macam!" tegas Oryza yang kemudian menutup sambungan teleponnya sambil mendengus.


Beruntung Damar sedang ada peninjauan proyek di luar, jadi ia sendirian saja di ruangan itu. Yang penting, tak ada yang mendengarkan pembicaraannya.


...***...