[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.65 Hai, calon istri!



Dukkk ... dukkk ... dukkk ...


"Siapa sih?" gumam Oryza kesal saat pintunya masih saja digedor dengan paksa.


Oryza pun segera memutar handle pintu dan membukanya tanpa melihat dari layar terlebih dahulu.


Oryza sontak memutar bola matanya malas saat melihat siapa perempuan yang berdiri di depan pintu apartemennya.


"Kamu?" seru Oryza dengan dahi yang berkerut. "Ngapain kamu datang kemari?" ketus Oryza. Sungguh, dia masih sakit hati melihat sosok perempuan yang berdiri di hadapannya itu. Sosok penghancur rumah tangganya. Sosok yang membuat biduk rumah tangganya luluh lantah hingga menyisakan luka, bukan hanya pada dirinya, tapi juga buah hatinya.


"Heh, jalaaang! Bisa nggak sih berhenti ngusik hidup suami gue! Mau jadi pelakor loe?" teriak Githa murka sampai air ludahnya muncrat kemana-mana.


Iyyyuhhh, ...


Oryza bergidik jijik sekaligus jengah mendengar kata-kata yang dilontarkan Githa. Datang-datang dengan suara menggelegar, seperti pakai toa aja. Seolah-olah sengaja ingin mempermalukan Oryza. Beruntung lantai tempat unit apartemen Oryza itu hanya ada beberapa kamar dan yang dihuni hanya ada dua kamar saja, jadi tak ada yang merasa terusik ataupun terganggu dengan teriakan Githa.


"Heh, kamu sinting ya? Ngusik? Siapa yang ngusik, hah? Apa katamu tadi? Jalaaang? Nggak salah ni? Yang jalaang sebenarnya siapa sih? Aku atau kamu? Maaf ya, aku nggak pernah tidur dengan lelaki lain selain suamiku itu pun setelah halal, lah kamu?" Oryza berdecak dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Satu sudut bibirnya terangkat, terlihat sekali ekspresi mencemooh dari Oryza. "Dan apa katamu tadi, pelakor? Laki siapa emang yang aku rebut? Kamu? Cih, najis!" imbuh Oryza dengan nada jijik.


"Halah, nggak usah sok suci kamu. Kamu sengaja kan manfaatin anak-anak kamu supaya mas Hendrik sering datang kemari? Kamu mau rebut mas Hendrik dari aku kan? Jangan harap! Kamu waktu masih jadi istrinya aja nggak bisa, apalagi udah cerai dan aku udah sah jadi istrinya," hardik Githa dengan wajah menggeram.


Githa geram. Ia pikir, setelah menikah hidupnya akan aman dan damai dengan Hendrik di sisinya, bahkan ia rela memberikan segala yang ia punya untuk Hendrik, tapi nyatanya, yang Hendrik pikirkan hanyalah Oryza dan anak-anaknya saja. Terang saja ia marah dan kecewa. Setelah menikah, ia sangat berharap, Hendrik mau menemaninya kontrol kehamilan di rumah sakit, memenuhi keinginan ngidamnya, lebih perhatian padanya, tapi yang terjadi justru sebaliknya, Hendrik kian jauh.


Hendrik memang pulang ke rumah setiap hari. Tapi hari-harinya hanya dipadati dengan pekerjaan saja. Sepulang kerja pun, ia masih saja melanjutkan pekerjaannya. Bahkan untuk bermanja-manja saja, ia tak bisa. Dan ia makin sakit hati, saat tahu Hendrik ternyata sering mengunjungi anak-anaknya. Bahkan ia pernah diam-diam memergoki Hendrik menatap dan menciumi foto Oryza dan anak-anaknya. Hati istri mana tak sakit melihat suaminya ternyata masih memiliki perasaan dengan mantan istrinya.


Githa tak berpikir, bagaimana perasaan Oryza dulu saat tahu suaminya memiliki hubungan dengan perempuan lain. Yang ia pikirkan hanyalah rasa sakitnya sendiri saja, orang lain terserah.


"Dengar ini, apa yang telah aku buang takkan pernah aku pungut lagi. Begitu pula dengan lelaki yang pernah mengkhianatiku. Mau dia bersujud dan memohon sekalipun, aku takkan sudi kembali padanya lagi. Aku sudah ikhlas melepasnya jadi nggak usah sok-sokan jadi istri yang tersakiti deh. Seharusnya kamu ngaca, yang benar-benar tersakiti disini itu aku atau kamu? Aku yang suaminya pernah kamu rebut aja, aku nggak mau maki-maki kayak gini, malah ikhlas ngelepasinnya, lah kamu ... pake sok mau ngelabrak segala. Mau bikin aku viral dengan nuduh aku sebagai pelakor gitu? Apa kamu nggak takut, borok kamu ketahuan se-nusantara?" ancam Oryza dengan menyeringai.


"Kamu ... " Tangan Githa terangkat tinggi, sedangkan Oryza telah siap mental lahir dan batin, tidak beranjak sedikitpun. Ia ogah merasa kalah dari Githa. Tapi belum sempat tangan itu mendarat di pipi Oryza, sebuah tangan telah lebih dahulu mencengkram tangan Githa dengan kuat membuat wanita itu sampai meringis kesakitan.


"Jangan sembarangan bicara! Yang kau katai jalaang itu calon istriku," bentak orang yang mencengkram tangan Githa. Lalu pria itu melepaskan tangan Githa perlahan. Bagaimana pun, Githa saat ini sedang hamil. Tak mungkin ia melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa Githa dan calon bayinya.


Sontak saja, Oryza membelalakkan matanya saat mendengar kata-kata yang baru saja dilontarkan seorang lelaki yang beberapa hari ini tidak dijumpainya. Apalagi saat mata mereka saling bersirobok. Oryza bahkan sampai merasa ia mungkin salah pendengaran. Tak mungkin kan, seorang Damar Prayoga Putra Angkasa, CEO Angkasa Trade Center alias Angkasa Mall mengatakan dirinya calon istri.


'Hah, sepertinya aku sudah gila! Mana mungkin dia bilang aku calon istrinya. Sepertinya telingamu perlu dikorek pakai ujung linggis, Za!'


Githa yang mendengar itu lantas mendongakkan wajahnya. Ia terperangah saat melihat betapa tampan dan rupawannya sosok lelaki yang kini berdiri di samping Oryza itu.


Tak lama kemudian, ia tergelak kencang. Mana mungkin pria setampan dan segagah itu mau dengan janda seperti Oryza. Kalaupun mau, pasti ia tak lebih dari seorang simpanan atau istri kontrak, mungkin. Tapi mengapa wajahnya seakan familiar, seperti bukan orang biasa. Tapi tak mungkin kan Oryza mengenal orang seperti itu, pikirnya.


"Hahaha ... jangan bercanda, tuan! Dia ... calon istri Anda? Yang benar saja. Seperti tak ada gadis lain yang lebih cantik saja dari dia. Kalau Anda mengatakan dia itu simpanan Anda, mungkin aku bisa sedikit percaya, tapi kalau calon istri? Huh, mana mungkin!" ujarnya seraya mengelus perutnya yang membuncit. Perutnya sampai terasa sedikit keram karena terlalu asik tertawa.


"Saya tidak sedang bercanda, nyonya. Dia memang calon istriku dan tak lama lagi, kami akan segera menikah. Terserah Anda mau percaya atau tidak, itu urusan Anda. Tapi, jangan sampai Anda mengusiknya lagi atau saya akan membuat perhitungan dengan Anda!" tegas Damar dengan suara baritonnya. Tatapan matanya begitu tajam dan kelam. Seakan ada pusara yang mampu menyedot ke dalamnya. .


"Peringatan? Hahaha ... Kau pikir, kau siapa, hah? Aku tidak takut. Dia yang sudah membuat masalah padaku. Jadi sudah sewajarnya aku membuat perhitungan padanya. Dia mencoba merebut suamiku, apa kau tahu itu!" bentak Githa seperti orang kesetanan.


"Oh, jadi Anda meragukan ancamanku! Baiklah, Anda tunggu saja! Apa yang akan saya lakukan bila sekali lagi Anda mengganggu kenyamanan calon istriku. Saya tidak pernah bermain-main dengan ucapanku, camkan itu!" ancam Damar membuat Githa sedikit cemas apalagi saat melihat sorot mata tajam penuh intimidasi dari Damar. Nada suara yang dingin, wajah yang datar, tampan tapi mengerikan.


Dengan mendengus, Githa membalik badannya kemudian pergi dari hadapan Damar dan Oryza. Setelah melihat Githa benar-benar menghilang, Damar mengalihkan pandangannya pada Oryza yang tampaknya masih saja cengo. Entah karena melihat kedatangannya yang tiba-tiba atau karena perkataannya tadi.


"Hai calon istri," goda Damar seraya mengerlingkan sebelah mata dan tersenyum jahil.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...