![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
"My Humaira, boleh?" lirih Damar di telinga Oryza membuat Oryza menelan ludahnya kasar saat mendengar permintaan lembut dari sang suami.
Tak mampu berkata, Oryza hanya mengangguk pasrah. Ia kini telah menjadi milik Damar, tanpa izin pun Oryza sudah mengikhlaskan dirinya dimiliki sepenuhnya oleh lelakinya itu.
Melihat anggukan samar sebagai jawaban, Damar pun tersenyum tipis. Ia lantas segera membalikkan badan Oryza hingga kini mereka saling berhadapan. Oryza menundukkan pandangannya. Sungguh, ia tak dapat mengontrol debaran jantungnya yang bertalu-talu. Apalagi saat Damar menyapukan telapak tangannya di lengan Oryza secara perlahan naik ke atas membuat nafasnya kain tercekat.
Lalu tangan Damar beralih ke dagu Oryza dan mengangkatnya sehingga kini mata mereka saling bersirobok. Nafas keduanya kian tak menentu. Jantung keduanya pun kian berpacu. Damar yang baru kali ini bertatapan dengan intens dan jarak terbatas, tentu saja merasakan perasaan yang tak biasa.
Damar memiringkan kepalanya, membuat Oryza menahan nafas detik itu juga. Jarak keduanya makin terkikis lalu akhirnya bibir mereka pun menyatu.
Awalnya Damar diam tak bergerak. Mata Oryza pun terpejam sembari berusaha menata debaran yang kian bergejolak di dadanya. Perlahan, Damar pun ikut memejamkan matanya. Dikecupnya bibir Oryza bergantian atas dan bawah. Lembut, kenyal, manis, itu yang Damar rasakan. Ia benar-benar tak menyangka, ternyata berciuman itu senikmat ini. Bila dulu, ia hanya sering mendengar cerita dari teman-temannya saja yang tanpa rasa sungkan menceritakan pengalaman mereka mencium seorang gadis. Namun kini, ia berhasil merasakannya juga walaupun bukan dengan seorang gadis. Tapi rasanya ... tetap saja nikmat. Apalagi mereka melakukannya setelah halal, tentu kenikmatannya menjadi berkali-kali lipat.
Damar memagut bibir Oryza dengan mesra. Lambat laun pagutan itu berubah makin intens dan dalam. Damar memang masih kaku, tapi bukankah hal seperti ini bisa dipelajari secara otodidak melalui insting.
Damar menarik wajahnya dengan nafas tersengal. Dipandanginya wajah Oryza yang sudah memerah. Belum puas, Damar kembali menyatukan bibir mereka dengan gerakan lebih kasar. Damar melu*mat bibir Oryza dengan nafas yang kian memburu. Telapak tangan Damar kini sudah berada di tengkuk Oryza. Ditekannya tengkuk itu untuk memperdalam ciu*man mereka. Oryza pun menyambutnya dengan segenap rasa seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Damar.
Dinikmatinya setiap perlakuan Damar dengan segala suka cita dan cinta.
Oryza melenguh tanpa sadar. Saat celah bibirnya sedikit terangkat, Damar pun menyusupkan lidahnya ke dalam rongga hangat Oryza. Oryza pun berusaha mengimbangi luma*tan itu. Lidah mereka saling membelit satu sama lain. Nafas keduanya kian memburu. Gai*rah keduanya pun kian terpacu. Kobaran asmara kian membumbung tinggi. Suara decakan keduanya pun telah memenuhi ruangan itu sebagai bukti kalau mereka sangat menikmati pergulatan lidah itu.
"Bang," desah Oryza saat merasa pasokan oksigen kian menipis.
Damar pun melepas tautan bibir itu dan memandang cantik wajah di depannya.
"Kamu suka?" tanya Damar dengan mata yang sudah tertutup kobaran gai*rah.
Oryza hanya bisa mengangguk seraya menetralkan nafasnya yang masih terengah-engah.
Lagi, Damar menyatukan bibir mereka seraya mengangkat tubuh Oryza menuju tempat tidur yang taburan bunganya masih penuh di atas sana.
Dibaringkannya tubuh Oryza seraya perlahan tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Kini Damar menarik wajahnya, namun bukan untuk berhenti, melainkan berpindah ke telinga Oryza. Digigitnya telinga Oryza membuatnya mendongak seraya mende*sah seraya memanggil Damar. Rasa geli dan nikmat menjadi satu seperti mi*ras yang memabukkan.
"Aaakh ... " desah Oryza saat Damar menciumi leher Oryza dan memberikan jilatan di sana dengan lembut dan memesona. Oryza membiarkan apa yang ingin Damar lakukan sebab mulai malam ini ia mutlak menjadi milik Damar seutuhnya.
"Abang suka mendengar de*sahanmu, sayang," bisiknya di telinga Oryza membuat bulu kuduk Oryza kian meremang.
"Bang," cicit Oryza terdengar manja mengalun merdu membuat ha*srat Damar kian membuncah.
Damar menelan ludahnya saat melihat betapa indah dan molek tubuh wanita yang telah menyandang gelar sebagai istrinya itu. Gelora asmaranya kian menggeliat. Tak mampu menahan gejolak, Damar pun segera membungkukkan badannya untuk mengecupi setiap inci bagian tubuh Oryza yang terbuka. Tangannya pun tak mau diam, bergerak menyusuri setiap bagian keindahan itu membuat tubuh Oryza kian terbakar dan meremang.
Dengan perlahan, Damar menurunkan tali lingerie yang hanya selebar spaghetti itu hingga akhirnya tubuh molek itu terpampang sempurna tanpa penutup pun penyangga.
Mata Damar kian berbinar. Nafasnya kian memburu, ia pun meletakkan sebelah tangannya di atas puncak kenyal Oryza, sedangkan puncak yang lain Damar raup ke dalam mulutnya hingga membuat Oryza makin belingsatan. Tubuhnya melengkung ke atas saat ujung indra pengecap Damar menyapu salah satu ujung asetnya. Rasa geli bercampur nikmat makin bertambah saat jemari Damar bermain di atas puncak yang lain.
"Aaakh ... a-bhaaang ... " Sebuah desa*han lolos dari bibir Oryza saat Damar dengan naluri primitifnya bermain di kedua gunung kenyal Oryza.
Tak mampu menahan diri lagi, Damar segera melucuti segala yang ada di tubuhnya kemudian mulai menggesekkan torpedonya di atas lembah surgawi Oryza hingga keduanya pening bercampur nikmat.
"Kamu udah siap?" bisik Damar lirih dengan nafasnya kian memburu dan mata tertutup kabut gai*rah.
Oryza pun mengangguk mantap lalu mengecup bibir Damar sekilas.
"I'm yours. Do it, please!" ujarnya seraya mende*sah.
Mendapatkan lampu hijau, Damar pun perlahan-lahan melesakkan miliknya ke dalam lembah surgawi Oryza. Kepalanya mendongak ke atas dengan mata terpejam. Sungguh, ini sangatlah nikmat gumamnya dalam hati. Pantas saja ada yang rela berkubang dosa demi merasakan kenikmatan ini. Bersyukurlah dirinya mampu menjaga diri dan hanya melakukannya dengan sang istri.
Perlahan-lahan, Damar menggerakkan pinggulnya naik turun. Lambat laun gerakan itu makin cepat dan dalam sehingga menimbulkan suara kecipak disertai era*ngan bersahutan. Dalam hati ia berdoa, semoga apa yang mereka lakukan bukan hanya menghasilkan nikmat tapi juga ladang pahala.
Entah berapa lama mereka habiskan untuk mengarungi bahtera kenikmatan, yang pasti kini mereka merasa begitu bahagia. Sama-sama terpuaskan. Perlakuan Damar yang lembut sungguh membuat Oryza merasa amat sangat dihargai dan dicintai. Bahkan tanpa sungkan, Damar membersihkan sisa-sisa percintaan mereka dengan begitu telaten.
Setelah semuanya selesai, mereka pun berbaring saling berhadap-hadapan. Senyum merekah dari bibir keduanya dengan pipi yang juga sama-sama bersemu merah. Bahagia ini sungguh tak terdefinisikan. Mereka bahagia. Amat sangat bahagia.
"Terima kasih my Humaira. I love you with every beat of my heart."
Cup ...
...***...
Aaaaa ....othor gk tau hot gak ya! Semoga terhibur. 🥰🥰🥰
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...