![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Sungguh, hari ini Oryza sedang lelah jiwa dan raga. Berharap kepulangannya bisa membuat lelahnya seketika luruh dengan melihat wajah polos putra dan putrinya tercinta. Namun nyatanya, kehadiran seseorang di hadapannya itu membuat lelahnya kian menjadi-jadi. Baru saja ia pikir akan terbebas dari sosok yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya, tapi ternyata orang tersebut justru muncul tiba-tiba. Padahal hari sudah menjelang Maghrib.
"Ryza," seru Hendrik saat melihat Oryza berjalan menuju ke arahnya. Senyumnya terkembang dengan lebar dan manis. Matanya pun berbinar, seakan dahaga kerinduannya baru saja terobati.
"Mas Hendrik, ngapain kamu sore-sore kemari?" tanya Oryza dengan alis berkerut. Terlihat jelas ia tak suka melihat kedatangannya.
Hendrik yang awalnya sumringah seketika menjadi datar. Ia sengaja tidak muncul di hadapannya cukup lama, berharap Oryza merasakan kerinduan yang menggebu padanya, justru bersikap datar seakan rasa yang pernah ada sudah benar-benar hilang dari hatinya. Mungkinkah secepat itu Oryza melupakannya? Hendrik seketika panik.
"Mas merindukanmu dan anak-anak, Za," lirih Hendrik. Sorot matanya sendu. Seakan ia memang memendam rindu yang begitu besar
Mendengar hal tersebut, Oryza mendengkus. Ia sudah tidak tertarik lagi dengan kata-kata manis cinta, sayang, rindu dari mantan suaminya itu. Bila di masa lalu ia pasti akan sangat bahagia sampai pipi bersemu merah saat mendengar kata-kata itu, namun sekarang tidak. Semuanya telah basi. Sesuatu yang telah basi tak mungkin akan ia konsumsi lagi. Sebab sesuatu yang basi pasti telah terkontaminasi dengan bakteri dan bila dipaksakan untuk dikonsumsi hanya akan membuat kita sakit. Begitu pula kata rindu dari pengkhianat seperti mantan suaminya ini. Kalau bukan karena keberadaan anak-anaknya, takkan mungkin ia Sudi berjumpa kembali. Selain itu, bukankah obat paling ampuh mengobati sakit hati, yaitu berdamai dengan masa lalu dan mencoba memaafkan. Karena itu ia mencoba berdamai dengan masa lalunya, meskipun pahit. Ia juga mencoba memaafkan. Namun, bukan berarti ia akan kembali.
"Tapi hari sudah hampir malam, mas. Aku nggak bisa menerima kedatangan mas apalagi membiarkan mas masuk ke dalam." Oryza berusaha menolak kedatangan Hendrik dengan halus, berharap Hendrik mengerti dan bersedia pulang.
Mendengar perkataan itu, sontak saja Hendrik mendengus. Ekspresi sendunya tadi seketika berubah tajam.
"Oh, jadi kamu nggak mengizinkan aku bertemu anak-anakku? Aku tidak boleh masuk ke dalam karena hari sudah menjelang malam, sedangkan bajingaaan itu boleh? Begitu? Wah, otakmu sekarang sudah makin canggih ternyata! Jangan-jangan bekingan kamu selama ini sampai bisa dengan begitu mudahnya menggugat cerai aku adalah dia? Iya? Jangan-jangan juga kau telah berselingkuh dengannya di belakangku selama ini karena itu kau mati-matian ingin bercerai denganku? Ayo, jujur saja! Jangan berbohong lagi denganku!" desis Hendrik dengan mata berapi-api dan senyum mencemooh.
Oryza sampai terperangah mendengar tuduhan tak berdasar Hendrik itu. Baru saja pagi tadi ia mendapat tuduhan-tuduhan tak berdasar dari ibu Alana, lalu sore ini mantan suaminya juga yang menuduhnya tidak-tidak. Hati Oryza sebenarnya sakit. Ini menyangkut harga diri. Perkataan itu terang saja melukai harga diri seorang Oryza. Bukan sebentar ia menjalin asa bersama. Bahkan ia pernah dekat dengannya sedekat nadi dan kulit, tapi bagaimana bisa ia menuduhnya seperti itu?
"Aku benar-benar nggak ngenalin kamu lagi, mas. Entah kemana pria yang dulu begitu mengenalku lahir batin. Yang ada di hadapanku ini tak lebih dari lelaki egois dengan mulut berbisanya. Terserahlah kau mau menilaiku seperti apa dan bagaimana. Aku tak peduli. Mau menjelaskan pun percuma. Buang-buang waktu, tenaga, dan nafas aja. Kalau cuma mau membuat keributan mending mas pergi aja deh. Saya lelah, mau istirahat," ucap Oryza lemah dengan nafas tercekat dan mata memerah.
Hendrik mematung dengan tangan mengepal. Ia sebenarnya sedikit merasa bersalah telah membuat Oryza kembali sakit hati. Dapat ia lihat dari sorot matanya yang memendam kekecewaan. Namun, melihat hal tersebut justru membuat Hendrik merasa kalau ia masih memiliki kesempatan. Ia meyakini, Oryza masih memiliki perasaan padanya. Setelah mematung sejenak, Hendrik pun berlalu dari sana dengan senyum terkembang.
Sementara itu, di sebuah kamar hotel, terdapat seseorang yang baru saja mengenakan pakaiannya menghempaskan bokongnya di sebuah sofa yang terdapat di kamar itu. Ia baru saja selesai mandi setelah seharian ini sibuk dengan pembukaan cabang Angkasa Mall di kota P.
Entah mengapa, tiba-tiba saja ia merindukan wanita pujaan hatinya juga anak-anaknya. Padahal semalam mereka baru saja saling melepas rindu melalui sambungan video. Ia rasanya ingin sekali segera menghubungi wanita pujaannya, tapi ia harus menunda keinginannya itu sebab hari sudah menjelang sore. Tidak mungkin ia menghubungi saat ini. Jadi ia beralih membuka layar laptopnya untuk melihat aktivitas di sekitar apartemen. Tiba-tiba sorot matanya menajam, saat ia melihat sosok seorang yang sangat tidak ia sukai keberadaannya sedang beradu argumen dengan Oryza. Rahangnya mengeras, ternyata Hendrik masih gigih berusaha untuk mendapatkan Oryza kembali.
'Jangan harap kau bisa kembali pada mantan istimu! Apa yang kau tanam, itu yang kau tuai"
"Saturnus," panggil Damar dingin.
"Iya, tuan," sahut Saturnus yang kini telah berdiri di belakangnya.
"Atur jadwalku, pokoknya besok setelah pembukaan cabang Angkasa Mall, aku ingin pulang segera!"
"Baik, tuan!"
...***...