[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.46 Bos gila



To tok tok ...


Saturnus terlebih dahulu mengetuk pintu kemudian membukanya. Dari arah belakang, tampak Oryza berjalan masuk sembari membawa baki yang diatasnya terdapat beberapa cangkir kopi untuk tamu atasannya itu.


Damar yang melihat Oryza masuk pun tampak tersenyum sangat tipis sehingga tak ada satupun yang menyadarinya. Tapi ternyata, bukan hanya dirinya saja yang terpaku, dua orang klien Damar pun ikut menatap Oryza dengan penuh minat. Dalam sekejap saja Damar menyadarinya membuat Damar seketika terbakar api cemburu. Apalagi saat salah satu kliennya tampak melemparkan senyuman kepada Oryza yang dibalas Oryza dengan senyum tipis sebagai sopan santun.


Alana yang duduk di samping Damar pun turut menyadari atmosfer yang tiba-tiba berubah, menunjukkan atensi para lelaki di ruangan itu pada seorang wanita yang baru diketahuinya ternyata seorang janda.


'Pake pelet apa sih dia sampai semua lelaki pada tertarik? ' geram Alana.


"Alana, sudah kamu catat semua yang saya ucapkan tadi?' tanya Damar memecah lamunan Alana.


Alana sontak saja gelagapan karena mendapatkan pertanyaan itu. Ia terlalu fokus pada Oryza sehingga tidak berkonsentrasi terhadap jalannya meeting yang baru saja dilanjutkan setelah Oryza keluar tadi.


"Ah, ap-apa tuan?" tanya Alana gelagapan membuat Damar memicing tajam.


"Setelah ini, temui saya di ruangan saya!" titah Damar dingin membuat bulu kuduk Alana sampai menegang.


...***...


"Apa ini, hah?"


Brakkk ...


Damar melempar kasar laporan yang baru saja dirampungkan Alana secepat kilat.


Alana tampak berdiri mematung dengan wajah menunduk. Telapak tangannya terasa dingin, wajahnya pun telah memucat.


"Apa yang kau pikirkan sepanjang jalannya meeting tadi sampai laporan hasil meeting pun sangat berantakan dan nggak jelas seperti ini? Apa kau sudah bosan bekerja? Kalau iya, lebih baik kau segera urus surat pengunduran dirimu! Saya tidak suka pekerja yang tidak profesional," bentak Damar dengan sorot mata tajam.


Brukkk ...


Alana menjatuhkan lututnya di hadapan Damar sambil terisak.


"Maafkan saya, tuan! Maafkan, saya! Maaf, hari ini saya sedang tidak fokus karena sebelum meeting tadi, kakak saya mengabari kalau ibu saya masuk rumah sakit. Saya mohon, maafkan saya! Jangan pecat saya. Saya berjanji, saya akan bekerja lebih baik lagi ke depannya. Saya mohon, maafkan saya!"


Alana memohon dan mengiba agar Damar mau memaafkannya. Ia bahkan sampai menggunakan ibunya sebagai alasan agar ia tidak dipecat. Tentu saja ia tidak mau dipecat. Bukan hanya karena jabatannya di sini sudah bagus, tapi juga gajinya cukup tinggi. Belum lagi ia memang menyukai Damar. Jadi bagaimanapun caranya, ia ingin tetap bekerja dengan Damar.


Damar menghela nafas kasar, kemudian kembali duduk di atas kursinya. Ia memang lemah bila berhubungan dengan hal yang disebut ibu. Bagaimanapun dirinya termasuk seseorang yang sangat menyayangi ibunya, jadi ia tidak tega bila ada yang bersedih karena ibunya sakit.


"Ya sudah, sekarang bereskan barangmu dan segera temui ibumu. Setelah itu, segera bereskan laporan ini dan segera email ke saya," titah Damar setelah berhasil meredam kemarahannya.


Alana pun segera pamit keluar setelah Damar bersedia menerima alasannya. Saat hendak keluar, Alana melirik ke arah Oryza dengan tatapan permusuhan. Entah kenapa ia harus marah dan membenci Oryza. Padahal Oryza tak pernah sekalipun mengusik hidupnya. Tapi itulah sifat manusia, bila iri dengki telah berhasil menguasai hati, maka orang yang suci pun jadi tampak menjijikkan di mata mereka. Janganlah kita memupuk sifat dengki karena dengki bisa memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar!


Dari tempat duduknya, Oryza awalnya terkejut hingga ketakutan sendiri saat melihat laki-laki yang kerap bersikap aneh padanya tampak begitu murka pada sekretarisnya. Namun, kemarahan itu sekejap saja mereda saat Alana memberitahukan alasannya. Ia berpikir, Damar merupakan pria yang sangat pengertian. Tapi ia juga bisa sangat tegas di saat yang memang diperlukan.


Dalam hitungan detik, Damar tergelak kencang membuat Oryza cemberut seraya mencebikkan bibirnya kesal. Ternyata, atasannya itu hanya menggodanya saja.


'Dasar, bos gila! Barusan ngamuk-ngamuk, dalam hitungan menit udah kumat lagi gilanya.' Rutuk Oryza dalam hati.


"Nggak usah ngatain saya gila! Nanti yang ada kamu malah tergila-gila sama saya," cetus Damar membuat Oryza membulatkan matanya. Bagaimana bosnya itu bisa tahu kalau dirinya mengumpatinya dengan kata 'gila'? Apakah bosnya itu cenayang yang bisa membaca isi hati seseorang?


"Saya bukan cenayang. Dengan melihat raut wajah muka kamu aja saya bisa tahu kalau kamu sedang ngatain saya gila," pungkas Damar membuat Oryza tertunduk malu.


Padahal baru beberapa hari bekerja dengan Damar, tapi sepertinya atasannya itu sudah bisa begitu mengenali dirinya.


Sontak saja, Alana yang belum jauh dari depan ruangan Damar dapat mendengar dengan jelas gelak tawa Damar yang belum pernah didengarnya selama ini. Dan ini kali pertamanya mendengar tawa lepas dari seorang Damar Prayoga Putra Angkasa. Alana melanjutkan langkahnya sambil menghentakkan kaki. Tangannya mengepal erat, ia jadi makin penasaran, siapa Oryza sebenarnya dan bagaimana bisa Damar seperti begitu mengistimewakannya?


...***...


"Ayah," seru Raja dan Ratu bersamaan saat baru saja keluar dari ruang kelas mereka.


Jelas saja mereka terkejut sebab ini merupakan pertama kalinya ayahnya berinisiatif datang sendiri untuk menjemput mereka pulang sekolah. Raja dan Ratu pun berjalan sambil bergandengan tangan mendekati sang ayah yang tampak memasang senyum begitu lebar untuk menyambut mereka.


"Ayah kenapa ada disyini?" tanya Ratu penasaran.


"Ayah cuma pingin jemput kalian pulang sekolah," ujar Hendrik beralasan.


"Kenapa?" tanya Raja yang tak kalah bingungnya.


"Kok kenapa? Kalian nggak senang lihat ayah datang jemput kalian?"


"Nggak, cuma ... tumben. Ayah nggak dikasi racun kan sama Tante ulat bulu?" celetuk Raja masa bodoh.


"Ih, anak ayah kok ngomongnya gitu sih!"


"Habisnya ayah aneh, ya nggak bang?" Ratu mendongakkan kepalanya menatap sang kakak yang mengangguk pertanda membenarkan.


Hendrik mendesah lirih, ini memang salahnya. Raja dan Ratu tidaklah salah. Ia pun turut membenarkan. Karena terlalu sibuk mengejar karir, juga terlalu sibuk dengan Githa, ia jadi mengabaikan keberadaan istri dan anak-anaknya. Seandainya ia bisa lebih perhatian lagi dengan keluarga kecilnya, ia yakin mereka akan tetap berada dalam genggamannya. Dan ia yakin, Oryza pasti akan memaafkannya. Bagaimana pun, apa yang diupayakannya itu adalah untuk kesejahteraan keluarga kecil mereka di masa depan.


"Mau kan ayah anter pulang? Atau kalian mau jalan-jalan dulu?" bujuk Hendrik mencoba menarik perhatian Raja dan Ratu, serta mengabaikan ucapan anaknya tadi. Bagaimana pun, ia tengah berusaha meraih perhatian anak-anaknya. Dengan begitu, ia yakin pasti bisa mendapatkan perhatian Oryza lagi.


...***...


...PD amat, pak!...


...Yakin tuh Ryza masih mau sama mantan laki modelan kayak elu?...


...Happy reading 🥰🙏💪**...