![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Biarlah seluruh dunia menghujatku sebagai ibu yang jahat dan tak bertanggung jawab, tapi satu yang pasti, cintaku untuk putriku akan abadi tak lekang oleh waktu. Begitu pula cintaku untuk mas Abi, suamiku, biarpun tak pernah terucap lewat bibir ini, tapi hati ini selalu menggumamkan namamu. Baik di setiap desah nafasku maupun di setiap lirihnya doa pada sang pencipta. Semoga kelak kita bertemu dan bersatu kembali di alam paling kekal milik sang pencipta.
Entah berapa kali Oryza telah menumpahkan tangisnya setiap membaca lembar demi lembar goresan tinta mendiang sang ibu. Kini Oryza menjadikan diary itu obat rindu pada sang ibu. Ia tidak memiliki satupun foto sang ibu. Tapi beruntung ternyata ibunya pernah berfoto dengan istri dokter Heru jadi ia mencetak foto tersebut dengan mengedit foto Maida seorang saja. Tentu Oryza sangat berterima kasih sekaligus bersyukur sebab ibunya memiliki sahabat seperti dokter Heru.
"Sayang, kamu udah siap?" tanya Damar. Ia baru saja muncul dari luar setelah memastikan kedua bocah kesayangannya telah siap dengan gamis dan baju Koko yang telah Oryza siapkan.
"Sudah, bang. Ayo!" ajaknya sambil menggamit lengan Damar menuju ke ruang tamu tempat anak-anak mereka telah menunggu.
Ya, setelah beberapa hari memantapkan diri, akhirnya Oryza pun telah merasa yakin untuk datang ke tempat peristirahatan terakhir sang ibu. Ternyata lokasinya cukup jauh. Sedikit ke pelosok daerah. Namun, tempatnya ternyata cukup indah dan menenangkan. Terletak di kaki bukit nan hijau dan asri. Membuat mereka yang baru saja tiba di sana justru merasa nyaman dan tentram.
"Tempatnya bagus banget, om. Jadi pingin punya rumah di sini juga," ujar Oryza saat turun dari mobil. Sejauh mata memandang, pemandangan hijau nan asri disertai udara yang begitu bersih dan menyegarkan seolah menyambutnya dengan suka cita.
"Lho, nggak perlu pingin-pingin kali, Za. Kan rumah mama kamu ada di sini. Jadi kapanpun kamu mau ke sini, tinggal datang aja. Tuh, rumahnya yang pagar hijau di ujung jalan sana. Rumah itu masih ada yang urus. Om minta tolong tetangga sebelah buat bersihin rumah mama kamu," ujar dokter Heru.
"Serius, Om?" tanya Oryza memastikan yang diangguki dokter Heru sembari tersenyum sumringah. "Nanti sebelum pulang, kita mampir ke rumah mama dulu, ya bang!" ajak Oryza antusias.
"Siap my Humaira. Apapun yang kau mau, akan aku lakukan," sahut Damar pongah membuat Oryza berdecak.
"Kalau Ryza minta ambilin bulan, Abang mau?" tantang Oryza.
"Siapa takut. Tinggal buat aja pengumuman siapa yang kenal yang namanya bulan, bawa dan temuin ke Abang. Terus Abang bawa dia ke kamu, beres kan! Atau kamu Abang ambilin bulan yang bisa dimakan alias moon cake? Nggak masalah, tinggal beli aja di toko kue atau online juga banyak yang jual," jawab Damar asal membuat Oryza gemas lalu menjewer telinga Damar.
"Awww ... sakit, Hum!" pekik Damar pura-pura kesakitan.
"Bunda, napa ayah bunda jewel sih? Syakit tau!" protes Ratu sambil berkacak pinggang membuat Damar nyengir 5 jari mendapatkan pembelaan dari Ratu.
"Iya bunda. Kata bunda kita nggak boleh nakal, kenapa bunda malah nakalin ayah?" timpal Raja membuat Oryza mendelik tajam pada Damar yang kini tergelak kencang.
"Sayang, bunda nggak nakalin ayah kok! Bunda itu lagi main tebak-tebakan sama ayah. Siapa yang nggak bisa jawab, halus dijewer. Nah, tadi ayah nggak bisa jawab pertanyaan bunda jadi bunda jewer ayah deh!" dusta Damar membuat kedua bocah itu ber'oh ria.
"Emang apa tebak-tebakannya ayah?" tanya Raja penasaran.
"Eh, itu ... "
"Jadi ke makam mama kamu nggak nih?" sela dokter Heru membuat keempat orang itu menoleh secara bersamaan.
"Jadi, om," sahut Oryza cepat.
Di saat yang sama, Damar mengusap dadanya.
...***...
Kini Oryza, Damar, dan kedua anaknya tengah berjongkok di samping pusara Maida. Sorot mata mereka begitu sendu, apalagi Oryza yang kini kembali tergugu. Mengapa dunia begitu tidak adil padanya? Di saat mereka bersama, ia tak dapat merasakan kasih sayang ibunya. Namun, di saat segala kebenaran tersingkap dan mereka bisa berjumpa lagi, justru sebuah nisan lah yang menyambut pertemuan pertamanya setelah sekian tahun lamanya mereka berpisah.
"Ma, ini Ryza, ma," cicit Oryza sambil menyeka bulir-bulir bening yang mengalir membasahi pipinya. "Ma ... maafin Ryza karena baru mengetahui fakta mengapa mama menjaga jarak dengan kami. Ryza begitu bodoh, ma, mengambil kesimpulan tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Maafin Ryza, ma. Maafin, Ryza," cicitnya tergugu.
Damar mengusap punggung Oryza yang bergetar menghantarkan rasa nyaman hingga ke dalam sanubari Oryza.
"Ma, kenalin, ini bang Damar. Dia ... suami Ryza. Dan ini anak-anak Ryza, cucu mama. Nama mereka Raja dan Ratu. Oh ya, ada dua lagi yang mau kenalan, tapi lain kali aja ya ma soalnya cucu mama yang dua itu masih ada di dalam perut Ryza. Doain mereka sehat ya, ma. Doain lahiran Ryza lancar. Ryza ... sayang mama. Papa pun juga begitu. Asal mama tahu, papa nggak pernah benci mama. Rasa cinta yang terlalu besar mengalahkan ego dan kebencian. Semoga mama dan papa kembali dipertemukan di surga-Nya Allah. I love you, ma. We will always love you," tukas Oryza yang kembali menitikkan air mata. Namun air mata kaki ini memancarkan kelegaan sebab akhirnya ia tahu, mamanya merupakan wanita yang baik. Wanita hebat yang berani mengorbankan segalanya demi keluarga tersayang. Serta air mata kelegaan sebab saat persatu masalah yang pernah membebaninya berhasil ia bereskan.
Oryza menoleh ke arah Damar laku tersenyum semanis mungkin. Hidupnya kini jauh lebih baik dan membahagiakan setelah kehadiran lelaki di sampingnya itu. Hidupnya benar-benar terasa indah sekarang. Sungguh, kedatangan Damar ibarat pelita yang menerangi hidupnya yang gelap. Kehadiran laki-laki itu begitu berarti. Bila ada yang bertanya apa yang paling Oryza syukuri di dunia ini, maks jawabannya adalah kehadiran lelaki yang telah menjadi imam dalam keluarganya itu.
Membantu tanpa pamrih. Mencintai tanpa batas waktu. Menanti tanpa dipinta. Memiliki hati seluas samudera. Maka, nikmat mana lagi yang dapat ia dustai sebab segala nikmat kini telah berada di genggamannya.
Puji syukur tak pernah lupa Oryza sembahkan pada yang Maha Kuasa sebab telah menghadirkan Damar di sisi dan hidupnya. Menjadikan pria itu sebagai imamnya, suaminya, pemimpin dalam rumah tangganya, dan ayah bagi anak-anaknya.
"Bang, makasih ya!" ucap Oryza setelah mereka saling bertatapan-tatapan sekian detik lamanya.
Damar mengerutkan keningnya tak mengerti," untuk?"
"Untuk segalanya" jawabnya. "I love you berkebon-kebon," seloroh Oryza membuat suasana serius menjadi menyebalkan namun tetap terasa membahagiakan.
Merasa gemas, Damar lantas mencubit ujung hidung Oryza.
"Dasar usil," ujar Damar seraya terkekeh.
Tiba-tiba angin berhembus begitu lembut membelai kulit Oryza. Pucuk pohon dan dedaunan tampak melambai-lambai begitu indah. Lalu Oryza mengalihkan pandangannya pada sebuah pohon bunga Kamboja. Di sana ia melihat sesosok wanita yang tampak masih begitu cantik berpakaian serba putih tersenyum manis padanya. Kemudian sosok itu melambai ke arah Oryza seakan memberikan salam perpisahan. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Oryza tersenyum lalu ikut melambai.
"Mama," lirihnya.
Lalu perlahan sosok itu menghilang beserta desau angin. Oryza tersenyum lebar. Akhirnya, penantian panjangnya terobati. Walaupun hanya sesaat, ia merasa puas. Akhirnya, ia bisa melihat ibunya untuk terakhir kalinya dan mengucapkan salam perpisahan dengan hati yang lapang.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...