![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Dengan langkah tergesa, Oryza melintasi koridor rumah sakit. Sesekali ia mengusap peluh yang membanjiri dahinya. Nafasnya tersengal, jantungnya berdebar, panik, khawatir, was-was, cemas, semua bercampur aduk menjadi satu saat mendengar panggilan telepon dari mantan mertuanya itu yang mengabarkan kalau Ratu masuk rumah sakit.
"Ya Allah, Ratu, kamu kenapa nak?" gumamnya disela langkah terburu-buru dirinya.
Tak lama kemudian, ia melihat seorang wanita seusianya tampak duduk dengan cemas di depan sebuah ruangan UGD. Ia sangat mengenali wanita itu. Wanita yang hampir dua bulan ini menemani hari-harinya di rumah besar mantan suaminya.
"Siti," lirih Oryza dengan nafas tersengal-sengal.
"Nyonya," serunya dengan mata berkaca-kaca.
"Bagaimana dengan keadaan Ratu, Ti? Ratu kenapa?" cecar Oryza masih dengan nafas tak beraturannya.
"Itu Nya, tadi sore non Ratu mendadak demam tinggi sekali. Saat Siti cek pake termometer, suhunya mencapai 37,5°. Siti udah coba kompres sampai berkali-kali, tapi nggak turun juga, malah makin naik. Non Ratu juga sempat muntah-muntah. Siti mau kasi tau tuan Hendrik, tapi tuan pergi nggak tahu kemana, nggak bisa dihubungi juga, nyonya Githa juga nggak ada. Cuma ada nyonya besar jadi saya kasih tahu nyonya besar terus nyonya besar suruh bawa ke rumah sakit aja minta antar sopir. Nyonya nggak bisa ikut soalnya juga sedang nggak enak badan," jelas Siti. "Tapi, nyonya tahu dari mana Ratu di bawa ke sini?" tanya Siti bingung.
"Tadi Oma nya anak-anak yang telepon. Jadi bagaimana keadaan Ratu, Ti?"
"Saya belum tahu, nyonya. Masih diperiksa di dalam," ucap Siti dengan gurat wajah yang juga khawatir.
"Raja jadi sama siapa, Ti?"
"Tadi saya minta Dodi tidur temenin den Raja, Nya."
Oryza menghela nafas panjang, ia benar-benar khawatir sekarang. Oryza pun mendudukkan bokongnya di kursi panjang yang tersedia di depan ruang UGD. Pikiran Oryza berkelana entah kemana. Ratu demam tinggi dan muntah-muntah, tapi ayahnya justru pergi entah kemana. Sepertinya mengambil hak asuh anak-anak memang hal yang tepat. Lihat saja, di saat anaknya sedang sakit, ayahnya justru entah dimana rimbanya.
Apalagi yang bisa ia harapkan dari sosok mantan suaminya itu?
Tak ada.
Rasa kecewanya kini kian menggunung. Beruntung kini ia telah melepaskan gelar istri dari Hendrik Wicaksana, kalau tidak, mungkin ia bisa mati berdiri karena sikap dan perlakuan mantan suaminya itu.
Padahal baru saja ia merasa bahagia sebab ia telah memenangkan hak asuh atas anak-anak dan rencananya ia akan menjemput anak-anak keesokkan harinya. Tak mungkin juga ia menjemput malam hari. Oryza ingin mempersiapkan segalanya dengan baik agar anak-anaknya dapat tinggal dengan nyaman dengannya nanti.
Ceklek
Pintu ruang UGD terbuka, lalu keluarlah seorang dokter wanita yang sangat cantik. Oryza pun dokter itu saling membelalakkan matanya saat mata mereka saling bersirobok.
"Mbak Ryza?' tanya dokter itu ragu.
"Ah, iya, bukankah kamu ... "
"Hahaha ... ternyata dunia ini sempit ya! Oh ya, tempo hari aku belum memperkenalkan diri, aku Karin, adik bang Damar," ujar Karin seraya terkekeh. "Gadis kecil di dalam itu, anak mbak Ryza kan?"
"I-iya, bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Oryza masih dengan raut panik.
"Iya, Rin, gimana keadaan Ratu sekarang? Dia sakit apa? Tidak ada yang aneh kan?" cecar Oryza membuat Karin tersenyum maklum.
"Ratu tadi demam tinggi karena dehidrasi dan perutnya kosong terlalu lama. Akibatnya asam lambungnya naik, apa dia jarang makan akhir-akhir ini?" tanya Karin.
Oryza tersentak, lantas ia segera menoleh ke arah Siti yang panik.
"Maaf Nya, semenjak nyonya pergi, memang non Ratu susah sekali disuruh makan. Apalagi kalau satu meja dengan nyonya Githa, non Ratu langsung balik lagi ke kamar. Saya emang udah anterin makanannya ke kamar, tapi pas saya mau suapin, non Ratu minta saya keluar. Pas saya cek, piring udah kosong, saya pikir makanannya pasti habis dimakan, tapi pagi tadi saya baru tahu, kalau makanannya selama ini dibuangnya di wastafel," ucap Siti merasa bersalah karena tak bisa menjaga Raja dan Ratu dengan baik. Padahal baru satu Minggu Oryza keluar dari rumah itu, tapi lihatlah keadaan anaknya, sudah seperti ini.
"Kamu nggak bilang sama Hendrik?" tanya Oryza. Ia bahkan enggan menyebutkannya 'mas' sebab ia merasa Hendrik tak pantas ia perlakukan dengan sopan seperti sebelumnya. Bila ia masih memanggil mas, bisa-bisa ia malah besar kepala, itu pikirnya.
"Pagi tadi saya udah mau bilang, tapi baru mau kasih tahu, nyonya Githa datang terus narik tuan menjauh."
Oryza mengehela nafas kasar, ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap Hendrik. Ia yang memaksa mengambil anaknya, tapi ia justru mengabaikan keduanya.
"Bagaimana dengan makan Raja? Apa seperti itu juga?"
Siti menunduk seraya meremas kedua telapak tangannya yang sudah berkeringat dingin.
Oryza memejamkan matanya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Karin.
"Jadi bagaimana keadaan Ratu sekarang, Rin?"
"Ratu udah cukup baikan, tapi masih harus dalam pengawasan. Sebentar lagi ia akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kalau Ratu sudah sadar, mbak bisa segera memberikannya makan. Tapi nggak bisa makanan yang berat atau pedas dan asam dulu sebab perutnya masih kosong," ujar Karin menjelaskan. Oryza pun mengangguk seraya mengucapkan Alhamdulillah dalam hatinya. Akhirnya, ia bisa bernafas lega sekarang. Lalu Oryza pun mengucapkan terima kasih pada Karin.
"Mbak, kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungin atau cari aku. Aku akan dengan senang hati membantu mbak dan calon keponakanku itu," ujar Karin seraya mengerlingkan sebelah matanya membuat Oryza lagi-lagi bingung bahkan ia sampai tercengang mendengar kata-kata yang lagi-lagi tidak ia mengerti.
'Tadi calon kakak ipar, sekarang calon ponakan. Apa maksudnya sih? Apa dia salah paham terus ngira aku pacar kakaknya? Mana mungkinlah seorang pengusaha besar, tampan, dan mapan serta sukses seperti tuan Damar mau melirikku yang hanya seorang janda, miskin, yatim, dan tak berpendidikan ini. Huh, ada-ada saja.' batin Oryza bermonolog.
...***...
Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, ya nggak kak! 😄
Di tempat Othor lagi hujan deras nih, bikin othor jadi ngantuk . Di tempat kakak-kakak gimana?
Oh ya, makasih ya kak yang udah like, komen, kasih hadiah, dan vote juga. Jangan lupa kasih rate 🌟 🌟🌟🌟🌟 juga di novel othor ya kak! 🙏😁
...Makasih sebelumnya. 🥰🥰🥰...
...Happy reading 🥰🥰🥰...