[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.44 Niat Hendrik



Oryza dan Damar berjalan bersisian di supermarket dengan mata sibuk mencari apa saja yang akan mereka beli. Sore itu, supermarket tampak mulai dipadati pengunjung. Sepertinya banyak juga orang-orang yang baru pulang bekerja mampir ke supermarket untuk belanja bahan masakan. Ada yang belanja sendirian, ada yang ditemani teman, ada juga yang datang bersama pasangannya. Oryza tanpa sadar tersenyum simpul.


Diam-diam Oryza melirik Damar dengan ekor matanya. Melihat beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka, ia yakin kalau mereka mengira dirinya dan Damar adalah pasangan. Yah, memang mereka pasangan, tapi pasangan majikan dan kacung.


"Tuan, kesana yuk!" ajak Oryza menghampiri tumpukan daging, ikan, dan ayam yang sudah dikemas rapi dan bersih. Damar pun mengekori Oryza yang tampak memilih-milih daging. "Tuan, suka makan daging kan?" tanya Oryza dengan mata dan tangan fokus memilah daging.


"Hmmm ... " sahut Damar singkat.


"Ada alergi sesuatu?" tanya Oryza untuk memastikan jangan sampai akibat keteledorannya, atasannya jadi jatuh sakit.


"Nggak,"


"Seafood?"


"Suka,"


"Ada menu-menu atau bahan makanan yang tidak disukai?"


"Alhamdulillah aku suka semua. Mau makan nasi pakai sambal terasi dan kerupuk doang pun aku nggak masalah asal kamu tega aja," ujar Damar acuh.


"Sayur pare?" Oryza mengangkat sebiji pare yang ukurannya cukup besar sambil tersenyum geli. Biasanya kan banyak yang nggak suka pare, pikirnya. Ia yakin, pria seperti Damar pun juga tidak suka.


"I like it, apalagi digulai atau disambal," sahut Damar membuat mulut Oryza membulat.


"Wow, serius tuan! Wah, kita sama dong, nggak pilih-pilih. Kalau begitu, malam ini kita masak apa? Ada ide?" tanya Oryza tanpa sadar menyebut kata 'kita' seakan mereka akan makan malam bersama.


"Aku serahin semuanya ke kamu. Kamu beli aja apa yang menurut kamu perlu dibeli. Kalau ada yang pingin kamu beli, pilih aja, nanti masukkan ke tagihanku," ujar Damar seraya menarik telapak tangan Oryza dan meletakkan sebuah kartu di atasnya. Kemudian Damar membisikkan deretan angka yang begitu familiar di telinganya.


Kemudian Damar melenggangkan kakinya entah kemana meninggalkan Oryza yang masih terpaku di tempatnya. Bagaimana tidak, posisi Damar tadi begitu dekat dengannya. Bahkan ia bisa merasakan hangatnya deru nafas yang menerpa lehernya dan aroma khas dari atasannya itu. Bukan bau, bukan juga aroma mint seperti di novel-novel, tapi khas dan menurutnya aroma itu sangat ...


'Aduh, ni otak kok malah travelling sih! Belum juga lama menjanda, udah berpikiran aneh-aneh aja kamu, Za, Za,'


...***...


Oryza dan Damar telah tiba tiba di lobi sambil menenteng tas belanjaan yang cukup besar. Sebenarnya kantung belanjaannya cuma dua, tapi entah apa isi kantung ketiga sebab jantung itu belanjaan Damar sendiri. Oryza juga tidak mau banyak bertanya. Mungkin itu kebutuhan pribadi Damar, pikirnya.


"Tuan, kok malah mencet bell unit saya?" tanya Oryza heran saat Damar justru memencet bel apartemennya, bukan miliknya sendiri. Tapi Damar hanya tersenyum lebar.


Tak lama kemudian, Siti membuka pintu. Dari balik tubuhnya muncul Raja, Ratu, dan Dodi.


Siti mengerjap bingung, pun anak-anak sebab mengapa justru Damar yang berdiri di depan apartemen mereka, sedangkan Oryza berdiri di depan pintu apartemen Damar.


"Bunda kok si syana? Telus om Damal kok disyini?" tanya Ratu bingung.


"Om ada sesuatu buat kalian, nih!" Damar menyodorkan sebuah kantong putih berukuran besar membuat ketiga bocah itu penasaran.


Tak butuh waktu lama, ketiga anak-anak tersebut membulatkan matanya dengan begitu sumringah saat melihat isinya yang dipenuhi roti, wafer, coklat, susu, marshmellow, dan aneka snack lainnya.


"Ini beneran buat kami, om?" Kini Raja yang bersuara membuat Damar mengangguk. "Yeay, makasih om. Om baik deh," seru Raja dan Ratu kegirangan. Berbeda dengan Oryza yang bengong melihat interaksi atasannya dan anak-anaknya.


Damar melebarkan senyum saat melihat ekspresi bahagia di wajah ketiga bocah itu. Dirinya memang berniat mengambil hati Raja dan Ratu. Tapi ia mendekati bukan semata-mata karena ingin menarik simpati Oryza, melainkan ia memang menyukai anak kecil. Damar tak mau pilih kasih. Biarpun Dodi anak asisten rumah tangga Oryza, tapi ia memperlakukannya sama. Apalagi bocah malang itu tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Sungguh sangat menyedihkan.


Setelah ketiga bocah itu masuk, Damar membalikkan badannya.


"Udah hampir Maghrib, mandi gih terus sholat. Setelah itu baru masakkin makan malamku," titah Damar kemudian ia membuka pintu kemudian masuk ke dalamnya meninggalkan Oryza yang lagi-lagi bingung dengan sikap atasannya tersebut.


...***...


Suara denting spatula beradu dengan wajan terdengar memenuhi area dapur apartemen Damar. Saat ini Oryza tengah memasakkan makan malam untuk atasannya itu. Sedangkan Damar, ia tampak sibuk dengan tablet di tangannya dengan ekor mata sesekali melirik ke arah Oryza yang tampak begitu cekatan melakukan tugasnya.


"Kamu masak apa?" tanya Damar.


"Saya masak ... "


Belum sempat Oryza menjawab, tiba-tiba ponselnya berdering. Oryza lantas merogoh ponsel yang ia letakkan di saku piyamanya. Matanya menyipit tak suka saat melihat nama sang penelepon jadi ia memilih mengabaikannya. Namun, ponsel itu lagi-lagi berdering. Sepertinya sang penelepon takkan berhenti sebelum panggilan diangkat.


"Siapa?" tanya Damar penasaran.


"Bukan orang penting, tuan," jawab Oryza datar.


"Kalau nggak penting, kenapa dia telepon terus? Sebaiknya kamu angkat, bisa saja ada sesuatu yang ingin orang itu sampaikan," nasihat Damar membuat Oryza menghela nafas kasar.


Lalu ia pun permisi sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan itu.


"Halo," ketus Oryza saat panggilan itu ia angkat.


"Assalamu'alaikum, Za. Kamu kok ketus banget sih, Za? Biasanya kamu duluan yang ucap salam, kenapa sekarang malah kayak gini?"


"Wa'alaikum salam. Ada apa?" tanya Oryza cepat, mengabaikan pertanyaan Hendrik.


Ya, yang menelponnya saat ini adalah Hendrik. Ia kini tengah benar-benar menjalankan niatnya untuk menarik hati Oryza lagi agar mau kembali padanya.


"Kamu apa kabar, Za?" tanya Hendrik lembut.


'Cih, sok perhatian, sok lembut. Selama ini kemana aja? Saat masih berdua aja, kamu jarang telepon. Kamu bahkan mengabaikan panggilanku. Giliran udah pisah baru sok perhatian. Telat!'


"Baik."


Terdengar helaan nafas kasar dari seberang sana. Mungkin Hendrik pun merasa kalau ia telah jengah berbicara dengannya.


"Kalau anak-anak?"


"Baik,"


"Za, kamu masih marah sama aku?"


"Menurutmu?"


"Za,"


"Udahlah, nggak usah banyak basa-basi, sebenernya kamu mau apa?" Kesal Oryza.


"Za, aku tahu kalau kita sudah pisah. Tapi tak bisakah kita sekedar menjadi teman. Demi anak-anak, Za. Aku tahu, aku salah, tapi aku tak ingin kita berjarak seperti ini. Aku ingin menjalin hubungan baik denganmu. Maafkan aku karena sudah menyakitimu, bisakah kau sedikit melunakkan hatimu? Bukan untukku, Za, tapi untuk anak-anak. Aku nggak mau anak kita melihat kita saling membenci, walaupun sebenarnya kaulah yang membenciku karena sejujurnya aku justru masih menc ... "


"Za, udah belum? Udah belum? Kita makan dulu yuk!" tiba-tiba terdengar suara tak jauh dari posisi Oryza membuat perempuan itu menoleh dan reflek menutup panggilan itu.


Dari seberang sana, Hendrik mengumpat seraya membanting gelas kopinya saat menangkap suara lembut dan penuh perhatian dari seorang pria pada Oryza.


"Siapa laki-laki itu? Aaargh ... Aku takkan biarkan kamu dimiliki orang lain, Za. Kamu hanya milikku, hanya milikku," gumamnya dengan dada bergemuruh dan gigi bergemeluk.


...***...


**Udah double up ya kak! Kalo yg lain mungkin 2 bab ini bisa jadi 4 bab tapi othor dijadiin 2 aja deh!


...Happy reading 🥰🥰🥰**...