[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.93



Setibanya di ruangan ibu Saturnus, Saturnus langsung mempersilahkan Siti dan Dodi masuk. Dahi ayah Saturnus berkerut dalam, merasa heran sekaligus bingung melihat keberadaan Dodi.


"Itu adikmu, nduk?" tanya ayah Saturnus pada Siti. Bukan tanpa alasan ia mengira Dodi adalah adik dari Siti, sebab wajah Siti masih terlihat begitu muda. Mereka terlihat lebih seperti adik dan kakak.


Ibu Saturnus yang baru saja sadarkan diri pun ikut memperhatikan keduanya.


"Ini Dodi, pak. Dodi ini anak saya,' ucap Siti tanpa keraguan. Ya, pikirnya untuk apa ragu karena kenyataannya memang Dodi itu darah dagingnya sendiri. Meskipun ia lahir di luar pernikahan, tapi semua itu bukanlah salah Dodi. Semua terjadi begitu saja. Ia akui dirinya salah, tapi ia tak pernah menyesali telah melahirkan Dodi ke dunia. Bila tidak ada Dodi, entah bagaimana nasibnya. Hidup sendiri, sebatang kara, tanpa ada sanak saudara sama sekali.


"Saturnus, dasar anak kurang ajar kau! Jadi selama ini kau sudah memiliki anak dengan Siti, hah! Kau benar-benar seorang ayah yang tidak bertanggung jawab," pekik ibu Saturnus tiba-tiba membuat semua orang di ruangan itu tersentak. Termasuk Dodi yang segera bersembunyi di balik tubuh sang ibu.


"Pak, aku nggak mau tahu menahu, pokoknya anak nggak tahu diri itu harus menikahi Siti hari ini juga. Kasihan Siti dan cucuku. Ya ampun gustiiii, kenapa aku punya anak satu-satunya malah nggak bertanggung jawab kayak gini," pekik ibu Saturnus membuat Saturnus panik.


"Bu, bu-bukan seperti itu. Unus ... Unus ... Bukannya tak mau bertanggung jawab, tapi ... tapi ... *


"Nggak ada tapi-tapian. Pokoknya kau harus menikahi Siti hari ini juga atau kamu mau ibu ... aaakh ... pak sa-sakit. Aduh ... "


"Bu," teriak Saturnus dan ayahnya panik saat melihat wanita paruh baya itu mengerang kesakitan di atas ranjang pasien.


"Nus, tak ada cara lain! Cari ustadz sekarang yang bisa menikahkan kalian secepatnya," titah ayah Saturnus.


"Tapi pak ... "


"Tidak ada tapi-tapian atau kamu mau ibumu ... "


"Oke, oke, baik. Unus cari pak ustadz dulu yang bisa segera menikahkan kami. Bu, ibu sembuh ya! Unus nggak mau nikah kalau ibu masih sakit. Pokoknya ibu harus sembuh. Titik. Nggak pakai tanda tanya, tanda seru, apalagi tanda baca lainnya," ucap Saturnus tegas membuat Siti yang sejak tadi mematung tiba-tiba pusing memikirkan mengapa ia bisa terlibat dalam permasalahan Saturnus dan orang tuanya.


"Dodi tunggu di sini sebentar nak ya! Ibu mau ngomong sama om Saturnus dulu," tukas Siti lalu segera berlari mengejar Saturnus yang telah lebih dahulu keluar tanpa menunggu jawaban dari Dodi terlebih dahulu.


"Tuan," pekik Siti seraya berlari mengejar Saturnus. Mendengar ada yang menyerukan namanya, Saturnus pun lantas segera membalikkan badannya. Tak lama kemudian, Siti pun telah berdiri di hadapannya dengan nafas tersengal.


Geram melihat sikap datar Saturnus, Siti pun segera menendang tulang kering Saturnus hingga Saturnus jejingkrakan seraya meringis kesakitan.


"Kenapa kau menendang ku tiba-tiba?" tanya Saturnus membuat Siti kian geram lalu menjambak rambutnya.


Saturnus pun memekik kesakitan mengundang perhatian orang-orang yang berlalu lalang.


"Maaf pak, Bu, sebaiknya jangan bertengkar di rumah sakit. Ini bisa mengganggu," ucap seorang perawat yang kebetulan lewat.


Siti pun lantas melepaskan cengkraman di rambut Saturnus. Lalu Siti melirik sebuah taman taknjauh dari tempatnya berdiri.


"Kita bicara di sana," ucap Siti ketus.


Bagai sapi dicucuk hidungnya, Saturnus pun mengekori kemana Siti melangkah.


Setibanya di taman, tanpa Tedeng aleng-aleng, Siti langsung mencecar Saturnus membuat Saturnus menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa maksud tuan ingin menikahi saya? Apa karena saya hanya perempuan tak bersuami dan memiliki anak di luar nikah jadi Anda bisa mengambil keputusan seenaknya?"


Jelas saja, Saturnus cukup terkejut dengan fakta yang baru ia ketahui kalau Dodi merupakan anak di luar nikah. Ia pikir Siti itu seorang janda.


"Maaf," ucap Saturnus seraya menghela nafas panjang. "Bukan maksud saya seperti itu. Tapi kamu bisa melihat sendiri kan bagaimana keadaannya? Lagipula aku single, kau pun juga, jadi apa salahnya kita membina rumah tangga. Selain itu, aku yakin tempo hari kau mendengar keinginannya, apa kau tak ingin mengabulkan keinginan putramu yang menginginkan seorang ayah?"


Untuk pertama kalinya, Saturnus berbicara panjang lebar. Tentu hal itu cukup membuat Siti terkesima. Namun, bukan berarti ia harus menerima pernikahan tanpa cinta itu. Yang jelas-jelas dilandasi cinta saja bisa berakhir menyakitkan, apalagi pernikahan dadakan karena kesalahpahaman dan tanpa adanya cinta?


Siti terdiam seribu bahasa. Ia bingung harus memutuskan apa. Sungguh, perkara pernikahan tak pernah mampir di benaknya. Yang ada hanya impian melihat buah hatinya tumbuh sehat jadi anak berbakti dan sukses.


"Siti, saya tahu kau bingung. Dengan menikahnya kita, saya memang tidak dapat menjanjikan cinta karena saya sendiri belum pernah jatuh cinta dan saya juga tidak tahu apa dan bagaimana itu cinta, tapi saya dapat menjanjikan kesetiaan dan kasih sayang yang tulus untuk Dodi. Jadi, kamu mau kn jadi istriku."