[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.106



Hendrik tampak begitu berantakan. Tatapan matanya kosong. Terlalu lelah menangis membuatnya bagaikan mayat hidup.


"Mas Hendrik," panggil Oryza membuat Hendrik tersentak dari lamunannya. Ia pun segera menolehkan wajahnya. Wajahnya yang sempat sumringah saat mendengar suara Oryza, seketika berubah mendung saat melihat seorang pria tampan dan gagah tampak merangkul pundaknya mesra.


Hati Hendrik bagaikan ditikam sembilu. Perih dan begitu menyakitkan. Seseorang yang dahulu selalu mendampinginya saat suka maupun duka, kini justru menjadi pendamping orang lain. Orang yang lebih dari segalanya dari dirinya. Hendrik tersenyum miris, tentu saja Oryza bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari dirinya. Ia sangat tahu, Oryza bukan hanya cantik rupa, tapi juga tutur budi. Hanya dirinya saja yang bodoh telah menyia-nyiakan permata berharga seperti Oryza.


"Mas, kamu kenapa? Mama baik-baik aja kan?" tanya Oryza yang merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Ma-ma, mama, Za, mama udah ... mama udah pergi," ucapnya lirih. Air matanya kembali luruh membasahi pipi. Dibiarkannya saja air matanya turun tanpa berniat menyekanya. Mungkin dengan menangis dapat sedikit melegakan hatinya yang dilanda perih.


"Innalilahi wa ina ilaihi raji'un. Aku turut berdukacita ya, mas. Semoga amal ibadah mama diterima di sisi Allah," ucap Oryza dengan mata memerah. Ia tak kuasa menahan tangisnya, biarpun Oma Neni bukanlah mertuanya lagi, tapi Oma Neni tetaplah nenek dari anak-anaknya. Oma Neni selama hidupnya juga sangat baik padanya. Walaupun terkadang cerewet, tapi sebenarnya Oma Neni begitu penyayang. Hanya saja sayang, sikapnya itu berbanding terbalik dengan perlakuannya pada Siti dan Dodi. Padahal Dodi juga cucunya tapi satu kali pun Oma Neni tidak pernah menegur sapa apalagi memperhatikannya. Ia benar-benar menganggap Dodi sebagai orang lain. Tak pernah satu kali pun ia menganggap Dodi sebagai cucunya.


Melihat Oryza yang sudah akan menangis, Damar pun menarik bahu Oryza dan mendekapnya erat. Diusapnya punggung Oryza yang bergetar karena tangis. Oryza tergugu di dalam pelukan Damar. Ada sedikit sesal dalam hatinya, mengapa di saat terakhir ia tak sempat berjumpa dengannya. Ia tak bermaksud berlambat-lambat datang ke rumah sakit, tapi ia tetap harus melaksanakan kewajibannya baik sebagai seorang istri, seorang ibu, maupun sebagai menantu. Walaupun di rumah Damar ia justru tidak diizinkan mengerjakan apapun, tapi tidak mungkin ia pergi begitu saja ke rumah sakit, meninggalkan suami dan anak-anaknya. Beruntung Damar berbaik hati bukan hanya mengizinkan dirinya datang ke rumah sakit, tapi juga bersedia mengantarkannya.


...***...


Langit sudah mulai mendung, angin berhembus kencang pertanda akan turun hujan. Satu persatu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. saat titik-titik air mulai berjatuhan membasahi bumi.


Di saat semua orang mulai berhamburan pergi, Hendrik tampak masih termangu di depan gundukan tanah merah bertabur bunga warna-warni. Di sebelahnya, tampah Githa mendampingi dalam diam.


"Mas, kami pulang dulu ya! Tabahkan hatimu. Ikhlaskan kepergian mama. Aku yakin, ia sudah tenang di sana," ucap Oryza seraya berdiri di belakang Hendrik. Hendrik yang mendengar suara Oryza pun segera berdiri dan balas menatapnya sendu. Lalu Raja dan Ratu mendekati ayahnya untuk bersalaman dan mencium punggung tangannya.


Melihat ekspresi teduh Hendrik menatap Oryza dan anak-anaknya membuat Githa tersenyum sinis. Ia benar-benar tak suka melihat pemandangan ini. Walaupun di sisi Oryza telah ada lelaki lain yang sepertinya begitu menjaganya, tapi tetap saja keberadaan Oryza mengancam hubungannya dengan Hendrik.


Oryza melirik Damar terlebih dahulu sebelum menjawab. Setelah mendapatkan anggukan sebagai jawaban, barulah ia merespon permintaan Hendrik.


"Tentu. Katakan saja kalau kau ingin bertemu mereka, aku dan bang Damar takkan menghalangi."


Setelah berbasa-basi sebentar, Oryza, Damar, Raja dan Ratu pun pergi dari sana meninggalkan Hendrik yang menatap mereka dengan tatapan penuh penyesalan.


'Kurang ajar. Kalau begini, bisa-bisa mereka bakal sering ketemu. Bagaimana aku bisa merebut hati Hendrik kalau mereka sering bertemu. Aku harus melakukan sesuatu,' batinnya bermonolog sambil melirik Hendrik yang masih mematung di tempatnya.


...***...


Malam ini Damar akan menghadiri pesta pernikahan salah seorang rekan bisnisnya di ballroom Royal Hotel. Sudah sejak 30 menit yang lalu Oryza bersiap tapi ia belum juga keluar dari dalam kamar membuat Damar penasaran. Baru saja hendak membuka pintu mencari sang istri, pintu itu justru terbuka lebih dahulu dari dalam. Pupil Damar melebar saat melihat sosok istri yang tampil begitu cantik dengan busana muslimnya. Pesona Oryza selalu saja membuatnya berdecak kagum. Bahkan hingga sekarang, ia masih tidak percaya kalau gadis kecil pujaan hatinya dahulu telah menjadi istrinya.


"Istri siapa sih ini? Cantik banget. Bikin Abang jadi takut."


"Takut? Kok takut? Emang takut apa, bang?" tanya Oryza heran.


"Takut ada laki-laki lain yang kepincut istri Abang yang cantik ini terus digondolnya dari sisi Abang, nah gimana tuh? Apa nggak usah aja ya datang ke pesta pernikahan mereka? Kita batalin aja deh," ucap Damar dengan memasang wajah nelangsa.


"Ck ... nggak usah lebay deh! Abang aneh-aneh aja. Emangnya Ryza ini ikan asin bisa digondol," desis Oryza yang tak pelak membuatnya mengulum senyum. "Dasar CEO koplak," ejek Damar membuat Damar tergelak kencang.


"Ayo, my Humaira! Let's go!" ajak Damar seraya tersenyum lebar. Dirangkulnya lengan Oryza mesra menuruni tangga. Asisten rumah tangga yang bekerja di rumah besar itu tampak mesem-mesem sendiri. Pemandangan seperti ini sudah biasa di rumah itu. Beruntung anak-anak sedang diajak grandma dan grandpa nya, jadi mereka bisa menikmati kebersamaan mereka berdua saja. Oh ya, Raja dan Ratu kini memanggil kakek dan neneknya grandma dan grandpa. Biar seperti bule kata mereka.