[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.41 Hukuman?



Mobil yang dikendarai Damar mulai membelah jalanan pagi dengan kecepatan normal. Ada Oryza yang duduk di sebelahnya, sedangkan Raja dan Ratu duduk di kursi belakang. Mereka sudah seperti keluarga berencana dengan memiliki dua orang anak.


Tak butuh waktu lama, mobil Damar telah tiba di sekolah Raja dan Ratu. Yang jadi pertanyaan Oryza saat ini adalah dari mana atasannya tahu sekolah anak-anaknya? Sedangkan dirinya saja belum memberitahukan dimana anaknya sekolah.


Setibanya di pelataran parkir PAUD Hasanah, Damar segera keluar dan membantu Raja dan Ratu turun dari dalam mobil, sedangkan Oryza sudah turun terlebih dahulu sebelum sempat Damar membukakan pintunya.


"Anak-anak, om ada sesuatu buat kalian," ujar Damar sebelum Raja dan Ratu melangkahkan kakinya menuju ke kelas mereka masing-masing.


"Apa itu om?" tanya Ratu antusias.


Lalu Damar mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya membuat mata Raja dan Ratu berbinar cerah.


"Ini buat kami om?" Raja akhirnya bersuara.


"Ini benelan buat kami om?" tanya Ratu.


"Iya, buat Raja dan Ratu. Kalian mau?"


"Jangan!" sergah Oryza cepat membuat ketiga orang itu menoleh ke arahnya. "Kalian lupa pesan bunda? Nggak boleh makan permen."


"Bunda, ini permen susu mahal. Sehat. Ada susunya," ujar Raja.


"Latu kan syuka makan coklat bunda. Latu mau pelmen syusyu syama coklatnya bunda. Boleh ya, boleh ya, please!" pinta Ratu dengan masang puppy eyes nya membuat Damar gemas lalu mencubit pelan hidungnya.


"Tapi ... tapi ... " Melihat ekspresi sang anak yang tampak sangat menginginkan coklat dan permen susu yang disodorkan Damar pada mereka, membuat Oryza hanya bisa menghela nafas pasrah. Oryza pun mengangguk membuat adik dan kakak itu berseru senang. Mereka pun menerima coklat dan permen itu lalu menyimpannya di dalam tas.


"Ingat ya, jangan makan saat belajar! Makan saat sudah diperbolehkan guru kalian untuk makan, oke!" peringat Oryza yang diangguki kedua bocah itu.


"Siap, bunda!" seru mereka penuh semangat.


"Ya udah, kalian masuk ya! Bunda sama om Damar mau kerja dulu. Nanti bik Siti yang akan jemput kalian. Jadi pulang nanti, kalian jangan kemana-mana, tunggu bik Siti datang. Jangan ikut orang lain apalagi orang asing! Oke!" peringat Oryza yang diiyakan anak-anaknya dengan patuh. Setelah mendengarkan wejangan singkat dari sang ibu, mereka pun segera berpamitan seraya menyalami Oryza dan Damar dengan takdzim.


"Anak-anakmu pintar dan menggemaskan ya!" ujar Damar saat Raja dan Ratu mulai melangkahkan kakinya menuju kelas masing-masing.


Oryza lantas menoleh ke arah Damar seraya tersenyum tipis.


"Iya. Mereka adalah anugerah terindah yang diberikan Allah padaku."


"Ah, tidak perlu tuan! Terima kasih. Saya berangkat sendiri saja," tolak Oryza. Kemudian segera berlari menuju halte bis. Ia tak berani berduaan saja dengan Damar di dalam mobil. Apalagi mereka akan pergi ke Angkasa Mall, khawatir ada yang melihat mereka lalu menggunjing mereka yang tidak-tidak.


Damar terkekeh lalu memandang punggung kecil Oryza yang mulai menjauh.


...***...


Sudah hampir 15 menit Oryza duduk di halte bis, tapi yang ditunggu tak kunjung datang membuat Oryza gusar. Padahal ia sampai mengantar Raja dan Ratu lebih awal agar ia tidak telat bekerja. Tapi nyatanya, ia telah telat 5 menit. Belum lagi lama perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 menit. Oryza meremas tangannya dengan gelisah. Ia khawatir, gajinya dipotong atau bahkan dipecat bila sampai telat.


"Hah, bodoh! Seharusnya tadi aku ikut aja dengan si bos. Pasti nggak akan telat. Biar nggak ada yang lihat, kan aku bisa turun sebelum Angkasa Mall jadi nggak ada yang lihat. Kalau seperti ini, gimana? Aku benar-benar telat. Haduh, gimana nih? Bis kota juga mana? Angkot nggak ada yang lewat. Mau pesan ojek online, lupa isi kuota. Hah, ampun dah!" gumamnya sambil mondar-mandir di halte bis. Di sana hanya ada dia sendiri. Oryza sudah seperti orang gila yang sibuk mengoceh sendirian.


"Masih butuh tumpangan?" tiba-tiba ada suara seseorang yang menawarkan tumpangan kepadanya. Oryza sampai terlonjak kaget saat melihat Damar telah berdiri sambil bersandar di tiang halte. Oryza membelalakkan matanya karena terlampau terkejut, mengapa atasannya berada di sana dan sejak kapan?


"Tu-tuan? Kenapa tuan ada di sini?" cicitnya bingung .


"Saya hanya mau lihat apakah perempuan keras kepala ini berhasil mendapatkan tumpangan menuju kantor. Dan jawabannya ternyata ... " Damar menarik satu sudutnya ke atas seraya mencibir membuat Oryza tanpa sadar mengerucutkan bibirnya kesal.


"Masih mau menunggu atau ... "


"Iya, iya, aku ikut," ketus Oryza. "Eh, maaf, maaf tuan, bukan maksud saya untuk bicara tidak sopan. Maafkan saya," ucap Oryza seraya memelas saat menyadari kalau sikapnya barusan tidaklah sopan pada atasannya itu.


"Oke, no problem! Tapi ... "


"Tapi apa?" tanya Oryza cepat seraya masuk ke dalam mobil yang pintunya telah dibukakan Damar. Kemudian ia duduk dan memasang seat beltnya.


Damar diam, belum menjawab. Ia memutari mobilnya lalu membuka pintu dan duduk di balik kemudi. Ia terlebih dahulu memasang seat belt kemudian melajukan mobilnya perlahan. Oryza tampak masih menunggu kelanjutan dari kata-kata atasannya itu.


"Kau harus dihukum!" ucap Damar seraya meliriknya dengan seringai di bibirnya membuat Oryza seketika bergidik ngeri, khawatir hukuman apa yang ingin diberikan atasannya itu.


"Hu-hukuman?" cicitnya sambil menelan ludahnya sendiri.


...***...


Ayo kak, hukuman apa ya yang cocok Damar kasiin ke Oryza? 😁😁😁


...Happy reading 🥰🥰🥰**...