![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Kini ketiga tamu tak diundang itu telah masuk ke dalam apartemen Oryza. Mereka duduk di sofa dengan Hendrik duduk bersama Oma Neni dan Kiandra duduk sendirian.
"Ratu, Raja, yuk duduk di sini sama ayah dan Oma!" panggil Hendrik.
Dengan ragu Ratu dan Raja pun duduk dengan Ratu berada di pangkuan Oma Neni dan Raja di pangkuan Hendrik. Damar hanya mengedikkan bahunya meninggalkan para tamu, sedangkan Oryza tampak sedang membuat meminum untuk tamu-tamu dadakan tersebut.
"Uh, cucu-cucunya Oma, Oma kangen banget sama kalian. Kabar kalian gimana? Sehat-sehat semua kan?" tanya Oma Neni seraya mengusap surai Ratu dan Raja bergantian.
Raja dan Ratu pun tersenyum lebar, "Kami sehat, Oma," jawab mereka singkat.
Tak lama kemudian, Oryza muncul sambil membawa nampan berisi 2 cangkir kopi dan secangkir teh hangat untuk tamu-tamu dadakannya.
"Silahkan diminum, ma, mas, kak," ujar Oryza berusaha sopan.
Ia pun kembali memanggil mas. Ia tengah berusaha berdamai dengan masa lalu. Ia tak mau Hendrik mengira ia masih marah dan menaruh harapan padanya. Setelah meletakkan minuman, Oryza pun kembali ke dapur untuk membantu Damar memasak.
Yah, ia tak menduga, atasan somplak bin nyebelinnya itu memang pandai memasak. Tanpa ragu, ia meracik aneka bumbu dengan tepat dan cekatan. Tapi yah, dia belum tahu rasanya. Biar nanti ia buktikan saat makan bersama, apakah masakan atasannya itu memang senikmat itu hingga bisa membuatnya ketagihan.
"Ja, Om tadi siapa?" tanya Hendrik penasaran seraya berbisik.
"Itu Om Damar, yah. Om Damar kerja di tempat ibu kerja," ujar Raja.
"Kok om itu malam-malam ada di sini? Apa om itu memang setiap hari datang ke mari?" selidik Hendrik dengan tingkat kekepoan yang mulai akut.
"Om ganteng kan tinggal di depan, yah jadi bisa kesini kapan aja," ujar Ratu membuat Hendrik menganga dengan mata melebar.
"Om Damar nggak kesini setiap hari kok, yah. Tapi Om Damar anterin kami sekolah setiap hari," timpal Raja dengan tersenyum lebar membuat Hendrik makin gerah. Apalagi saat mendengar tawa renyah Oryza dari arah dapur, membuat tangannya mengepal kuat. Perasaannya kian tak tenang. Belum berhasil menyingkirkan satu orang yang duduk di hadapannya, ternyata kini ia memiliki saingan lain yang terlihat lebih tampan dan gagah.
Berbeda dengan Hendrik yang memiliki seseorang yang bisa ia ajak bicara, Kiandra justru hanya bisa duduk bersandar sambil mengatupkan mulutnya. Tak ada yang bisa ia ajak bicara saat ini. Ingin mendekati Raja dan Ratu, tapi kedua bocah itu kini sedang bersama ayahnya.
Tiba-tiba Ratu menepuk dahinya membuat Oma Neni bertanya.
"Ratu kenapa?" tanya Oma Neni penasaran.
'Sialan!' umpatnya dalam hati seraya menggeram kesal.
Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam erat tangannya. itu adalah tangan Oma Neni yang memintanya bersabar dan tidak membuat kegaduhan di rumah Oryza. Bisa-bisa, mantan menantunya itu bukan hanya mengusir mereka, tapi juga melarang mereka datang kembali bila Hendrik sampai membuat kekacauan di sana.
...***...
"Bang, kita makan di mana ya?" tanya Oryza bingung sebab kursi di meja makan mereka hanya ada 6 buah, sedangkan jumlah mereka keseluruhan beserta tamu dadakan ada 9 orang.
"Gini aja, kita makan lesehan aja di ruang tamu, gimana? Kan " ujar Damar memberi saran seraya mencuci tangannya di wastafel. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Untung saja ia memasak cukup banyak. Ia benar-benar tak menduga akan kedatangan tamu dadakan seperti ini. Tapi ini bagus bukan. Ini seperti menegaskan kalau Oryza kini telah memiliki pelindungnya, calon pendampingnya, siapa lagi kalau bukan dirinya, Damar Prayoga Putra Angkasa.
"Ryza setuju, bang. Ya, udah, Ryza minta Siti bentangin alasnya. Biar bisa segera dihidangin," ujar Oryza sambil lalu. Ia pun segera meminta Siti menyiapkan tempat untuk mereka menghidangkan makanan.
"Om, bial Latu bawa ayam golengnya," ujar Ratu penuh semangat ingin membantu Siti menghidangkan makanan.
"Wah, princess Om mau bantu juga? Boleh," sahut Damar. "Tapi hati-hati ya princess, nanti jatuh!" ujar Damar lagi membuat Ratu tersenyum lebar.
'Syiap, Om!"
Lalu Damar pun menyerahkan sepiring ayam goreng mentega pada Ratu. Tak mau ketinggalan, Raja dan Dodi pun berniat membantu.
"Wah, Raja dan Dodi mau bantu juga! Oke, ini tolong kasiin ke bik Siti ya, Ja. Nah, ini Dodi kasiin ke ibu ya!" ujar Damar lembut membuat kedua bocah laki-laki itu tersenyum lebar sambil menerima masing-masing sepiring lalapan dan semangkok sambal cumi asin.
Kemudian mereka pun membawanya dengan wajah riang gembira. Setelah selesai, Damar pun hendak melepaskan apron dari tubuhnya. Dengan sigap, Oryza membantunya melepaskannya. Semua itu tak luput dari tatapan tajam sepasang mata milik Hendrik. Hendrik tadi berpura-pura hendak ke toilet agar bisa bicara dengan Oryza. Tapi malang yang ia dapat, ia justru memergoki kemesraan antara Oryza dan Damar. Dadanya seketika bergemuruh hebat melihat bagaimana kedekatan antara mantan istrinya dan Damar. Ingin rasanya Hendrik merangsek maju dan menghajar Damar. Memberinya pelajaran agar menjaga sikap dan jarak dari Oryza, tapi itu tidak mungkin ia lakukan. Ia tak mau Oryza justru menjauhinya.
'Kurang ajar! Tunggu pembalasanku! Aku pastikan akan memberimu pelajaran supaya tidak coba-coba merebut Oryza dari sisiku. Dasar brengseeek!' geram Hendrik dalam hati dengan amarah yang kian bergemuruh.
...***...
...****************...
...Happy reading 🥰🥰🥰...