![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Melihat betapa gugupnya Oryza, Damar hanya mengulum senyum. Apalagi saat orang-orang yang merupakan keluarganya itu mulai mendekat. Oryza dan Damar lantas segera berdiri menyambut kedatangan orang-orang itu.
"Hai, sayang! Apa kabarmu, hm?" tanya Anggi dengan senyum merekah.
"Sa-saya baik, Tante," jawab Oryza gugup.
"Ck ... nggak usah gugup gitu," ujar Anggi seraya terkekeh. "Oh ya, sayang, kenalin ini papa Angga, dan mereka calon adik ipar kamu, Arletta, Arditta, dan Arrasya. Mereka kembar 3. Masih ada lagi si kembar Kevin dan Karin," imbuh Anggi seraya memperkenalkan anggota keluarganya.
Mulut Oryza sampai menganga tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kembar 3? Triplets? Lalu anak kedua kembar juga. Wow, it's amazing!
"Oryza Sativa, om," ujar Oryza gugup membuat Diwangga terkekeh.
"Wah, calon mantu papa cantik banget ya! Pantas aja anak papa satu ini sampai pingin cepat-cepat halalin, takut ditikung katanya," ujar Diwangga seraya terkekeh membuat Oryza dan Damar salah tingkah.
"Hai dek, kenalin mbak Oryza," kini giliran Oryza memperkenalkan diri pada ketiga adik kembar Damar yang disambut ketiganya dengan antusias.
"Bang, bagi resepnya dong!" celetuk Arrasya setelah mereka semua duduk di kursi masing-masing.
"Resep apa? Masakan di sini kan dimasak chef restoran ini, bukan Abang," jawab Damar bingung.
"Pura-pura nggak ngerti juga."
"Lah, emang Abang nggak ngerti, Ras," sahut Damar kian bingung, sedangkan yang lain terkekeh.
"Huh, katanya pinter, tapi gitu aja nggak ngerti. Maksud Rasya tu bagi resep dapetin cewek cantik kayak mbak Ryza gini lho," imbuhnya membuat semua orang tergelak.
Sementara yang lainnya tergelak kencang, Oryza justru menunduk tersipu malu membuat ketiga adik kembar Damar kian gencar menggodanya.
"Acie cie, mbak Ryza blushing tuh, Ras!" celetuk Arletta.
"Mbak Ryza makin cantik deh kalau lagi blushing gitu, ya nggak bang!" timpal Arditta.
"Siapa dulu dong! Calon istri Abang gitu lho!" goda Damar membuat Oryza gemas karena Damar ikut-ikutan menggodanya. Oryza pun diam-diam mencubit paha Damar membuat Damar merintih kesakitan.
"Awww, sakit sayang!" pekik Damar membuat Oryza kian malu. Ingin rasanya ia membenamkan diri di bawah tanah, bersembunyi, karena terlampau malu dibuat Damar dan adik-adiknya.
"Cie, udah main cubit-cubitan udah kayak lagi nih, cubit-cubitan ooo cubit-cubitan, senggol-senggolan oo, senggol-senggolan, ... "
"Udah-udah, nggak kasihan apa sama calon kakak ipar kamu. Mukanya udah merah gitu. Kayak seneng banget godain calon mantu maka," celetuk Anggi meminta ketiga bocah yang padahal sudah duduk di bangku kuliahan itu diam.
Dengan patuh, Arrasya, Arletta, dan Arditta menutup rapat bibirnya walaupun masih dengan sisa-sisa tawa di bibirnya.
"Jadi gimana bang, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian?" tanya Diwangga sambil menatap lekat wajah Damar dan Oryza bergantian.
Ukhuk ... ukhuk ...
Sontak saja Oryza terbatuk mendengar pertanyaan tiba-tiba itu.
Secepat itu!
Bahkan dirinya saja belum memberikan jawaban pada atasannya tersebut.
"Abang sih pingin secepatnya pa, tapi ... "
"Tapi kenapa?" tanya Anggi dan Diwangga bersamaan
"Lamaran Abang belum dijawab, ma, pa," ujar Damar sambil melirik Oryza yang menunduk malu.
"Lamaran Abang kurang romantis kali, ma, pa," celetuk Arletta membuat Damar menggaruk kepalanya sendiri.
"Tuh, benar apa adik kamu. Lamaran kamu kurang romantis mungkin, benar gitu Za?" tanya Diwangga memastikan.
Oryza melirik Damar yang sedang menatapnya intens.
Apa benar begitu? Batinnya bermonolog.
"Diamnya Oryza artinya benar. Kamu ini gimana sih, bang? Melamar itu harus dengan cara romantis biar berkesan. Ck ... malu-maluin papa aja kamu, bang," tukas Diwangga sedikit ketus membuat Damar malu sendiri.
"Bukan masalah itu kok, om!" Bela Oryza. Oryza merasa tak tega melihat atasannya disudutkan.
"Kalau bukan, jadi masalahnya apa? Cerita sini, biar mama sama papa ngerti. Oh iya, mulai sekarang jangan panggil Om dan Tante lagi, oke! Pokoknya mulai sekarang kamu panggil kami mama dan papa. Nggak ada penolakan," tegas Anggi membuat mata Oryza berkaca-kaca. Merasa senang sekaligus terharu secara bersamaan.
"Ma, kok mama maksa sih, jadi nangis kan calon istri Abang," ucap Damar tak enak hati. Lalu Damar menyodorkan sapi tangannya untuk menyeka air mata Oryza.
"Ryza ... Ryza ... bukan nangis karena itu kok, bang. Justru Ryza senang sebab mama dan papa Abang mau menerima Ryza dengan tangan terbuka," ujarnya seraya tersedu. "Maaf om, tante, sebelum saya memanggil kalian dengan panggilan itu, saya ingin memberitahukan informasi pribadi diri saya. Saya ini janda, punya anak dua, apa om dan Tante tidak masalah? Sebenarnya, saya belum menjawab lamaran bang Damar karena masalah ini. Pernikahan itu bukan hanya untuk menyatukan dua orang insan, tapi juga keluarga. Saya tidak mau, kehadiran saya dan kedua anak saya merusak hubungan baik sebuah keluarga. Dan saya tidak mau pernikahan ini dilangsungkan tanpa adanya restu dan penerimaan yang tulus baik itu untuk saya maupun kedua buah hati saya. Bagaimana pun, kedua buah hati saya adalah bagian dari diri saya. Kebahagiaan mereka adalah juga kebahagiaan saya. Dan saya mau menerima bang Damar asalkan kedua orang tua dan keluarganya mau menerima saya sepaket dengan anak-anak saya," tukas Oryza mengeluarkan unek-unek yang menggelayuti hati dan pikirannya.
Bagaimana pun, ia tidak boleh egois. Ia tidak boleh hanya memikirkan kebahagiaan dirinya saja, tapi juga anak-anaknya. Ia takkan sanggup melihat wajah sedih anak-anaknya. Ia juga takkan bisa melihat anak-anaknya terluka. Menerima dirinya artinya menerima anak-anaknya. Begitu pula menerima anak-anaknya, artinya menerima dirinya. Mereka itu satu paket komplit. Ibarat kata, buy one get three. Ia bukanlah seorang ibu yang egois yang hanya mementingkan perasaan dan kebahagiaan dirinya semata. Apalagi sampai menelantarkan anak-anaknya. Lebih baik ia menjanda seumur hidup daripada harus menelantarkan anak-anaknya.
Diwangga dan Anggi tersenyum lebar. Mereka tentu tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mereka pun sebenarnya telah mengetahui segalanya. Damar merupakan anak yang sangat terbuka dengan orang tuanya. Dan untuk masalah status janda dan anak bawaan, mereka tidak mempermasalahkannya sama sekali. Toh mereka dulu juga begitu.
"Nak Ryza," panggil Diwangga seraya tersenyum lebar. Lalu ia melirik Anggi dan Damar bergantian. "Papa mau kasi tau satu rahasia sama kamu. Bukan rahasia sih sebenarnya, soalnya udah banyak yang tahu," ujarnya seraya terkekeh. "Nak, Damar sudah cerita belum kalau dia itu bukan anak kandung papa?" tanya Diwangga membuat Oryza membulatkan matanya.
"Ya, anak papa yang tampan ini sebenarnya anak mama kamu dengan suaminya yang sebelumnya. Pun dua anak kembar yang saat ini sedang dalam perjalanan kemari. Papa menikahi mama yang saat itu juga menyandang status janda tapi bedanya anaknya ada 3. Jadi papa menikahi mama dapat bonus anak 3 yang lucu-lucu dan baik hati. Setelah menikah, papa dapat hadiah lagi, anak kembar 3 lagi, dan total anak papa dan mama kamu jadinya ada 6. Dan papa sangat menyayangi mereka semua tanpa ada kecuali dan tanpa ada pilih kasih. Jadi, mama dan papa juga keluarga besar Damar tidak mempermasalahkan sama sekali baik status kamu, pendidikan kamu, latar belakang kamu, maupun anak-anak kamu. Kami menerima kalian dengan tangan terbuka, jadi ... gimana? Mau menerima lamaran anak papa?" tanya Diwangga bijak dengan sorot mata penuh kasih sayang.
...***...
Othor terharu banget liat dukungan dan antusiasme kakak2 semua. Terima kasih ya kakak2 semua. Semoga terhibur dengan karya othor yang belum seberapa ini. 🥰🥰🥰
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...