[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.77 Kian terpesona



Hati siapa yang tak berbunga disaat dirinya merasa kemalangan tiada henti menerpa kehidupannya, ditinggalkan, dicampakkan, dan dikhianati menjadi teman hidupnya, kini justru ada sebuah keluarga yang menerima diri dan anak-anaknya dengan tangan terbuka. Berpasang mata yang tadi menatapnya kini melebarkan senyuman lalu satu persatu mereka menghampiri, menyapa, dan memeluk tubuhnya juga anak-anaknya. Ia bahagia, sangat bahagia.


"Za, kenalin ini Om Lian dan onty Luna. Mereka ini orang tua Ayesha. Nah, Om Lian ini saudara kembar mama," tukas Damar memperkenalkan Oryza dengan paman dan bibinya terlebih dahulu.


"Hai sayang, selamat datang di keluarga Angkasa dan Yudhistira," ucap Luna dengan senyum lebarnya. "Kamu cantik banget, sayang. Bodoh banget mantan suami kamu itu ngelepasin berlian demi remahan batu bata kayak perempuan gatel itu. Keponakan onty memang hebat bisa mendapatkan kamu," seru Luna seraya mengerlingkan sebelah matanya pada Damar. Damar pun tersenyum lebar seraya melirik Oryza yang wajahnya sudah bersemu merah.


"Hai nak, selamat datang!" ucap Aglian. "Ayo, masuk! Yang lain sudah menantikan kedatangan kalian," imbuh Aglian.


"Iya Damar, ayo ajak masuk calon menantu mama dan papa," timpal Anggi seraya mengulurkan tangan hendak mengajak Ratu yang masih berada dalam gendongan Damar. "Hai sayang, kamu yang namanya Ratu kan? Ikut nenek yuk?" ajak Anggi.


Ratu yang masih bingung lantas menoleh ke arah Damar dan Oryza bergantian. Setelah melihat Oryza menganggukkan kepala, barulah Ratu mengulurkan tangannya.


Anggi pun menyambut Ratu dengan senyum sumringah. Rasa bahagia begitu kentara di wajah cantiknya.


"Wah, mbak Anggi udah jadi nenek aja! Nenek cantik tapinya," goda Luna yang masih sama seperti dulu, tak pernah berubah, gemar mengusili Anggi.


"Kalau yang ini Raja kan? Mau ikut kakek? Kakek ada kolam ikan yang besar, nanti kita lihat sama-sama. Mau kan ikut sama kakek?"


Raja yang memang sangat menyukai hewan air seperti ikan kura-kura dan sejenisnya tentu saja merasa girang. Ia pun mengangguk cepat dan langsung mengulurkan tangannya pada Diwangga yang sudah terlebih dahulu mengulurkan tangan.


"Raja mau, kek!" seru Raja penuh semangat.


"Tapi nanti ya, kita makan malam dulu, oke!"


"Oke," sambut Raja girang membuat Oryza menatap penuh haru keluarga itu.


Selama ini, ia pikir orang-orang kaya pasti akan memilih calon menantu dari kalangan yang sederajat. Memilih berdasarkan babat, bibit, bebet, dan bobot yang setara. Dan pastinya takkan mau menerima orang seperti dirinya. Tapi ... kini fakta membuktikan, tidak semua orang kaya bersifat arogan dan pilih-pilih. Keluarga ini justru begitu menghargai dirinya juga anak-anaknya. Dalam hati, Oryza berdoa semoga saja apa yang ia alami ini bukan mimpi. Dan bila pun ini mimpi, ia harap ia tidak terbangun sebab di sini ia merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang dari hidupnya.


"Kisah Anggi benar-benar terulang kembali, heh!" ujar Aglian seraya menepuk pundak Damar membuat pria tampak itu terkekeh.


Dari kursi yang tak jauh dari tempat Damar dan Oryza berdiri, tampak seorang pria paruh baya sedang menatap nanar mereka. Dengan langkah tertatih, pria itu mencoba menghampiri putranya yang sedang tersenyum lebar menanggapi godaan dan candaan dari om dan Tante yang merupakan adik-adik angkat Anggi. Ada Raju yang sudah menikah dengan Tita dan dikarunia sepasang anak laki-laki dan perempuan yang masih berusia remaja. Lalu ada Aji dan Lia yang telah memiliki 3 orang anak.


Damar yang melihat Adam mendekat pun segera menggandeng tangan Oryza mendekati sang ayah. Adam tersenyum lebar saat melihat anak sulungnya mendekati dirinya.


"Za, kenalin, ini papa Adam. Papa Adam ini papa kandung Abang," ujar Damar.


Oryza cukup terperangah mendengar kalau laki-laki paruh baya di hadapannya itu adalah ayah kandung Damar. Oryza memang telah mengetahui masa lalu orang tua Damar. Namun, ia baru tahu kalau mereka semua masih bisa hidup secara berdampingan terlepas dari masa lalu orang tuanya. Keikhlasan memaafkan mungkin jadi kunci kebahagiaan keluarga ini.


"Perkenalkan, saya Oryza Om," ujar Oryza kikuk sambil menggamit telapak tangan Adam lalu mencium punggungnya takzim sama seperti ia menyalami yang lainnya, yang lebih tua tentunya.


"Panggil papa juga dong! Kan sebentar lagi kamu akan jadi menantu papa," ujar Adam sumringah.


Matanya berkaca-kaca, kentara sekali kalau Adam merasa terharu bisa sampai di posisi ini. Saat penyesalannya datang dahulu, ia sempat berpikir akan hidup sendirian dan dijauhi anak-anaknya, tapi ternyata anak-anaknya mau memaafkan kesalahannya dan menyayanginya seperti semula. Semua tentu tak terlepas dari didikan dan pengajaran Anggi. Mantan istrinya itu memang memiliki hati seluas samudera. Dirinya saja yang terlalu bodoh melepaskan berlian berharga seperti Anggi. Tapi apa boleh dikata, nasi telah menjadi bubur. Diberikan maaf dan kesempatan untuk tetap dekat dengan anak-anaknya saja ia sudah sangat bersyukur. Bonusnya ... ia dapat melihat wajah mantan istrinya yang makin hari makin cantik. Yah, walau hanya sekedar melihat atau bertutur sapa sepintas lalu, ia tak mengapa.


Adam memang tidak tinggal sendiri. Ia tinggal bersama adiknya, Sulis dan suaminya, Anton. Mereka masih menempati rumah lama mereka yang telah ditebus Anggi kembali dan diberikan kepada mereka. Di mata Adam, Anggi bagaikan bidadari tak bersayap.


"Pa-pa," cicit Oryza membuat Adam tersenyum sumringah mendengarnya.


"Ayo nak, ajak calon menantu papa makan! Tuh, mama, papa sama om dan tante kamu udah nungguin semua," tukas Adam seraya menghela tangan Damar agar berjalan terlebih dahulu bersama Oryza.


Tapi bukannya berjalan terlebih dahulu, Damar justru merangkul sang ayah dan membantunya berjalan agar tidak kepayahan. Kecelakaan yang menimpa Adam beberapa tahun yang lalu menyebabkan kaki Adam patah sehingga harus dibantu kruk untuk berjalan.


Dalam hati, Oryza tak henti-hentinya terpesona dengan segala kebaikan dan kerendahan hati atasannya itu. Perlahan tapi pasti, hatinya kini mulai terketuk untuk membalas cintanya.


Sementara Oryza sedang berkumpul dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga besar Damar di istana keluarga Angkasa, di apartemen, Siti kedatangan tamu tak diundang. Siti sampai mengerjapkan matanya berkali-kali sambil menekan-nekan telinganya takut salah pendengaran.


"A-apa? Tuan mencari saya? Untuk apa?" tanya Siti gelagapan.


"Apa saya tidak boleh bertamu?" ucap Saturnus membuat Siti kian merasa bingung. "Hai boy, om bawa sesuatu buat kamu, ini!" seru Saturnus seraya menyerahkan sebuah paper bag yang di dalamnya berisi box ayam goreng nomor 1 di dunia lengkap dengan minuman plus bonus mainan.


"Ini buat Dodi, om? Beneran?" seru Dodi girang yang dibalas anggukan oleh Saturnus.


"Yeay, makasih om!" serunya girang yang langsung berlari ke dalam. Membuka paper bag itu, menikmati isinya sekaligus memainkan bonus mainannya.


"Silahkan masuk tuan!" ujar Siti seraya mempersilahkan Saturnus masuk.


Saturnus pun masuk dengan wajah datarnya. Tanpa senyum. Benar-benar datar. Siti sampai bingung sendiri melihat map plastik laminating jilid II itu.


"Mau minum apa tuan?" tawar Siti.


"Kopi saja," jawabnya datar.


"Tapi ini kan malam hari tuan, sebaiknya teh saja. Supaya nanti Anda bisa tetap istirahat," saran Siti membuat alis Saturnus terangkat ke atas.


"Untuk apa bertanya kalau keputusan tetap kau yang ambil?" tanya Saturnus membuat Siti sedikit tak enak hati.


Siti menghela nafas lalu membalik tubuhnya menuju dapur. Tak lama kemudian, Siti kembali lagi dengan secangkir teh hangat dan sepiring cheese cake yang ia buat dengan Oryza sore tadi.


"Jadi, tuan mau bicara apa denganku?" tanya Siti to the point setelah keheningan tercipta di antara mereka cukup lama. Ia sampai bosan sendiri menunggu Saturnus menyuarakan tujuannya menemui dirinya.


"Jadilah kekasihku!"


Deg ...


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...