[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.118 Menikmati kebersamaan



Sesuai permintaannya, Hendrik datang ke sekolah Ratu terlebih dahulu untuk menjemputnya'. Ratu pulang lebih awal karena itulah ia datang ke sekolah Ratu terlebih dahulu, kemudian baru menjemput Raja dan Dodi.


"Ayah, Latu mau itu!" tunjuk Ratu ke arah penjual arumanis sebelum naik ke dalam mobil.


Hendrik pun menoleh ke arah penjual arumanis lalu dengan tersenyum ia menggandeng tangan putrinya menuju penjual arumanis.


"Ratu mau uang warna apa?" tanya Hendrik saat melihat ada varian warna arumanis di hadapannya.


"Latu mau walna pink," ujarnya sumringah. Matanya berbinar cerah. Sesekali Ratu menjilati bibirnya sendiri karena sudah tak sabar ingin menyantap makanan super manis itu.


"Pak, minta arumanisnya 3 yang pink satu, kuning 1, sama biru 1," ujar Hendrik membuat Ratu menoleh.


"Kita beliin kak Laja sama kak Dodi juga ya, Yah?" tanya Ratu.


"Iya dong. Makan itu harus berbagi. Ingat pesan ayah ya, selalu akur dan saling menyayangi dengan kakak. Baik itu kak Raja maupun kak Dodi karena kak Dodi juga kakak Ratu. Saling berbagi juga. Ratu paham kan kata ayah?"


"Iya ayah, Latu paham. Latu akan ingat pesan ayah. Latu kan anak yang pintar, baik hati, dan tidak sombong," sahutnya dengan cengiran khasnya membuat Hendrik terkekeh lalu ia pun menciumnya dengan gemas.


Setelah membeli arumanis, Hendrik pun mengajak Ratu sekolah Raja dan Dodi. Mereka bersekolah di tempat yang sama. Bahkan kelas pun sama. Sekolah mereka tepat berada di sebelah sekolah Ratu jadi hanya dalam hitungan menit, mobil Hendrik telah memasuki tempat parkir sekolah Raja dan Dodi. Tak lama kemudian, bunyi bel berbunyi pertanda jam pelajaran untuk anak kelas 1 telah usai. Dalam hitungan menit, anak-anak kelas 1 pun berlarian keluar dari kelas mencari orang tua mereka masing-masing. Dari kerumunan itu, tampak Raja dan Dodi berjalan dengan gagah.


Raja yang memang sikapnya dingin, tampak seperti biasa saja melihat kedatangan Hendrik. Sedangkan Dodi hanya terdiam seribu bahasa. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa dengan ayah biologisnya itu. Hingga mereka telah berdiri di depan Hendrik pun ekspresi mereka masih sama dengan bibir terkatup rapat. Hanya Ratu lah pemecah kesunyian diantara mereka.


"Ayo, nak, kita jalan-jalan ke Angkasa Mall aja gimana?" tanya Hendrik meminta pendapat pada anak-anaknya sebelum menyalakan mobilnya.


"Iya ayah, Latu mau. Kakak setuju juga kan?" tanya Ratu yang sudah menoleh ke belakang dimana Raja dan Dodi duduk. Keduanya pun mengangguk mengiyakan. "Ayah tau nggak kalau mall apa tadi ang-angsa eh ... "


"Angkasa Mall," celetuk Raja dari belakang membuat Ratu menyengir lebar.


"Iya, itu, Angsa mall ... "


"Angkasa Mall, Ratuuui," seru Raja dan Dodi bersamaan membuat Hendrik terkekeh geli melihat tingkah ketiganya.


"Nah, gitu dong kak, ngomong, jangan diem-diem mulu kayak olang lagi saliawan aja," seloroh Ratu dan akhirnya tawa keempatnya pun pecah. Ratu memang sang pencair suasana. Berkat celotehannya, dua bocah laki-laki di belakangnya akhirnya mau mengeluarkan suaranya.


"Angkasa Mall itu punya ayah Damal, yah. Hebat ya! Ayah Damal kelen deh bisa punya mall. Latu juga mau punya mall kayak ayah bial kalau Latu mau beli boneka syama baju balu tinggal datang ke mall Latu aja. Kalau mau makan syama main juga tinggal ke mall Latu. Eh, glandma juga punya toko baju gede namanya Angglek Pesiyen, yah. Latu bisa minta baju ke glandma aja dong nanti," celoteh Ratu tanpa henti membuat Hendrik tersenyum sumringah. Tiba-tiba, mata Hendrik memanas. Bulir bening telah menggenang di pelupuk matanya. Sekali kedip saja, bulir itu pasti akan jatuh membasahi pipinya.


Terlalu banyak waktu yang telah ia lewatkan tanpa anak-anaknya. Terlalu banyak waktunya tersia membuat kebersamaan mereka menjadi renggang. Terlalu banyak waktunya yang hilang. Seandainya waktu dapat ia putar kembali, ia ingin kembali ke masa dimana ia masih menjadikan keluarga sebagai prioritasnya. Seandainya bisa ... ia ingin menghabiskan sisa umurnya dengan istri dan anak-anaknya.


Istri ... tapi sayang, wanita yang pernah ia klaim sebagai istrinya itu kini bukan lagi istrinya, melainkan istri dari pria lain.


Karena itu, di sisa waktunya ini, ia ingin mengukir kenangan indah dengan ketiga anaknya. Ya, ketiga anaknya. Entah apa ia masih memiliki kesempatan untuk membahagiakan mereka kelak, ia tak tahu. Yang pasti, ia akan memanfaatkan momen kebersamaan mereka ini. Ia ingin meninggalkan kenangan indah tentang dirinya di benak anak-anaknya. Semoga mereka selalu mengingat hari ini.


...***...


"Raja, Ratu, Dodi, mau makan dulu atau main dulu?" tanya Hendrik ketika mobilnya telah berada di pelataran parkir Angkasa Mall.


Dodi terdiam. Ia sadar, ia tak memiliki hak mengeluarkan suara jadi ia hanya ikut saja apa yang Raja dan Ratu inginkan.


"Kak, makan dulu yuk! Latu lapel," ujar Ratu dengan memasang wajah memelas sambil mengusap-usap perutnya seolah ia benar-benar lapar.


Raja mengangguk, Dodi hanya ikut-ikutan saja.


"Makan dulu, yah," seru Ratu girang.


"Mau makan apa? Sushi? Ramen? Fried chicken? Burger? Pizza? Mau apa, bilang aja!" tukas Hendrik saat telah berjalan menuju pintu masuk Angkasa Mall.


"Ayam goreng."


"Ayam Kentucky."


"Fried chicken."


Seru ketiganya bersamaan membuat orang-orang yang berlalu lalang menoleh ke arah mereka semua. Lalu mereka pun tergelak bersamaan. Entah sudah berapa lama Hendrik tidak merasa sebahagia ini. Ia benar-benar bahagia. Tawanya begitu lepas. Kini ia makin menyadari, harta bukanlah segalanya. Harta memang penting, tapi harta bukanlah segalanya. Justru kebahagiaannya terletak pada anak-anak dan istrinya. Ia yakin, kebahagiaannya akan makin lengkap andai Oryza ada di sini saat ini. Tanpa, ia sadari, Oryza sebenarnya juga berada di sana mengawasi mereka berempat. Ia dan Damar tengah memakai out fit anak muda dengan hoodie dan kaca mata hitam menutupi wajah mereka.


"Okey, let's go, kids!" seru Hendrik penuh semangat.


Mereka pun makan di gerai ayam nomor 1 di dunia. Mereka membeli satu buket ayam goreng lengkap dengan nasi, kentang goreng, lemon tea, dan ice cream sundae. Mereka makan dengan lahap sambil bercanda tawa. Dipandanginya satu persatu wajah anak-anaknya. Dipandanginya baik-baik ekspresi bahagia itu seperti. Direkamnya baik-baik setiap momen yang ia habiskan bersama tanpa terlewatkan sedikit pun.


Selesai makan, Hendrik pun bergegas mengajak ketiga bocah itu ke tempat permainan. Beruntung di mobil tadi, anak-anaknya sempat berganti pakaian sehingga mereka bisa tetap bermain dengan nyaman.


"Ayah, Latu mau main itu!" tunjuk Ratu pada permainan capit boneka. Hendrik pun mengangguk setuju. Lalu ia menemani Ratu bawain capit boneka sementara Raja dan Dodi bermain balap motor virtual. Sekali jatuh, dua kali jatuh, 3 kali lepas lagi membuat Ratu mencebikkan bibirnya.


Lantas Hendrik pun mencoba permainan itu. Tak butuh waktu lama, ia pun berhasil mencapit boneka yang diinginkan Ratu. Tentu tidak sulit baginya memainkan permainan itu sebab dahulu saat ia masih berpacaran dengan Oryza, mereka pun pernah memainkan permainan ini. Setelah mendapatkan boneka yang diinginkan Ratu, Hendrik mengajak Raja, Ratu, dan Dodi belain lempar bola. Ternyata Raja dan Dodi memiliki bakat melempar bola membuat mereka mendapatkan tiket yang begitu banyak. Mereka mencoba berbagai permainan. Sebelum pulang, tiket-tiket itu mereka tukarkan hadiah sesuai pilihan masing-masing. Hari itu merupakan hari paling bahagia bagi Hendrik selain hari pernikahannya. Hal yang sama pun dirasakan Dodi. Akhirnya ia bisa merasakan kebahagiaan bermain bersama ayahnya untuk pertama kalinya.


Dari jauh, Oryza tersenyum haru, bukan hanya karena akhirnya anak-anaknya bisa kembali merasakan kebersamaan dengan ayahnya. Tapi juga karena Dodi pun ikut serta di dalamnya.


...***...