![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Flashback on
"Siti, saya tahu kau bingung. Dengan menikahnya kita, saya memang tidak dapat menjanjikan cinta karena saya sendiri belum pernah jatuh cinta dan saya juga tidak tahu apa dan bagaimana itu cinta, tapi saya dapat menjanjikan kesetiaan dan kasih sayang yang tulus untuk Dodi. Jadi, kamu mau kn jadi istriku?"
Siti tertegun juga terpaku mendengar penuturan Saturnus yang sudah seperti sebuah lamaran itu. Di tengah kebimbangannya, ia teringat wajah penuh harap Dodi yang ingin sekali memiliki seorang ayah. Walaupun Dodi selama ini tak pernah menyampaikan isi hatinya, tapi Siti tentu saja peka melihat bagaimana cara Dodi menatap Damar yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang pada Raja dan Ratu. Ya, walaupun Damar pun turut memperhatikan Dodi, tapi tetap saja yang Dodi butuhkan itu perhatian dari sosok pria yang bergelar ayah, bukan pria lainnya. Pria yang dapat dijadikannya tempat meminta perlindungan, berkeluh kesah, mengharap kasih sayang dan perhatian, juga selalu hadir di setiap hari-harinya.
Dipandanginya wajah Saturnus yang tampak penuh harap, salahkan ia bila melabuhkan harapan pada sang arca yang tengah berdiri di hadapannya itu?
"Siti, apa lagi yang kau pikirkan? Apa kau masih ragu dengan kesungguhanku? Apa aku perlu bersumpah atau kita buat perjanjian pra nikah untuk meyakinkanmu?" tukas Saturnus berusaha meyakinkan Siti kalau ia pun tidak bermain-main dengan pernikahan ini. Ia meyakini, perlahan tapi pasti, cinta itu akan tumbuh sendiri bersamaan dengan kebersamaan mereka nanti.
"Aku mau menerimamu, tapi ada syaratnya," ucap Siti terjeda. Ia ingin melihat apakah Saturnus bersedia bila ia memberikan syarat.
"Apa syaratnya? Bila itu tidak bertentangan dengan akal sehat dan hati nurani, saya akan menyetujuinya," tukas Saturnus tanpa ragu.
"Baiklah." Siti menarik nafas sejenak lalu menghembuskannya perlahan. "Syarat pertama sebenarnya Anda sudah memenuhinya, yaitu izin dari Dodi sebab ia pun telah meminta Anda menjadi ayahnya. Tapi syarat kedua ini belum tentu. Sebab syarat kedua adalah memberitahukan identitas Dodi sebenarnya. Saya tidak ingin mereka tahu setelah kita menikah. Bisa jadi mereka mengira saya menipu mereka bila mereka tahu belakangan. Jadi, saya ingin bicara terlebih dahulu dengan orang tua Anda mengenai Dodi, tanpa ada yang ditutupi. Bukankah Anda pun belum tahu mengenai siapa ayahnya Dodi?" pungkas Siti yang dibenarkan Saturnus. Setelah dipikir-pikir, ada benarnya apa yang dikatakan Siti. Lalu tanpa membuang waktu, Saturnus pun segera menyelipkan jemarinya di jemari Siti dan menariknya masuk kembali ke ruangan rawat sang ibu.
Saat masuk ke ruangan itu, sebuah pemandangan mencuri perhatian Saturnus. Dilihatnya Dodi sedang duduk di pangkuan sang ayah dengan mata yang sudah nyaris terpejam, sedangkan sang ibu sedang memandangi Dodi dengan tersenyum tipis. Sepertinya keadaan ibunya itu telah membaik.
Saturnus mendadak ragu menjelaskan siapa Dodi sebenarnya. Ia takut merusak kebahagiaan orang tuanya. Tapi bila tidak diberitahukan sekarang, khawatirnya masalah akan makin melebar hingga menimbulkan kekecewaan yang lebih besar lagi. Bukankah lebih baik kecewa sedari dini sebelum kecewa lebih besar lagi terjadi.
"Lho Nus, kok balik lagi? Udah dapat ustadz nya?" celetuk ibu Saturnus membuyarkan lamunan Saturnus pun menyentak lamunan Siti.
Dengan langkah sedikit ragu, ia mendekati ranjang sang ibu lalu menggenggam tangannya erat.
"Bu, ada yang mau disampaikan Siti. Ini mengenai siapa Dodi. Siti ... nggak mau menikah sebelum mengungkapkan siapa Dodi sebenarnya," ucap Saturnus pelan yang sontak saja memancing perhatian kedua orang tuanya.
"Bukannya Dodi ini putra kalian? Dodi anak kamu kan, Nus?" cecar ayah Saturnus.
Saturnus menggeleng pelan membuat kedua orang tuanya menarik nafas berat.
"Maaf pak, Bu, jika saya menyela. Sebenarnya Dodi bukanlah anak saya dan mas Saturnus," ucap Siti pelan seraya melirik Dodi yang telah terpejam sempurna. Siti menarik nafas panjang. Berat sebenarnya mengungkapkan rahasia ini pada orang lain. Ini sama saja mengorek luka lamanya yang sebenarnya belum benar-benar pulih. Nyatanya, saat melihat keberadaan Hendrik, rasa sakit itu masih ada. Bagaimana tidak, di usianya yang masih remaja ia harus menanggung kehamilan tanpa seorang suami akibat bujuk rayu Hendrik.
Bukan hanya menanggung kehamilan, tapi juga menghadapi caci maki orang-orang yang mengetahui kalau dirinya hamil tanpa seorang suami atau yang lebih sering disebut hamil di luar nikah. Caci maki, gunjingan, cemoohan, penolakan, bukan hanya ia dapatkan dari orang-orang, tapi dari pria yang menanamkan sahamnya juga orang tuanya. Mereka bahkan sampai harus seperti masyarakat zaman prasejarah yang hidup secara nomaden karena harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain akibat penolakan itu.
Tak cukup sampai di situ, akhirnya orang tuanya yang sudah tak mampu lagi melewati getirnya hidup, menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan dirinya dan Dodi berdua saja di dunia ini. Seandainya tak ada Dodi di sampingnya, mungkin dirinya sudah ikut menyusul orang tuanya yang sudah lebih dahulu pergi karena tak kuasa menjalani kehidupan ini yang penuh dengan tipu daya juga kesakitan. Hingga ia dipertemukan dengan Dewi penolongnya, yaitu Oryza. Ia bukan hanya menerimanya bekerja di rumahnya, tapi juga menyediakan makanan, tempat tinggal, bahkan ia begitu menyayangi dan memperhatikan Dodi kayaknya putra sendiri. Hingga pada akhirnya ia tahu kalau sebenarnya Oryza merupakan istri sah dari ayah biologis putranya.
Sakit ...
Tentu saja. Namun, semua itu sukses ia tutupi hingga akhirnya rahasia itu terkuak juga. Dan hebatnya lagi, Oryza tidak membencinya apalagi mengusirnya. Sungguh mulia hati seorang Oryza. Sesuai dengan arti namanya, yaitu padi. Oryza memiliki sifat layaknya padi, yaitu makin berisi, makin merunduk. Sifat yang sungguh mulia. Siti sampai mengutuk Hendrik dalam hati saat tahu ia telah mengkhianati wanita sebaik dan secantik Oryza.
"Bukan anak Unus? Jadi, kamu janda?" terka ibu Saturnus.
Siti menggeleng cepat, "Dodi merupakan anak di luar nikah," ucap Siti tenang membuat kedua orang tua Saturnus tercengang dengan fakta yang didengarnya. Bila sebelumnya ia mengira Dodi anak di luar nikah Siri dan Saturnus, tetapi ternyata bukan. Jadi, anak siapakah Dodi?
Siti menetralkan rasa gugup di hatinya. Tangannya bahkan sudah berkeringat dingin ingin segera menceritakan kebenarannya.
"Dodi anak saya dan putra majikan orang tua saya dulu, Bu. Saat itu, saya masih remaja sehingga dengan bodohnya termakan bujuk rayu putra majikan orang tua saya itu. Hingga suatu hari dia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Setelah berhasil, ia membuang saya. Saat saya hamil, saya meminta pertanggungjawabannya, tapi bukannya pertanggungjawaban yang saya dapatkan melainkan caci maki dan pengusiran. Saya dan orang tua saya diusir tanpa belas kasihan sama sekali. Jadi, setelah saya menceritakan hal ini, saya serahkan pada bapak dan ibu, apakah masih bersedia menerima saya yang ... hina ini untuk dijadikan menantu," ujar Siti dengan suara serak.
"Siapa lelaki sialan itu?" tanya Saturnus dingin. Tangannya terkepal erat. Entah mengapa, membayangkan bagaimana sulitnya hidup Siti dulu akibat perbuatan laki-laki bejat itu mampu menyulut bara emosi di dadanya. Sungguh tak terbayangkan, betapa hancurnya hidup Siti saat itu karena laki-laki sialan itu.
Dengan wajah tertunduk dalam, Siti mengucapkan satu nama yang membuat Saturnus tercengang bukan main.
"Hendrik Atmaja."
"Apa? Bukankah dia ... "
"Iya, dia mantan suami mbak Ryza."
"Dasar bajing-an!" umpatnya menahan gejolak di dadanya.
"Nak Siti ... "
"Maaf pak, Bu, saya akan tetap menikahi Siti dengan atau tanpa restu kalian," potong Saturnus cepat khawatir tiba-tiba orang tuanya menolak Siti untuk menjadi istrinya.
Kedua orang tua Saturnus termasuk Siti sampai tercengang dengan ucapan Saturnus. Kedua orang tuanya bahkan sampai mengerjapkan matanya berkali-kali sambil menatap lekat dan memperhatikan ekspresi Saturnus yang tak ada bedanya dengan sehari-hari. Ck ... dasar map plastik laminating jilid II a.k.a arca.
"Ck ... langsung motong omongan orang tua, nggak takut kualat?" cibir ibu Saturnus. "Lagian, siapa yang mau nolak sih? Siapa yang nggak bakalan merestui, ya toh pak?"
"Iya, Bu. Lagian itu kan masa lalu. Bapak sama ibu bisa melihat kalau kamu itu sebenarnya perempuan baik. Selain itu, bapak sama ibu sudah jatuh cinta duluan sama calon cucu kami ini," tukas ayah Saturnus membuat mata Siti sampai berkaca-kaca. Ia tak menyangka, setelah menceritakan masa lalunya, orang tua Saturnus tetap menerima dirinya dengan tangan terbuka.
"Ayo, buruan cari pak ustadz atau penghulu biar malam ini segera sah. Urusan legalisasi KUA bisa nyusul belakangan." Pungkas Ibu Saturnus.
Lalu tanpa membuang waktu, Saturnus pun segera mencari pak ustadz yang bisa menikahkannya segera. Saat berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit, tanpa sadar Saturnus tersenyum. Entah mengapa, ia merasa begitu bersemangat. Sudah lama ia tak merasakan perasaan seperti ini. Rasa bahagia dan hangat menyeruak memenuhi rongga dadanya.
Hingga saat malam tiba, Saturnus pun datang kembali dengan seorang ustadz yang biasa mengajar ngaji di masjid yang tak jauh dari rumah sakit. Ia juga membawa kebaya untuk Siti. Sedangkan dirinya, telah berganti pakaian dengan setelan formal yang biasa ia bawa di mobil sebagai cadangan saat ia tak sempat kembali ke rumah untuk berganti pakaian.
Tak lupa, Saturnus meminta dokter jaga dan perawat sebagai saksi. Akad nikah pun berjalan lancar dengan menjadikan sejumlah uang ada di dompetnya sebagai mas kawin. Biarpun sederhana, tetapi segalanya berlangsung secara mengharu biru. Terutama itu bagi Siti. Dahulu, ia pikir selamanya ia takkan pernah merasakan yang namanya pernikahan karena statusnya yang memiliki anak di luar nikah. Lelaki mana yang mau menerima dengan tangan terbuka anak bawaan hasil di luar nikah. Namun, takdir berkata lain, ternyata di dunia ini masih ada seorang lelaki yang dengan gentlenya menerima diri dan juga anaknya. Pun keluarganya menerima dengan penuh cinta.
Dengan berderai air mata, Siti mencium punggung tangan Saturnus yang telah menjadi suaminya, pun kedua orang tua Saturnus yang telah menjadi mertuanya. Dodi pun bersorak bahagia saat Siti mengatakan kalau mulai saat ini Saturnus akan menjadi ayahnya. Sungguh, hari itu adalah hari paling membahagiakan bagi dirinya.
"Yeay, akhirnya Dodi punya ayah," serunya girang yang disambut derai tawa Saturnus dan kedua orang tuanya.
Flashback off
...***...
**Hadeuh, pegel rek jari-jemari othor ngetik panjang banget ini. Please, jangan bilang pendek ya! Cukup badan othor aja yang pendek, ketikannya jangan. ðŸ¤ðŸ¤ªðŸ˜‚🤣
Met malming all. 🥰🥰🥰
...HAPPY READING 🥰🥰🥰**...