![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
"Listen to me, please! Dengarkan aku baik-baik! Aku tidak pernah menjadikan mu sebagai pelarian ku, Za. Apa yang aku katakan tadi merupakan kesungguhan. Apa kau tidak bisa merasakannya? Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Za. Aku nggak bohong. Aku serius. Dan mengenai aku yang menyilang tanggal itu, benar, aku sudah menunggu momen itu. Apa kamu lupa, hari ini hari terakhir masa Iddah mu?" ujar Damar pelan membuat Oryza melebarkan pupilnya
"Ja-jadi itu ... itu ... "
"Ya, yang aku silangi itu merupakan tanggal masa Iddah mu dan aku sudah menunggu lama untuk hari ini," ucapnya lembut seraya menatap lekat netra Oryza yang berpendar dengan mulut menganga. Mungkin ia terlalu shock dengan penuturan Damar yang sangat tak terduga ini.
Oryza menggigit bibir bawahnya. Ia bingung sendiri harus mengatakan apa sebagai respon. Benarkah apa yang baru saja dikatakan pria yang sedang menangkup pipinya ini? Tapi dari sorot matanya, Oryza bisa menemukan kesungguhan dan ketulusan di dalamnya.
"Aku tahu, kamu pasti masih bingung saat ini. Kamu nggak tahu harus mengatakan apa dan bagaimana. Bahkan mungkin kamu belum bisa mempercayai pernyataanku yang cenderung tiba-tiba ini. Tapi aku nggak bohong, Za. Aku serius dengan perasaanku. Aku nggak pernah ngerasain perasaan ini sebelumnya. Hanya kamu, hanya padamu," tukas Damar lembut membuat jantung Oryza kian bergemuruh. Perutnya terasa geli, bagai ada ribuan kupu-kupu yang menari di dalamnya.
"Bang, aku ... aku mau pulang dulu. Nanti anak-anak nyariin," cicit Oryza berusaha menghindar dari Damar.
Baru saja Oryza melepas tangan Damar dari pipinya dan hendak beranjak dari sofa, Damar justru segera menarik pergelangan tangannya hingga kini ia justru jatuh ke pangkuan Damar.
Wajah Oryza kian merah padam. Ia berusaha untuk berdiri, tapi Damar justru melingkarkan tangannya di pinggang Oryza membuat posisinya terkunci.
"Bang," cicit Oryza yangbdi pendengaran Damar justru terkesan manja.
"Apa?" balasnya lembut.
"Aku mau ... "
"Anak-anak aman sama Siti. Tadi Abang udah SMS minta tolong jagain. Tadi Siti juga sempat balas kalau anak-anak udah tertidur. Jadi, sekarang waktunya kita. Our time," bisiknya seraya menatap Oryza dengan tatapan memuja. Penuh cinta. Rasa yang membara. Menggebu-gebu.
"Tapi ... tapi ... "
"Tapi apa, hm? Masih belum percaya? Oh, kamu masih penasaran hubungan aku dengan Yesha?" tanya Damar. Oryza yang tadinya menunduk lantas mengangkat wajahnya sehingga mata mereka saling bersirobok. "Yesha itu sepupu, Abang, sayang. Dia anak Om Lian, saudara kembar mama," ujarnya seraya menyengir lebar membuat Oryza lagi dan lagi membelalakkan matanya.
"A-apa? Abang nggak sedang berusaha membohongi aku kan?" tanya Oryza sangsi.
Oryza lantas mengingat-ingat, sudah beberapa kali Ayesha keceplosan menyebutkan seseorang yang tidak dikenalnya. Yang salah satunya merupakan pujian pada sang Abang. Ah, satu lagi, Ayesha mengatakan apartemen yang ditempatinya itu merupakan milik kakaknya. Jangan-jangan ...
"Bang, jawab yang jujur, apartemen yang kami tempati itu milik Abang?" tanya Oryza dengan jantung yang berdebar.
Damar mengangguk seraya tersenyum simpul.
Oryza menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan. Ia jadi teringat lagi tentang bukti-bukti kecurangan Hendrik yang entah dari mana asalnya. Juga pengacara, pekerjaan, dan lain sebagainya.
Oryza makin membulatkan matanya saat menyadari satu persatu hal tak terduga yang ia dapatkan. Mungkinkah ... mungkinkah semuanya ...
"Pengacara? Bukti-bukti? Pekerjaan?" cecar Oryza menuntut jawaban. Benaknya kian penuh dengan pertanyaan yang membutuhkan jawaban segera.
"Yes, i did. Everything i do, i do it for you," ujarnya seraya kian merapatkan tubuhnya pada Oryza. Dikecupnya puncak kepala Oryza lembut. Harum aroma rambut menyeruak memenuhi rongga hidung Damar.
Oryza mematung dengan pikiran berkecamuk. Betapa banyak hutang budinya pada sosok di hadapannya ini. Wajar bukan bila ia akhirnya jatuh pada pesona atasannya itu. Ia bukan hanya tampan, mapan, dan dermawan. Tapi jika juga tak segan membantunya, tanpa banyak kata, tanpa ia perlu meminta apalagi mengiba. Ia datang bak malaikat pelindung. Ia lebih pantas disebut sebagai malaikat tak bersayap sebab entah sudah berapa banyak kebaikan dan pertolongan yang pria itu lakukan untuknya dan anak-anaknya. Tapi pantaskah ia mendapatkan segala kebaikan itu?
"Kenapa diam?" tanya Damar seraya menyibak rambut Oryza yang menjuntai ke depan wajahnya.
"Ini ... ini terlalu mengejutkan. Aku ... aku bingung. Aku tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Hutang budiku padamu sudah terlampau banyak. Kenapa? Kenapa kau sampai berbuat sejauh ini untukku?"
"Sudah aku bilang tadi, everything i do, i do it for you. Untuk lebih jelasnya lagi karena aku sungguh-sungguh mencintaimu dan aku menginginkanmu sebagai calon istriku. Mau kah kau menikah dengan ku?" lirih Damar lembut dan sorot mata penuh pengharapan.
'Haruskah aku terima saja meski aku belum tahu perasaanku yang sebenarnya padanya? Tapi aku takut menyakitinya bila menerimanya hanya karena ingin membalas hutang budi. Aku harus bagaimana?' Oryza bergumam dalam hati bimbang.
Triple up ... Kembang, kopi, like, komennya mana? 😁😁😁
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...