[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.88 Anak yang malang



Ting tung ...


"Ibu, ada yang datang," seru Dodi seraya memakan Snack pemberian Anggi sebelum ia diantar pulang. Sedangkan matanya tampak begitu fokus ke arah televisi yang menayangkan tayangan si kembar botak berasal dari negeri Jiran.


"Iya, Di. Sebentar, ibu lap tangan dulu," pekik Siti dari arah dapur. Ia baru saja selesai mencuci piring.


Cekrek ...


"Tuan," cicit Siti dengan mata membulat sempurna. Ia cukup terkejut melihat keberadaan asisten pribadi calon majikannya itu telah berdiri tegak di hadapannya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya datarrrrrr sedatar triplek.


"Wa'alaikum salam," sahut Siti malas. "Silahkan masuk tuan," ujarnya setelahnya lalu Siti pun mempersilahkan Saturnus masuk dan duduk di sofa. Tapi bukannya duduk, Saturnus justru melipir duduk di samping Dodi membuat Siti melotot.


"Mau dia sebenarnya apa sih? Nggak jelas banget," gerutu Siti sambil menghentakkan kakinya menuju dapur.


Tak lama kemudian ia kembali lagi ke ruang tengah seraya membawa nampan berisi secangkir teh hangat. Namun, belum sampai ia dimana Dodi dan Saturnus berada, satu pemandangan tak terduga tampak di depan mata Siti. Pemandangan dimana Dodi dan Saturnus tertawa lebar bersama saat menayangkan aksi si rembo yang dikejar-kejar Upin dan Ipin karena membawa kabur sendal mereka.


Satu hal yang mampir di benak Siti, kapan mereka bisa seakrab itu?


Apakah ia telah melewatkan sesuatu akhir-akhir ini?


Rasanya tidak, tapi kenapa mereka bisa begitu dekat?


Bukankah ini baru kali kedua Saturnus berinteraksi secara langsung dengan Dodi?


Tapi kenapa mereka terlihat begitu dekat?


Bahkan Saturnus yang diketahuinya merupakan salah satu makhluk paling datar dan minim ekspresi, kini bisa tertawa lebar dan saling melempar canda dengan putra semata wayangnya.


Siti jadi bertanya-tanya, benarkah yang sedang duduk berdua menonton sembari bercanda tawa itu orang yang beberapa hari lalu memintanya menjadi kekasih satu hari?


Ataukah ia memiliki kepribadian ganda?


Melihat Saturnus tampak acuh tak acuh padanya, Siti pun segera melengos pergi. Malas berurusan dengan patung arca pikirnya. Tanpa ia ketahui, ekor mata Saturnus terus memperhatikannya hingga punggung mungil itu mulai menjauh.


"Om, kenapa liatin ibu Dodi?" tanya Dodi polos yang sontak saja membuat Saturnus gelagapan.


"Si-siapa? Om nggak liatin kok," kilah Saturnus enggan mengaku.


"Ih om bohong, Dodi liat kok. Cara om liatin ibu sama kayak om Damar liatin bunda," cetus Dodi polos membuat Saturnus melebarkan pupilnya.


"Ssst ... ngomongnya jangan kenceng-kenceng, entar ibu Dodi marah ke om," bisik Saturnus seraya menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Dodi.


"Emangnya kenapa ibu jadi marah om?" Dodi balas berbisik dengan raut wajah penasaran.


"Emmm ... "


"Om suka sama ibu Dodi ya, om? Ayo, ngaku! Om suka ya? " tanya Dodi dengan wajah sumringah. Sorot matanya terlihat berbinar indah. Seakan menyiratkan sejuta harap pada jawaban Saturnus.


"Eh, kok ... "


"Om mau nggak jadi ayah Dodi? Dodi juga pingin kayak Raja dan Ratu, punya ayah," potong Dodi lagi dengan suara mencicit dan wajah sendu penuh pengharapan.


Saturnus sampai tergugu di depan Dodi. Ditatapnya manik mata Dodi. Binar itu merupakan binar penuh pengharapan. Sepertinya Dodi memang begitu mengharapkan dan memimpikan kasih sayang seorang ayah. Ia ingin merasakan memiliki dan dikasihi seorang ayah seperti anak-anak yang lainnya.


Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah Siti mau menjadi istrinya? Selain itu, ia pun masih bingung dengan perasaannya. Ia masih terlalu awam dengan yang namanya cinta.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang telinga yang ikut mendengar penuturan jujur bocah kecil bernama Dodi itu. Hatinya mencelos. Jantungnya terasa seperti diremas kencang. Sakit ... Hingga tanpa sadar, bulir bening pun jatuh dari ekor matanya.


'Putraku yang malang. Maafin ibu ya, ibu belum bisa memberikan apa yang kamu mau,' gumam Siti sendu seraya menyusut air mata yang mulai membasahi pipi.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...