![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
"Hum, udah siap?" tanya Damar sambil berdiri di ambang pintu. Ditatapnya istrinya yang makin cantik dengan baby bump-nya yang kian membukit.
Oryza yang baru selesai bersolek pun lantas menoleh sambil tersenyum manis, "tinggal pakai pashmina aja bang. Sebentar ya!" sahutnya lalu kembali menghadap ke cermin rias dan mulai memasangkan pashmina menutupi surai panjangnya yang telah lebih dahulu diikat.
Setelah selesai, ia terlebih dahulu berputar-putar di depan cermin. Memastikan penampilannya sudah oke, barulah ia beranjak mengambil tas yang telah terlebih dahulu disiapkan kemudian segera menyusul sang suami.
"Eh, Abang kok masih disitu?" tanya Oryza saat melihat Damar masih bersandar di depan pintu dengan tangan bersedekap di depan dada.
"Kenapa?" tanyanya sambil menahan senyum geli.
"Abang dari tadi di sana?"
Damar mengangguk sambil menahan kedutan di ujung bibirnya.
"Jadi ... Abang dari tadi liatin Ryza yang ... yang ... "
"Yang muter-muter di depan cermin?" potongnya membuat pipi Oryza seketika bersemu merah.
"Kenapa? Malu?" tanya Damar yang sudah berjalan ke arah Oryza sambil mengulum senyum.
"Ck ... Abang ih, godain mulu. Kenapa malah masih berdiri di situ? Ya, malu lah," cicitnya ngambek.
Damar lantas melingkarkan tangannya di pinggang Oryza kemudian merapatkan tubuh mereka.
"Ngapain malu?"
"Nggak usah senyum-senyum!" Oryza mendelik tajam membuat Damar kian gemas lalu mencubit pipinya.
"Istri Abang kok lucu banget sih! Padahal anak udah mau 3 tapi masih gemesin. Masih kayak abg. Ck ... bisa-bisa Abang dikirain hamilin bocah nih."
"Pedofil dong," ejek Oryza yang sudah terkekeh. "Yuk ah, bang! Entar dokternya protes, janji jam berapa, datang jam berapa," ajak Oryza seraya melingkarkan tangannya di lengan Damar.
Oryza dan Damar kini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk memeriksa kehamilan Oryza. Sedangkan Raja dan Ratu kini sedang ikut grandpa dan grandma-nya. Nyaris setiap weekend memang mereka dijemput orang tua Damar, entah itu untuk berkumpul di rumah besar mereka, terkadang pula mereka mengajak kedua bocah cilik itu jalan-jalan.
"Bagaimana dok keadaan calon anak saya?" tanya Damar antusias.
"Keadaannya baik. Bayi berkembang dengan baik. Beratnya bagus. Di usia ke 16 Minggu ini, janin sudah membentuk ekspresi dan sistem syarafnya akan tumbuh. Perlahan, gerakan janin juga sudah mulai bisa dirasakan," jelas dokter itu seraya menggerakkan transducer USG di atas perut Oryza.
"Apa kami sudah bisa melihat jenis kelaminnya?" tanya Damar lagi.
"Bisa," jawab dokter itu seraya tersenyum. "Tapi kayaknya dedek-dedeknya lagi malu nih. Bisa dilihat kan, dedeknya meringkuk, ditutupinya, yang satu lagi membelakangi, jadi nggak kelihatan. Mungkin sengaja, biar surprise katanya," ujar dokter itu membuat Damar dan Oryza tergelak seraya mengangguk-anggukkan kepala mereka.
Sebenarnya mereka tak begitu menuntut ingin anak laki-laki atau perempuan. Laki-laki ataupun perempuan semua merupakan anugerah dari yang Kuasa. Jadi tak masalah. Tapi apa kata dokter tadi ...
"Dedek-dedeknya? Maksudnya?" Damar dan Oryza cengo mendengar penuturan dokter itu. Memang sebelumnya, mereka belum sempat USG jadi mereka tidak tahu kalau Oryza tengah hamil kembar.
"Seperti yang Anda duga."
"Alhamdulillah, ya Allah. Humaira, kamu hamil kembar. Masya Allah, ternyata gen ku yang dominan," ujar Damar seraya tertawa jumawa.
"Alhamdulillah, bang. Ryza juga seneng banget dengernya. Keluarga kita pasti bakal makin rame," sahut Oryza.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan dan menebus obat, mereka pun bergegas menuju rumah orang tuanya. Saat melintasi koridor rumah sakit, tiba-tiba Oryza merasa seperti ada yang memanggil nama panggilannya saat kecil.
Saat ia membalikkan badannya, ia tidak melihat orang yang dikenalnya.
"Ada apa, Hum?" tanya Damar saat melihat Oryza menghentikan langkahnya.
"Kayak ada yang manggil nama kecil aku, bang," ujar Oryza.
"Nama kecil kamu?"
"Iya, Zaza. Biasanya hanya mama yang panggil aku kayak gitu. Tapi suara ini suara laki-laki."
"Zaza," panggil seseorang membuat Oryza dan Damar menoleh ke belakang serentak.
Oryza mengernyitkan dahinya, bingung. Ia merasa tidak mengenal pria paruh baya yang memakai snelli di belakangnya ini.
"Kamu Zaza kan? Benar kan? Zaza, ah maksudnya Oryza Sativa?" tanya orang itu memastikan.
"Anda ... mengenal saya?" tanya Oryza.
"Masya Allah, nak. Akhirnya ... om bisa ketemu kamu. Sudah lama sekali om cari kamu," seru pria paruh baya itu. "Kamu mungkin lupa, nama Om Heru. Dulu, om beberapa kali antar jemput mama kamu," ucapnya membuat wajah Oryza seketika berubah warna. Merah Hitam dengan tatapan penuh kebencian dan amarah.
"Oh, jadi Anda selingkuhan wanita itu?" sinis Oryza. Damar sampai terperangah melihat ekspresi di wajah Oryza yang berubah begitu cepat saat pria paruh baya itu mengungkit tentang ibunya.
"Ada yang harus saya klarifikasi di sini. Lebih baik, kalian ikut ke ruangan saya. Saya akan ceritakan semuanya. Dan satu yang pasti, segala dugaan dan prasangka kalian tentang Maida itu salah. Dia tidak pernah berselingkuh dan saya bukan selingkuhannya," tegas dokter bernama Heru itu.
"Tak ada lagi yang perlu saya dengar ataupun bahas," kekeh Oryza.
"Kau yakin? Tidakkah kau merindukannya walau sekejap saja? Tidakkah kau ingin ibumu tenang di alam sana dengan mengetahui fakta mengapa ia bersikap acuh padamu kemudian pergi tanpa pamit? Semua ada alasannya. Aku tahu, perbuatannya salah. Tapi ia pun terpaksa," ujar dokter Heru dengan tatapan sendu.
"Sebaiknya kita dengarkan dulu, Za. Ingat, tidak baik hidup dalam mendendam. Dendam hanya akan membuat hati kita tak tenang. Apalagi ibu kamu sudah tiada. Tak ada salahnya kita dengarkan cerita dokter Heru. Aku yakin, dalam hatimu pun penasaran mengapa mama mu sampai tega meninggalkanmu," ujar Damar menengahi.
Setelah mendapatkan persetujuan, di sinilah Oryza, Damar, dan dokter Heru berada. Di sebuah ruangan tempat dokter Heru bekerja. Mereka tampak duduk berhadap-hadapan di sofa dengan Damar yang tetap setia menggenggam tangannya yang mulai dingin.
Damar tahu, dalam hati Oryza pun sebenarnya bertanya-tanya. Bahkan dari mimik mukanya pun, begitu jelas ia sedang dirundung duka setelah mengetahui kalau ibunya telah tiada.
Lalu dokter Heru pun membuka ceritanya. Cerita itu mengalir apa adanya tanpa ada yang ditutup-tutupi ataupun dilebih-lebihkan. Mulai dari awal ibu dan ayah Oryza dijodohkan. Ibu Oryza yang menerima perjodohan karena memang menyukai anak sahabat orang tuanya itu sejak lama hingga sebuah kenyataan yang membuatnya harus perlahan undur diri dengan berpura-pura selingkuh. Kemudian ibunya yang memilih pergi karena rasa bersalah terhadap seseorang yang merupakan saudaranya sendiri. Hingga akhirnya menderita sakit keras dan meninggal dalam kesendirian.
...***...
Lanjut besok ya! 😁
Eh, othor mau infoin aja, cerita ini sekitar beberapa bab lagi bakal end! Terus di ending entar, othor mau bagi pulsa sedikit ke 3 top fans sebagai ungkapan terima kasih karena udah selalu dukung n support karya othor. Yang belum kasih dukungan, ditunggu dukungannya! 😍😍😍
Oh ya satu lagi, ni othor udah publish novel baru khusus cerita Ayesha. Silahkan mampir! Ditunggu like, komen, vote, bunga, kopi, bintang, apapun itu sebagai support ke othor. Hehehe ...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...