[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.67 Listen to me, please!



"Ti ... "


Belum sempat Oryza menyelesaikan kata-katanya, Damar terlebih dahulu menarik lengan Oryza masuk ke dalam apartemennya, kemudian mengunci pintunya dari dalam, dan mengantongi kuncinya membuat Oryza membelalakkan matanya. Setelah itu, Damar mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu kemudian mengantongi ponselnya lagi setelah pesannya terkirim.


Oryza yang panik sontak berbalik ingin membuka pintu apartemen Damar, tapi ia lupa kalau kuncinya sudah dikantongi Damar, ia pun kembali membalik badannya menghadap Damar dengan mata mendelik.


"Tuan, apa-apaan sih? Kok pintunya dikunci? Jangan macam-macam ya kalau nggak ... "


"Nggak apa?" potong Damar dengan mata menyipit. Mata yang sudah sipit itu jadi kian sipit karenanya.


Melihat tatapan penuh intimidasi itu, sontak membuat Oryza mundur hingga tubuhnya membentur dinding membuat Damar tergelak lalu diraihnya tangan Oryza dan menuntunnya agar duduk di sofa.


"Tu-tuan mau ngapain?" tanya Oryza terbata, menolak untuk duduk.


Damar menghela nafas panjang kemudian memberi kode melalui lirikan mata agar ia duduk di sampingnya. Dengan setengah hati, Oryza pun duduk di sofa yang sama, tapi dengan memberikan sedikit jarak.


"Kita lanjut yang tadi, oke!"


"Yang mana?" tanya Oryza bingung mencoba mengingat-ingat apa yang mereka bahas sebelumnya.


"Za, tadi aku bilang memang aku mencintaimu, tapi kenapa kamu kayak nggak percaya gitu?" tanya Damar bingung.


Oryza pun kembali membulatkan matanya saat mengingat pernyataan Damar tadi.


"Ya wajarlah, aku nggak percaya. Itu nggak mungkin," ucap Oryza seraya bersungut-sungut.


"Kenapa nggak mungkin? Emang kamu nggak bisa nyadarin perasaan aku ke kamu, hm?" tanya Damar kian bingung. Bahkan kini Damar telah bergeser ke sisi Oryza, tapi perempuan itu justru menggeser tubuhnya menjauh.


"Heh, tuan Damar Prayoga Putra Angkasa, emangnya saya bodoh, tuan itu sebenarnya mencintai perempuan lain, bahkan sudah siap melamarnya kan, lah kok tiba-tiba melamar aku? Oh, atau ini bagian dari latihan? Tuan mau latihan cara menyatakan cinta ya? Oh, mau gladi resik dulu?" cerocos Oryza membuat Damar melongo karena bingung.


"Kata siapa aku mencintai perempuan lain? Jangan fitnah ya!" sergah Damar heran, mengapa Oryza bisa bicara seperti itu.


Ingin rasanya Damar tergelak kencang saat melihat ekspresi Oryza yang tampak jelas sekali sedang begitu kesal. "Terus, tadi sore aku lihat tuan jalan mesra banget sama Yesha. Hayo, jangan bohong, tuan sebenarnya suka sama Yesha kan? Apa tuan ditolak jadi tuan jadiin aku pelarian? Jangan tuan pikir aku ini perempuan gampangan ya yang bisa tuan jadiin pelarian!" tudingnya dengan jari telunjuk kanan teracung di depan dan tangan kiri berkacak pinggang.


Mendengar perkataan bernada marah yang beraroma kecemburuan itu jelas saja membuat Damar tergelak kencang. Ia bahkan sampai terguling-guling di lantai sambil memegangi perutnya karena merasa lucu dengan apa yang baru saja didengarnya.


Dari cara Oryza meluapkan kekesalannya, ia dapat menangkap aroma kecemburuan. Bolehkah ia berbesar kepala menganggap kalau Oryza pun memiliki rasa yang sama seperti dirinya?


"Kenapa ketawa? Malu karena ketahuan belangnya? Iya? Dasar kadal burik, buaya buntung, tokek kampret," hardik Oryza dengan kekesalan yang meletup-letup membuat Damar kian terpingkal.


"Memangnya aku sebangsa reptil?" Damar mendelik. "Dan itu tadi apa? Kamu berani marah-marah ke atasan kamu? Ngatain juga? Wah, hebat banget ya! Nggak takut kena pecat, hm?"


Oryza membelalakkan matanya. Bagaimana ia bisa kelepasan marah-marah seperti itu? Hais, kacau!


"Maaf, tuan! Maaf, maafkan saya! Saya ... saya ... saya sungguh-sungguh tidak sengaja. Maafkan saya!' ujar Oryza seraya memelas membuat Damar kian gemas karenanya.


"Oke kalau kamu mau dimaafin, mendekat sini!" titah Damar tapi Oryza justru menggeleng.


Damar pun menghela nafas panjang, lalu ia beringsut duduk tepat di samping Oryza. Oryza hendak menjauh, tapi Damar malah menatapnya tajam membuat Oryza bergeming di tempatnya.


Lalu Damar menangkup wajah Oryza dengan kedua telapak tangannya membuat wajah Oryza menengadah menghadapnya.


"Listen to me, please! Dengarkan aku baik-baik! Aku tidak pernah menjadikan mu sebagai pelarian ku, Za. Apa yang aku katakan tadi merupakan kesungguhan. Apa kau tidak bisa merasakannya? Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Za. Aku nggak bohong. Aku serius. Dan mengenai aku yang menyilang tanggal itu, benar, aku sudah menunggu momen itu. Apa kamu lupa, hari ini hari terakhir masa Iddah mu?" ujar Damar pelan membuat Oryza melebarkan pupilnya


"Ja-jadi itu ... itu ... "


"Ya, yang aku silangi itu merupakan tanggal masa Iddah mu dan aku sudah menunggu lama untuk hari ini," ucapnya lembut seraya menatap lekat netra Oryza yang berpendar dengan mulut menganga. Mungkin ia terlalu shock dengan penuturan Damar yang sangat tak terduga ini.


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...