[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.116



Shock ...


Sudah pasti. Siapa yang tak terkejut saat mendengar fakta kalau wanita yang pernah ia manfaatkan dan buang kini telah mendapatkan seorang lelaki yang dapat menerima dirinya juga anaknya dengan tangan terbuka. Hendrik tertawa sumbang di dalam mobilnya. Satu persatu wanita yang telah ia sakiti akhirnya menemukan kebahagiaannya. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang kini justru hidup nelangsa.


Bukannya ia tidak senang. Tidak. Ia justru bersyukur. Bila mereka ikut menderita seperti dirinya, bukan tidak mungkin itu akan memperburuk rasa penyesalannya. Ia senang, anak yang tak pernah ia anggap ada akhirnya memiliki seorang ayah yang semoga saja dapat menyayanginya sepenuh hati. Memberikan cinta yang tidak pernah ia beri.


Masih teringat betapa protektifnya ayah sambung Dodi tadi. Bahkan untuk menyapa saja, ia tidak diperbolehkan. Ia justru mendapatkan bogem mentah karena hendak memaksa bicara. Ah, betapa malang nasibmu Hendrik!


"Kalau kau hanya ingin mengusik kehidupan nyonya Oryza dan Siti serta Dodi, sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku menghajar wajahmu itu," hardik Saturnus merasa geram melihat keberadaan Hendrik yang sedang mencoba mendekati Dodi. Tangan Saturnus sudah mengepal kuat. Seandainya Dodi tidak berada di sana, sudah ia hancurkan wajah sok polos Hendrik.


"Jangan ikut campur urusanku, tuan! Kau tak berhak ikut campur!" sahut Hendrik sinis yang belum tahu siapa itu Saturnus.


"Tentu aku berhak ikut campur sebab Siti sudah menjadi istriku dan Dodi kini telah menjadi anakku," tukas Saturnus penuh percaya diri.


Deg ...


Hendrik merasa terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Hendrik tahu siapa laki-laki yang berdiri di hadapannya ini. Laki-laki itu kerap menjadi juru bicara Damar pada awak media. Dia adalah asisten pribadi CEO angkasa Mall. Mana mungkin Siti yang hanya seorang pembantu menikah dengan seorang asisten pribadi handal seperti Saturnus. Sungguh sangat mustahil.


Merasa tak percaya, Hendrik pun tertawa sumbang.


"Kenapa kau tertawa? Kau tak percaya wanita yang telah kau buang telah menikah denganku? Begitu?" tukas Saturnus sengit.


"Sudahlah. Jangan halang-halangi aku untuk menyapa putraku?" balas Hendrik yang kekeh ingin bicara dengan Dodi. "Nak, ini ... "


"Berhenti!" sergah Siti tak ingin mendengar kata-kata Hendrik selanjutnya. "Saya mohon Anda segera pergi dari sini, tuan! Jangan buat keributan! Atau saya akan memanggil pihak keamanan untuk mengusir Anda!" imbuh Siti tegas.


"Siti, aku hanya ingin menyapa Dodi, apa salahnya? Jangan egois kau, Siti!" ucap Hendrik dengan suara meninggi membuat Dodi ketakutan.


Tak ingin Dodi melihat pertengkaran mereka dengan Hendrik, Saturnus pun meminta Siti membawa Dodi masuk ke dalam kamarnya.


"Dodi, ini ayah, nak! Siti, izinkan aku bicara dengan Dodi sebentar saja!" panik Hendrik seraya berusaha meringsek masuk ke dalam apartemen Siti.


Bukkk ...


Bukkk ...


Bukkk ...


"Egois? Siapa yang kau bilang egois, hah?" bentak Saturnus murka. Sudah lama ia ingin sekali menghajar wajah laki-laki breng-sek yang sudah membuat hidup Siti susah dan hancur, dan akhirnya kesempatan itu datang juga.


"Setelah apa yang kau lakukan pada Siti bertahun-tahun lalu? Apa pernah satu kali saja kau memikirkan bagaimana nasibnya saat kalian usir dari rumah kalian dalam keadaan hamil? Pernahkah kau memikirkan bagaimana nasib anakmu? Pernahkah kau mempedulikan dan memperhatikannya satu kali saja? Tidak, bukan! Bahkan tidak pernah sama sekali. Jangankan bertanggung jawab secara moril, secara materil pun tidak pernah sama sekali. Jadi jangan pernah kau mengatakan Siti egois," imbuh Saturnus dengan emosi yang menggelegak.


"Tapi dia anakku. Aku ayahnya. Apa aku tidak boleh meminta maaf satu kali saja padanya," lirih Hendrik dengan mata memerah. "Aku tahu, aku salah. Tapi tak bisakah aku menebusnya di sisa hidupku ini? Aku tahu, aku tak layak mendapatkan pengampunan dari Siti dan Dodi. Tapi aku hanya bisa mengatakan itu. Untuk memperbaiki keadaan pun, aku takkan mampu," lirih Hendrik dengan tatapan kosong seperti seseorang yang sudah nyaris putus asa.


"Hahaha ... ayah? Jadi kau ayahnya. Ya, secara biologis darahmu memang mengalir di dalam tubuh Dodi, tapi kau bukan ayahnya. Yang Dodi tahu, akulah ayahnya. Jangan kau rusak mental Dodi dengan mengatakan kau adalah ayahnya! Kita tidak tahu, apa yang akan ia pikirkan saat tiba-tiba kau mengakui kalau kau sebenarnya ayahnya."


Hendrik termenung lalu ia menghembuskan nafasnya kasar. Ditatapnya Saturnus yang masih berdiri menjulang di hadapannya. Kemudian ia pun berdiri.


"Baiklah. Mungkin kau benar. Aku titip Dodi padamu. Aku yakin, kau lebih pantas menyandang status sebagai ayahnya dibandingkan aku yang breng-sek ini," ucapnya seraya tersenyum getir. "Bisakah aku bicara dengan Siti sebentar saja!" Mohon Hendrik seraya memelas.


Saturnus pun mengangguk lalu ia segera memanggil Siti.


Brukkk ...


Tiba-tiba saja Hendrik bersujud di hadapan Siti membuat Siti membulatkan matanya.


"Ap ... "


"Maaf! Maaf! Maafkan aku! Maafkan segala kesalahanku! Aku mohon maafkan aku yang bajing-an ini! Aku tahu, aku tak layak mendapatkan pengampunan darimu setelah apa yang aku lakukan pada dirimu dan juga Dodi. Tapi, izinkan aku memohon maaf padamu. Aku takut, aku takkan memiliki kesempatan meminta maaf lagi jadi izinkan aku untuk meminta maaf padamu atas segala perbuatanku. Aku benar-benar menyesal," ucap Hendrik penuh kesungguhan. "Terima kasih telah berjuang mempertahankan Dodi hingga lahir ke dunia ini. Aku memang bukanlah ayah yang baik. Aku mohon, bila suatu hari nanti ia mulai mengerti , tolong sampaikan permohonan maaf ku. Aku ... aku sungguh menyesal," imbuhnya seraya terisak membuat Siti mematung di tempatnya. Merasa bingung juga tak menyangka melihat laki-laki yang pernah mencampakkannya bagai sampah tengah bersimpuh memohon ampun padanya.


Setelah mengucapkan itu, Hendrik pun segera bangkit dan berlalu dari sana meninggalkan 3 pasang mata yang menatapnya penuh tanya. Ya, tanpa diketahui Siti dan Saturnus, Dodi pun ikut mendengarkan secara diam-diam apa yang Hendrik katakan dari balik pintu.


'Ayah, Dodi sudah maafin ayah!' lirihnya dalam hati. Sebenarnya Dodi sudah sejak lama tahu tentang Hendrik yang merupakan ayahnya. Semua itu berawal saat Oma Neni memarahi Siti. Saat itu, Dodi mendengar tanpa sengaja. Ia tahu, tapi ia diam. Ia sadar, ia tak diinginkan ayah dan neneknya. Jadi ia hanya diam, memendam segala rasa ingin tahunya mengapa ia tak pernah diinginkan ayah dan neneknya. Ia diam, ia tak ingin ibunya kembali bersedih saat ia menanyakan perihal ayahnya. Sungguh, Dodi adalah anak yang pengertian dan berhati lembut.