[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.50 Oryza and her son



Damar tak henti-hentinya tersenyum sejak tadi. Lebih tepatnya setelah Oryza pulang ke unitnya. Damar melepaskan arm sling yang membalut lengannya sambil terkekeh geli.


"Ternyata musibah membawa berkah," gumamnya seraya menggerakkan lengannya perlahan. Terdengar ringisan pelan saat Damar berusaha menggerakkan lengannya. Senyum geli tak lepas dari bibirnya mengingat bagaimana khawatirnya Oryza juga perhatiannya padanya tadi.


Damar tidak sedang pura-pura, tapi tangannya memang sedang cedera. Tapi tidak separah dugaan Oryza mengira tangannya patah. Tapi berkat itu juga, Oryza jadi memberikan perhatian berlebih padanya.


Tangannya hanya terkilir sebab ia tergelincir di lokasi proyek yang memang cukup licin karena baru saja diguyur hujan. Tapi tidak sampai patah. Karena para pekerja yang khawatir, mereka memanggilkan dokter. Damar sebenarnya tidak begitu membutuhkan arm sling, namun karena semua orang menyarankannya, ia menurut saja. Damar justru senang karena semua orang memperhatikan juga mengkhawatirkan dirinya.


Flashback on


"Astagfirullah, tuan, tuan, tangan Anda kenapa tuan? Kenapa pakai itu?" tanya Oryza tiba-tiba panik sebab saat masuk ke dalam unit Damar, ia melihat atasannya itu sedang duduk sendirian sambil bersandar di sandaran sofa dengan kepala mendongak ke atas seraya memejamkan mata. Yang menjadi fokus Oryza sebenarnya bukan itu, tetapi tangan Damar yang tampak memakai arm sling.


Damar pun membuka matanya lalu melirik Oryza sekilas. Saat hendak membenarkan posisi duduknya, tiba-tiba saja Damar meringis membuat Oryza segera berhambur ke samping Damar, berniat untuk membantunya. Karena posisi mereka sangat dekat, Damar dapat melihat setiap inci kulit wajah Oryza yang masih polos, tanpa sentuhan bedak sama sekali. Sangat cantik pikirnya. Saat posisi Damar sudah benar, Oryza tiba-tiba mengangkat wajahnya sehingga mata mereka saling bersirobok.


Degh ...


Damar terpaku memandang lekat cantik wajah Oryza. Jantungnya berdegup dengan kencang, seakan berontak dari tempatnya hendak melompat keluar. Damar sampai menelan salivanya sendiri dengan netra yang terpaku, tanpa berkedip.


Nafasnya memburu, ingin rasanya Damar mencondongkan sedikit tubuhnya, lalu meraup bibir merah muda itu dengan bibirnya. Mengecupi, menyesap, lalu melumaatnya dengan mesra. Berbagi saliva, mengabsen setiap inci rongganya, menikmati pergulatan lidah dengan nafas yang memburu.


'Astaga Damar, pikiran loe kok ... Tapi mau gimana lagi, Ryza memang terlalu menggoda. Tapi nggak, aku nggak boleh ngelakuin hal itu. Aku nggak mau membuat Oryza tiba-tiba nggak nyaman sama aku. Aku nggak mau dia tiba-tiba menjauhi aku. Aku nggak mau kalah sebelum berperang.' Perang batin dalam diri Damar.


Oryza terpaku dengan tatapan tajam tapi meneduhkan Damar. Ia tak mengerti, mengapa tatapan itu begitu menarik hatinya. Tatapan itu terlihat begitu berbinar dan penuh kekaguman. Tapi tak mungkin pikirnya. Itu mungkin hanya perasaanya saja. Mana mungkin pria sesempurna Damar memiliki rasa dan kekaguman pada seorang janda biasa seperti dirinya. Oryza pun segera menyadarkan dirinya agar tidak makin larut pada tatapan atasannya itu. Ia pun segera memalingkan wajahnya ke arah lain, mengantisipasi sesuatu yang bisa saja terjadi.


"Emm, tangan tuan kenapa?" tanya Oryza akhirnya memberanikan diri bertanya dengan pandangan ia arahkan pada sling arm yang melingkari pundak kanannya hingga tangan kanannya menggantung di depan dada.


"Oh, ini, tadi saya tergelincir di lokasi proyek. Jalannya agak licin karena belum selesai dibangun," jawab Damar gelagapan.


Damar pun segera beranjak dari tempat duduknya untuk menetralkan gemuruh di dada dan otaknya kemudian masuk ke dalam kamar. Ia bermaksud mendinginkan tubuhnya di bawah guyuran air.


Namun baru beberapa menit masuk ke kamar, ia keluar lagi menghampiri Oryza yang tengah bersiap memasakkan makan malam.


"Emmm ... Za," panggilnya pelan.


"Ah, i-iya, tuan," jawab Oryza terkejut karena tiba-tiba saja Damar sudah berada di belakang tubuhnya.


"Itu ... bisa minta tolong?" ucap Damar seolah ragu.


"Ya, ada yang Anda butuhkan tuan?"


"Ya, ini, saya mau mandi, tapi kesulitan melepaskan baju. Bisa kamu bantu saya?"


"Hah!" seru Oryza dengan mata terperangah.


Dilihatnya, memang sepertinya Damar kesulitan melepaskan kemeja lengan pendek yang melekat di tubuhnya. Oryza tiba-tiba kembali gugup. Oryza sampai menggigit bibirnya, merasa ragu, haruskah ia membantu Damar?


"Kalau kamu tidak bisa, ya sudah. Saya minta Saturnus aja kemari untuk membantu saya," ucap Damar sembari menghela nafas membuat Oryza tak enak hati.


'Nggak papa, Za. Jangan takut, bos mu orang baik kok. Dia pasti nggak akan macam-macam.'


"Tuan," panggil Oryza membuat Damar membalikkan badannya.


"Baiklah, saya bantu," ucap Oryza dengan wajah yang telah memerah apalagi saat dengan perlahan ia melepaskan satu persatu kain dari tubuh bagian atas Damar. Hanya bagian atas ya, bagian bawah no.


Oryza tampak membenamkan wajahnya di bantal. Wajahnya masih merah padam mengingat bagaimana ia melepaskan kemeja dan kaos dalam Damar tadi. Ia juga membantunya mengenakan baju.


Oryza sampai menahan nafas saat melihat betapa kokoh dada atasannya itu. Kulitnya pun terlihat putih bersih. Tubuhnya harum, sampai membuat Oryza kesulitan bernafas karena aroma maskulin bercampur harum parfum yang mengusik indra penciumannya.


"Astaga, kok keingetan itu mulu sih! Haish, seharusnya biarin aja bos telepon asistennya. Jadi kepikiran kan! Tapi sumpah, ya ampun, itu dada pelukable banget sih. Astaga Za, jangan genit napa!" gumam Oryza seraya menepuk kepalanya agar berhenti berpikiran yang tidak-tidak.


"Bunda kenapa? Kepala bunda sakit ya?" tanya Raja saat melihat sang ibu memukul kepalanya sendiri.


Oryza yang mendengar suara putranya itu pun segera mengangkat wajahnya dan terkejut saat melihat Raja telah berada di ambang pintu.


"Eh, Raja kok belum tidur, sayang?" tanya Oryza seraya mengubah posisi duduk lalu menepuk sisi kanannya agar Raja ikut duduk di sampingnya.


"Raja nggak bisa tidur, bunda. Bunda kok nggak jawab pertanyaan Raja sih, kepala bunda sakit?"


Oryza menggeleng lalu tersenyum.


"Nggak kok. Kok nggak bisa tidur, ada yang Raja pikirin?"


"Nggak ada. Raja cuma kangen bunda aja. Raja takut bunda pergi lagi," lirih Raja membuat Oryza merengkuh tubuh Raja ke pangkuannya lalu memeluknya.


"Bunda nggak akan kemana-mana kok, sayang. Kalaupun pergi, bunda cuma bekerja."


"Kenapa bunda harus kerja? Dulu bunda nggak pernah kerja," tanya Raja yang masih belum paham kalau kehidupan mereka tidak seperti dulu lagi. Ia hanya tahu, sekarang mereka telah berpisah dengan sang ayah karena ayahnya diambil Tante ulat bulu, tapi ia tak mengerti kalau biaya hidup mereka kini tidak sepenuhnya ditanggung ayahnya karena ayah dan ibu mereka telah berpisah.


Tadi sepulangnya Hendrik memang ia menemukan sebuah amplop yang ia tahu itu merupakan jatah bulanan yang biasanya diberikan Hendrik. Ia tadi cukup terkejut melihat amplop coklat berisi uang yang kini jumlahnya justru lebih banyak dari sebelumnya. Sebenarnya ada rasa enggan untuk menerimanya, tapi ia tak mau egois. Uang itu merupakan hak anak-anaknya. Ia hanya akan menggunakan untuk kebutuhan anak-anaknya. Tapi ia tetap butuh pekerjaan untuk kebutuhannya sendiri juga Siti dan Dodi. Ia tak bisa melepaskan Siti dan Dodi begitu saja. Selain karena ia butuh bantuan Siti untuk mengaduk anak-anaknya, ia pun tak tega karena Siti hanya hidup berdua saja dengan Dodi.


"Kita kan butuh makan, kalau mau makan harus beli bahannya, nah beli bahannya itu pakai apa?"


"Uang," jawab Raja cepat.


"Nah, untuk dapat uang kita harus?"


"Kerja," cicit Raja seraya menundukkan kepalanya.


"Tuh tahu. Lho, kok Raja nangis sih?" tanya Oryza panik saat terdengar isakan lirih dari bibir mungil Raja.


"Raja makannya banyak ya Bun? Jadi bunda harus kerja biar bisa dapat uang banyak. Raja juga suka jajan. Maafin Raja ya Bun, mulai sekarang Raja nggak akan jajan lagi, nggak makan banyak-banyak lagi. Nanti Raja bilang ke Ratu juga biar nggak makan banyak-banyak biar bunda nggak perlu capek kerja lagi," ucapnya seraya terisak.


Oryza terharu sekaligus merasa geli sendiri mendengar penuturan Raja. Oryza lantas mencubit pipi Raja gemas. Ia tidak menyangka, putranya bisa berpikir ke sana.


"Kok gitu? Emang bunda bilang bunda kerja karena makan Raja dan Ratu banyak? Nggak kan. Bunda malah senang anak-anak bunda makannya banyak. Bunda justru sedih kalau anak-anak bunda makannya sedikit. Bunda nggak mau anak-anak bunda kelaparan terus sakit. Jadi Raja nggak usah banyak pikiran ya! Bunda kerja itu karena bunda sayang kalian. Bunda senang kok," ujar Oryza memberi pengertian pada sang anak.


Anaknya masih terlalu kecil untuk mengerti tentang kehidupan. Ia tak mau banyak bicara yang pada akhirnya membuat si kecil dewasa sebelum waktunya. Ia ingin anak-anaknya tumbuh selayaknya anak-anak lain. Bermain, belajar, bersenang-senang, tanpa beban sebab masa kecil itu tidaklah bertahan lama. Kelak, saat mereka tumbuh dewasa, kita akan merindukan saat-saat seperti ini.


Nikmati saja prosesnya, semua ada waktunya. Hidup memang penuh ujian, tapi jangan dijadikan beban sebab itu hanya akan membuat kita kehilangan kenikmatan sesungguhnya. Termasuk nikmat melihat tumbuh kembang sang buah hati tercinta.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...