[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.104



Seperti biasa, setiap kumandang adzan mengalun merdu di subuh yang syahdu, Damar telah tampak siap dengan setelan baju koko dan sarungnya. Disusul Oryza yang terbangun lantas mengembangkan senyum saat melihat suaminya telah siap pergi ke masjid bersama ayah mertua dan adik-adiknya.


"Abang udah ganteng aja," ucap Oryza dengan senyum merekah dan tatapan menggoda.


"Ekhem ... kenapa liatnya kayak gitu? Mau menggoda, Abang, hm? Belum puas yang semalam?" goda Damar membuat Oryza terkekeh.


"Ck ... dipuji sedikit, pikirannya langsung kesana. Sana gih, papa pasti udah nungguin. Entar diledek Kevin lagi lho."


Damar pun ikut terkekeh. Bagaimana tidak berpikir ke arah sana, tatapannya itu lho ... errrr ... Bawaan pingin nerkam.


"Ya udah, Abang ke masjid dulu ya! Kamu buruan mandi. Jangan lupa sholat! Assalamu'alaikum Humaira," ucap Damar dengan senyum manis merekah membuat hati Oryza kian berbunga-bunga.


"Wa'alaikum salam, Abang sayang," jawab Oryza dengan senyum menggoda membuat Damar mendelik tajam namun tak pelak membuat Oryza terkekeh setelahnya.


Setelah Damar keluar dan menutup pintu rapat, Oryza pun segera turun dari ranjang sambil mengeratkan selimut ke tubuh polosnya menuju ke kamar mandi.


Biarpun tak ada satu orang pun di ruangan itu, entah ia tetap saja merasa malu sendiri. Apalagi ia yakin tubuhnya sudah dipenuhi dengan love bites di sekujur tubuhnya. Untung saja Damar melakukannya di tempat yang tertutup, kalau tidak malu lah dia. Bisa-bisa ia akan dijadikan bahan godaan seluruh orang yang melihatnya.


"Ck ... aku udah kayak macan tutul," gumamnya saat berdiri di depan cermin wastafel.


Tak lama kemudian, rona merah menjalar ke pipi, telinga, dan leher Oryza. Bila mengingat percintaannya dua hari ini, ia merasa benar-benar puas. Damar bukan hanya mengejar kepuasan dirinya sendiri, tapi juga pandai memuaskannya. Tidak seperti Hendrik yang hanya mengejar kepuasannya sendiri. Bahkan Oryza nyaris tak pernah mencapai puncak sebab belum apa-apa laharnya sudah menyembur duluan membuatnya kesal sebab ia pun ingin merasakan kepuasan itu. Namun Oryza tak pernah mempermasalahkannya secara langsung. Ia lebih banyak memendam dan bersabar. Ia mencoba menerima kekurangan suaminya kala itu. Ia tetap melayani sepenuh hati. Berusaha menjadi istri berbakti tapi malah dihadiahi sakit hati.


"Astagfirullah, kok malah inget itu sih! Ish, ngapain inget-inget itu. Mending buruan mandi eh sebelum waktu subuh habis," gumamnya seraya menepuk jidatnya sendiri.


Selepas mengerjakan sholat, Oryza menghampiri ponselnya yang tergelatak di meja kamar itu. Semalam, selepas memadu kasih dengan Damar, mereka langsung tertidur pulas. Mereka sampai lupa kalau ponsel Oryza sempat berbunyi hingga beberapa kali. Mereka terlalu lelah sebab entah berapa kali mereka mengarungi samudera kenikmatan hingga akhirnya mereka tumbang secara bersamaan dengan kepuasan tiada terkira.


"Oh ya, semalam ada yang telepon sampai berkali-kali, kira-kira siapa ya?" gumamnya seraya meraih ponsel lalu membuka kuncinya menggunakan sidik jarinya.


Dahinya mengernyit saat melihat nomor sang mantan suami lah yang menghubunginya semalam hingga berkali-kali.


"Ngapain dia telepon malam-malam? Kurang kerjaan," gumamnya hendak mengacuhkan. Tapi saat melihat pesan masuk di aplikasi perpesanan berlogo gagang telepon berwarna hijau, Oryza membelalakkan matanya.


Za


Za, angkat telepon aku, please!


Za, mama sakit. Sekarang udah di rumah sakit.


Za, mama kritis. Mama pingin ketemu kamu dan anak-anak.


Za, aku mohon setelah baca ini hubungi aku balik ya!


Oryza menghela nafas panjang. Jarinya ingin menekan tombol telepon, tapi ia ragu sebab ia tak bisa menghubungi laki-laki lain tanpa seizin suaminya. Terlebih ini mantan suaminya. Ia tak mau membuat suaminya salah paham dan mengira dirinya masih berhubungan dengan Hendrik.


Semalaman Hendrik tak bisa memejamkan matanya. Matanya terus terpaku di depan layar ponsel, berharap Oryza segera menelponnya balik atau minimal membalas pesannya. Namun hingga pekatnya malam berganti subuh, Oryza tampaknya belum online kembali. Mungkin Oryza masih tidur pikirnya. Hendrik menghela nafas lelah. Matanya beralih memandang sang ibu yang terlelap dengan selang infus di pergelangan tangan kanannya dan selang oksigen di mulut dan hidungnya. Keadaan ibunya kini makin buruk. Ia mengalami komplikasi sehingga kemungkinan tidak dapat bertahan lama.


Sebelum ibunya mendadak kritis, ia sempat mengatakan ingin bertemu Oryza. Karena itulah ia berusaha menghubungi Oryza, namun ternyata usahanya tak membuahkan hasil sama sekali. Saat Hendrik hendak menutup ponselnya, tiba-tiba ia melihat status online pada kontak Oryza, tak mau membuang waktu, ia pun segera menghubungi Oryza. Ia berharap, Oryza mau mengangkat panggilannya. Ya, semoga.


"Halo, assalamu'alaikum," ucap seseorang di seberang sana mengalun merdu di telinga Hendrik. Membuat debaran jantungnya kian bertalu-talu.


"Ha-halo juga. Wa'alaikum salam, Za," jawab Hendrik gugup. Senyumnya mengembang. Entah mengapa, ia merasa ia kembali seperti saat pertama kali mengenal Oryza. Hatinya begitu riang.


"Ekhem ... mas, maaf, Ryza belum bisa kesana. Tapi Ryza usahakan nemuin ibu. Tapi Ryza harus izin dulu sama bang Damar. Nggak papa kan, mas?" ucap Oryza santai tapi membuat rahang Hendrik mengetat tak terima.


Bagaimana bisa Oryza meminta izin lelaki lain dahulu sebelum menemui ibunya. Walaupun mereka telah bercerai, tapi bukankah ibunya sudah menganggap Oryza seperti putrinya sendiri. Seharusnya Oryza mengutamakan ibunya , bukannya pria lain.


"Emang apa urusan laki-laki itu sampai harus minta izin dia segala? Dia itu bukan siapa-siapa, Za. Segitu pentingnya dia sampai menemui mama pun harus minta izin sama dia. Atau dia mengekang hidup kamu sampai apapun yang ingin kamu lakukan harus atas persetujuan dia ? Iya? Belum jadi siapa-siapa aja udah sok posesif banget, apalagi kalau kamu udah nikah, Za. Bisa-bisa hidup kamu akan terkekang bagai burung dalam sangkar. Kamu nggak mau kan kayak gitu. Jadi lebih baik ... "


"Bisa berhenti ngoceh, mas? Apa urusanmu ikut campur urusanku?" sentak Oryza kesal saat mendengar ocehan Hendrik yang terdengar memuakkan. "Dan asal kau tahu, pria yang sedang kamu bicarakan itu adalah suami aku jadi sudah sewajarnya aku meminta izin dulu padanya sebelum melakukan sesuatu termasuk menemui kamu dan mama. Mau bagaimana pun, kita sudah tak ada hubungan lagi. Mama juga bukan mama mertuaku lagi. Namun aku masih menghormatinya sebagai nenek dari anak-anak sama seperti kamu yang merupakan ayah kandung dari anak-anak. Tak lebih," imbuh Oryza membuat Hendrik menganga lebar dan membulatkan matanya saat mendengar penuturan itu. Ia sampai mengusap telinganya berharap apa yang ia dengar itu hanya halusinasi.


"Su-suami?" ucapnya memastikan dengan perasaan tak menentu dan jantung berdegup tak menentu.


"Ya, bang Damar udah jadi suami Ryza sekarang. Kenapa?" delik Oryza seraya memutar bola matanya jengah. Apa-apaan sikap Hendrik pikirnya.


"Suami? Nggak, nggak mungkin," gumamnya tak percaya. Hendrik sampai terkulai lemas di sofa. Ia merasa terguncang dengan apa yang didengarnya itu.


Jengah dengan sikap Hendrik, Oryza pun menutup panggilan itu sepihak tanpa berbasa-basi lagi.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...