[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
CH.71 Saturnus and Siti



Sesuai titah sang atasan, akhirnya di sinilah Saturnus berada, dalam sebuah mobil dengan kedua bocah menggemaskan menemaninya. Terlahir sebagai anak tunggal, membuat Saturnus begitu kaku dengan anak-anak. Ia sebenarnya menyukai anak-anak, tapi ia bingung harus berinteraksi dengan cara apa dan bagaimana. Saturnus ini sifatnya plek ketiplek si map plastik laminating. Bahkan lebih kaku. Entah mengapa para pemimpin dari keluarga Angkasa selalu mendapatkan asisten pribadi yang kaku dan datar seperti mereka.


"Om, om, nanti mampil beli es klim dulu, boleh?" rayu Ratu seraya mengerjap-ngerjap matanya lucu.


"Oh, itu ... e ... kita telepon ibu kalian dulu saja ya! Om takut nggak dibolehin soalnya," ujar Saturnus dengan tersenyum dilebar-lebarkan.


Ratu pun mengangguk alih-alih mengiyakan. Sedangkan Raja, hanya melirik saja.


Setelah mendapatkan izin, mereka pun mampir ke sebuah minimarket yang letaknya di seberang apartemen. Setelah membeli apa yang mereka inginkan, mereka pun segera beranjak menuju apartemen.


"Om, om, sini dulu dong!" panggil Ratu.


"Ya, ada apa? Ada yang kalian inginkan?" tanya Saturnus kaku.


"Om jongkok dulu, bisa nggak?" tanya Ratu. Saat ini mereka sedang berada di dalam lift. Saturnus pun menuruti permintaan Ratu dengan duduk berjongkok di depan Ratu. Lalu secara tiba-tiba, tangan Ratu terulur kemudian jemarinya menarik sudut bibir Saturnus agar membentuk sebuah lengkungan senyum.


"Tuh, cakep kan! Om itu halus banyak-banyak senyum, bial cakep kayak om ganteng," ujar Ratu dengan memasang ekspresi menggemaskan.


"Hah!" serunya bingung. "Om ganteng itu siapa?" tanya Saturnus yang memang tidak tahu.


"Yah, payah ih, masa' om ganteng ndak tahu siapa padahal om kan kelja sama om ganteng," celoteh Ratu membuat Raja diam-diam tersenyum.


"Bekerja sama om ganteng? Maksudnya tuan Damar?"


"Tuh tahu. Banyak-banyak senyum ya om. Tapi jangan senyum telus, ental giginya keling. Dikatain olang gila juga," imbuh Ratu lagi membuat Saturnus tanpa sadar tersenyum.


Kini Raja, Ratu, dan Saturnus telah berdiri di depan pintu apartemen. Saturnus telah menekan bel beberapa kali, tapi pintu tak kunjung dibuka. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang tengah berusaha dibuka. Tak lama kemudian, wajah seorang wanita cantik tapi pucat muncul dari balik pintu.


"Maaf tuan, saya ... saya ... "


Brukkk ...


"Ibu ... *


"Bik Siti,"


"Nona,"


Seru mereka bersamaan ketika tubuh Siti tiba-tiba saja limbung. Untung saja Saturnus sigap menangkap tubuh Siti hingga tidak sampai tersungkur ke lantai.


"Nona, bangun," panggil Saturnus seraya menepuk pelan pipi Siti yang ternyata telah tak sadarkan diri.


"Ibu," panggil Dodi dengan berlinang air mata.


"Dia ibumu?" tanya Saturnus pada Dodi dan Dodi pun mengangguk. Sudah punya anak ternyata.


"Bisa tunjukkan di mana kamar ibumu? Dia pingsan."


Dodi pun menunjukkan kamar mereka yang diikuti Saturnus seraya menggendong Siti lalu membaringkannya di atas kasur.


Sadar kalau Siti sedang demam, Saturnus pun berinisiatif mengompres Siti. Jadi ia mengambil baskom berisi air hangat dan sebuah handuk kecil. Dicelupkannya handuk otubke dalam air hangat, kemudian diperasnya, lalu ia tempelkan di dahi Siti.


Saturnus melirik jam di pergelangan tangannya, tak lama lagi masuk jam makan siang. Jadi Saturnus berinisiatif memeriksa adakah makanan untuk ketiga bocah itu santap siang ini. Namun ternyata yang tersedia hanya sisa ayam goreng saja satu potong. Ia pun segera mengambil ponsel dan memesan beberapa makanan secara online.


Tak lama kemudian terdengar suara lenguhan dari atas ranjang. Saturnus pun segera mendekat. Mata Situ tampak mengerjap, menyesuaikan netranya dengan pencahayaan di kamar.


"Kamu sudah sadar?" tanya Saturnus to the point membuat Siti tersentak hingga terlonjak di tempatnya.


"A-Anda siapa?" tanya Siti gugup sambil melihat keadaannya yang tampaknya masih rapi. Dalam hati, ia mengucapkan syukur, artinya pria di hadapannya itu tidak melakukan hal yang tak pantas padanya hingga handuk kecil yang menempel di dahinya jatuh ke pangkuannya barulah Siti sadar kalau lelaki yang berdiri tak jauh darinya itu sudah membantu mengompresnya.


"Saya Saturnus, asisten pribadi tuan Damar. Tadi saya yang diminta menjemput anak-anak sebab nona Oryza sedang menemani Tuan Damar ke kota B," ujar Saturnus menjelaskan. "Dan maaf bila saya lancang menyentuhmu. Kamu tadi demam jadi saya mengompres dahi Anda," imbuhnya.


Siti pun menghela nafas lega, "Terima kasih, tuan atas bantuannya," ucap Siti lirih.


"Tapi saya belum masak tuan."


"Makanan sudah saya pesan dan baru tiba beberapa saat yang lalu," tukas Saturnus memberitahukan. Ia begitu kaku membuat Siti geli sendiri.


"Maafkan saya tuan karena saya Anda jadi harus repot seperti ini. Saya benar-benar meminta maaf. Aaakh ... " tiba-tiba saja Siti menjerit kesakitan saat ia berusaha untuk duduk. Kepalanya berdenyut nyeri seperti dihantam sesuatu yang keras.


"Kamu kenapa? Sebaiknya berbaring saja kalau kamu masih pusing," tukas Saturnus.


"Tapi anak-anak mau makan, aku harus ... "


"Saya yang akan membantu mereka jadi kamu istirahat saja. Nanti saya bawakan makan siang kamu," tukas Saturnus datar.


Terus terang saja, Siti merasa gugup dengan keberadaan Saturnus. Ia tidak pernah berinteraksi dengan lelaki lain selain mendiang ayahnya dan Hendrik. Tapi ia mencoba bersikap tenang,


Tak lama kemudian, Saturnus datang kembali dengan membawa baki berisi nasi beserta lauknya dan air putih. Siti makin gugup dibuatnya. Apalagi Saturnus juga membantunya agar bisa duduk.


Siti memakan nasinya dengan pelan. Lidahnya terasa pahit tapi ia tetap memaksa dirinya untuk makan. Tentu ia tidak ingin sakit berlama-lama. Selain karena ia sadar akan tugasnya sebagai seorang asisten rumah tangga, ia juga tak enak bila harus terus-menerus merepotkan Saturnus.


"Biasanya kau minum obat apa kalau sakit seperti ini? Atau kau mau ke dokter?"


"Saya bisa minum obat warung, tuan. Tidak perlu ke dokter," jawab Siti dengan wajah menunduk.


"Oh," jawab Saturnus pendek. "Obat apa? Biar saya belikan."


"Ti-tidak usah tuan. Tidak perlu repot-repot, sebentar lagi juga saya sembuh," sergah Siti tak enak merepotkan Saturnus lagi. Ia tahu, saat ini pasti Saturnus sangat sibuk, tapi karena dirinya , ia harus berakhir di sini sekarang.


"Nggak usah ngeyel," tegas Saturnus dengan alis berkerut. "Saya juga tak suka repot-repot. Tapi kalau kamu tidak lekas sehat, pasti aku akan makin repot. Jadi kamu harus segera sembuh kalau tidak mau merepotkan ku lagi," ujar Saturnus datar namun dengan sorot mata penuh ketegasan. Siti sampai menelan ludahnya sendiri melihatnya.


"Sa-saya minum Bodrex. Bodrex migra, tuan. Soalnya saya sedikit migrain," ujar Siti gelagapan.


"Baiklah, kamu tunggu di sini. Saya beli obatnya dulu," ujar Saturnus dingin. Sekeluarnya Saturnus, Siti bernafas dengan lega. Entah apa jadinya bila Saturnus selalu berada di kamarnya. Bisa-bisa bukannya sembuh, ia malah makin sakit.


...***...


"Bang, ada kabar dari kak Sat?" tanya Oryza. Kini mereka sedang makan siang berdua di sebuah restoran yang juga berada di Angkasa Mall cabang Kota B.


"Barusan dia chat, katanya Siti demam. Tapi kamu tenang aja, semua baik-baik aja. Saturnus orang yang dapat diandalkan," tukas Damar seraya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Syukurlah," sahut Oryza bernafas lega.


"Za, ada yang mau ketemu sama kamu."


"Siapa?" tanya Oryza penasaran.


Lalu dilihatnya mata Damar ternyata sedang fokus ke satu arah, yaitu pintu masuk.


Oryza pun membelalakkan matanya saat beberapa orang masuk dan salah satunya ia kenali.


"Bang, mereka ... " cicit Oryza yang mendadak gugup.


....


...***...


**Udah dari semalam mau up, tapi banyak tapi tapinya. Sampai baru sempat pagi ini. Semoga entar malam bisa nambah satu lagi.


Makasih kakak2 semua yang selalu setia mendukung karya othor.


Semoga harinya menyenangkan dan selalu dalam lindungan Allah SWT.


...HAPPY READING 🥰🥰🥰**...