[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.73 Bersedia



Mendengar penuturan panjang lebar dari Diwangga, sontak saja membuat Oryza berkaca-kaca bahkan sampai tergugu di hadapan mereka semua. Entah bagaimana cara mendeskripsikan perasaannya saat ini. Ia benar-benar terharu.


Ia pikir, statusnya akan mempersulit dirinya kedepannya khususnya dalam mencari pasangan hidup. Ia pikir, ia akan terus terpuruk dan terus sendiri, tak berani membuka hati karena takut terhadap penolakan maupun pengkhianatan. Ia pikir, takkan ada lagi orang yang benar-benar mencintainya. Ia pikir, ia takkan mungkin menemukan orang-orang yang mau menerima dirinya dan anak-anaknya dengan tulus dan tangan terbuka. Ia pikir, kalau pun ada lelaki yang mencintainya dengan tulus, tapi tidak dengan orang tuanya.


Tapi nyatanya ... ada sebuah keluarga yang padahal bisa saja mendapatkan calon menantu yang jauh di atasnya. Derajat yang sama, berpendidikan, lebih cantik tentunya, masih perawan, bukan janda sepertinya, tapi mereka justru menerima dirinya sebagai calon menantu keluarga hebat itu.


Apalagi keluarga itu merupakan keluarga konglomerat di negara itu. Bahkan lelaki yang mempersuntingnya itu merupakan CEO sebuah mall terbesar di negara itu. Mereka merupakan keluarga terpandang di negaranya.


Tapi, kini mereka justru menginginkannya dirinya menjadi bagian keluarga mereka. Mereka bukan hanya menerima dirinya tapi juga anak-anaknya. Rasa dalam dada Oryza terasa penuh sesak. Bukan dipenuhi kesedihan, melainkan kebahagiaan. Walaupun ia belum bisa memastikan perasaannya pada atasannya itu. Tapi ... ia tak dapat menolak pinangan tulus itu. Dan ia dapat memastikan, takkan sulit membuka hati untuk seorang Damar Prayoga Putra Angkasa sebab sekuat tenaga ia menghalau perasaannya pada atasannya itu, tetap saja perlahan ia mulai merasa nyaman dan kerap merasa rindu bila tidak bertemu. Ia yakin, perlahan tapi pasti, rasa cinta itu akan segera terbit seiring dengan kemantapannya untuk membuka hati pada sosok yang kini duduk di sampingnya.


Melihat Oryza yang berderai air mata, sontak saja Damar, Diwangga, Anggi, dan ketiga adik kembar Damar panik. Mereka khawatir telah salah berucap hingga membuat wanita itu terluka dan sakit hati.


"Za, kamu kok nangis? Apa papa ada salah berucap? Kalau benar, saya selaku seorang anak mohon maaf yang sebesar-besarnya," ujar Dar sungguh-sungguh. Ia benar-benar takut tanpa sadar telah melukai perasaan wanita yang ia cintai itu.


Oryza menggeleng cepat.. Karena memang benar, tak ada yang salah dari kata-kata ayah atasannya itu. Ia justru terharu karena orang-orang seperti mereka justru mau menerimanya dengan tangan terbuka.


"Nggak bang, om eh papa maksud Ryza nggak ada salah berucap kok. Ryza ... Ryza cuma terharu. Ryza nggak nyangka orang-orang hebat seperti mama dan papa Abang mau menerima Ryza yang hanya wanita biasa ini. Ryza sadar diri. Ryza tidak sebanding dengan keluarga abang. Ryza hanya seorang janda, keluarga nggak punya, pendidikan cuma tamat SMA, Ryza ... " Nafas Oryza tercekat. Lidahnya kelu. Tak dapat ia ungkapkan dengan kata, bahagianya sungguh luar biasa.


"Udah sayang, jangan nangis lagi dan jangan merendah. Kamu tahu nggak, mama ini juga tamatan SMA lho. Eh papa kamu malah seorang pengacara dengan titel berderet-deret dan kami nggak masalah dengan itu. Tapi mama maklum kok, mama dulu awalnya gitu juga. Tapi papa kamu bisa meyakinkan mama kalau dia benar-benar mencintai mama dan mau menerima segala kelebihan maupun kekurangan mama. Dan akhirnya, kamu lihat sendiri, sampai sekarang mama dan papa langgeng. Ingat, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Tapi jadikanlah kegagalan itu sebagai awal lembaran baru. Jangan terlalu terpaku dengan kekurangan sebab kekurangan itu pun sebenarnya bisa menjadi sebuah kelebihan bila kita mampu menerimanya dengan hati yang lapang. Tergantung cara kita mengatasinya," imbuh Anggi. Yang lain diam sembari mendengarkan. "Oke tinggalkan pembahasan itu, sekarang kembali ke topik utama, gimana Za? Kamu bersedia menerima pinangan putra sulung mana itu atau ... " Anggi menjeda kalimatnya. Matanya melirik Oryza dan Damar bergantian seraya tersenyum menggoda


Dengan malu-malu, Oryza pun menjawab membuat yang mendengarnya berseru hamdalah dengan perasaan bahagia yang membuncah.


"Ryza ... bersedia, ma, pa," jawab Oryza malu-malu dengan wajah menunduk.


"Alhamdulillah," seru keenam orang itu.


"Iya nih, gara-gara macet. Abang sih, ngasi kabar dadakan banget. Untung siang ini jadwal Karin kosong," decak Karin karena Damar memang memberitahukan rencananya tiba-tiba.


"Tapi selamat ya, bang. Akhirnya ... " Kevin langsung memeluk tubuh Damar seraya mengucapkan selamat.


"Selamat juga ya bang, mbak. Jadi, kapan nih mau dihalalin?" timpal Karin seraya tersenyum lebar.


"Kalau Abang sih maunya secepatnya, gimana sayang?" goda Damar membuat pipi Oryza makin memerah seperti tomat masak.


"Ka-kalau Ryza sih, terserah Abang aja," cicit Oryza.


"Kalau besok gimana?" godanya lagi membuat Oryza diam-diam mendelik tajam. Dasar, bujang nyaris lapuk! Nggak sabaran banget.


"Cie, yang udah nggak sabar lagi pingin nikah!" goda Arletta dan Arditta membuat Diwangga dan Anggi terkekeh.


"Kalau begitu, semuanya biar mama dan papa yang atur. Pokoknya,. kalian siap-siap aja," tukas Diwangga tegas yang diangguki Damar dan Oryza.


Lalu Damar pun merogoh saku jasnya. Dari dalam sana, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah hati kemudian membukanya.


"Za, maaf kalau lamaran aku kemarin nggak ada romantis-romantisnya. Tapi aku serius ingin menjadikan kamu dan anak-anakmu jadi bagian dalam hidupku. Dan terima kasih kamu mau menerimaku. Aku memang nggak bisa berjanji, tapi aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu dan anak-anak kita nanti. Termasuk Raja dan Ratu, bagiku mereka juga merupakan anak-anakku," ucap Damar tegas seraya memasangkan cincin di jari manis Oryza.


Tiba-tiba Oryza mengingat sesuatu, bagaimana dengan anak-anaknya? Akankah mereka menerima Damar sebagai ayah sambung mereka? Oryza merasa berdosa sendiri karena belum bicara dengan anak-anaknya. Bagaimana pun, biarpun mereka masih kecil, anak-anaknya juga memiliki hak untuk berpendapat. Bagaimana bila anak-anaknya menolak? Mendadak Oryza cemas sendiri dan raut wajah penuh kekhawatiran itu dapat ditangkap jelas oleh Damar.