![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Saturnus dan Siti akhirnya tiba juga di rumah sakit. Dengan langkah panjang, Saturnus melewati koridor rumah sakit menuju ruangan tempat ibunya dirawat. Tapi akibat langkah Saturnus yang terlalu panjang, membuat Siti terseok-seok mengejarnya. Bahkan lebih parah, Saturnus sampai tidak sadar kalau Siti sudah tertinggal jauh di belakang.
Siti yang kehilangan jejak Saturnus lantas berbelok arah ke salah satu bangku khusus keluarga pengunjung kemudian duduk di sana sambil komat-kamit.
"Dasar map plastik laminating jilid II. Balok kayu. Kanebo kering. Papan triplek. Kalsiboard. Nyebelin banget sih! Dia yang minta tolong, dia yang ninggalin. Kalau bukan karena kasihan dengan ibunya yang sedang sakit, ogah deh ngebantu si songong nyebelin itu!"
Siti sibuk misuh-misuh sakin kesalnya dengan sikap Saturnus yang rasanya pingin ia tonjok.
"Siti ... Kamu Siti kan?" sapa seorang pria bersnelli dengan wajah cukup tampan.
Siti mendongakkan wajahnya lalu mengerutkan keningnya seraya mengingat-ibgat siapa pria yang menyapanya itu.
"Ya ampun, masa' kamu lupa sih! Pacarku memang dekat, lima langkah dari rumah. Tak perlu kirim surat, SMS juga nggak usah ... " ujar pria itu lalu ia menyanyikan beberapa kalimat dari sebuah lagu untuk mengingatkan Siti tentang siapa dirinya.
"Astaga ... Teguh? Ini kamu beneran ... Teguh?" seru Siti terkejut saat melihat pria yang pernah menjadi cinta monyetnya dahulu telah memakai snelli.
"Huh, dinyanyiin baru ingat! Ingatan kamu payah banget sih!" cibir Teguh.
"Ya, maaf, kamu soalnya beda banget. Nggak kayak dulu ya ... hehehe ... "
"Apa? Kucel? Dekil ? Hitam ?" Teguh mendelik kesal saat diingatkan masa menjelang remajanya.
"Ih, jangan marah! Aku kan cuma mau jujur aja. Aku beneran pangling tau!"
"Wah, serius nih pangling! Berarti aku tambah ganteng dong!" Tukas Teguh seraya menaik-turunkan alisnya.
"Ih, narsis banget sih!" cibir Siti membuat Teguh tergelak.
"Eh, kamu apa kabar, Ti?"
"Aku ya gini, Guh. Alhamdulillah, baik," sahut Siti seraya tersenyum tipis. "Kalau kamu?"
Teguh memandangi wajah Siti yang dulu imut kini tambah dewasa tapi makin cantik walaupun pakaiannya begitu sederhana.
"Aku Alhamdulillah, baik."
"Kamu jadi dokter di sini?" tanya Siti.
"Aku masih koas di sini. Doain semuanya lancar dong."
"Iya, iya."
"Btw kamu kemana aja sih selama ini? Kok tiba-tiba ngilang aja? Kabar bapak sama ibu kamu juga gimana?"
"Kamu kan tahu dulu kami ngontrak di sana. Kata Bu Desi tanah di situ mau dibeli orang, kontrakan akan dibongkar jadi kami pindah lah," ujar Siti bercerita. "Bapak sama ibu udah nggak ada lagi, Guh. Mereka udah lama meninggal."
"Duh, maaf banget ya, Ti." Teguh merasa menyesal mengungkit kesedihan Siti. "Jadi sekarang kamu tinggal dimana?"
"Oh, jadi kamu di sini? Bagus ya, saya cari-cari, kamu malah enak-enakan pacaran?" Terdengar suara datar seseorang yang baru beberapa hari ini Siti kenal. Siti pun menoleh ke sampingnya. Terlihat di sana si map plastik laminating jilid II tengah bersedekap sedang menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Saya apa?" Saturnus mendelik. Ekor matanya melirik ke arah Teguh yang tampaknya sedikit penasaran dengan hubungan antara dirinya dan Siti.
"Anda siapa? Kenapa marah-marah sama kekasih saya?"
Degh ...
Siti tiba-tiba melotot tajam mendengar Teguh mengakuinya sebagai kekasih. Bagaimana kalau banteng ini tiba-tiba ngamuk. Dari sikapnya sih emang sudah ready to war. Tapi ... kenapa? Ck ... cuma jadi kekasih sehari aja sok-sokan cemburu. Dasar sinting!
"Eh, Guh, maaf ya! Aku ada keperluan sebentar! Sampai jumpa lagi, Guh! Bye ... "
Siti pun dengan gesit menyingkir dari sana sambil menarik-narik lengan Saturnus yang wajahnya sudah seperti banteng siap mengamuk.
"Kamar ibu Anda dimana, tuan? Ayo, cepat kesana biar semuanya cepat selesai!" ajak Siti yang kini bergantian dirinya lah yang bersemangat.
"Kenapa kamu mau cepat-cepat? Oh, kamu mau ketemuan sama dokter magang itu? Begitu?" sentak Saturnus membuat mata Siti membulat. Kenapa nih orang tiba-tiba seperti kekasih yang cemburuan?
"Anda kenapa sih, tuan? Kalau pun iya, kenapa? Saya bebas lho. I'm single."
"Kamu lupa kamu itu kekasih saya?" sentak Saturnus dengan mata melotot tajam.
"Dih, kekasih satu hari aja sok-sokan posesif! Ingat ya, tuan, seharusnya tuan berterima kasih pada saya karena saya bersedia membantu bukannya malah marah-marah. Baru jadi kekasih palsu aja udah sok posesif, gimana kalau sudah jadi kekasih beneran, auto stroke karena naik darah setiap hari diajakin berantem nggak berkesudahan. Gini nih kalau jomblo akut tiba-tiba ada kekasih, jadi sok iyes!" balas Siti dengan berani.
Jangan karena dirinya pembantu jadi orang lain bisa semena-mena, pikirnya. Yang gajinya aja nggak pernah kayak gitu, lha ini cuma kekasih bo'ongan aja sok marah-marah, sok ngatur, sok posesif, dasar gila.
"Kamu ... " Saturnus sudah melototkan matanya seakan hendak menelannya bulat-bulat.
"Lho Sat, kamu di sini toh! Ibumu udah nungguin kamu dari tadi. Eh siapa ini? Cantiknya ... Ini ... calon istri kamu, Sat? Masya Alloh, akhirnya ... bapak punya menantu juga," ucap seorang pria paruh baya menghentikan pertengkaran mereka berdua. "Yuk, masuk-masuk nak!" ajak bapak itu membuat keduanya terpaksa mengikuti langkahnya masuk ke dalam satu ruangan yang berisi dua orang pasien.
Saturnus bukanlah golongan orang berdompet tebal yang bisa memesan kamar VIP sesukanya. Jadi ia memilih kelas yang sesuai dengan budget yang ia punya. Sebenarnya ia mampu-mampu saja membayar kamar yang lebih mahal, tapi yang akan ia bayar bukan hanya kamarnya saja, tapi juga pengobatan dan obat-obatannya. Jangan hanya karena kamar yang mewah ia sampai kehabisan uang untuk membayar biaya perawatan dan obat-obatan ibunya. Setidaknya, kamar ini masih lebih layak karena hanya dihuni dua orang pasien.
"Bu, Bu, lihat itu, anak kita bawa calon mantu. Kamu lihat, calon menantu kita cantik banget. Kamu buruan sehat supaya kita bisa adain pesta pernikahan Si Unus," seru ayah Saturnus membuat Siti cengo sendiri karena langsung diakui sebagai calon istri.
'Alamat tambah ruwet ini!' batin Siti mulai kepeningan.
Sementara Saturnus sedang sibuk dengan drama kekasih satu harinya, Damar dan Oryza yang berada di sebuah kedai es krim tak jauh dari taman safari justru serak disibukkan dengan kedatangan para wartawan dan reporter yang meminta klarifikasi tentang berita yang baru saja beredar.
Semua berasal dari postingan kesedihan Syakira yang memuat tentang patah hatinya karena sang kekasih yang berpaling hati pada seorang janda. Karena selama ini Syakira sering sesumbar secara tersirat kalau kekasihnya merupakan CEO Angkasa Mall, tentu saja para pewarta jadi heboh saat melihat Damar justru sedang berjalan-jalan dengan seorang perempuan cantik dan tiga orang anak kecil.
Berita itu dengan cepat beredar dengan caption-caption yang menyudutkan Damar dan juga Oryza yang dikira perebut kekasih orang. Awalnya ada pengunjung yang merupakan fans Syakira yang melihat dan memotret CEO Angkasa Mall itu. Dari sana, para pewarta berbondong-bondong mendatangi lokasi dan menyerbu Damar.
Beruntung ia selalu diikuti beberapa bodyguard tersembunyinya jadi saat kerumunan pewarta makin banyak dan terlihat membahayakan keberadaan atasannya, mereka pun dengan cepat bertindak mengamankan atasan mereka juga Oryza dan anak-anaknya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...