[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.56 Bos Narsis



Sepulangnya dari Angkasa Mall, Oryza tak henti uring-uringan. Teringat ia bagaimana murkanya Damar saat menemukan keadaannya yang tampak tidak baik-baik saja, membuatnya begitu terkesima. Kedatangan Damar membuatnya seakan begitu dilindungi, diperhatikan, dan disayangi. Bolehkah kalau ia menarik kesimpulan kalau atasannya tersebut memang memiliki perasaan padanya?


"Ah, nggak, itu nggak mungkin! Tapi ... " Oryza menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menepis dugaannya, tapi sikap posesif Damar justru seakan menguatkan segala asumsinya.


"Apa mungkin?" gumamnya lirih seraya menatap langit-langit kamarnya. Menerawang bagaimana hangatnya dan nyamannya saat Damar memeluknya tadi. Belum lagi aroma tubuhnya yang hingga kini masih terasa di indra penciumannya. Seakan betah berlama-lama menempel di sana.


Apalagi karena kegiatannya tak pernah jauh dari Damar membuatnya begitu hapal lembut dan maskulinnya aroma tubuh Damar. Oryza jadi ingat, karena begitu terlena dengan aroma maskulin atasannya itu, ia sampai pernah tertidur di kamar Damar. Saat itu ia hendak menyiapkan pakaian ganti untuk Damar yang sedang mandi sebab itu juga merupakan tugasnya. Awal-awal ia memang merasa begitu canggung, apalagi dengan seenaknya Damar juga memerintahkannya menyiapkan pelindung pusakanya. Dengan menebalkan muka pun rasa malu, Oryza berusaha melakukannya sebaik mungkin. Hingga suatu waktu, karena memang Oryza tengah merasa begitu lelah jadi ia pun mencoba duduk di tepi ranjang Damar yang ternyata begitu nyaman dan empuk. Tempat tidurnya dulu saat menjadi istri Hendrik juga empuk, tapi entah ranjang atasannya ini justru lebih empuk lagi. Karena terbawa suasana, Oryza pun mencoba membaringkan tubuhnya yang lelah. Aroma tubuh Damar yang masih menempel di bantal ternyata membuatnya terbuai hingga tak sadar tertidur.


Oryza tak ingat apa-apa lagi setelah itu sebab saat matanya terbuka justru ia telah tertidur di kamarnya. Menurut Siti, Damar lah yang menggendongnya ke kamar. Oryza merutuki kebodohannya berulang kali. Bagaimana bisa ia tertidur di kamar seorang bujangan yang notabene adalah atasannya sendiri.


Berbeda dengan Oryza yang merutuki dirinya sendiri, Damar justru tak henti-hentinya tersenyum sebab di momen itulah ia akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya mencium bibir seorang gadis eh wanita maksudnya. Ya, pemirsa, dugaan kalian benar, di saat itu Damar telah meruntuhkan pertahanannya sendiri dengan memberanikan diri mengecup singkat bibir Oryza tanpa wanita sadari.


Ting tong ...


Terdengar suara bel membuat Oryza tersadar dari lamunannya. Tak lama kemudian terdengar pula suara ketukan di depan pintu kamarnya. Oryza pun segera beranjak menuju pintu dan membukanya.


"Ada apa, Ti?" tanya Oryza karena jarum jam masih menunjukkan pukul 18.27. Waktu Maghrib pun belum habis. Apa mungkin ada 6ang mencarinya di jam seperti ini?


"Itu mbak, ada tuan Damar di depan," ujar Siti memberitahu membuat Oryza mengerutkan keningnya. Untuk apa atasannya itu mencarinya di jam seperti ini? Bukankah ia juga pasti akan kesana pukul 19.00 nanti untuk membuatkannya makan malam.


"Ya sudah, mbak lihat dulu," ujar Oryza. Ia pun segera berjalan menuju pintu dan membukanya. Ia memang tidak mengizinkan Siti membiarkan orang lain masuk ke dalam apartemen tanpa seizinnya.


"Tuan, ada apa ya? Apa Anda mau minta buatkan makan malam sekarang?" tanya Oryza sambil memandangi penampilan Damar yang mengenakan baju kaos lengan pendek berwarna coklat dan celana jeans selutut berwarna abu-abu. Terkesan santai tapi menawan. Di tangan kanannya tampak ada sebuah kantong yang entah apa isinya.


"Hari ini kamu libur aja dulu masaknya," ujar Damar yang langsung saja menerobos masuk membuat mata Oryza membulat.


"Maksudnya, tuan mau makan malam di luar?" tanya Oryza seraya mengikuti langkah Damar.


Dugh ...


Tiba-tiba saja kepala Oryza membentur dada bidang Damar yang membalik badannya secara mendadak hingga membuat Oryza reflek mundur ke belakang.


"Awww ... " desis Oryza yang langsung memegang dahinya dengan bibir mengerucut. "Jangan ngerem mendadak kenapa?" desis Oryza membuat Damar terkekeh geli. "Itu dada apa samsak sih, keras bener?" imbuhnya lagi yang justru tanpa sadar maju selangkah dan meletakkan ujung jarinya di atas dada Damar seraya menekan-nekannya membuat Damar sampai membulatkan matanya dengan pipi yang bersemu merah.


Damar pun membungkukkan sedikit tubuhnya lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Oryza.


"Bilang aja kalau mau pegang-pegang, aku izinin kok. Atau ... mau dipeluk kayak tadi? Dengan senang hati aku akan ... "


"Stop!" potong Oryza cepat sambil celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, khawatir ada yang mendengarnya.


"Tuan apa-apaan sih? Kalo didengar anak-anak gimana?" delik Oryza dengan mata melotot. Bukannya takut Damar malah makin terkekeh.


"Kita nggak lagi di kantor, Za. Ganti panggilan gih! Nggak enak dengarnya," titah Damar membuat Oryza berpikir.


"Panggil apa?"


"Menurut kamu apa enaknya?"


"Apa ya?" gumam Oryza seraya berpikir.


"Kamu dulu panggil mantan suamimu apa?" tanya Damar.


"Mas,"


"Oke, kalau gitu kamu panggil aku Abang aja atau sayang juga boleh," goda Damar sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Idih, sayang ... sayang dari Hongkong. Ogah! Abang aja deh, dari pada sayang. Emangnya kamu siapa mau dipanggil sayang," ejek Oryza sambil menari satu sudut bibirnya.


"Hahaha ... tuan ngawur banget," tukasnya seraya tergelak kencang.


"Bunda ngetawain apa sih? Suaranya gede banget sampai ke kamar Raja," celetuk Raja dari ambang pintu. "Eh, ada om Damar," seru Raja dengan mata berbinar.


"Mana, mana om ganteng," seru Ratu berlarian keluar dari dalam kamar. "Wah, ada om ganteng! Om ganteng bawa apa?" tanya Ratu dengan wajah cerianya.


Damar pun segera mensejajarkan tubuhnya dengan Raja dan Ratu.


"Om mau masak buat makan malam, kalian mau bantu?" tanya Damar membuat bukan hanya Oryza yang terperangah, tapi juga Raja, Ratu, Dodi, dan Siti yang berdiri di perbatasan antara ruang tengah dan dapur.


"Mau," seru keduanya kompak.


"Dodi juga mau bantu?" tanya Damar sambil tersenyum lebar.


"Dodi boleh ikut juga om?" tanya Dodi malu-malu.


Damar pun mengangguk membuat Dodi tersenyum dengan wajah ceria.


"Tu ... eh, bang, serius bisa masak?" tanya Oryza sangsi.


"Serius dong. Aku ini calon suami idaman, tahu nggak. Udah baik, tampan, mapan, jago masak, setia, apa lagi ya? Emmm ... "


"Astaga, nggak nyangka ya bosku narsis banget!" ejek Oryza yang kemudian terkekeh sendiri. "Awas ya kalo nggak enak!"


"Aku serius, Za! Nggak percayaan banget," ucap Damar seraya meletakkan kantong yang dibawanya di atas meja dapur. "Kamu duduk aja di sana, perhatikan aku yang akan beraksi. Aku jamin, kamu pasti bakal nagih setelah merasakan nikmatnya masakan ku," ujar Damar dengan percaya diri yang ditanggapi Oryza dengan dengusan geli.


Sementara Oryza sedang terkesima dengan sosok pria tampan berapron merah muda di hadapannya yang tengah beraksi memainkan berbagai peralatan masak dengan terampil, di sebuah rumah cukup megah, tampak seorang wanita paruh baya sedang bersungut-sungut memandangi makan malam di atas meja.


Dia adalah Oma Neni. Semenjak kepergian Oryza, ia seakan kehilangan selera makannya. Entah mengapa, masakan pembantu barunya itu tidak sesuai dengan seleranya. Sangat berbeda dengan masakan Oryza yang memang sangat cocok dengan indra perasanya.


"Mama kenapa?" tanya Hendrik saat melihat Oma Neni meletakkan sendoknya kembali ke atas piring.


"Mama kangen masakan, Ryza" desah Oma Neni frustasi.


Githa yang duduk di sebelah Hendrik pun memutar bola matanya jengah. Alasan saja pikirnya, bilang aja kangen dengan mantan menantu miskinnya itu.


"Mama juga kangen cucu-cucu mama," lirihnya sendu.


"Mama mau ketemu Raja dan Ratu?" tanya Hendrik bersemangat. Hendrik tentu saja bersemangat. Ia bisa memanfaatkan momen ini untuk menemui sekaligus mendekati Oryza pikirnya.


"Kamu mau anterin mama?" tanya Oma Neni dengan mata berbinar.


"Kalau mama mau, nanti Hendrik anterin," ujarnya tanpa pertimbangan. Bahkan keberadaan Githa yang sudah menahan emosi pun ia abaikan.


"Ya sudah, mama siap-siap dulu," ujar Oma Neni dengan penuh semangat.


"Nggak, kamu nggak boleh menemui perempuan sialan itu!" bentak Githa murka membuat Oma Neni menghentikan langkahnya.


"Kamu apa-apaan, Tha! Dia bukan perempuan sialan. Dan kamu nggak ada hak melarang mama menemui cucu-cucunya," sahut Hendrik kesal. "Mama bersiaplah, kita segera ke sana. Nanti kemalaman," imbuhnya lagi membuat Oma Neni kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩ...


...Happy reading 🥰🥰🥰...