[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.85



"Eh, Bu, Bu, liat tuh, janda gatel datang!" seru seorang ibu-ibu saat melihat Oryza turun dari mobil dengan menggandeng tangan Raja dan Ratu menuju gerbang sekolah. Hari ini Damar tidak ikut mengantar sebab ia memiliki banyak pekerjaan khususnya menghentikan segala kekacauan yang disebabkan Syakira.


"Eh, anaknya sekolah di sini juga toh! Wah, gawat, kita harus hati-hati nih jangan biarin suami-suami kita anterin anak-anak ke sekolah bisa-bisa digondol tuh janda gatel," seloroh seorang ibu-ibu dengan nada mencemooh.


"Heh, janda gatel, ngapain ke mari! Pergi sana, cantik-cantik murahan. Sekolah ini nggak terima anak dari wanita murahan kayak loe!" tukas seorang ibu-ibu yang sudah menghadang jalan Oryza yang telah berada tepat di depan gerbang.


"Iya, nggak tahu malu banget jadi orang, ngegodain pacarnya artis, nggak ngaca banget jadi orang. Udah janda, nggak tahu malu lagi," timpal yang lainnya.


"Eh, Bu, kasi tahu dong dukun mana langganan ibu? Saya juga janda nih, siapa tahu bisa gaet pengusaha kaya kayak ibu?" ujar ibu-ibu lainnya membuat Oryza menghela nafas panjang.


"Sebenarnya ada urusan apa ibu-ibu dengan saya? Apa saya sudah berbuat salah pada ibu-ibu? Atau saya sudah mengganggu keluarga ibu-ibu khususnya suami-suami ibu? Sebegitu rendahkah derajat seorang janda di mata kalian sampai kalian bisa sesuka hati menilai saya? Apakah berita yang beredar itu telah terbukti kebenarannya? Jangan buru-buru menilai seseorang yang belum terbukti kebenarannya, Bu? Saya bisa saja memperkarakan kalian semua atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik, tapi saya tidak sekejam itu. Saya serahkan semuanya pada lillahi ta'alla. Ingat hukum tabur tuai, Bu. Jangan sampai kalian ketulah sendiri karena menuduh seseorang tanpa bukti!" tukas Oryza tegas membungkam mulut-mulut nyinyir ibu-ibu itu.


"Ada masalah, Bu?" tanya salah seorang bodyguard yang baru saja tiba atas perintah Damar.


Oryza mengerutkan keningnya saat melihat tubuh pria berbadan kekar dan berpakaian serba hitam itu.


"Saya diminta tuan Damar untuk mengawal ibu," ujar pria itu seakan tahu pertanyaan yang mampir dibenaknya.


"Oh," Oryza ber'oh ria sambil menganggukkan kepalanya. "Tidak, tidak ada masalah apa-apa. Kalau begitu, saya mau antar anak saya dulu ke dalam," tukas Oryza yang diangguki pengawalnya.


Saat Oryza berlalu, pengawal Oryza segera mengeluarkan ponselnya dan memotret semua ibu-ibu yang sempat dilihatnya berseteru dengan Oryza membuat ibu-ibu itu bingung.


"Hei, mau kau apakan foto-foto itu?" tanya salah seorang ibu panik.


"Untuk dikirimkan kepada bos besar kami. Silahkan menanti kehancuran kalian!" sahutnya sambil menyeringai membuat tubuh ibu-ibu itu panas dingin.


...***...


Sementara itu, Syakira kini baru saja tiba di depan pintu masuk Angkasa Mall. Tapi saat mobilnya hendak masuk ke gerbang masuk, beberapa petugas keamanan menghentikan mobilnya membuat Syakira yang sudah terburu ingin bicara dengan Damar meradang.


"Apa-apaan kalian? Minggir sana, saya mau masuk!" pekik Syakira geram dari balik pintu mobil yang kacanya diturunkan.


"Maaf nona, mulai hari ini Anda dilarang masuk ke mall ini. Dengan kata lain, mulai hari ini Anda telah diblacklist dari Angkasa Mall," ujar salah seorang petugas keamanan.


Sontak saja, Syakira membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Nggak, itu nggak mungkin. Kalian pasti ngarang kan? Atau kalian sudah dibayar perempuan tidak tahu malu itu untuk mencegatku masuk, iya kan?" bentak Syakira tidak terima diperlakukan seperti ini. Belum cukup dirinya ditendang dari manajemen, semua kontraknya dibatalkan, perusahaan orang tuanya nyaris kolaps, lalu kini ia pun diblacklist dari Angkasa Mall.


Sehebat apa perempuan itu sampai bisa membuat Damar membelanya secara all out dan mati-matian. Baru kali ini ia melihat sisi lain dari Damar yang biasanya lemah lembut dan baik hati, kini berubah menjadi keras dan kejam serta tanpa ampun.


"Kami serius, nona. Kalau Anda tidak percaya, sebentar lagi tuan Saturnus, asisten pribadi tuan Damar akan menemui Anda!" Tukas salah seorang petugas keamanan itu.


Dan berselang beberapa detik kemudian, Saturnus pun telah berdiri di hadapan Syakira yang telah turun dari mobilnya.


"Hei, kau, aku yakin, kau sudah bekerja sama dengan perempuan itu kan! Jangan halangi aku untuk bertemu Damar! Cepat, suruh mereka menyingkir!" ucap Syakira masih saja bersikap angkuh.


"Kalau kau masih punya harga diri, sebaiknya lekas pergi sebelum aku meminta mereka menyeretmu di hadapan semua orang!" tekan Saturnus. "Oh ya, satu lagi, dalan 1x24 jam, segera buat klarifikasi atas segala kekacauan yang telah kau buat atau ... bersiap-siaplah menjadi salah satu penghuni hotel prodeo!" tegas Saturnus dengan menampilkan smirk devil di bibirnya.


Sontak saja, tubuh Syakira bergetar, keringat dingin mengucur di punggung serta dahinya. Jantungnya berlompatan, wajahnya yang putih pun kian memucat seputih kapas seolah tak dialiri darah.


Sementara itu, di sebuah kantor yang masih berada dalam naungan Angkasa Grup, tampak salah seorang karyawan sedang membereskan barang-barangnya. Ia bukannya dipecat, tapi jabatannya diturunkan karena telah membuat kerugian perusahaan. Walaupun skala kerugian masih terbilang kecil, tapi tentu saja hal tersebut harus diberikan sanksi yang tegas. Tak ada toleransi, yang bersalah tetap harus ditindak untuk menjadi bahan contoh agar semua karyawan bekerja dengan sebaik mungkin dan meminimalisir terjadinya kesalahan.


"Githa," teriak Hendrik murka saat tiba di rumah. Ia akan memulai pekerjaan dengan jabatan baru esok hari. Jadi, siang ini Hendrik pun diizinkan pulang lebih awal. "Githa, keluar kau!" teriak Hendrik lagi saat Githa tak juga memunculkan wajahnya.


"Mana Githa?" tanya Hendrik pada artnya.


"Nyo-nyonya ada di kamar, tu-tuan!" cicit art Hendrik.


Tanpa menunggu menunggu lagi, Hendrik pun segera naik ke lantai atas setengah berlari. Setibanya di depan pintu, ia membanting pintu dengan keras sehingga menimbulkan bunyi yang menggelar. Githa yang masih meringkuk di atas tempat tidur karena memang merasa terbebani dengan dimasukkannya ayahnya ke dalam penjara, lantas terlonjak. Ia memang belum menceritakan apapun pada Hendrik. Ia takut kalau Hendrik tiba-tiba saja menceraikan dirinya. Sebab ia tahu, awal mula mereka dekat karena tawaran sang ayah yang akan memberikan segalanya pada Hendrik. Hendrik yang tergiur dengan harta kekayaan dan kekuasaan pun tanpa banyak berpikir menerima penawaran itu. Ia bukan hanya akan mendapatkan perempuan cantik tapi juga hartanya.


Dan kini, ayahnya telah bangkrut dan semua aset mereka disita. Tak ada yang bersisa. Bahkan tabungannya pun kian menipis karena gaya hidup glamornya. Bagaimana bila tiba-tiba Hendrik menceraikannya? Apalagi ia sangat tahu, Hendrik sebenarnya tidak pernah mencintainya. Ia hanya mencintai hartanya. Ia hanya dijadikan tempat pelampiasan napsu dan dimanfaatkan hartanya. Sebodoh itulah dirinya yang telah dibutakan oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Githa," desis Hendrik menggeram .


"A-ada apa, mas?" cicitnya ketakutan. Githa pun beringsut ke ujung ranjang, khawatir Hendrik menyakitinya.


"Dimana ayahmu? Dan sebenarnya apa yang terjadi? Aku yakin, kau tahu perbuatan ayahmu, benarkan!" bentak Hendrik membuat tubuh Githa bergetar.


"Pa-pa-papa di-ditangkap po-polisi, mas ka-karena sudah memanipulasi data keuangan juga menye-lewengkannya," cicit Githa dengan wajah memucat.


"Kenapa kau tidak bilang, breng-sek!" teriak Hendrik. "Kau tahu, akibat perbuatan ayahmu, jabatanku diturunkan. Gara-gara kalian, hidupku jadi kacau. Breng-sek kalian. Menyesal aku menerima penawaran ayahmu yang bodoh itu. Kalau tidak, jabatanku pasti takkan diturunkan dan yang paling penting ... aku takkan kehilangan anak-anak dan istriku, sialan. Kalian berdua memang sialan, breng-sek, bajingaan. Aaargh ... " Raung Hendrik murka. Ia pun melemparkan apa saja yang bisa digapainya hingga menimbulkan kekacauan di rumah itu.


"Apa kau bilang? Kau menyalahkan kami?" Emosi Githa kini ikut tersulut. Ia tidak terima ikut disalahkan. Ia memang bersalah, tapi semua tak serta merta salahnya. Salahkan Hendrik sendiri yang berjiwa materialistis. Begitu mudah dibujuk rayu dengan harta dan kekuasaan. Dan jangan lupa juga selangkangaaan.


"Ya, itu semua salah kalian karena kalian aku kehilangan banyak hal."


"Hahahah ... kau memang bajing-an, Hendrik. Dasar sampah. Kau yang dengan mudahnya tergiur dengan selangkangaaan, harta, dan jabatan, lalu kami yang disalahkan? Lalu kau sendiri yang membuat wanita sialan itu pergi, mengapa aku juga yang disalahkan, hah? " Bentak Githa geram dengan emosi yang menyeruak.


"Tentu saja itu salah kau dan ayah bodohmu itu. Seandainya kalian tidak memaksa masuk ke dalam kehidupanku, hidupku pasti takkan seperti ini. Dan satu hal, jangan pernah menyebut Oryza wanita sialan! Justru kaulah yang sialan, pembuat sial. Kau tak ada apa-apanya dibandingkan dia. Kau itu hanya sampah. Perempuan manja yang tak tahu diri. Kau itu hanya butiran pasir, sedangkan dia berlian, jauh berbeda bukan!"


Plakkk ...


Tak terima dibanding-bandingkan dan diinjak-injak harga dirinya, Githa pun melayangkan telapak tangannya di pipi Hendrik membuat lelaki itu kian murka.


Namun belum sempat Hendrik membalas, tiba-tiba Githa meraung kesakitan. Perutnya mendadak keram dan terasa melilit membuatnya taknmampu menopang tubuhnya hingga terduduk di lantai. Tak lama kemudian, sesuatu yang hangat mengalir dari pangkal pahanya. Cairan merah itu kian membanjir hingga membuat lantai yang putih menjadi merah.


Hendrik yang melihat itu lantas mematung dengan bola mata membesar.


"Mas, to-tolong aku! To-tolong selamatkan anak ki-ta!" cicit Githa pelan nyaris tak terdengar diikuti mata Githa yang mulai menutup.


"Astagfirullah, Hendrik! Apa yang terjadi! Jangan diam saja! Cepat bawa Githa ke rumah sakit!" pekik Oma Neni terkejut saat melihat Githa telah terkapar di lantai dengan mata terpejam dan juga berlumuran darah.


...***...


Udah update dari jam 8 lewat, kok belum terbit juga! 😓😓😓


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...