![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Menu makan malam telah terhidang rapi di atas lantai yang telah terlebih dahulu diberi alas. Terdapat berbagai aneka masakan dari ayam goreng mentega, sambal cumi asin, lalapan mentimun dan selada, sup iga, dan kerupuk. Hidangan-hidangan itu terlihat begitu menggugah selera. Membuat semua yang ada di sana hampir meneteskan air liurnya.
"Silahkan makan ma, mas, kak Kian," ujar Oryza sambil mengambil piring dan mengisinya dengan nasi lalu menyodorkannya pada Damar yang ditanggapi Damar dengan ucapan terima kasih dengan senyum terkembang. Ia kini duduk di samping kanan Oryza. Melihat hal tersebut, jelas saja membuat Hendrik meradang. Sedangkan Kiandra lebih ke tahu diri. Jadi ia hanya diam sambil diam-diam memandangi Oryza.
"Iya, nak," sambut Oma Neni.
"Terima kasih," sahut Kiandra sambil meraih piring dan mulai mengisinya dengan nasi dan lauk-pauk.
Oryza mengerutkan keningnya saat melihat Hendrik justru menyodorkan piringnya padanya. Mungkin ia ingin mengulangi momen dimana ia dulu pernah melayaninya dengan sepenuh hati. Atau juga ingin dilayani seperti apa yang ia lakukan pada Damar. Kalau dulu, ia akan dengan senang hati melayani Hendrik, tapi kalau sekarang nehi.
'Strawberry, mangga, jambu biji, sorry, aku nggak sudi' desis Oryza dalam hati pura-pura tak tahu apa yang diinginkan mantan suaminya itu.
"Ayo sayang, kalian mau pakai lauk apa?" tawar Oryza yang kini justru mengalihkan perhatiannya pada anak-anaknya.
"Latu mau ambil syendili, Bun," ujar Ratu. Oryza pun membiarkan Ratu mengambil sendiri lauk yang mereka suka. Ternyata Ratu lebih tertarik dengan ayam goreng mentega. Tanpa banyak bicara, Raja pun ikut mengambil lauk yang ia suka.
"Dodi, ayo makan!" ujar Oryza.
"I-iya, Bun," jawab Dodi terbata karena merasa canggung melihat banyak orang yang makan di sana. Ia merasa takut. Apalagi saat mendapatkan tatapan tajam dari Hendrik. Nyalinya ciut seketika. Dodi juga sekarang memanggil Oryza dengan sebutan bunda. Sebab Oryza telah menganggap Dodi seperti anaknya sendiri.
Paham kalau Dodi merasa canggung, Oryza pun menyuruh Siti agar membantunya mengambil nasi dan lauk pauk, setelah semua orang mengambil makan mereka, barulah ia mengambil untuk dirinya sendiri.
Saat satu suapan nasi plus sambal cumi asin masuk ke dalam mulutnya, mata Oryza seketika berbinar. Bibirnya pun tertarik ke atas membentuk lengkungan yang sangat indah. Oryza pun menoleh ke sisi kanannya bersamaan Damar yang juga menoleh ke arahnya. Mereka saling melempar senyum. Mata Oryza seolah berbicara, ini benar-benar enak. Semua itu tak luput dari pandangan Hendrik, Kiandra, dan Oma Neni.
"Bunda, ayam golengnya enak," seru Ratu riang.
"Bunda, Raja mau sopnya juga," ujar Raja seraya menunjuk ke arah mangkuk berisi sup iga.
"Seperti biasa, masakan kamu memang selalu enak, Za!" ujar Oma Neni mengira kalau masakan itu buatan mantan menantunya.
"Ini bukan masakan Ryza, ma. Tapi bang Damar. Ryza juga nggak nyangka, ternyata dia memang benar-benar bisa masak. Ryza kita dia cuma sesumbar aja, tahunya ... " ujar Oryza seraya terkekeh.
"Kan aku tadi udah bilang, kamu pasti bakal nagih, benar kan!" ujar Damar seraya tersenyum geli.
"Iya, iya, bang Damar emang hebat. Jarang lho ada lelaki pintar segala hal kaya bang Damar gini. Beruntung banget yang bisa jadi istri bang Damar nanti."
"Iya, kamu emang beruntung banget," ujar Damar ambigu seraya mengulum senyum.
"Hmmm ... aku emang beruntung banget bisa merasakan masakan Abang. Sering-sering aja kayak gini," ujar Oryza seraya terkekeh sambil terus menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Wah, ide Abang bagus juga tuh? Oke, nggak masalah! Tapi nggak mempengaruhi gajiku kan? Entar, gajiku malah dikurangi lagi."
"Nggak lah, untuk hal itu tenang aja. Nggak usah khawatir," sahut Damar lagi yang kini telah menyudahi makan malamnya. Lalu Damar menoleh ke arah Oryza. Tampak wajah terutama hidung dan bibir Oryza sedang memerah karena kepedasan. Damar pun segera bangkit dan beranjak menuju dapur. Tak lama kemudian, Damar kembali lagi dengan segelas air hangat. "Ini minumlah. Air hangat bisa mengurangi rasa pedas di lidah," ujar Damar seraya menyerahkan segelas air hangat itu.
"Terima kasih, bang," ujar Oryza seraya meminum air hangat itu hingga menyisakan setengah gelas.
Setelah meletakkan cangkir, Oryza menoleh ke arah Damar. Di saat bersamaan Damar masih memandang lekat wajah Oryza. Lalu tiba-tiba tangan Damar terulur ke depan wajahnya mengusap sisa saos mentega dari ayam yang melekat di sudut bibirnya menggunakan ibu jarinya kemudian memasukkannya ke dalam mulut dan mengecupinya. Sontak saja semua orang dewasa yang ada di sana membelalakkan matanya. Jantung Hendrik kian bergemuruh. Tak tahan lagi melihat romantisme yang tersuguh secara live dari mantan istrinya, Hendrik pun membanting keras sendok yang ia pegang dan menarik pergelangan tangan ibunya pulang tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Oryza yang tadinya terpaku dengan perlakuan Damar, sontak saja terkejut bukan main. Ia pun memalingkan wajahnya menatap kepergian Hendrik dan Oma Neni dengan wajah bingung. Berbanding terbalik dengan Kiandra yang justru pura-pura menikmati makan malam itu dengan sesekali menyapa Raja, Ratu, dan Dodi.
"Ternyata loe gercep juga, Dam. Gue nggak nyangka, loe bakal ngelakuin hal-hal kayak gini termasuk mengeluarkan kemampuan rahasia loe. Gue sampai nggak nyangka, masakan seenak ini hasil buatan loe," ujar Kiandra yang kini sedang mengobrol di ruang tamu sembari menunggu Oryza yang sedang membantu Siti membereskan piring-piring kotor.
"Udah gue bilang, gue nggak pernah seserius ini saat menginginkan sesuatu. Tentu gue harus gerak cepat. Gue nggak mau sampai orang yang udah lama gue tunggu justru jatuh ke pelukan orang lain," ujar Damar santai.
"Wait, wait, maksud loe? Orang yang loe tunggu? Emang loe udah kenal Oryza sejak lama?" tanya Kiandra penasaran.
"Adalah. Loe nggak perlu tahu. Yang bersangkutan aja belum tahu, masa' gue kasi bocoran ke elo."
"Halah, sok rahasia-rahasiaan loe, Dam. Sama temen sendiri juga."
"Iya, teman, tapi untuk sekarang loe bukan temen gue, tapi rival."
"Ck . segitunya. Dasar bucin loe!" ejek Kiandra membuat Damar tersenyum geli saat menyadari kalau ia kini memang telah jadi bucin seorang Oryza Sativa.
"Eh, gue jadi ingat muka mantan suami Oryza tadi. Merah banget, gue yakin, dia sekarang pasti sedang ngamuk-ngamuk sambil mukul-mukul stir. Kayaknya sih dia masih cinta sama Oryza,"
"Masih cinta tapi selingkuh? Cih ... menjijikkan. Kalau dia benar-benar cinta, dia nggak akan pernah mengkhianati Oryza. Tapi nyatanya, dia justru berselingkuh sampai wanitanya hamil terus nikah diam-diam juga, gitu yang bilang cinta? Najis."
"Loe bener sih. Maka itu, kalau loe berhasil mendapatkan Oryza, gue minta loe jangan nyakitin dia. Cukup mantan lakinya aja. Kalau itu sampai terjadi, gue yang akan maju gantiin elo."
Damar tersenyum mengejek, "Jadi loe udah ngaku kalah?"
"Siapa? Gue? Enak aja," kilah Kiandra.
"Lah itu tadi, kata-kata loe tadi secara nggak langsung udah ngakuin kalau loe kalah. Udahlah, ngaku aja. Udah kelihatan kan hilalnya. Mending loe mundur duluan deh, Ki sebelum loe makin patah hati. Dan dengar ini, gue nggak akan pernah nyakitin Oryza. Jadi gue sampai kapanpun nggak akan pernah melepaskan Oryza baik sama loe maupun laki-laki lainnya. Because she's mine, only mine," ujar Damar penuh ketegasan.
...Happy reading 🥰🥰🥰...