![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Seorang pria berjalan melintasi koridor Angkasa Mall menuju ruangan atasannya dengan wajah masam bin muram. Ya, dia adalah Saturnus. Sungguh, ia sedang benar-benar kesal kali ini karena perbuatan atasan bucinnya itu. Karena titah tanpa penolakannya, ia harus berakhir belum makan siang karena harus stand by memvideokan alias melakukan sambungan video pada atasannya. Bukan dirinya yang ingin berbincang ria melalui sambungan video, tetapi ia harus merekam apa saja yang terjadi di meja Oryza saat makan siang.
'Hufth, sungguh menyebalkan!'
Saturnus mengambil meja tepat di sisi kanan Oryza. Ia menutup wajahnya dengan hoodie plus kaca mata hitam. Lalu ponselnya ia sembunyikan di balik daftar menu yang ia pegang. Ia sudah seperti seorang penguntit dengan mata tak lepas dari kedua orang yang tengah berbincang di hadapannya.
Hanya bisa minum jus jambu dan kentang goreng, tanpa bisa makan nasi seperti biasanya karena khawatir sibuk makan lalu melakukan kesalahan, sungguh membuat Saturnus jengkel.
'Nasib jongos mah gitu. Cuma bisa terima aja.'
Tapi ternyata, menguntit kedua orang itu cukup menarik juga. Sesekali Saturnus terkekeh kecil apalagi saat melihat Oryza acuh tak acuh dengan gombalan receh Kiandra. Dan puncaknya saat drama jus jengkol. Ternyata bukan hanya Kiandra dan Damar yang tersedak, tapi dirinya juga. Sungguh sial. Untung saja kedua orang itu tidak memperhatikan dirinya. Kalau ia, bisa-bisa ia ketahuan dan atasannya pasti takkan menyukainya.
"Good job. Tenang aja, Sat, bonus langsung meluncur tanpa perlu menunggu," ujar Damar saat Saturnus telah tiba terlebih dahulu di ruangan Damar.
Tring ...
Sebuah notifikasi pesan masuk ponsel Saturnus berbunyi, Saturnus pun segera merogoh ponsel dalam saku celananya. Seketika wajah masamnya berubah cerah, secerah sinar mentari di pagi hari. Senyumnya melebar, hatinya senang bukan kepalang saat melihat notifikasi m-banking miliknya lah yang menghiasi layar segi empat tersebut.
"Thank's bos. Sering-sering aja kasi tugas, dengan senang hati saya akan melaksanakannya," ujar Saturnus penuh semangat.
"Cih, padahal tadi wajahmu masam, sudah dapat duit tiba-tiba tersenyum. Dasar anak buah nggak ada akhlak. Mata duitan," cibir Damar sambil memutar bola matanya.
"Bukan mata duitan bos tapi hidup ini kan butuh duit. Mau lamar anak gadis orang juga butuh duit. Saya hanya ingin menabung sebanyak-banyaknya jadi kalau jodoh saya sudah tiba, saya nggak perlu tunggu lama, langsung lamar aja," sahut Saturnus penuh percaya diri.
"Kayak yakin bakal nemu jodoh aja."
"Dah, berisik! Eh, tapi kok Ryza belum sampai juga ya! Kamu yakin, tadi Ryza udah masuk lift menuju kemari?" tanya Damar memastikan.
"Yakin, tuan. Saya lihat sendiri. Di dalam lift memang ada beberapa orang, salah satunya Alana," ujar Saturnus memberitahu apa yang tadi ia lihat.
"Kalau sudah, seharusnya dia sudah sampai, tapi kenapa belum?" gumam Damar penasaran.
"Mungkin dia ke toilet dulu," jawab Saturnus sekenanya.
Damar pun melirik arloji di pergelangan tangannya. Sudah 15 menit berlalu dari terakhir Oryza masuk ke dalam lift, kalaupun ia benar ke toilet, tidak mungkin memakan waktu selama itu.
"Lihat, apa Alana sudah kembali ke ruangannya?" titah Damar dengan wajah dinginnya. Tak ada lagi wajah cerah dan senyum sumringah yang tadi sempat terbit, yang ada hanya wajah dingin dan tatapan mata tajam.
Tak butuh waktu lama, Saturnus kembali ke ruangan Damar.
"Alana belum kembali, tuan," jawab Saturnus yang ikut panik.
"Akses cctv lift yang dimasuki Oryza tadi. Lihat, sebenarnya apa yang terjadi!" titah Damar seraya menggeser laptopnya agar Saturnus segara melakukan titahnya.
5 menit berlalu, apa yang diminta Damar telah Saturnus lakukan. Mata Damar seketika membulat saat melihat apa yang terpampang di layar laptop miliknya. Rahang Damar mengeras, giginya bergemeluk, tangannya mengepal kuat.
"Kurang ajar," umpatnya yang segera berdiri dan menyambar jasnya yang tersampir di lengan sofa kemudian memakainya cepat. Dengan langkah panjang, Damar diikuti Saturnus menyusuri koridor agar segera sampai ke tempat tujuan.