[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.64



"Abang," pekik Ayesha seraya tersenyum lebar saat menyambut kepulangan Abang tersayangnya di bandara, siapa lagi kalau bukan Damar.


"Hei, princess. Tumben nih mau jemput?" canda Damar seraya merentangkan kedua tangannya menyambut Ayesha masuk ke pelukannya.


"Ih... Siapa yang mau jemput, Yesha tuh nemuin Abang cuma mau ngobrol. Waktu Yesha cuma sebentar. Entar malam kan Yesha mesti balik lagi ke London. Tapi nggak lama kok, Yesha cuma mau selesaikan masalah administrasi aja," ujar Ayesha santai sambil berjalan berangkulan menuju mobil yang telah menunggu keduanya.


"Oh, iya, sebentar lagi kamu lulus kan, Sha? Udah siap terjun secara langsung di perusahaan om Lian dong?"


"Siap nggak siap, bang. Tapi untungnya selama ini Yesha udah terjun walaupun nggak secara langsung jadi siap-siap aja sih," tukas Ayesha. "Oh ya, gimana progres Abang sama Oryza? Udah ada peningkatan dong?"


Ayesha pun masuk ke mobil yang pintunya telah dibukakan sopir, di susul Damar, dan Saturnus duduk di depan bersama sopir setelah terlebih dahulu meletakkan tas bawaan mereka di bagasi.


"Progressnya sih udah lumayan walaupun masih abu-abu. Tapi Abang akan makin gencar setelah ini, doain Abang ya!" tukas Damar.


Mobil yang membawa mereka pun melaju membelah padatnya jalanan. Mereka akan mampir ke Angkasa Mall terlebih dahulu untuk memeriksa beberapa pekerjaan.


"By the way, yang Abang minta kamu periksa, udah ada hasilnya?" tanya Damar.


"Sudah dong, jadi kapan Abang mau bergerak?"


Damar tersenyum menyeringai, "Santai aja. Selagi mereka nggak mengganggu Oryza, Abang nggak akan bertindak. Tapi kalau mereka sampai macam-macam ... " satu sudut bibir Damar naik ke atas. "Hancurkan!" imbuhnya dengan sorot mata tajam.


"Abang serem juga ya? Udah kayak mafia aja, tapi mafia bucin," cibir Ayesha seraya tergelak kemudian langsung keluar dari mobil saat mobil mereka telah tiba di Angkasa Mall.


"Udah berani ngejekin Abang ya? Entar Abang kasih tau om Lian kalau kamu pacaran di London sana, tau rasa kamu!" ancam Damar membuat Ayesha mengerucutkan bibirnya.


"Ish, Abang nggak asik banget. Jangan dong, please! Yesha kan cuma buat hiburan aja, nggak macam-macam juga," protes Yesha seraya mencebikkan bibirnya.


Damar terkekeh lalu mengacak rambut Ayesha gemas.


"Iya, iya, nggak kok. Tapi di sana kamu mesti hati-hati ya! Jangan mudah terlalu percaya dengan orang lain. Kamu mesti selalu waspada. Oke?" Damar mengingatkan Ayesha untuk selalu waspada. Apalagi dia di sana sendirian, tanpa ada sanak keluarga yang menjaganya. Walaupun Aglian menempatkan bodyguard yang menjaga secara diam-diam, tapi namanya manusia tidak selalu bisa diandalkan. Ada kalanya, mereka lengah sehingga terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan.


"Siap bos! Makasih nasihatnya abangku sayang," ujar Ayesha dengan memasang wajah imut membuat Damar terkekeh lalu merangkul pundaknya menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai dimana ruangannya berada.


...***...


"Bunda, kok ngelamun aja? Bunda sakit?" tanya Raja pada Oryza yang terlihat sedang melamun. Padahal saat ini mereka sedang menonton televisi bersama. Mata Oryza memang menatap layar televisi, tapi tatapannya terlihat kosong. Seperti ada yang dipikirkan.


"Mbak sakit?" Siti ikut bertanya saat Oryza tampak masih diam melamun. Sepertinya ia tidak sadar kalau Raja barusan saja bertanya padanya.


"Eh, iya, ada apa?" Oryza tersentak membuat Raja beringsut duduk di samping Oryza lalu menempelkan punggung tangannya di dahi sang ibu.


"Bunda nggak panas berarti nggak demam. Atau bunda sakit yang lain? Sakit gigi? Sakit perut? Kakinya pegel? Nanti Raja pijitin deh?"


"Nggak sayang, bunda nggak sakit. Maaf, bunda tadi melamun ya? Bunda cuma lagi mikirin kerjaan aja kok, jangan khawatir," tukas Oryza memberi pengertian sambil tersenyum ke arah Raja lalu Siti. "Sana, duduk sama Dodi dan Ratu. Temenin mereka nonton," ujar Oryza yang diangguki Raja.


"Mbak mau teh hangat?" tawar Siti.


"Nggak usah, Ti. Makasih. Kalau kamu mau, buat aja. Sekalian buat susu untuk anak-anak. Jangan lupa buatin Dodi juga!" ucap Oryza membuat mata Siti berkaca-kaca.


"Mbak, makasih banyak ya mbak atas segala kebaikan mbak. Padahal mbak juga sedang susah tapi masih mikirin aku sama Dodi. Mbak memang wanita yang hebat. Siti berdoa semoga mbak segera mendapatkan orang yang bisa mencintai mbak apa adanya dan membahagiakan mbak. Padahal mbak tau siapa Dodi, tapi mbak masih bersikap baik ke Siti. Siti ngerasa berdosa sekali sama mbak," ujar Siti yang sudah terisak.


Oryza pun pindah duduk di samping Siti dan merangkulnya.


"Ti, kamu nggak bersalah apalagi berdosa sama mbak. Kamu nggak pernah berbuat salah sama mbak. Kejadian itu kan terjadi sebelum mbak menikah. Walaupun saat itu mbak udah pacaran sama mas Hendrik, tapi kan kamu nggak tahu. Justru yang salah itu mas Hendrik dan Oma Neni. Mereka udah membuat masa depan kamu hancur. Buat kamu sengsara harus besarkan Dodi seorang diri. Ngusir kamu, menolak Dodi, nggak menafkahi juga, apalagi tanggung jawab. Justru dibandingkan mbak, nasib kamu yang lebih ... huh mbak nggak bisa bayangkan kalau mbak di posisi kamu, Ti. Mbak justru salut sama kamu. Kamu itu wanita yang hebat, Ti. Wanita yang tegar dan kuat. Mbak yakin, Dodi nanti akan jadi orang besar. Mereka yang menyakiti kamu pasti akan menyesal karena menyia-nyiakan kamu dan Dodi. Tunjukkan sama mereka, kalau kamu bisa bertahan dan membesarkan Dodi tanpa mereka. Mbak juga selalu berdoa semoga kamu menemukan pasangan hidup yang bisa menerima kamu apa adanya. Pesan mbak, kalau suatu hari ada yang menginginkan kamu jadi pasangan hidupnya, pastikan dulu, dia bisa menerima Dodi nggak. Bukan cuma menerima di sini lho ya! Namanya anak kan butuh jaminan masa depan. Banyak lho suami yang menikahi janda tapi nggak mau membiayai anaknya dengan alasan bukan anak dia. Nah, jangan sampai itu terjadi! Mbak pingin lihat kamu dan Dodi bahagia. Kamu membutuhkan figur seorang suami yang bisa melindungi kamu dan Dodi butuh figur seorang ayah," nasihat Oryza membuat Situ makin tergugu.


"Iya mbak, makasih atas nasihatnya. Siti malah nggak kepikiran sampai ke situ. Siti takut mbak. Siti nggak yakin ada orang yang mau nerima Siti apa adanya, mbak. Apalagi dengan status Siti yang merupakan ibu dengan seorang anak yang lahir di luar nikah. Kalaupun ada, pasti orang tuanya nolak. Karena itu, Siti nggak pernah berpikir untuk menikah. Siti cuma mau fokus besarin Dodi dengan baik dan mendidiknya agar jadi anak yang baik agar tidak mengulang masa lalu orang tuanya," ungkap Siti.


"Tapi rahasia jodoh siapa yang tau, Ti. Segalanya bisa aja terjadi kalau Allah menghendaki. Mbak yakin kamu mampu besarkan Dodi seorang diri, tapi kalau ada yang bersedia jadi ayah sambung Dodi dan menerima kamu apa adanya, kenapa nggak?"


Dukkk ... dukkk ... dukkk ...


Tiba-tiba pintu digedor dengan kencang membuat semua orang yang duduk di sana saling berpandangan dengan heran. Padahal di depan pintu ada bel yang bisa ditekan, tapi kenapa orang itu menggedor pintunya dengan beringasan?


"Kamu ajak anak-anak buat susu setelah itu suruh mereka sikat gigi dan tidur, Ti. Biar saya saja yang lihat, siapa yang bertamu tanpa sopan santun kayak gitu," tukas Oryza seraya menggeram.


"Baik, mbak. Ayo, anak-anak kita buat susu dulu!" ajak Siti yang diikuti Raja, Ratu, dan Dodi.


Ceklek ...


"Kamu," seru Oryza terkejut saat melihat siapa yang telah berdiri di hadapannya.


...***...


Yang kemarin nebak itu Ayesha, selamat ya! Anda benar! Hadiah kembang kopinya buat othor ya! 🤭


Btw, kira-kira itu siapa yang datang ya?


Abang Damar udah pulang nih! Yang udah nungguin momen-momen si Abang bucin, tetap stay tune ya! 😁



...****Happy reading 🥰🥰🥰****...