[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.117



Hari berganti begitu cepat, kehidupan baik pasangan Oryza dan Damar maupun pasangan Siti dan Saturnus kian bahagia saja. Sedangkan pasangan Tisya dan Kiandra masih merangkak sedikit demi sedikit. Apalagi sikap Kiandra yang santai dan sedikit usil, ternyata mampu merobohkan dinding pertahanan Tisya sedikit demi sedikit.


Siang ini Tisya sedang berkunjung ke apartemen Oryza. Mereka memang kerap saling berkunjung tapi tanpa Ayesha. Entah mengapa, kini sikap Ayesha tidak seceria biasanya. Seperti ada yang ia rahasiakan. Apalagi semenjak ia diangkat menjadi CEO Angkasa Grup, membuatnya kian sibuk. Walaupun Aglian belum lepas tangan sebab ia masih menduduki kursi sebagai Chairman di perusahaan itu, tapi tetap saja, pekerjaan Ayesha tak main-main. Beruntung ia gadis yang cerdas. Ia bahkan dinobatkan sebagai CEO perempuan termuda di Indonesia. Bayangkan saja, ia menjabat sebagai CEO di usia ke 21 tahun. Di saat gadis seusianya masih sibuk berkutat dengan tugas-tugas perkuliahan, tapi ia sudah menyelesaikan magisternya. Bukan tanpa alasan, ia memang sejak kecil terkenal sebagai gadis yang jenius. Di saat anak berumur 12 tahun baru mengenakan seragam putih biru, ia sudah mengenakan putih abu-abu melalui jalur akselerasi. Jadi sangat wajar saat di usia ke 21 dia sudah lulus S2.


Kini Tisya, Oryza, dan Siti sedang duduk bersantai di ruang tamu apartemen Oryza seraya menikmati keripik bayam yang baru saja dibuat Oryza. Sedangkan ketiga bocah cilik Raja, Ratu, dan Dodi tampak bermain di ruang bermain. Damar sengaja membuatkan satu ruangan khusus mereka bermain agar mereka bisa bermain dengan lebih leluasa tanpa terganggu dengan urusan orang dewasa apalagi bila ada tamu dadakan.


"Mbak Siti, mbak Siti sakit ya?" tanya Tisya tiba-tiba saat melihat wajah Siti agak pucat.


"Iya, Ti, kamu sakit? Mau aku telepon kak Sat supaya segera pulang?" tawar Oryza yang juga menyadari wajah Siti terlihat pucat.


"Jangan! Nggak usah mbak! Siti nggak sakit kok, mbak. Mungkin anemia Siti aja yang lagi kambuh," sahut Siti cepat. Ia tentu tak ingin mengganggu pekerjaan suaminya itu.


"Beneran? Atau aku telepon Karin aja buat meriksain kamu?" tawar Oryza lagi.


"Nggak usah, mbak. Palingan dibawa tidur juga baikan, mbak. Biasanya juga kayak gitu jadi mbak nggak usah khawatir. Aku pasti bakal segera membaik kok," cegah Siti. Ia memang merasa baik-baik saja. Hanya sedikit pusing dan mual saja, jadi tidak perlu diperiksa. Mungkin ini hanya pengaruh kurang tidur, pikirnya. Apalagi semalam Saturnus membangunkannya tengah malam karena tiba-tiba menginginkan itu. Hah, begini nih kalo orang sudah tahu nikmatnya skidipopo, lagi tidur aja bisa tiba-tiba bangun karena udah turun on.


"Ya udah, kalau gitu kamu istirahat aja, Ti! Dodi juga anteng main di dalam jadi kamu bisa manfaatin waktu untuk tidur siang," tukas Oryza memberikan saran yang diangguki Siti. Ia pun segera berlalu mengikuti saran Oryza. Setelah masuk kamar, ia pun segera tertidur pulas.


"Mbak," panggi Tisya pada Oryza. Semenjak hari pernikahan Oryza dan Damar, ia kini mulai memanggil Oryza dengan sebutan mbak. Apalagi memang usia mereka terpaut beberapa tahun jadi sudah sewajarnya ia memanggil Oryza mbak.


"Hmmm, kenapa?" tanya Oryza saat melihat ekspresi Tisya yang sedang berpikir sesuatu.


"Mbak ngerasa nggak sih Yesha sekarang agak berubah gitu," ujarnya membuat Oryza menghela nafasnya.


"Mbak juga ngerasa. Malah mbak ngerasa perubahannya itu semenjak kepulangannya dari London. Apa sudah terjadi sesuatu padanya di sana ya?" gumam Oryza menerka-nerka.


"Bisa jadi. Tapi kenapa dia nggak cerita?" sungut Tisya kesal saat tahu sahabat oroknya sepertinya memendam masalah seorang diri.


"Terkadang tidak segala sesuatu itu bisa diceritakan dengan orang lain, Sya. Bahkan dengan keluarga sendiri. Mungkin Yesha sedang bingung aja mau nyampeinnya gimana atau bisa aja dia nggak mau membuat kita kepikiran."


"Tapi tetap aja buat kita kepikiran kan! Jadi mending cerita. Yesha itu biasanya mau masalah apapun itu selalu ceria mbak, baru kali ini nggak. Kayaknya masalah kali ini rumit deh karena itu dia lebih milih diam. Tapi semoga aja nggak sih. Kalaupun ada, semoga permasalahannya bisa segera mereka selesaikan dengan baik," ucap Tisya seraya mendoakan yang diaamiinkan Oryza.


...***...


"Hei, ngaca mulu!" ledek Damar pada Oryza yang sibuk mematuti dirinya di depan cermin. Melihat wajah istrinya yang tiba-tiba mencebik membuat Damar gemas lalu memeluk erat tubuhnya dari belakang dan menyesap kulit lehernya.


"Bang," pekik Oryza dengan bulu roma yang sudah nyaris berdiri semua membuat Damar terkekeh.


"Tumben ngacanya lama bener?"


"Hah!" seru Damar kemudian ia menarik-narik pipi Oryza. "Hmmm ... kayaknya sih ... iya. Nih lihat, pipi kamu makin chubby aja. Apalagi ini nih makin gede aja jadi makin enak dipegang," ucapnya seraya mere*mas buah dada Oryza membuatnya melotot tajam.


Plakkk ...


"Abang ih, Ryza serius juga, malah main-main," gerutu Oryza.


"Abang serius, Humaira. Lihat nih, biasanya kan pas di tangan Abang, sekarang jadi lebih gede kan sampai telapak tangan Abang nggak muat. Duh, jadi haus kan!"


"Abang, malah main-main mulu."


"Abang nggak main-main sayang, Abang emang haus. Mau mimik cucu dulu, yuk!" goda Damar seraya mengerlingkan sebelah matanya genit.


"Tuh tuh tuh, ujung-ujungnya ... " geram Oryza seraya menyipitkan matanya.


Damar menghela nafas panjang lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada Oryza, "sekarang kamu lihat, emang lebih besar kan! Abang nggak main-main. Tapi tenang aja, Abang suka kok. Sepertinya Abang punya bakat jadi tukang pijit plus-plus ya buktinya squishy Abang udah makin jumbo menul-menul aja. Yang dua di belakang ini juga kayaknya makin montok. Udah yuk, Abang udah haus beneran nih!"


"Abang makin lama makin mesyum aja ih. Setiap bahas apa ujung-ujungnya pasti ... "


"Hehehe ... tapi kamu suka kan!" goda Damar seraya mencolek ujung hidung Oryza membuat wajah ibu muda itu tersipu malu. "Tuh kan, nggak usah jaim-jaim deh, abang itu udah khatam kamu luar dan dalam tahu," goda Damar tiada henti membuat wajah Oryza memerah hingga ke telinga. Lalu tanpa aba-aba, Damar menggendong Oryza ala bridal style menuju ke tempat tidur kemudian terjadilah pertempuran kenikmatan antara dua insan itu.


Keesokkan paginya, Damar telah siap dengan setelan kerjanya yang telah disiapkan Oryza. Sebelum berangkat, Oryza membantu memakaikan dasi Damar. Padahal laki-laki itu biasa memakai dasi sendiri. Tapi semenjak memiliki istri, ia menjadi semakin manja. Memakai jas dan dasi harus dipakaikan. Sambil curi-curi kecupan dan menjahili, membuat kegiatan memasang dasi yang seharusnya hanya memakan waktu 5 menit jadi bermenit-menit.


"Sayang, tadi Hendrik telepon. Dia minta izin jemput anak-anak. Mau ajak mereka makan siang bareng terus main sebentar, udah Abang izinkan, kamu nggak papa kan?" tanya Damar khawatir istrinya tidak terima ia mengambil keputusan tanpa bertanya lagi.


"Kok dadakan sih?" tanya Oryza yang sudah mengerutkan keningnya.


"Abang juga nggak tahu. Katanya kangen takut nggak punya kesempatan bareng anak-anak lagi katanya," ucap Damar menjelaskan.


Oryza menghela nafas, sebenarnya ia merasa ada yang ganjil di sini tapi entah apa. Ia pun mengangguk mengiyakan toh Raja dan Ratu memang anak-anaknya.


"Eh, dia ngajakin Dodi juga lho!"


"Hah! Aneh!" celetuk Oryza dan Damar hanya mengedikkan bahunya.


"Bang, perasaan ku kok nggak enak ya! Kita ikut aja gimana? Nggak usah gabung sih. Kita awasin aja. Dia sendirian lho ngajakin 3 bocah takutnya keteteran," ucap Oryza.


"Ya udah deh. Nanti biar Abang yang telepon dia," putus Damar. Ya, semenjak menikah, Oryza memang enggan berkomunikasi dengan Hendrik lagi. Bila Hendrik ada butuh bantuan atau ingin bertemu anak-anak harus melalui Damar. Bagaimana pun, dirinya adalah wanita bersuami. Sudah sewajarnya ia menjaga Marwah sang suami. Damar tentu saja menyambut dengan suka cita. Sebab ia merasa menjadi suami yang begitu dihargai dan dihormati.