[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.120 Cinta sampai mati



Beberapa saat yang lalu, sebuah panggilan masuk di ponsel Hendrik berbunyi nyaring hingga berkali-kali. Hendrik yang saat itu sedang berbaring di ranjang sendirian karena sedang tidak enak badan pun dengan terpaksa mengangkat panggilan itu. Sebenarnya ia merasa enggan mengangkat panggilan itu sebab selain ia sedang benar-benar lemas, panggilan itu juga berasal dari nomor yang tidak dikenalinya.


"Halo," ucap Hendrik saat panggilan itu telah ia angkat.


"Halo, benar ini dengan tuan Hendrik Wiratmaja?" ujar seseorang dari seberang telepon itu.


"Iya, benar. Dengan saya sendiri. Anda siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


"Begini tuan, kami dari Rumah Sakit Jiwa Persada ingin mengabarkan kalau istri Anda Githa telah melarikan diri dari rumah sakit."


"Apa?" seru Hendrik terkejut.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" pekiknya murka. Ingin marah, tapi ia pun butuh penjelasan bagaimana hal itu bisa terjadi. Entah itu terjadi karena kelalaian pihak rumah sakit atau memang Githa lah yang telah berusaha kabur secara diam-diam.


"Maaf tuan, istri Anda kabur dengan menyamar sebagai perawat. Dia memukul perawat hingga pingsan kemudian berganti pakaian menggunakan pakaian perawat kemudian Kabir. Kejadian berlangsung kurang lebih satu jam yang lalu. Tapi kami pihak rumah sakit telah mengupayakan mencarinya. Mungkin tuan punya informasi tempat-tempat mana saja yang mungkin saja istri Anda kunjungi?"


Hendrik cukup terkejut mendengar penuturan itu. Githa menyamar? Kepala Hendrik mendadak berdentum seakan ada palu godam menghantamnya.


"Saya juga kurang tahu. Tapi saya akan mencoba ikut mencarinya."


Setelah berbicara sebentar, Hendrik pun menutup panggilan itu. Lalu ia bergegas berganti pakaian kemudian berlarian menuju mobilnya untuk ikut mencari keberadaan Githa. Ia bingung harus mencari keberadaan Githa dimana. Tanpa sadar, Hendrik mengemudikan mobilnya menuju sekolah Ratu sebab tadi Damar sempat menelepon kalau kedua putra dan putrinya itu merindukannya sama seperti dirinya merindukan mereka.


Saat mobilnya sudah berada tak jauh dari sekolah Ratu, ia melihat kerumunan orang-orang yang nampak panik. Kemudian matanya menangkap keberadaan Githa yang tengah mendekap erat Ratu dan menyeretnya menuju ke tengah jalan. Jantungnya seketika berdebar hebat. Ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada putrinya itu. Ia yakin Oryza takkan pernah memaafkannya lagi dan akan membencinya seumur hidup bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada putrinya.


Hendrik pun segera menepikan mobilnya dan keluar dengan tergesa. Ia berlarian menuju ke tengah jalan sambil menahan rasa sakit di kepalanya yang kian menjadi. Dari posisinya, ia melihat sebuah mobil tampak sedang melaju dengan begitu kencang ke arah Githa.


Takut terjadi sesuatu pada putrinya, Hendrik pun berlari sekuat tenaga ke arah Githa lalu mendorongnya dengan kencang hingga jatuh mereka jatuh terguling di trotoar.


Brakkk ...


"Ratu," teriak Oryza saat melihat Ratu terguling di trotoar setelah terlepas dari pelukan Githa.


Sedangkan Githa tampak sudah tak sadarkan diri dengan darah mengalir deras dari bagian kepalanya yang membentur pinggiran trotoar.


"Ratu, kamu nggak papa nak?" tanya Oryza panik seraya memeriksa tubuh Ratu yang mungkin saja terluka.


"Bun-bunda, a-ayah," cicit Ratu dengan air mata berlinang seraya mengangkat jari telunjuknya ke arah jalanan.


Wajah Oryza seketika pias. Jantungnya berdentam begitu kuat saat melihat Hendrik yang telah bersimbah darah dengan mata terpejam tak jauh dari tempatnya.


"Ayah," teriak Raja yang entah sejak kapan ada di sana. Ia berlarian dengan mata yang sudah memerah. Air matanya jatuh tak dapat dicegah saat melihat sang ayah sudah terkulai lemah dengan darah yang sudah membentuk kolam di bawah kepalanya.


"Ayah, bangun ayah! Ayah jangan tinggalin Raja, ayah. Ayah, Raja sayang ayah. Raja rindu ayah. Raja mohon jangan tutup mata ayah. Ayah jangan mati! Ayah ... " teriak Raja seraya mengguncang-guncang tubuh Hendrik.


Oryza yang melihat itu, tak kuasa menahan tangisannya. Dengan tertatih, sambil menggendong Ratu, ia mendekati tubuh Hendrik yang matanya telah terkatup rapat. Dadanya seketika sesak.


"Mas Hendrik, bangun, mas! Jangan begini! Kasihan anak-anak. Mereka membutuhkanmu. Bangun, mas!"


"Ayah ... hiks ... hiks ... ayah. Bun, ayah kenapa? Bun, ayah beldalah Bun, tolong ayah, Bun!" Isak Ratu yang juga tak kuasa menahan tangisannya melihat sang ayah telah terkulai bersimbah darah.


"Za," tiba-tiba ada sepasang tangan kekar merengkuh ketiga orang itu ke dalam satu pelukan. Mereka meraung-raung di dalam dekapan itu.


"Tenanglah, Hendrik pasti selamat," ujar seseorang yang merengkuh tubuh Oryza, Raja, dan Ratu itu.


Tak lama kemudian, datang segerombolan tim medis. Mereka pun membawa tubuh Hendrik menggunakan brankar dan memasukkannya ke dalam mobil ambulance.


"Bang," cicit Oryza dengan bibir bergetar.


"Ayah," cicit Raja dan Ratu yang makin meledakkan tangisannya. Seorang anak kecil yang berdiri mematung di belakang Raja pun turut meneteskan air matanya. Tubuhnya bergetar hebat saat melihat kolam darah di jalan tempat Hendrik tadi tergeletak.


"Dodi," seru Saturnus yang langsung memeluk tubuh bergetar Dodi. Ia pikir, Dodi mungkin terlalu shock melihat tubuh Hendrik yang bersimbah darah. Ia pikir, itu mungkin reaksi karena tahu Hendrik adalah ayah dari Raja dan Ratu. Tanpa Saturnus tahu, Dodi telah mengetahui kalau Hendrik adalah ayah biologisnya.


Tubuh Githa pun telah dibawa menggunakan ambulance menuju rumah sakit. Sama seperti Hendrik, Githa pun sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari belakang kepalanya.


...***...


"Bagaimana keadaan pasien, dok?" tanya Damar saat melihat dokter keluar dari dalam ruang UGD.


"Apa Anda keluarganya?" tanya dokter itu.


Damar pun mengangguk karena tahu Hendrik tidak memiliki keluarga lain selain anak- anaknya.


"Pasien mengalami pendarahan hebat. Kondisinya kritis dan makin lemah," ujar dokter itu setelah menghela nafas berat. "Mungkin ia tidak dapat bertahan lama," lanjutnya membuat tubuh Oryza makin bergetar.


Oryza hendak masuk melihat keadaan Hendrik, tapi tangan kedua anaknya dan juga Dodi menghentikannya.


"Bunda, kami mau lihat ayah!"


Oryza pun mengangguk. Ia takut, ini merupakan kesempatan terakhir sang anak melihat ayahnya. Jadi ia mengizinkan mereka ikut masuk ke dalam.


"Mas," cicit Oryza melihat tubuh Hendrik yang dipenuhi berbagai macam alat medis.


"Ayah," pekik Raja dan Ratu. Tangis ketiganya pecah. Mereka pun langsung berhambur memeluk tubuh Hendrik dengan hati-hati.


Hendrik membuka matanya. Tatapannya tampak begitu sayu dan lemah membuat hati Oryza terasa remuk.


"Za," panggil Hendrik pelan nyaris tak terdengar.


Oryza yang merasa Hendrik memanggilnya pun bergegas mendekat setelah mendapatkan izin dari Damar yang berdiri di sampingnya.


"Iya, mas. Apa ada yang sakit? Mau aku panggilkan dokter?" cecar Oryza tapi Hendrik menggeleng lemah.


"Za, a-ku mo-hon ma-af-kan se-ga-la ke-sa-lahan-ku. A-ku sung-guh me-nye-sal," cicit Hendrik membuat Oryza menggeleng seraya meneteskan air matanya.


"Udah mas, nggak usah bahas masa lalu. Aku ... aku udah maafin mas Hendrik. Yang penting sekarang mas harus lekas sembuh. Mas nggak kasihan lihat Raja dan Ratu nangis liat kondisi mas kayak gini. Mas istirahat aja ya biar aku panggil dokter," ucap Oryza seraya hendak membalikkan badannya. Disekanya air matanya yang mengalir deras. Sesakit apapun dirinya karena perbuatan Hendrik di masa lalu, namun tak tak dapat membuatnya membenci Hendrik. Ia justru tak kuasa menahan sesak di dadanya melihat lelaki yang pernah mengisi hari-harinya dan menjadi cinta pertama dalam hidupnya sedang sekarat seperti ini.


"Ja-jangan!" cegahnya. Oryza pun menghentikan langkahnya. Tapi ia masih dalam posisi membelakangi. Ia tak kuasa menahan sesak di dadanya saat melihat Hendrik yang sedang berusaha berbicara dengan nafas putus-putus seperti itu. "Te-terima kasih, Za. A-ku ti-tip a-nak-a-nak ya!"Hendrik menarik nafas dalam, "Ra-ja, Ra-tu, ma-afin a-yah. Ja-ga bun-da ka-lian. Ja-di a-nak yang baik, o-ke!"


"Ayah," cicit Raja dan Ratu.


Lalu pandangan Hendrik beralih ke Dodi yang mematung dengan air mata mengalir deras di pipi.


"Dodi," cicitnya lirih.


Mendengar namanya disebut, Dodi pun langsung berhambur ke pelukan Hendrik. Tangisnya pecah hingga terdengar begitu memilukan. Siti yang datang menyusul dan tengah berdiri di samping Saturnus tampak terkejut melihat kenyataan ternyata putranya tahu kalau Hendrik adalah ayahnya.


"Ayah, Dodi mohon bertahan! Jangan tinggalin Dodi! Dodi pingin main sama-sama ayah lagi. Ayah, Dodi mohon, jangan sakit!" pekik Dodi menumpahkan segala kesedihannya.


"Do-di, ma-afkan a-yah su-dah ja-hat sa-ma Do-di dan i-bu. Ma-af. A-yah ha-rus per-gi. Wak-tu a-yah su-dah ha-bis."


Bola mata Hendrik tampak berpendar mengelilingi dan memandangi satu persatu orang yang ada di sana. Terakhir, tatapannya jatuh pada Oryza yang juga menatapnya sendu dengan derai air mata di pipi. Air matanya menetes, merasa menyesal karena lagi-lagi ia menjadi penyebab air mata Oryza tumpah.


'Za, maaf sudah menyakitimu. Maaf sudah mengecewakanmu. Semoga kau bahagia dengan suamimu yang baru. Biarlah ku bawa cinta ini sampai mati.'


Setelah mengucapkan itu dalam hati, perlahan, mata Hendrik tertutup diiringi dengan nyaringnya suara bedside monitor yang menunjukkan garis lurus.


Tangis Oryza, Raja, Ratu, dan Dodi kian pecah. Ketiga bocah itu memekik histeris saat tahu sang ayah telah pergi untuk selamanya. Bahkan Siti pun ikut meneteskan air matanya. Bagaimana pun, ia juga memiliki kenangan di masa lalu dengan Hendrik. Bagaimana pun juga, anaknya merupakan buah hati dirinya dan Hendrik. Tanpa Hendrik, takkan ada Dodi. Melihat anaknya merasa patah karena kepergian sang ayah yang baru satu kali dekat dengannya, hati Siti pun ikut hancur. Saturnus pun segera memeluk Siti yang tergugu di tempatnya. Pun Damar segera memeluk tubuh Oryza yang bergetar hebat. Tiba-tiba tubuh Oryza seakan kehilangan keseimbangan. Tubuhnya hampir saja ambruk ke lantai andai saja tidak Damar peluk dengan erat.


"Za," pekiknya panik saat tahu Oryza sudah tak sadarkan diri.


...***...


Ya Allah, othor ikut nangis ngetik part ini. 😭😭😭


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...