[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.69 Usaha Damar



"Sudah aku bilang tadi, everything i do, i do it for you. Untuk lebih jelasnya lagi karena aku sungguh-sungguh mencintaimu dan aku menginginkanmu sebagai calon istriku. Mau kah kau menikah dengan ku?" lirih Damar lembut dan sorot mata penuh pengharapan.


'Haruskah aku terima saja meski aku belum tahu perasaanku yang sebenarnya padanya? Tapi aku takut menyakitinya bila menerimanya hanya karena ingin membalas hutang budi. Aku harus bagaimana?' Oryza bergumam dalam hati bimbang.


Melihat Oryza justru terdiam seribu bahasa, Damar lantas menjepit dagunya dengan ibu dan telunjuknya membuat mata mereka saling bersirobok. Lalu jemari itu beralih mengusap pipi Oryza dengan lembut menghadirkan sensasi menggelitik juga mendebarkan di jantung keduanya.


Oryza memang pernah menikah, tentu ia pernah mengalami momen-momen seperti ini. Apalagi saat awal-awal ia menjalin hubungan dengan Hendrik. Namun, itu sebelum prahara meluluhlantakkan hubungannya dengan Hendrik.


Bagaimana pun, ia wanita normal. Ia sangat menyukai aktifitas intim seperti ini. Ia menyukai momen-momen diperhatikan seperti ini. Ia menyukai perlakukan Damar padanya. Ia menyukai tatapan pemujaan dari Damar padanya.Tak dipungkiri, ia haus akan buaian dan belaian kasih sayang dari lawan jenis khususnya seseorang yang berarti dalam hidupnya. Apalagi sudah sekian purnama ia tak merasakan kehangatan dan belaian itu. Katakanlah kini ia jablai. Ia merindukan semua momen romantis seperti yang tengah dilakukan Damar padanya. Tapi ... benarkah benarkah Damar mencintainya? Dan pantaskah dirinya bersanding dengan atasannya itu? Sedangkan belum-belum ia sudah merasa insecure dengan segala kekurangan yang ada padanya. Ia hanyalah seorang janda anak dua, tak memiliki keluarga lain selain anak-anaknya, tak berpendidikan, pekerjaan pun hanya kacung dari atasannya itu. Tak ada satu hal pun yang bisa ia banggakan dan tak ada satu hal pun yang membuatnya layak jadi pendamping atasannya itu.


"Za," lirih Damar menyentak Oryza dari lamunannya. Oryza pun kembali memusatkan pandangannya pada Damar yang masih memangkunya dengan tangan melingkari pinggangnya. "Abang tahu, kamu pasti sedang bimbang sekarang. Abang nggak nuntut jawabannya sekarang kok. Abang akan menunggu kamu siap lahir batin. Abang nunggu kamu 20 tahunan aja sanggup, jadi nggak masalah kalau Abang harus menunggu lagi. Tapi Abang harap, jangan lama-lama ya sayang. Bukannya nggak sabar, cuma Abang itu sudah pingin banget jadiin kamu milik Abang. Abang udah ingin banget membina rumah tangga dengan kamu dan jadiin Raja dan Ratu sebagai anak-anak Abang. Apalagi Abang udah kadung cinta sama kalian bertiga," ucap Damar sambil mengangkat tangan kanannya mengusap pipi lalu rambut Oryza.


"20 tahun? Maksudnya?" tanya Oryza bingung.


"Ada deh, rahasia. Abang baru akan cerita kalau kita udah nikah," ucapnya seraya tersenyum lebar.


Plakk ...


Oryza menggeplak lengan Damar dengan bibir mengerucut. Beberapa saat kemudian, mata Oryza berkaca-kaca. Damar seolah begitu memahami dirinya. Tanpa perlu banyak bicara, Damar seolah dapat membaca isi hatinya.


"Bang, tapi kan Ryza hanya seorang janda. Punya anak dua juga, kok Abang mau sama Ryza?"


"Yah, mau gimana lagi, cinta tidak bisa memilih. Cinta hadir begitu saja. Emangnya kenapa sama janda? Statusnya kan jelas. Daripada ngaku masih gadis tapi ... kamu tahu kan maksudnya, mendingan janda, bukan?"


"Nggak semudah itu, bang. Bukan karena status aja, tapi banyak yang lainnya. Kita itu bagai bumi dan langit. Aku itu ibarat Upik abu dan kamu pangeran. Pangeran itu pantasnya bersanding dengan tuan putri, bukan Upik abu seperti aku ini. Kalau aku punya ibu tiri, mungkin aku udah seperti Cinderella. Aku nggak berani buka hati aku, sedangkan perbedaan kita itu terlalu besar. Anggap lah aku menyerah, sebelum berperang. Cukup satu kali aku terluka dan aku nggak mau ada kedua kalinya," ujar Oryza mengeluarkan unek-uneknya.


"Za, tatap mataku!" titah Damar. Oryza pun menuruti perintah Damar. "Aku itu cinta kamu tulus apa adanya. Kamu tahu kan yang membedakan manusia itu iman dan takwanya, bukan status apalagi hal remeh-temeh seperti perbedaan yang ada dalam benak kamu itu. Aku, Damar Prayoga Putra Angkasa mencintai Oryza Sativa tulus dari dasar hatiku dan segenap jiwa ragaku. Tolong jangan ragukan itu! Dan untuk masalah keluarga, kamu nggak perlu khawatir. Keluargaku open banget. Mereka bukanlah orang kolot yang menilai seseorang dari status apalagi kasta, please jangan ragukan perasanku dan buang jauh-jauh sifat insecure kamu itu. Kamu wanita sekaligus seorang ibu yang hebat, kuat, tegar, mandiri, dan aku menyukai segala yang ada padamu tanpa terkecuali," tegas Damar membungkam Oryza dalam keterpakuan.


"Udah malam, mari aku antar kamu pulang. Pikirkan segalanya masak-masak. Jangan menerimaku bila masih ada keraguan di hatimu!" ucap Damar sebelum mengantarkan Oryza ke depan pintu apartemennya.


"Za," panggil Damar saat Oryza membalik tubuhnya hendak masuk ke dalam apartemennya.


"Ya," sahutnya dengan degup jantung yang masih saja bertalu-talu.


Damar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Eee ... i-iya, bang," sahut Oryza terbata. Padahal otaknya berteriak jangan, tapi mulut dan tubuhnya justru mendamba.


Dengan tersenyum lebar, Damar gegas saja menarik tubuh Oryza ke dalam pelukannya. Damar memeluknya begitu erat. Rasa bahagia membuncah hingga ke sekujur tubuhnya. Sekian lama ia menantikan bisa merengkuh tubuh ini dalam dekapan hangatnya, namun baru bisa terwujud saat ini. Damar merasakan kebahagiaan melingkupi dirinya.


Oryza awalnya menegang saat tubuhnya direngkuh Damar. Namun perlahan, rasa tegang itu justru berganti nyaman. Dengan malu-malu, Oryza melingkarkan tangannya di pinggang Damar sebagai balasan. Nyaman, itulah yang Oryza rasakan saat ini. Mata keduanya terpejam merasakan kehangatan yang kian menjalar hingga ke setiap pori tubuh. Rasanya begitu enggan melepaskan tautan tubuh itu, tapi tak mungkin juga mereka berpelukan sepanjang malam, bukan.


"Ah, rasanya belum rela melepasmu! Rasanya pingin Abang seret ke KUA sekarang," bisiknya seraya terkekeh.


Pipi Oryza bagai tomat matang mendengar bisikan itu. Ia pun memukul gemas pundak Damar untuk menutupi rasa malunya.


"Jangan lama-lama ya, sayang! Abang udah nggak sabar halalin kamu, takut khilaf," imbuhnya lagi membuat Oryza segera melepaskan pelukan itu dan mencubit lengan atasnya.


"Ck ... katanya sabar nunggu. Ini apa? Belum juga 24 menit, udah nggak sabaran," protes Oryza membuat Damar kian tergelak.


"Bawaan faktor U. Kamu sih enak udah pernah nikah, lah Abang, masih perjaka ting-ting ini, wajar dong udah nggak sabar," sahutnya lagi tanpa filter membuat wajah Oryza kian merona.


"Udah ah, Abang pulang gih!" usir Oryza halus seraya mendorong tubuh Damar agar segera pergi.


"Eh, tunggu, tunggu, masih ada yang kurang," ucap Damar membuat Oryza menarik tangannya.


"Apa?" tanyanya dengan alis menukik ke atas.


Cup ...


"Selamat malam, sayang," bisik Damar setelah mengecup singkat pipi kanan Oryza membuat Oryza mematung di tempatnya dengan jantung yang kian meronta dan wajah memanas karena terlalu shock dengan apa yang barusan Damar lakukan.


Damar pun segera masuk ke apartemennya dan menutup pintu rapat setelah mencuri ciuman singkat di pipi Oryza. Tanpa mereka ketahui, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan keduanya dengan perasaan berkecamuk.


...***...


Hai, kakak-kakak semua. Othor mau ucapin makasih banyak sebesar-besarnya pada semua yang udah dukung karya othor ini. Terima kasih juga buat yang rajin like, komen, vote, kasih hadiah juga sampai-sampai karya othor bisa ikutan nangkring di daftar peringkat hadiah. Walaupun masih jauh, tapi tetap othor berterima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga terhibur. 🥰


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...