[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.121



Langit tampak mendung, semendung wajah-wajah orang yang menghadiri pemakaman Hendrik. Semua terasa bagaikan mimpi bagi orang-orang yang mengenal Hendrik. Terutama bagi Oryza, Raja, Ratu, Dodi, dan Siti. Mereka benar-benar tak menyangka Hendrik pergi begitu cepat dan dengan cara yang tak terduga. Demi menyelamatkan sang anak, Hendrik mengorbankan dirinya sendiri.


Oryza sudah nampak lebih tenang dari sebelumnya. Sebenarnya ia belum diizinkan keluar dari rumah sakit setelah pingsannya tadi. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kabar baik di tengah awan kelabu yang menyelimuti hati banyak orang hari ini. Tapi ia tetap harus hadir sebab ini merupakan kali terakhir ia akan melihat mantan suaminya itu.


Kehadirannya di pemakaman itu bukan sekedar untuk melepaskan segala beban dan memberikan maaf setulusnya dari dasar hati, tapi juga untuk mendampingi putra dan putrinya yang kini tengah benar-benar berduka. Bahkan mereka masih tampak tergugu di depan gundukan tanah merah dimana tempat peristirahatan terakhir sang ayah.


Hendrik dimakamkan tepat di samping makam sang ibu yang belum lama berpulang. Kini, sang putra pun ikut menyusul. Meninggalkan kesedihan mendalam di benak anak-anaknya. Bahkan Ratu masih terpuruk sebab sang ayah meninggal karena mencoba menyelamatkannya. Oryza hanya berharap, kejadian itu tidak membuat sang putri trauma.


"Raja, Ratu, kalian sayang ayah kan?" ujar Damar seraya menatap kedua anak sambungnya itu. Keduanya pun mengangguk seraya terisak. Mata mereka bahkan telah membengkak, dengan hidung memerah dan nafas tersengal. Dada mereka naik turun, terasa sesak untuk sekedar meraup oksigen ke dalam saluran pernafasannya.


"Kalau kalian memang sayang ayah, ikhlaskan ayah. Doakan ayah agar bahagia di sisi Allah. Allah sayang banget sama ayah karena itu ayah dipanggil lebih dahulu menghadap-Nya. Kalau kalian nangis terus, ayah pasti tidak akan tenang. Ayah akan bersedih Kalian mau ayah bersedih?" tanya Damar akhirnya dan keduanya menggeleng. "Kalau begitu, jangan sedih lagi ya! Biar ayah senang sama Oma di sana," imbuh Damar yang diangguki keduanya walaupun dengan susah payah.


Bukan hanya Raja dan Ratu yang bersedih, tapi juga Dodi. Padahal ia baru saja merasakan kebahagiaan bisa jalan-jalan dan bermain bersama dengan ayah kandungnya. Tapi ternyata, hari itu bukan hanya hari pertama menikmati kebersamaan layaknya seorang ayah dan anak, tapi juga hari terakhir kebersamaan mereka di dunia ini. Dodi tergugu dan terisak dalam diam. Ia memang kerap menangis tanpa suara. Hingga saat tangan Saturnus merengkuh tubuh mungilnya ke dalam dekapan ayah sambungnya itu, ia pun menumpahkan tangisnya. Suaranya terdengar memilukan membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasakan betapa sedihnya dan terpukulnya Dodi atas kepergian Hendrik. Mungkin orang-orang merasa bingung mengapa Dodi tampak begitu terpukul atas kepergian Hendrik, tapi biarlah hanya Yang Kuasa dan keluarga terdekat saja yang tahu apa arti tangisan itu. Biarlah masa lalu kelam Hendrik mereka simpan rapat-rapat. Biarkanlah Hendrik pergi dengan tenang menghadap-Nya.


...***...


"Sayang, kamu mau mandi atau berganti pakaian saja?" tanya Damar setibanya di dalam kamar. Wajah Oryza tampak pucat. Tatapannya sayu. Kelopak matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Aku mau mandi dulu, bang. Nggak enak, gerah, lengket juga," ujarnya seraya tersenyum sendu.


"Butuh bantuan Abang?" tawar Damar membuat Oryza berdecak.


"Ck ... modus!" desis Oryza.


"Abang nggak modus, sayang. Abang cuma mau bantu. Tubuh kamu kan masih lemas. Abang cuma khawatir takut terjadi sesuatu sama kamu dan calon anak kita," ujarnya lembut.


Ya, saat pingsan tadi, dengan panik, Damar segera meminta dokter memeriksa Oryza. Dan bagai pelangi sehabis badai, Damar mendapatkan kabar mengejutkan kalau istrinya ternyata tengah berbadan dua. Sungguh itu merupakan kabar tak terduga sekaligus luar biasa. Ia tak menyangka, di hari yang begitu menyedihkan itu mereka justru mendapatkan kabar bahagia tentang kehamilan istrinya. Ia bahagia. Damar bahkan sampai tersedu karena rasa bahagia yang membuncah.


"Iya, bang. Makasih. Tapi Ryza masih bisa mandi sendiri kok. Justru Ryza mau minta tolong, bantu anak-anak. Ryza yakin, mereka masih merasa terpukul. Tolong Ryza ya, bang!" ujarnya seraya memasang wajah memelas.


Damar membuang nafas kasar.


"Ya, sudah. Tapi hati-hati ya, sayang. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Abang. Abang ke kamar anak-anak dulu," ujarnya seraya mengelus puncak kepala Oryza.


...***...


"Lho, kok anak-anak ayah belum siap-siap mandi?" ujar Damar seraya duduk di tengah-tengah Raja dan Ratu yang sedang termangu di pinggiran ranjang.


Damar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana, tapi tiba-tiba Raja menjelaskan tanpa ia harus mengeluarkan suara.


"Ayah itu meninggal, dek. Ayah udah pergi dan nggak akan kembali lagi. Orang yang udah meninggal emang harus dikuburin kayak gitu dek," jelas Raja membuat Ratu tersentak dan langsung berdiri.


"Telus kalau Latu kangen ayah gimana kak? Kenapa ayah pelgi nggak balik lagi? Apa ayah ndak sayang kita lagi kak?" tanya Ratu yang sudah kembali terisak.


"Ratu ... ayah sayang kok sama Ratu. Tapi waktu ayah di dunia emang udah habis. Jadi ayah harus menghadap Allah. Kalau Ratu kangen sama ayah, Ratu tinggal berdoa. Ratu tahu nggak amalan yang nggak akan pernah putus itu apa?" Ratu menggeleng. "Doa anak yang shaleh. Setiap doa yang Ratu bacakan untuk ayah, insya Allah akan Allah sampaikan sama ayah jadi Ratu harus sering berdoa untuk ayah ya! Biar ayah bahagia di sisi Allah," ujar Damar menimpali.


Ratu mengerutkan keningnya merasa bingung. Tapi ia mengangguk. Mau bertanya lagi, ia sudah lelah. Jadi saat Damar meminta mereka segera mandi secara bergantian pun mereka melaksanakannya dengan segera.


Sementara itu, di kamar Dodi, tampak Siti sedang mendengarkan penjelasan Dodi sejak kapan ia mengetahui perihal Hendrik yang merupakan ayah kandungnya.


"Kenapa Dodi nggak pernah bilang ke ibu kalau Dodi sudah tahu kalau om Hendrik itu ayah Dodi?" tanya Siti.


"Dodi cuma nggak mau buat ibu sedih," jawabnya dengan wajah sendu dan tertunduk lesu.


"Maafin, ibu," ujar Siti penuh penyesalan.


"Bu, maafin ayah ya!"


"Kenapa kamu yang minta maaf? Kamu nggak perlu minta maaf ke ibu, sayang. Ibu udah maafin ayah Hendrik kok. Karena itu, sebagai anak yang baik, Dodi harus sering-sering doain ayah ya!"


"Iya, Bu. Bu, kalau Dodi kangen sama ayah Hendrik, Dodi boleh kan ke makam ayah?"


"Tentu saja boleh dong. Sekarang kamu ... hmmmppp ... "


Siti buru-buru lari keluar dari kamar Dodi lalu memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel. Perutnya tiba-tiba seperti diaduk-aduk. Saturnus yang sedang duduk di ruang tamu mendadak panik saat mendengar suara Siti yang muntah-muntah diikuti suara tangis Dodi yang takut terjadi sesuatu pada ibunya.


...***...


Migrain, migrain, migrain, obat migrain paling ampuh apa sih? Kakak-kakak ada saran? 😖


...Happy reading 🥰🥰🥰...