![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Detik berganti menit dan menit telah berganti jam, nyaris 2 jam berlalu, tapi pembukaan Oryza belum juga sempurna. Sangat berbeda dengan Siti yang telah melahirkan putrinya dengan begitu cepat. Bahkan tak lama setibanya mereka di rumah sakit, Siti langsung ditangani karena pembukaannya telah sempurna.
Dengan rambut acak-acakan, dasi yang telah terlepas, dan kancing yang lepas dua buah, Saturnus keluar dari ruang persalinan. Kemudian senyum yang nyaris tak pernah orang lihat ia ukir selebar-lebarnya membuat kedua orang tuanya melongo tak percaya melihat si anak batu yang kamu dan datar bisa tersenyum selebar itu seperti sedang memperagakan iklan pasta gigi.
"Pak, Bu, anakku sudah lahir. Anakku perempuan, cantik," serunya dengan mata berbinar bahagia.
"Alhamdulillah," seru keduanya.
Diwangga dan Anggi yang baru datang pun ikut menyerukan Hamdallah saat mendengar penuturan Saturnus. Karin yang baru muncul dari balik punggung Diwangga tiba-tiba tergelak saat melihat penampilan Saturnus yang sudah seperti korban banjir bandang. Sangat kontras sekali dengan penampilan biasanya.
Saturnus menggaruk tengkuknya merasa malu sendiri. Tapi bagaimana lagi, di dalam ruangan tadi, Siti bersikap sangat bar-bar. Tak puas mencengkram lengan Saturnus, ia menjambak rambut Saturnus. Alhasil, rambut klimisnya berubah acak-acakan. Masih kurang lagi, tangan satunya berpindah menarik-narik kerah baju Saturnus sampai-sampai dasinya tertarik nyaris lepas dan kancing bajunya lepas 2 Saturnus jadi penasaran, apakah istri atasannya juga begitu? Saturnus tersenyum sendiri, membayangkan rupa atasannya yang acak-acakan.
"Wah, wah, wah, udah punya anak kok kak Unus malah jadi gila? Senyum-senyum sendiri," ejek Karin membuat Anggi menyenggolnya.
"Hust, nggak baik ngatain orang!" sergah Anggi membuat Karin cemberut.
"Selamat ya, Nus. Akhirnya kamu bisa kasih Dodi adek," imbuh Anggi sambil tersenyum ke arah Dodi yang sedang duduk.
Saturnus yang mendengar nama anak sambungnya disebut langsung memutar tubuhnya dan berjongkok di hadapan Dodi. Ia sampai lupa mengucapkan terima kasih atas doa dari ibu atasannya tersebut. Saturnus terlalu khawatir Dodi merasa tersisihkan karena kelahiran adiknya. Jadi ia harus bergerak cepat menenangkan anak sambungnya itu.
"Mulai sekarang Dodi punya adek. Dodi senang kan?" tanya Saturnus.
"Iya ayah, Dodi senang. Dedeknya pasti cantik. Dodi pasti bakal bantu ibu jagain dedek, ayah," ujar Dodi antusias. Ia awalnya merasa takut kasih sayang orang tuanya terbagi, tapi Dodi menepis jauh-jauh keraguan itu. Ia yakin, ayah dan ibunya akan tetap menyayangi dirinya.
"Ayah dan ibu sayang Dodi dan adek," ucap Saturnus dengan tersenyum lebar.
"Dodi juga sayang ayah dan adek. Ayah jangan pernah tinggalkan Dodi dan adek ya!" ucap Dodi yang khawatir kembali ditinggalkan ayahnya.
"Insya Allah, ayah nggak akan pernah tinggalkan ibu, Dodi, dan adek," ucap Saturnus lagi membuat Dodi tersenyum sumringah kemudian langsung berhambur ke pelukan Saturnus.
Sementara itu, di dalam kamar persalinan Oryza, tampak Oryza berusaha mengatur nafasnya yang mulai pendek-pendek karena menahan sakit. Tapi sekuat tenaga ia berusaha tenang. Berbanding terbalik dengan Siti, Oryza justru lebih banyak diam. Hanya suara ringisan saja yang sesekali keluar saat rasa sakit saat kontraksi datang dan kini rasa sakit itu makin menyebar hingga ke setiap sendi.
"Bang, aaaakkkhhh ... dedeknya ... dedeknya udah mau keluar," ucapnya saat ia merasakan dorongan begitu kuat di area bawah tubuhnya.
Dokter yang mendengarnya gegas mendekati Oryza dan benar saja, kepala bayi Oryza sudah kelihatan. Sepertinya mereka sudah tak sabar mencari jalan lahir mereka sendiri.
Damar yang panik, kian luas dengan peluh telah membanjiri dahi hingga leher dan punggungnya.
Sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap tenang sambil menggenggam tangan istrinya.
"Kamu kuat, sayang. My Humaira, ayo berjuang, ada aku di sini!" bisiknya lirih seraya mengecup dahi Oryza.
Lalu dokter mulai memberikan aba-aba untuk Oryza mengejan sambil mengatur nafas agar tidak putus-putus saat mengejan. Dengan mengucapkan basmalah dan bersalawat, Oryza menarik nafas panjang lalu menahannya sambil mengejan hingga tak lama kemudian pecahlah tangisan seorang bayi yang membuat Oryza meneteskan air mata haru. Begitu juga Damar, tak henti-hentinya ia mengucapkan lafaz hamdalah saat melihat bayi merah miliknya dan Oryza lahir ke dunia dengan selamat. Kemudian dokter menyerahkan bayi itu ke asistennya untuk segera dibersihkan dan diberi tindakan prosedur standar seperti sedot lendir, test APGAR, , ditimbang dan diukur panjangnya, kemudian bayi itu dibaringkan di atas dada Oryza untuk memberikan tindakan inisiasi menyusu dini. Setelah itu, barulah bayi itu kembali diserahkan kepada perawat untuk diberikan salep mata, pemberian vitamin K1 dan imunisasi Hepatitis B, kemudian barulah dimandikan.
Rasa haru membuncah di dada Damar dan Oryza. 25 menit berselang, Oryza kembali merasakan kontraksi. Kali ini, ia kembali akan melahirkan bayi keduanya. Tak butuh waktu lama, Oryza akhirnya berhasil melahirkan bayi keduanya dengan sekali tarikan nafas. Rasa bahagia Oryza dan Damar seketika menular ke dokter dan perawat yang membantu persalinannya. Kedua bayi berjenis kelamin perempuan dan laki-laki itu kini telah dipakaikan bedong agar tetap merasa hangat.
Hati Damar membuncah bahagia tiada terkira. Ia pun segera mengecupi seluruh wajah Oryza sebagai ungkapan betapa ia amat sangat bahagia telah dihadiahi 2 orang bayi mungil yang cantik dan tampan serta lucu.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih. Abang cinta kamu, cinta banget . Ibarat kata, i love you bertubi-tubi," ucapnya sambil terkekeh dengan mata berkaca-kaca. Dalam rasa haru, Damar masih bersikap konyol. Semua semata-mata untuk mengalihkan perhatian Oryza dari rasa sakit sebab dokter tengah melakukan tindakan pembersihan dan perawatan jalan lahir.
Lalu dokter itu memberikan kedua bayi itu pada Damar dan Oryza. Keduanya tersenyum dengan mata berkabut. Akhirnya, penantian mereka berakhir indah. Bayi-bayi mungil itu tampak tertidur dengan senyum damai tersungging di bibir mungilnya.
Selang beberapa hari kemudian, Oryza akhirnya telah diizinkan pulang ke rumah. Namun, kali ini mereka tidak pulang ke apartemen lamanya maupun rumah kedua orang tua Damar, melainkan ke rumah baru yang dihadiahkan Damar khusus untuk istri tercinta.
Oryza sampai menangis haru. Ia tak menyangka, Damar setotalitas ini dalam memperlakukan dirinya sebagai istri. Bukan hanya cinta, kasih, perhatian, tapi segalanya ia lakukan demi membahagiakan dirinya juga anak-anaknya.
Masuk ke dalam pagar tinggi bercat coklat tua, Oryza disuguhkan dengan rumah yang tidak bisa dikatakan minimalis dengan 3 lantai. Menurut Damar, lantai satu dikhususkan untuk dapur, ruang tamu, dan kamar tamu. Lantai 2 khusus kamar mereka dan anak-anaknya, lalu lantai 3 untuk ruangan menonton yang sudah disetting seperti bioskop dan ada ruang fitness juga ruang kerja. Rumah itu juga dilengkapi lift, jadi kalau sedang malas menaiki tangga, mereka bisa naik ke lantai 2 dan 3 menggunakan lift.
Halaman depan begitu luas. Sebagian dibuat taman dengan rumput hijau dan bunga-bunga membuatnya terlihat asri. Di tengah-tengah ada air mancur mini yang di bawahnya merupakan sebuah kolam ikan. Kolam itu telah terisi ikan warna-warni, sungguh cantik. Tempat ini bisa dijadikan tempat bermain anak-anak, pikir Oryza. Sedangkan sebagian lagi dibuat untuk carport.
Di belakang rumah juga ada kolam renang yang dilengkapi seluncuran untuk anak-anak bermain. Entah kapan Damar mempersiapkan itu semua sebab setibanya Oryza dan anak-anak di sana, rumah itu justru telah ramai dipenuhi anggota keluarga yang menyambutnya dengan raut bahagia. Pun di dalam rumah itu juga telah dipenuhi perabotan. Padahal hampir setiap hari, Damar selalu pulang lebih awal, jadi kapan ia menyiapkan ini semua?
Oryza makin terisak dan tergugu di tempatnya. Lalu ia segera menghambur ke pelukan Damar. Hari ini, lengkap sudah suka cita dan bahagianya. Ia yang awalnya sebatang kara, kiri justru dikelilingi keluarga yang tulus mencintainya.
"Bang," cicit Oryza manja.
Damar lantas menjepit dagu Oryza dengan ibu jari dan telunjuknya hingga ia dapat melihat jelas mata Oryza yang basah dan hidung memerah. Ciri khasnya ketika menangis.
"Hmmm ... "
"Terima kasih ya, bang. Terima kasih banyak karena Abang sudah menyempurnakan hidup Ryza. Terima kasih karena telah memberikan pernikahan yang begitu indah ini. Ryza janji, Ryza akan menjadi istri yang taat dan berbakti pada Abang sebagai ungkapan terima kasih Ryza karena sudah memberikan segala cinta dan curahan kasih sayang yang melimpah tiada terkira ini. Ryza cinta Abang. Sangat cinta. " Oryza mengungkapkan segala isi hatinya betapa ia sungguh berterima kasih atas segala yang diberikan suaminya itu. Setelah mengucapkan itu, Oryza memberanikan diri mengecup bibir Damar. Tak peduli banyak pasang mata yang memandang aksi mereka berdua. Semua orang pun tak ada yang mempermasalahkan. Mereka justru meninggalkan kedua orang yang masih berdiri di tengah-tengah rumah itu sambil mengajak para anak-anak agar tidak melihat aksi sepasang suami istri itu.
Oryza tak pernah menyesali apa yang terjadi dalam hidupnya. Ia justru selalu memetik hikmahnya. Ingat, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Jadikanlah kegagalan sebagai awal untuk memulai lembaran baru. Segala yang terjadi pada diri kita pasti ada hikmahnya asalkan kita mau berpikir.
...THE END...
Alhamdulillah, othor udh sampai di bab akhir! 🤩 Semoga kakak-kakak menyukai karya-karya othor yang masih jauh dari kata bagus ini. Semoga kita mampu memetik hikmah dari kisah ini. Yang jeleknya, dibuang ya! 😁
Othor ucapkan terima kasih banyak pada semua pembaca yang selalu mendukung karya othor. Sampai jumpa di karya selanjutnya!
Dan ini 3 besar top fans yang berhak get pulsa dari othor.
Kepada :
1. Mam Arvi
2. Chyyyraaa, dan
3. Titik Sumanti
bisa segera DM ke Ig othor ya untuk info nomor yang bakal othor isiin pulsa.
...Ig dwie.nt...
...Sekali lagi, terima kasih. 🥰🥰🥰...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...