![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Pesta resepsi pernikahan Oryza dan Damar baru saja selesai beberapa jam yang lalu. Para tamu undangan telah pulang dan hanya menyisakan anggota keluarga saja. Menjelang sore, mereka semua kembali berkumpul di pantai untuk menikmati sunset yang terlihat jelas dari bibir pantai. Dengan mengenakan pakaian santai, semua keluarga besar Angkasa dan Yudhistira menikmati keindahan mentari sore itu sambil bercanda, bercengkrama, dan bermain di tepi pantai.
"Raja, jangan terlalu jauh nak!" pekik Oryza saat melihat Raja mengejar gulungan ombak yang kembali lagi ke tengah laut setelah menerpa pantai.
"Siap bunda," sahut Raja sambil mengacungkan jempolnya kemudian mundur kembali ke tepian.
"Ayah, kita buat istana pasil yuk!' ajak Ratu seraya menarik-narik lengan Damar membuat Damar yang sedang duduk di samping Oryza segera berdiri.
"Okey princess, ayah! Yuk!" ajaknya dengan semangat membuat Oryza tersenyum lebar.
Ia tak menyangka, Raja dan Ratu bisa begitu lengket dengan ayah sambungnya itu. Sangat berbanding terbalik dengan ayah kandungnya sendiri. Padahal dahulu Ratu begitu dekat dengan ayah kandungnya tapi entah sejak kapan, atau lebih tepatnya semenjak Hendrik mulai sibuk dengan pekerjaannya eh ralat sepertinya selingkuhannya, Ratu jadi makin berjarak dengan ayah kandungnya.
Oryza tidak pernah mengajari anak-anaknya menjauhi apalagi membenci ayahnya. Ia tak ingin merusak psikologis anaknya hanya dengan kebencian.
Hingga sekarang Oryza seperti bermimpi bisa mendapatkan suami paket komplit seperti Damar dengan bonus keluarga besarnya juga. Di dalam keluarga itu, ia diterima dengan sangat baik dan hangat. Di pernikahan pertamanya, memang ia mengalami not beautiful wedding. Tapi siapa yang menduga, di pernikahan keduanya ia justru mendapatkan beautiful wedding. Pernikahan yang indah. Bahkan sangat indah.
"Lagi ngelamunin apa, hm?" Tiba-tiba saja Damar telah berdiri di sampingnya sambil merengkuh pinggangnya hingga kini tubuh mereka merapat sempurna membuat Oryza tersentak dari lamunannya.
"Abang, ih, malu tau!" cicit Oryza dengan muka merah padam yang disambut Damar dengan tawa cekikikan.
"Ngapain malu? Tuh liat, mama sama papa aja santai aja tuh rangkul-rangkulan. Om Lian sama onty Luna juga. Masih mesra aja biarpun udah anak 3. Terus om Obi sama Tante Safa juga lagi bercanda mesra. Jadi kenapa harus malu? Kecuali yang belum nikah kayak Kevin sama Yuni tuh, mau pegangan tangan aja malu-malu. Karin dan Rizky udah tunangan jadi udah nggak malu lagi gandengan tangan," ujar Damar panjang lebar.
"Iya, iya, nggak mau kalah sama pasangan senior," ejek Oryza seraya terkekeh. Damar menggeser tubuhnya kemudian berdiri di belakang Oryza dan memeluknya erat dari belakang membuat Oryza segera menoleh ke samping.
Cup ...
Sebuah kecupan hangat menyapa pipi Oryza membuat pipinya bersemu merah.
"Bang," pekik Oryza terkejut.
"Ekhem, yang pengantin baru romantis banget nih!" Goda Tisya yang tiba-tiba muncul di membuat wajah Oryza kian merona.
"Iri bilang bos. Kan udah ada calonnya juga," tukas Damar sambil menunjuk ke arah Kiandra yang sedang berjalan ke arah mereka dengan dagunya.
"Siapa?" Tisya pun menoleh ke belakang kemudian wajahnya yang cerah langsung berubah masam. "Idih, siapa juga mau sama dia. Ogah deh!" kilah Tisya yang memutar bola matanya malas.
"Jangan idih-idih ogah-ogah, Sya. Entar ketulah jadi bucin, kapok lho!" ledek Oryza membuat Tisya mencebikkan bibirnya.
"Iih, jangan gitu dong, Za! Nggak setia kawan banget masa' nyumpahin aku jadi bucin dia. Nggak mau pokoknya!"
"Apa yang nggak mau?" Ucap Kiandra yang kini telah berdiri samping Tisya. Bahkan tanpa sungkan, ia merangkul pundak Tisya dengan mesra.
"Apaan sih rangkul-rangkul? Lepas!" desis Tisya dengan mata melotot tajam.
"Pacarku kok galak banget sih! Jadi makin gemesin deh!" goda Kiandra seraya mencubit hidung Tisya membuat Tisya makin mendelik tajam.
"Kak Kian Rantang, lepasin nggak! Atau Tisya tendang adik kecilnya ya baru tau rasa!" desis Tisya saat Kiandra justru makin mengeratkan rangkulannya.
"Duh, jangan dong, sayang! Kalau adik kecil kakak nggak bisa bangun lagi gimana? Entar kakak nggak bisa bikin kamu merem melek pas malam pertama, siapa yang bakal rugi, coba!" goda Kiandra dengan seringai di bibirnya.
"Kak," pekik Tisya geram dengan pipi memerah. "Ck ... mesyum banget sih! Ini nih akibat umur udah hampir kepala 3 tapi belum nikah-nikah, pikirannya jadi mesyum!" ejek Tisya membuat Damar dan Oryza yang melihatnya terkekeh geli.
"Nah, bener banget itu, bro! Thanks sarannya," pekik Kiandra saat Damar mulai menjauh. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada telinga Tisya. Tisya hendak menjauhkan wajahnya, tapi ditahan Kiandra. Saat bibir Kiandra sudah di depan telinga Tisya, tiba-tiba ada seruan suara bariton terdengar lantang membuat keduanya menoleh secara bersamaan kemudian membulatkan matanya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Bapak?"
"Om Obi?"
Degh ...
...***...
Sementara Tisya dan Kiandra sedang disidang oleh Robi, pasangan pengantin baru dadakan Siti dan Saturnus kini justru sedang menikmati sunset di atas bukit batu karang.
"Mas, di sini indah banget ya!" ucap Siti yang kini sedang duduk berdua dengan Saturnus di sebuah bukit karang.
"Kamu ... suka?" tanya Saturnus dengan wajah datarnya.
"Hmmm ... suka banget. Soalnya ini pertama kalinya aku ke pantai. Di Bali lagi. Biasanya cuma bisa liat pantai di tivi, tapi sekarang aku bisa lihat secara langsung. Bukan cuma lihat sih, bisa main pasir dan airnya juga," ujar Siti dengan wajah berbinar cerah. Kentara sekali ia memang benar-benar merasa bahagia.
Mendengar penuturan Siti, Saturnus lantas menoleh. Sudut bibirnya pun tertarik ke atas saat melihat ekspresi Siti yang begitu bahagia.
"Lain kali aku akan mengajakmu kemari lagi," ucap Saturnus dengan wajah serius.
"Beneran? Sama Dodi?" tanya Siti memastikan.
Saturnus pun mengangguk membuat Siti tersenyum lebar kemudian memajukan wajahnya dan mencium bibir Saturnus singkat membuat wajah laki-laki itu seketika memerah. Saturnus sudah seperti remaja yang baru saja mendapatkan ciuman pertamanya. Padahal mereka bahkan telah melakukan lebih dari itu, tapi dirinya masih saja malu-malu. Tapi lain lagi kalau mereka sudah di dalam kamar. Bahkan bed cover dan bantal bisa pontang-panting berceceran karena ulah mereka.
"Siti," panggil Saturnus sambil menggenggam tangannya sendiri.
"Ya," sahut Siti seraya menoleh ke arah Saturnus.
"Emmm ... kita ... kita ... "
"Skidipopo?" sambung Siti cepat membuat Saturnus mengangguk cepat dengan mata berbinar cerah. Mendengar Siti paham dengan maksud hatinya, wajahnya jadi sumringah. Mengalahkan rasa senang karena berhasil memenangkan tender proyek yang ditugaskan Damar padanya.
"Tapi Dodi ... "
"Aku akan bilang ke bos buat titip mereka dulu." Saturnus pun lantas menoleh ke arah dimana anak-anak tadi bermain.
"Mas, kok semua pada ngilang? Mereka kemana?" tanya Siti yang sudah berdiri merasa bingung sebab semua orang tiba-tiba sudah menghilang.
"Mas juga nggak tahu. Apa ada yang sudah terjadi? Ayo, kita cari mereka semua!" ajak Saturnus.
Mereka pun gegas turun dari bukit karang dan segera berlari mencari keberadaan orang-orang.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...