[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.107



Suasana ballroom Royal Hotel tempat dilaksanakannya pesta pernikahan salah satu rekan bisnis Damar tampak begitu riuh. Tamu-tamu dari kalangan atas tampak memenuhi ruangan super besar yang dihiasi nuansa putih dan gold itu. Mereka saling bercengkrama membahas berbagai topik entah itu seputar bisnis dan ekonomi. Sedangkan para wanita terlihat sibuk menggunjingkan usaha mereka, keberhasilan, dan saling memamerkan apa saja yang bisa membuat namanya kian dikagumi.


"Kamu kenapa, Za?" saat berada di depan pintu masuk ballroom, Oryza menghentikan langkahnya. Tangannya terasa dingin dengan jantung berdegup kencang. "Grogi, hm?"


"Iya, bang. Aku baru kali ini datang ke pesta semewah ini. Penampilan ku nggak ada yang aneh kan, bang? Aku takut penampilan ku buat Abang malu," ucap Oryza dengan nada khawatir.


Melihat kegelisahan istrinya, Damar pun mere*mas telapak tangannya seraya tersenyum simpul. Lalu Damar beranjak berdiri di hadapan Oryza dan mengusap pipinya mesra.


"Malu? Sebaliknya malah. Abang jadi lebih percaya diri sebab Abang datang ke pesta ini didampingi bidadari cantik Abang. Jadi nggak ada lagi yang bakal ejek Abang jodi sebab sekalinya punya gebetan langsung dengan status istri. Kamu sangat luar biasa, Humaira. Trust me," ucap Damar mesra membuat Oryza tersipu dibuatnya.


Aksi romantis itu sontak saja jadi bahan perhatian banyak orang. Wajar saja sebab posisi mereka saat ini masih berada di depan pintu masuk tempat diselenggarakannya pesta. Kilatan blitz terdengar di segala penjuru. Siapa yang tidak terkejut melihat salah seorang lelaki idaman di negara itu kini sedang beradegan romantis bak sinetron picisan di depan khalayak ramai. Tak mau ketinggalan, mereka pun mengabadikannya dalam bentuk foto dan video. Bahkan beberapa wartawan sudah stand by mengabadikan momen romantis itu.


"Bang," cicit Oryza dengan wajah memerah sebab merasa malu jadi bahan perhatian banyak orang.


Damar menyunggingkan senyum lalu meraih pinggang Oryza posesif. Dengan dagu terangkat, Damar merangkul mesra Oryza masuk ke dalam ballroom hotel. Hampir semua mata memandang kagum dan memuji keberuntungan Oryza yang bisa mendapatkan lelaki seperti Damar Prayoga.


"Bang, bukannya itu kak Kiandra sama Tisya ya?" tanya Oryza saat mereka telah berada di dalam. Setelah berbincang dengan beberapa orang yang dikenalnya, Damar mengajak Oryza duduk di sebuah meja yang ada di sana.


Saat mereka baru saja duduk, Oryza menangkap kedatangan Tisya dan Kiandra. Yang menjadi bahan pertanyaan, kok mereka tiba-tiba bisa sedekat itu, sudah seperti pasangan kekasih.


Damar pun memicingkan matanya ke arah pintu masuk dan benar saja, Kiandra baru saja datang seraya merangkul pundak Tisya. Ia pun menyunggingkan senyum tipis.


Saat Tisya menoleh ke arahnya, Oryza pun melambaikan tangannya. Melihat keberadaan Oryza, Tisya pun menghampirinya setelah bicara dengan Kiandra terlebih dahulu. Tak lama kemudian, datang seseorang lagi dengan dress hitamnya yang memukau dan ikut duduk di samping Oryza. Dia adalah Ayesha.


"Hai Sya, Sha, kalian disini juga. Apa kabar nih!" sapa Oryza karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu.


"Buruk," jawab keduanya kompak. Lalu Tisya dan Ayesha saling memandang dengan alis terangkat tak lama kemudian mereka tergelak bersamaan.


"Za, Abang ke sana dulu ya!" tunjuk Damar ke arah beberapa pria berpakaian parlente yang sepertinya kenalan atau rekan kerja Damar. Oryza pun mengangguk seraya tersenyum.


"Eh, by the way jadi penasaran nih, kalian kenapa? Kok jawabannya bisa kompak gitu?" tanya Oryza dengan mode kepo. Tisya dan Ayesha saling pandang, seolah berkata melalui isyarat mata 'loe aja dulu gih!' "Lha kok mingkem semua? Nggak asik ah!" desis Oryza seraya mencebik.


"Eh Sya, kamu kok tiba-tiba dekat sama kak Kian? Pake rangkul-rangkulan segala, kalian jadian ya?" goda Oryza membuat wajah Tisya makin masam.


"Iya, jadian," ketus Tisya membuat Oryza dan Ayesha membulatkan matanya.


"Serius? Sejak kapan? Wah, kalian ya ternyata diam-diam ada ... "


"Ada apa? Jadian terpaksa lebih tepatnya."


"Terpaksa? Kok bisa?"


"Bisa lah. Kak Kian maksa soalnya. Huft, kalau kak Kian nggak mergokin aku ke clubbing, mana mungkin aku jadian sama cowok nyebelin kayak dia," desah Tisya frustasi.


"Kamu clubbing? Kamu minum-minum?"


Tisya menggeleng cepat, "Cuma iseng plus penasaran. Aku nggak minum alkohol kok. Eh, kepergok kak Kian yang kebetulan ada urusan di sana. Jadilah dia maksa jadi kekasih pura-puranya kalau aku nggak mau dia bakal lapor sama ayah. Ayah sama bunda pasti bakal ngamuk kalau tahu anak gadisnya masuk ke club' malam. Apes banget!" aku Tisya nelangsa.


Oryza dan Ayesha terkekeh melihat ekspresi muram Tisya.


"Jalanin aja bestie siapa tahu cocok beneran terus berjodoh beneran. Kak Kian kan baik. Nggak rugi kamu jadi kekasih atau pun calon istri dia," ujar Ayesha membuat Tisya mencebikkan bibirnya.


"Apa kata Yesha bener tuh, Sya. Nggak ada salahnya juga. Udah ganteng, pintar, pekerjaan bagus, orangnya juga baik, apa kurangnya coba?" timpal Oryza.


"Nah, itu tuh yang aku kurang suka," celetuk Tisya membuat Oryza bingung. Apa ada yang salah dari kata-katanya?


"Hah!" seru Oryza heran. "Maksudnya?"


"Karena kak Kian ganteng, aku nggak suka."


"Heh, bestie, dimana-mana kebanyakan cewek demennya cowok ganteng, lha kamu malah aneh kek gini? Kecuali emang loe berjodoh dengan yang kurang ganteng, nggak tahu deh!" Ayesha mendelik seraya tertawa geli.


"Cowok ganteng itu berbahaya, Sha. Kebanyakan cowok ganteng itu playboy dan itu yang buat aku illfeel."


"Nggak semua kali, Sya. Tuh papi, Abang aku, kakak , adik, om, papa Angga ganteng tapi nggak kayak gitu. Jangan dipikul rata dong! Jangan mentang-mentang cowok yang pernah kamu taksir dulu ternyata playboy, kamu jadi anggap semua cowok ganteng playboy," ucap Ayesha.


"Itu mah beda, kan aku udah kenal lama sama mereka. Kalo kak Kian kan belum terlalu lama jadi belum benar-benar tahu sifatnya. Udah ah, bahas gue Mulu. Giliran loe Sha, loe kenapa?"


"Yah, kirain udah lupa nanyain aku." Ayesha memutar bola matanya malas kemudian terkekeh. "Aku nggak kenapa-napa kok. Cuma lagi bete doang," kilah Ayesha.


"Udah deh, Sha, kami tahu banget kalau loe tuh lagi ada masalah, jujur aja kenapa sih?" tuntut Tisya yang memang sudah sangat paham dengan ekspresi Ayesha.


"Iya, Sha, kalau kamu ada masalah, cerita aja," imbuh Oryza.


"Maaf ya Za, Sya, untuk saat ini aku belum bisa cerita. Entar deh, kalau aku dah siap pasti aku ceritain."


"Ya udah deh! Senyaman loe aja deh, Sha. Yang pasti, jangan ragu cerita kepada kami, ya bestie. Oke?"


"Oke!"


"Eh, Sya, Sha, tahu nggak, Kak Saturnus udah nikah sama Siti lho," celetuk Oryza yang mana sukses membuat Tisya dan Ayesha membulatkan matanya.


"Serius?" tanya keduanya kompak.


"Ngapain juga aku bohong. Mereka nikah di hari yang sama hari pernikahan aku."


"Apa?" seru keduanya terkejut bukan main. Apalagi Tisya yang sebenarnya sedikit memiliki rasa pada asisten pribadi Damar tersebut. Entah rasa apa, yang pasti mulai hari ini ia tak mau memikirkannya lagi.


"Za, mau makan apa? Entar Abang ambilin," ujar Damar tiba-tiba nimbrung.


"Eh, Abang. Ngagetin aja. Aku bisa ambil sendiri, bang," ujar Oryza tak mau selalu merepotkan Damar.


"Kita ambil sama-sama aja kalo gitu," ajak Damar yang diangguki Oryza.


"Sayang, yuk kita makan!" tiba-tiba Kiandra datang menyela membuat Tisya bersungut-sungut.


"Sayang, sayang, pala lu peyang," celetuk Tisya membuat Oryza, Damar, dan Ayesha terkekeh.


"Sama pacar nggak boleh ketus gitu, digondol orang baru nyesel kamu, Sya!" ledek Oryza membuat Tisya memutar bola matanya.


"Bang, Za, Sya, kak Kian, Yesha pulang duluan ya! Ada urusan," ucap Ayesha tiba-tiba dengan senyum yang terlihat dipaksakan membuat yang lainnya heran.


"Ya udah, kamu hati-hati di jalan ya, Sha!" ujar Damar memperingatkan.


Ayesha pun mengangguk dan segera pergi dari sana meninggalkan tanda tangan di benak keempat orang itu sebab dari wajahnya terlihat sekali Ayesha seperti menghindari sesuatu, tetapi apa dan siapa?


Tak mau ambil pusing, Damar dan yang lainnya pun bergegas mengambil makan. Setelah makan, mereka pun segera berpamitan dengan pasangan pengantin untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Za, malam ini kita nggak usah pulang ya?" bisik Damar seraya merengkuh pinggang Oryza mesra.


"Maksud Abang?"


"Kita nginep di sini aja. Abang udah minta Saturnus check in tadi, kita tinggal ke kamarnya aja."


"Abang serius? Kok mendadak?"


"Gimana nggak mendadak, liat bidadari secantik kamu, bikin Abang nggak tahan mau nerkam, mau ya?" bisik Damar seraya mengerlingkan sebelah matanya membuat mulut Oryza menganga tak percaya dengan tingkah suaminya itu. Dan pada akhirnya, mereka pun menghabiskan malam di salah satu kamar hotel di sana dengan kegiatan berbagi peluh, desa*han, dan juga era*ngan. .