![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
"Heh, kamu yang namanya Oryza?" seru seseorang saat Oryza baru saja hendak masuk ke Angkasa Mall. Sontak saja Oryza segera membalikkan tubuhnya saat namanya dipanggil dengan begitu beringas dan bernada kebencian. Oryza mengerutkan keningnya saat melihat wajah angkuh dari seorang wanita paruh baya yang tidak dikenalnya itu.
"Iya, Bu. Anda siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Oryza ramah. Tidak sepantasnya kita membalas sikap kasar dengan kekasaran juga. Api tidak bisa dipadamkan dengan api, tapi api harus dipadamkan dengan air. Selagi bisa, ia berusaha untuk sabar menghadapi orang-orang seperti itu.
"Nggak usah sok ramah kau janda gatel. Lepasin anak saya? Kamu kan yang sudah buat ajak saya masuk penjara!" hardik wanita paruh baya itu dengan mata berkilat emosi.
"Anak Anda? Penjara? Maksudnya!" Oryza bingung, ia saja tidak mengenal ibu ini, bagaimana bisa ia mengenal anaknya.
"Masih berlagak sok nggak tahu. Alana, anak saya Alana, kamu kan yang sudah memasukkannya ke penjara. Kamu memfitnah dia, dasar janda gatel. Pantes aja jadi janda, diceraikan suami, ya doyannya deketin laki-laki kaya, dasar lacur!" Maki ibu itu penuh emosi. Oryza sampai menganga tak percaya dengan ucapan dan makian serta sumpah serapah yang keluar dari bibir wanita paruh baya itu.
."Bu, sebaiknya kita bicara baik-baik di atas. Tidak enak disini, mengganggu. Apalagi sebentar lagi jam mall buka. Mari Bu!" ajak Oryza sopan tapi ibu itu justru makin memaki Oryza.
"Kenapa? Malu ketahuan busukmu? Biar semua orang tahu kalau kamu itu janda gatel yang suka menggoda atasannya. Kamu juga sudah memfitnah anak saya. Gara-gara kamu, anak saya yang susah payah menjabat jadi sekretaris pemilik mall ini malah berakhir di penjara. Pasti kamu kan yang indah memfitnah anak saya yang tidak-tidak. Ku juga sudah menjelek-jelekkan anak saya. Lepaskan anak saya, jalaang! Atau kamu akan saya tuntut. balik?"
Entah apa yang sudah dikatakan Alana pada ibunya membuat ibu Alana marah-marah seperti ini. Bahkan mengatakan hal yang tidak-tidak membuat kesabaran Oryza nyaris habis.
"Baiklah kalau ibu tidak bisa diajak bicara baik-baik. Bu, sebelumnya saya minta maaf kalau anak Anda berakhir di penjara. Jujur, bukan saya yang memasukkan ke dalam sana. Saya bahkan tidak tahu menahu tentang hal ini. Walaupun sebenarnya saya bisa melakukannya, tapi saya tidak mempermasalahkannya sama sekali. Namun, perbuatan anak ibu itu termasuk tindakan kriminal, dia menyakiti saya, saya punya saksi. Kalau benar ia berada di penjara seperti kata ibu, itu karena kesalahannya sendiri. Tak ada asap kalau tak ada api. Pasti pihak kepolisian telah menceritakan kronologisnya pada Anda, bukan. Mungkin karena tindakan putri ibu sudah memasuki ranah kriminal, pihak Angkasa Mall pun melanjutkannya ke jalur hukum. Jadi Anda tidak bisa menuduh saya asal tanpa bukti. Sebaiknya Anda jaga lisan Anda sebelum terjadi hal-hal yang tidak Anda inginkan. Saya hanya mengingatkan, mau mendengarkan Alhamdulillah, kalau tidak ya sudah. Yang penting, saya dalam posisi benar di sini. Dan saya tidak pernah melakukan hal-hal seperti yang Anda tuduhkan tadi. Permisi." ujar Oryza dingin kemudian segera beranjak pergi dari area depan mall yang mulai ramai karena adanya penonton dadakan. Oryza berlalu dengan dagu terangkat. Ia tidak dalam posisi salah di sini jadi untuk apa ia merasa takut apalagi malu.
...***...
Oryza mengehela nafas lelah. Mungkin inilah sebabnya para orang tua mengatakan jangan bertengkar pagi-pagi, karena seharian kamu akan ditimpakan kemalangan. Setelah pagi-pagi di awali drama pertengkaran yang lebih tepatnya ada ibu-ibu yang memarahinya seenak hati, siangnya ia tiba-tiba ditelepon Siti karena Raja bertengkar dengan temannya sebab temannya mengejek sang ayah yang memiliki wanita lain sehingga membuatnya tergopoh-gopoh datang ke sekolah untuk menyelesaikan masalah Raja. Lalu sore ini di saat jam pulang ia justru terjebak hujan yang tiba-tiba saja turun. Mana ia tidak membawa payung, membuatnya terpaksa menunggu hujan sedikit reda di pos keamanan Angkasa Mall.
Sambil menunggu, Oryza tercenung mengingat Raja tadi yang menangis sesegukan saat menceritakan temannya yang mengejeknya karena ayahnya diambil wanita lain. Entah bagaimana, teman Raja melihat Hendrik jalan bergandengan dengan seorang wanita hamil yang ia yakini itu pasti adalah Githa. Temannya mengejeknya kalau ia bukan anak yang baik jadi ayahnya pergi meninggalkannya. Teman Raja juga mengatakan ayahnya akan lebih menyayangi anak barunya dibanding dirinya. Raja telah dibuang, dicampakkan, entah bagaimana bisa seorang belum genap 6 tahun bisa mengatakan hal-hal seperti itu. Tapi tak dapat dipungkiri, anak-anak merupakan foto kopi yang paling canggih. Ia akan lebih mudah menyerap apa yang dilihat dan didengarnya. Mungkin anak itu mendengar seseorang membicarakan ayah putranya itu sehingga saat bertemu mulutnya refleks ingin menumpahkan segala apa yang pernah dilihat dan didengarnya itu. Oryza sungguh menyayangkan bila ada seorang anak kecil yang bibirnya begitu ringan melontarkan kata-kata yang bernada menghina dan berpotensi menyebabkan sakit hati.
Ya, terkadang anak-anak bertengkarnya hanya sementara, tak lama kemudian tahu-tahu mereka sudah main bersama lagi. Tapi bagi orang tua, hal itu cukup menyakitkan. Mereka khawatir peristiwa itu akan terus berulang sehingga mengakibatkan rasa kecil hati atau lebih tepatnya sakit hati dan kecewa pada diri seorang anak. Tak sedikit hal seperti itu mengakibatkan perubahan sikap seorang anak, dari ceria menjadi murung hingga penyendiri. Begitulah anak-anak korban broken home. Disitulah peran orang tua agar lebih peka dan perhatian pada anak-anak agar mereka tidak kehilangan jati diri mereka karena terbeban perpisahan orang tuanya.
Hujan masih begitu deras padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sepatu dan ujung celana kulot Oryza bahkan kini telah basah akibat percikan dari hujan yang masih begitu deras. Apalagi ia duduk di bangku luar pos, otomatis percikan air dengan bebas mengenainya. Ingin menerobos, ia khawatir jatuh sakit. Ia tak boleh sakit. Ia memiliki tanggung jawab yang besar saat ini. Tak ada yang bisa ia andalkan saat ini selain dirinya sendiri.
Saat sedang melamun, tiba-tiba saja sebuah payung hitam terbentang di atas kepalanya membuat Oryza sontak mendongak dan dalam hitungan detik membulatkan matanya.
"Mari ku antar!" tawar seseorang itu. Melihat Oryza sepertinya masih menimbang, seseorang itupun segera menarik lengan Oryza sambil memayunginya menuju mobilnya. Ia membukakan pintu untuk Oryza. Setelah masuk, ia pun memutar mobilnya lalu masuk ke pintu bagian kemudi kemudian menutup payungnya dan mulai melajukan mobilnya membelah jalanan yang mulai tergenang air hujan.
"Ck ... biasa aja kali. Nggak ngerepotin kok. Kan aku yang nawarin," sahut Kiandra santai.
"Tapi kan tetap aja, ngerepotin. Btw, kak Kian kok ada di ... "
"Tadi aku habis ketemuan sama temen di starb*cks. Pas mau pulang, eh malah ngeliat bidadari ngelamun sambil nunggu hujan reda. Aku panggil-panggil malah nggak dengar. Kayaknya lamunannya jauh banget, mikirin apa sih?" cerca Kiandra membuat Oryza membulatkan matanya. Ya, ia sadari ia benar-benar melamun tadi. Pikirannya sangat lelah. Apalagi saat mengingat bagaimana Raja sesegukan saat menceritakan awal mula pertengkarannya dengan teman sekelasnya itu.
"Ah, be-benarkah? Aku ... aku nggak mikirin apa-apa kok," kilah Oryza. Tak mungkinkan ia menceritakan masalahnya dengan Kiandra. Walaupun Kiandra mantan pengacaranya, rasanya tak etis menceritakan hal pribadi seperti itu. Ia dan Damar saja, walau kerap bersama dan mulai akrab, ia tak pernah menceritakan masalah hidupnya. Lalu mengapa ia harus bercerita pada orang yang belum lama dikenalnya ini?
"Ya sudah kalau nggak mau cerita, nggak papa. Tapi kalau kamu butuh teman cerita, hubungi aku aja, oke!" ujar Kiandra yang diangguki Oryza sebagai basa-basi supaya Kiandra tidak kian mencecarnya.
Tak lama kemudian mobil Kiandra telah berbelok ke pelataran lobby apartemen Oryza. Oryza pun segera turun dan menyampaikan terima kasih. Kiandra memang tidak berniat mampir sebab hari sudah terlampau sore bahkan sudah menjelang Maghrib.
Setelah melihat mobil Kiandra menjauh, barulah Oryza masuk ke lobby apartemen. Resepsionis dan security yang melihat Oryza pun langsung memberi salam. Mereka tahu kalau Oryza merupakan orang spesial pemilik gedung apartemen itu.
Ya, gedung apartemen itu sebenarnya milik Damar sebagai investasi jangka panjangnya. Bila Angkasa Mall merupakan perusahaan di bidang pusat perbelanjaan milik keluarga besarnya dengan Anggi sebagai komisaris utama dan Damar sebagai CEO-nya, maka apartemen ini merupakan investasi pribadi milik Damar sendiri. Berbeda dengan Angkasa Grup, perusahaan multinasional itu dipegang oleh Aglian. Ayesha belum turun secara langsung memimpin perusahaan itu karena ia belum menyelesaikan studi magisternya.
Denting lift berbunyi dan di saat bersamaan pintu pun terbuka. Baru saja beberapa langkah ia keluar dari lift itu, Oryza sudah membelalakkan matanya saat melihat seseorang yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya dengan tangan terulur hendak memencet bel.
'Astaga, cobaan apalagi ini?' desisnya lelah jiwa dan raga.
...***...
...Sopo seh yang datang itu? 🤔...
...***...
...Happy reading 🥰🥰🙏...