[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.81



"Nus, dia ... " cicit ibu Saturnus seraya memandangi wajah cantik Siti.


Siti gugup bukan kepalang. Ia sebenarnya bingung harus bersikap bagaimana. Ia sebenarnya takut untuk berbohong apalagi dengan orang tua seperti orang tua Saturnus. Namun, melihat binar bahagia di mata kedua orang tua Saturnus, membuatnya tak tega untuk mematahkan kebahagiaan mereka. Namun, di sisi lain ia juga merasa bersalah karena menipu keduanya. Bak makan buah simalakama, ia bingung harus memilih yang mana.


"Iya, buk. Kenalin, ini Siti, kekasih Unus," ujar Saturnus seraya menghela pinggang Siti agar mendekat ke arah ranjang pasien tempat ibunya membaringkan diri.


"Sini nak Siti, jangan malu-malu gitu," ujar ibu Saturnus.


"Kenalin Bu, nama saya Siti," ujar Siti seraya mengulurkan tangan lalu mencium punggung tangan ibu Saturnus dengan takzim.


"Ya, ampun, kamu cantik sekali, nak. Huh, kamu jadi anak jahat sekali sih Nus, punya pacar secantik ini kok baru ditunjukkin ke ibu sama bapak sekarang? Kemarin-kemarin kamu umpetin dimana?" cetus ibu Saturnus membuat Siti tersenyum simpul. "Duh, kalo senyum malah makin cantik. Pilihan kamu memang hebat, Nus. Nggak sia-sia jadi jomblo akut, sekalinya bawa pacar, cantiknya bikin pangling, benar tho pak?"


"Iya Bu, bapak aja kaget waktu liat si Unus bawa cewek. Bapak pikir, bidadari dari mana," seloroh bapak Saturnus membuat wajah Siti bersemu merah.


Lalu orang tua Siti pun mengajak Siti berbincang. Mereka tampak begitu senang melihat pembawaan Siti yang lembut dan perhatian. Bahkan Siti membantu ibu Saturnus makan dengan cara menyuapinya.


Saat Siti sibuk dengan kedua orang tua Saturnus, Saturnus justru sibuk membuka email-email yang menyangkut pekerjaannya. Sesekali ia melirik bagaimana bahagianya orang tuanya berbincang dengan Siti melalui ekor matanya. Hingga pada satu pertanyaan yang dilontarkan orang tuanya membuat keduanya menegang dengan pikiran yang tak tentu arah.


"Jadi kapan nak kalian akan menikah?" tanya ibu Saturnus.


"Iya, nak. Ibu dan bapak usianya udah nggak muda lagi. Kami ingin sekali lihat kamu khususnya Nus, menikahi perempuan pilihan kamu. Syukur-syukur sebelum waktu kami habis, kami diperkenankan menimang cucu. Usia kamu udah nggak muda lagi, Nus. Belum lagi, bapak khawatir kamu juga susah punya anak kayak ibu bapak dulu. Jadi gimana? Kapan kalian akan ... "


"Sebentar pak, bos Unus telepon. Kayaknya ada hal yang penting," interupsi Saturnus menghentikan pertanyaan ayah Saturnus.


Siti masih duduk mematung, ia masih was-was kalau orang tua Saturnus kembali menanyakan perihal kapan mereka menikah.


'Maafin kami ya pak, Bu, udah bohongin kalian,' Siti membatin karena merasa bersalah sekaligus berdosa sudah membohongi dan memupus harapan kedua orang tua Saturnus.


Tak lama kemudian, Saturnus kembali masuk ke ruangan itu. Siti dapat melihat kalau Saturnus terlihat tegang. Entah kenapa atasan Saturnus juga Oryza itu menelponnya. Ia yakin, pasti telah terjadi sesuatu yang buruk. Ia harap, mereka tidak apa-apa.


Ibu dan bapak Saturnus dapat melihat kalau anaknya itu tidak berbohong. Jadi mereka pun memberikan izin.


"Ya sudah, hati-hati ya, Nus! Lain kali kalau ada waktu, ajak nak Siti kemari lagi. Ibu sama bapak masih belum puas, pingin mengenal nak Siti lebih dekat," ujar ibu Saturnus yang diiyakan oleh Saturnus. Setelah itu, mereka pun berpamitan dan segera pergi dari sana.


...***...


Kini Siti dan Saturnus telah berada di mobil. Saturnus akan mengantarkan Siti kembali ke apartemen terlebih dahulu, baru ia akan kembali ke kantor. Di sepanjang perjalanan, Saturnus hanya diam dengan wajah menegang membuat Siti sibuk menduga-duga sebenarnya apa yang terjadi.


"Tuan, kalau boleh tahu, apa yang terjadi? Apa sesuatu terjadi dengan mabuk Ryza dan anak-anak?" tanya Siti yang juga ikut khawatir.


Saturnus mengangguk tanpa menoleh sedikitpun lalu ia menceritakan secara singkat apa yang baru saja terjadi pada Damar dan Oryza serta anak-anak di kedai es krim.


"Kalau Anda sibuk, sebaiknya saya pulang naik taksi saja tuan!" ujar Siti.


"Tidak apa, tidak perlu sungkan. Sebentar lagi juga sampai," ujar Saturnus dan memang benar tak berapa lama kemudian, mobil pun berhenti tepat di depan lobi apartemen.


Saat Siti sibuk melepaskan seat belt, Saturnus justru langsung melompat dan berlari memutar untuk membukakan pintu mobil bagi Siti. Siti sampai terperangah, ia tidak mengira, dibalik sifat kaku dan datarnya, Saturnus dapat memperlakukan seorang perempuan dengan baik dan bertanggung jawab. Padahal saat ini Saturnus sedang dikejar waktu, tapi ia tetap memperlakukannya dengan baik.


"Terima kasih atas bantuannya hari ini. Maaf saya hanya bisa mengantarkan sampai di sini," ujar Saturnus tulus.


"Tidak apa-apa, tuan. Saya paham, Anda sedang terburu-buru saat ini. Kalau begitu, hati-hati di jalan," ujar Siti seraya tersenyum lebar.


Tanpa sadar Saturnus tersenyum tipis lalu ia segera memutar persneling dan pergi dari sana meninggalkan Siti yang masih mematung di tempatnya.


...***...