![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Kelopak mata Ratu tampak bergerak-gerak. Oryza yang melihatnya pun segera mendekatkan wajahnya seraya tersenyum manis. Tangannya tak lepas menggenggam erat tangan Ratu, menyalurkan kehangatan dan kenyamanan pada putri tercinta.
Tak lama kemudian mata Ratu terbuka sempurna. Melihat sosok bundanya di saat pertama kali membuka mata, sontak saja membuatnya terkejut.
"Bu-bunda," cicit Ratu dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, sayang. Ini bunda," sahut Oryza yang juga sudah berkaca-kaca.
Huaaaaa .... hiks ... hiks ... hiks ...
"Bunda kemana aja? Kok lama banget ninggalin Latu sama Abang? Latu kangen bunda. Hiks ... hiks ... hiks ... " Raung Ratu menumpahkan segala kerinduannya pada sang bunda.
"Maafin bunda ya, sayang. Maaf, bunda nggak akan tinggalin kalian lagi. Maafin bunda ya, sayang," bujuk Oryza yang kini juga ikut tersedu.
Oryza lantas membungkukkan sedikit tubuhnya lalu memeluk erat tubuh sang putri seraya mengecupi puncak kepala hingga ke seluruh bagian wajah Ratu, membuat gadis kecil itu terkekeh geli.
"Bunda, Latu mau ikut bunda. Latu ndak mau di lumah itu. Latu ndak mau ikut Tante ulat bulu. Tante ulat bulu jahat, syuka malah-malah syama Latu syama Abang juga. Tante ulat bulu juga dolong Abang sampai jatuh. Latu mau ikut bunda. Latu ndak mau syama ayah," adu Ratu tergugu di pelukan Oryza.
Sontak saja, Oryza membulatkan matanya saat mendengar penuturan dan permintaan sang putri. Ia pikir Githa mau menerima anak-anaknya, tapi ternyata, perempuan itu hanya menginginkan mantan suaminya saja.
"Jadi Tante Githa suka marah-marah sama kalian?" tanya Oryza memastikan lagi. Dia juga tak ingin menyebutnya mama di depan anak-anak. Ibu Raja dan Ratu hanyalah dirinya, tak ada yang lain. Apalagi perempuan perusak rumah tangga seperti Githa, ia tak pantas mendapatkan panggilan mama dari anak-anaknya. Terserah dia dibilang egois. Ia tak masalah.
Ratu mengangguk cepat saat mendapatkan pertanyaan itu membuat Oryza menggeram marah. Dimana pun, seorang ibu takkan pernah rela anak-anaknya dimarahi orang lain, meskipun itu ayahnya sendiri. Apalagi orang yang memarahinya itu merupakan perempuan yang membuat rumah tangganya hancur.
"Tante Githa ada mukul kalian nggak?"
Ratu menggeleng cepat, ya Githa memang tidak pernah memukul. Tapi Githa kerap memarahi mereka juga membentak mereka.
"Pas Tante Githa dorong, Abang terluka nggak?" Oryza terus menanyai Ratu untuk mengetahui sebatas mana sikap buruk Githa pada anak-anaknya. Bila sampai kelewatan batas, maka ia akan bertindak tegas.
"Tangan Abang jadi bilu-bilu, Nda, di syini," tunjuk Ratu pada sikunya.
Oryza bernafas lega karena Githa tidak bertindak kelewatan pada anaknya. Tapi tetap saja, ia tidak membenarkan Githa yang sempat mendorong anaknya. Tapi ia juga perlu tahu mengapa sampai Githa mendorong Raja.
"Emangnya kenapa Tante Githa sampai dorong Abang? Abang buat salah?"
"Kami nangis mau ikut bunda tapi Tante ulat bulu malah masuk ke kamal telus malah-malah. Tante ulat bulu malah-malah syama Latu soalnya Latu nangisnya kenceng. Abang jadi malah telus dolong Tante ulat bulu bial kelual tapi abang malah didolong sampai jatuh," ujar Ratu menceritakan semuanya.
Oryza sadar, cara Raja salah, tapi seharusnya Githa tidak membalasnya begitu. Bagaimana pun Raja masih anak-anak, tak seharusnya Githa mendorongnya.
"Jadi Ratu mau ikut bunda?" tanya Oryza memastikan, tak ingin bersikap egois dengan memaksa anak-anaknya ikut dirinya.
Srooottt ...
"Oke, besok siang kita jemput Abang ya terus pindah ke rumah bunda, gimana?"
"Latu mau Nda, Latu mau. Yeay, kak Dodi ikut juga ndak Nda?" tanya Ratu dengan wajah polosnya. Ia kini sudah tidak menangis lagi.
"Menurut Ratu?" Oryza meminta pendapat sang putri.
"Ajak aja bunda, bial bisa temenin Latu syama Abang main," jawab Ratu cepat membuat Oryza terkekeh karena yang ada di pikiran anaknya itu hanyalah main saja.
"Ya udah, besok kita tanya bik Siti sama Dodi ya mau nggak ikut kita," ujar Oryza sebab Siti sekarang telah pulang ke rumah untuk menemani Raja dan Dodi.
...***...
"Assalamu'alaikum," ucap Oryza saat telah berdiri di depan rumah yang pernah menjadi tempatnya bernaung beberapa tahun belakangan ini. Ia tak mau langsung masuk ke dalam sana sebab itu bukanlah tempat tinggalnya lagi. Apalagi itu sebenarnya bukanlah rumah Hendrik, melainkan rumah mantan mertuanya. Saat persidangan kemarin juga ia tidak menuntut harta gono-gini. Walaupun sebenarnya ia bisa saja melakukan itu, tapi harga dirinya dipertaruhkan di sini. Terserah ia dibilang bodoh. Ia ingin melihat sebatas mana tanggung jawab Hendrik pada anak-anaknya. Bila ia tidak mau menafkahi mereka, ya sudah. Ia yakin, akan ada saja rejeki untuk membesarkan anak-anaknya kelak. Ia tak khawatir sebab ia percaya, Allah itu ada dan Allah-lah sebaik-baiknya tempat meminta.
"Wa'alaikum salam," sahut wanita paruh baya dengan mata berkaca-kaca. "Ryza," ucapnya sendu kemudian langsung berhambur memeluk tubuh semampai mantan menantunya itu. "Maafin mama, Za. Maafin mama yang nggak bisa mendidik anak mama sehingga ia melakukan hal bodoh dengan melepaskan berlian seperti kamu," ucap Oma Neni tergugu. Bahkan kini mereka masih di depan pintu.
"Ma, udah. Nggak enak dilihat tetangga," ujar Oryza seraya mengusap punggung Oma Neni.
"Za, apa nggak bisa kamu bertahan dengan Hendrik? Maaf kalau mama egois, tapi mama udah terlanjur sayang sama kamu. Kamu itu udah mama anggap seperti anak mama sendiri."
"Maaf ma, Ryza nggak bisa. Mama nggak perlu khawatir, kalau mama kangen sama Ryza, mama telepon aja, nanti kita bisa ketemuan di luar."
"Kenapa kamu nggak mau datang ke rumah ini lagi?"
"Maaf ma, Ryza nggak bisa. Mungkin ini untuk terakhir kalinya Ryza menginjakkan kaki Ryza di sini. Apalagi Hendrik sudah memiliki Githa, Ryza nggak mau menyulut kesalahpahaman di kemudian hari," ucap Oryza.
"Bunda," seru Raja seraya berlari menuju Oryza.
"Raja, kamu sakit nak?" tanya Oryza panik saat melihat wajah pucat sang putra.
Raja menggeleng, "Raja kangen bunda. Bunda, Raja mau ikut bunda," ucap Raja. Tangisnya pecah. Ia benar-benar tengah merindukan sang ibu.
"Oh, kamu udah datang! Bagus deh. Tuh, bawa segera anak kamu yang menyebalkan itu. Laki tapi cengeng. Nangis melulu, berisik," ucap Githa yang ternyata telah berdiri tak jauh dari posisi mereka.
"Githa," bentak Oma Neni kesal mendengar menantu barunya itu bersikap seperti itu.
"Mama bentak aku? Demi perempuan murahan itu?" teriak Githa tak terima dibentak Oma Neni.