![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Tak terasa sudah lebih dari 1 bulan Oryza bekerja dengan Damar sebagai asisten pribadinya. Semakin hari kedekatan mereka makin terjalin. Terkadang Oryza bingung dengan sikap Damar yang seakan ingin mendekati dirinya, tapi ia tak berani mengambil kesimpulan pun menduga-duga. Ia sadar diri, siapalah dirinya. Mungkin Damar bersikap baik dengannya karena ia menganggapnya teman. Ia juga sangat baik dengan anak-anaknya. Bahkan hampir setiap hari anak-anaknya pergi ke sekolah diantar Damar sekalian pergi ke kantor. Terkandung Oryza khawatir, ia takut jatuh hati atau baperan karena sikap Damar yang kelewat baik itu.
Tak jarang Damar juga mengajak Raja dan Ratu bertandang ke kantornya. Sontak saja hal tersebut membuat heboh seantero Angkasa Mall. Entah setiap baru datang ataupun pulang, ia sering mendapatkan tatapan sinis dari sesama pekerja yang ada di sana. Ia maklum saja. Ia sadar hal tersebut wajar saja terjadi.
Berbanding terbalik dengan Damar, ia justru kian uring-uringan. Sebenarnya ia sudah tak sabar untuk menyatakan perasaannya pada Oryza. Tapi ia belum bisa sebab masa Iddah Oryza belum usai. Ia menghargai itu. Sebab perempuan yang masih dalam masa Iddah tidak boleh dipinang apalagi menikah. Jadi ia hanya bisa menyimpan rapat-rapat keinginannya itu dalam hati, tanpa berani menyampaikan.
Damar tengah berdiri di depan sebuah kalender. Ia tampak sedang memandangi tanggal-tanggal yang telah ia beri tanda silang. Oryza yang tengah mengetik sesuatu sebagai tugas yang Damar berikan, lantas diam-diam mendekatinya untuk mencari tahu, sebenarnya apa yang sedang dilakukan atasannya tersebut.
Saat telah berdiri di belakang Damar, dahinya mengernyit. Ia bingung, sebenarnya tanggal apa yang disilang atasannya itu.
"Itu kenapa tanggalnya disilang ya?" gumam Oryza bingung.
"Hufth, kok lama banget ya, 90 hari udah kayak 90 tahun. Kapan aku bisa melamarnya coba?" desah Damar yang tak sadar Oryza telah berdiri di belakangnya.
Sontak saja, mulut Oryza menganga karena terkejut. Ia baru tahu kalau atasannya itu sudah memiliki orang yang disukai dan sedang menunggu momen untuk melamarnya.
'Astaga, untung aku orangnya nggak baperan! Coba kalau iya, bisa potek deh hati ini. Hmmm ... kira-kira siapa ya cewek yang beruntung itu?' batin Oryza bermonolog.
Tiba-tiba Oryza terbayang tubuh shirtless dan dada pelukable Damar tempo hari. Wajahnya seketika memerah membayangkan betapa beruntung perempuan yang bisa menjadi pendamping Damar yang bukan hanya tampan, mapan, dan baik luar biasa. Bisa peluk-pelukan tiap hari.
'Astaga, kok aku jadi iri sama cewek itu ya! Padahal lihat orangnya aja belum.'
Oryza menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir pikiran nakalnya yang mulai travelingan.
(Biar puassss liat yang shirtless pelukable. 🤣😂😂🤪)
(Mau yang lebih jelas, noooh! ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤)
"Za," cicit Damar terkejut saat mendapati Oryza berdiri di belakangnya. Tapi karena otaknya sedang sibuk traveling, Oryza tak mendengar sama sekali cicitan Damar itu.
Pletak ...
"Awww ... " Oryza meringis saat merasakan jentikan cukup kuat di dahinya.
"Ngapain kamu?" ketus Damar dengan mata menyipit.
"Ng-nggak, tuan. Aku nggak ngapa-ngapain kok," kilah Oryza seraya tersenyum lebar.
"Bohong,"
"Saya serius tuan."
"Jujur."
"Saya kan udah jujur."
"Bohong."
"Ck ... kan saya udah bilang saya jujur, tuan!" desis Oryza kesal.
"Bohong."
"Ck ... tuan nyebelin deh!" kenal Oryza segera berlalu dari sana sambil berjalan menghentak-hentakkan kaki membuat Damar terkekeh melihatnya.
...***...
"Sayang, gaun yang ini bagus nggak?" tanya Githa pada Hendrik saat telah berada di Amel's Butik.
"Emmm ... bagus," ucap Hendrik setelah meliriknya sekilas.
Githa berdecak kesal sebab ia sudah 3 kali ganti gaun, tapi tak ada yang membuat Hendrik antusias apalagi memujinya.
Lantas Githa membalik tubuhnya hendak masuk ke kamar ganti. Tapi belum sempat Githa masuk, ia justru melihat keberadaan Tisya yang tengah mengobrol dengan salah seorang pegawai butik. Githa tersenyum sinis kemudian segera menghampirinya.
"Hai, mau beli gaun ya?" sapa Githa dengan bibir meliuk sinis membuat Tisya dan pegawai Amel's Butik menoleh bingung. "Eh, nyadar diri kenapa sih? Jadi sugar baby aja bangga mau sok-sokan pakai gaun mahal. Duit hasil jual diri aja bangga," cibir Githa terang-terangan bermaksud membalas dendam dengan Tisya dengan mempermalukannya.
Sontak saja beberapa pegawai butik Amel's Butik membulatkan matanya. Mereka terkejut dengan kata-kata yang baru saja dilontarkan Githa. Pun para pengunjung, mereka jadi ikut-ikutan kasak-kusuk dan menduga-duga. Mendengar hal itu, bukannya marah atau memaki, Tisya justru terbahak-bahak.