![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Sepanjang perjalanan menuju ke apartemen Oryza, wajah Hendrik tampak begitu sumringah. Senyum seakan tak mau luntur dari bibirnya. Ia merasa begitu senang bisa menyambangi kediaman mantan istrinya itu, walaupun harus memanfaatkan ibunya.
Sudah cukup lama ia tidak menyambangi kediaman mantan istrinya. Sebenarnya bukan tidak datang, tapi tidak diperbolehkan masuk. Bahkan melihat wajah cantik mantan istrinya pun tidak sebab setiap ia datang, pasti Siti melarangnya masuk dengan alasan Oryza tidak mempersilahkan siapapun masuk ke kediamannya tanpa izinnya.
Jadi, ia hanya bisa menghampiri anak-anaknya saja, tanpa sang ibu. Itupun hanya sebatas bertemu di depan pintu. Tapi kini, keberuntungan sepertinya sedang berpihak padanya. Ibunya tiba-tiba mencetuskan kerinduannya pada cucu-cucunya dan juga masakan Oryza. Sebenarnya bukan hanya ibunya, tapi juga dirinya yang merindukan momen-momen makan bersama dengan keluarga kecilnya dulu. Menikmati makanan yang dibuat sendiri oleh sang mantan istri. Masakan Oryza memang sangatlah nikmat dan sesuai dengan seleranya. Tidak seperti Githa yang tidak bisa memasak sama sekali. Kerap dimanjakan membuat Githa tidak bisa melakukan apa-apa selain bersenang-senang dan menghamburkan uang.
Butuh waktu kurang dari 1 jam untuk tiba di apartemen Oryza. Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Hendrik pun mengajak Oma Neni masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai dimana unit apartemen Oryza berada. Belum sempat pintu lift tertutup, sebuah tangan kekar menyelinap hingga pintu pun kembali terbuka.
Rahang Hendrik tiba-tiba mengeras, giginya bergemeluk, sorot matanya menajam saat melihat seorang pria tampan dengan setelan kasual tapi tetap menawan dan rambut tertata rapi masuk ke dalam lift. Hendrik membuang wajahnya seraya mendengus saat sosok tersebut memasang senyum lebarnya seolah mengejek keberadaannya di gedung itu.
"Selamat malam tuan Hendrik. Senang berjumpa denganmu lagi," ucap Kiandra ramah seraya mengulurkan tangannya.
Namun, bukannya merespon dengan menyalami balik, Hendrik justru kembali mendengus dengan senyum sinis.
"Nggak usah basa-basi-basi busuk. Ngapain kamu di sini?" Sinis Hendrik dengan sorot mata menantang.
Oma Neni yang awalnya diam pun ikut bersuara.
"Kalian saling mengenal?" tanya Oma Neni ramah.
Kiandra pun tersenyum ke arah Oma Neni lalu mengulurkan tangannya sopan.
"Oh, maaf, Anda ibunya tuan Hendrik?" tanya Kiandra basa-basi dan Oma Neni pun mengangguk. "Ah, kalau begitu perkenalkan, saya Kiandra, mantan pengacara Oryza tempo hari," ujar Kiandra yang ditanggapi Oma Neni dengan ber'oh ria saja.
"Saya ulang pertanyaan saya tadi, ngapain kamu di sini, hah?" ketus Hendrik membuat Kiandra tersenyum simpul.
"Menurutmu?" tanya balik Kiandra sambil mengangkat sebelah alisnya membuat Hendrik mengepalkan kedua tangannya.
"Jangan kau harap kau bisa mendapatkan Oryza karena Oryza hanya milikku! Dan aku yakin hingga kini ia masih mencintaiku," ujar Hendrik dengan penuh kepercayaan diri sambil mengangkat dagunya.
Kiandra melipat bibirnya geli lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Enggan menjawab. Percuma saja pikirnya, buang-buang napas dan tenaga saja. Kiandra merasa salut dengan sikap percaya diri seorang Hendrik Atmaja. Seyakin itu dirinya kalau Oryza akan kembali padanya. Hah, dia belum tau saja!
Denting lift berbunyi membuyarkan ketegangan di dalam lift itu. Oma Neni sejak tadi sudah was-was, bagaimana kalau kedua pria itu tiba-tiba terlibat adu jotos di ruangan kecil itu, ah bisa-bisa ia terkena imbasnya. Dari kata-kata Hendrik tadi, Oma Neni dapat mengambil kesimpulan kalau mantan pengacara Oryza itu tertarik pada mantan menantunya. Beruntung, lift terbuka tepat sebelum suasana makin memanas. Akhirnya, Oma Neni bisa bernafas lega.
Dan benar saja, pria yang bernama Kiandra itu pun turut berdiri di depan pintu apartemen Oryza. Oma Neni sampai menelan ludahnya. Ia harap, tidak terjadi pertumpahan darah setelah ini.
Kiandra yang baru saja mengulurkan tangan untuk memencet bel, tiba-tiba saja ditepis Hendrik. Ia pun segera menarik tangannya kembali dan memasukkannya ke dalam saku, sedangkan tangan kanannya masih memegang paper bag yang entah apa isinya. Justru Hendrik dan Oma Neni datang dengan tangan kosong, membuat Oma Neni merutuk dalam hati, bagaimana bisa merebut hati Oryza, berkunjung saja membawa tangan hampa. Ia juga lupa, terlalu senang bisa bertemu dengan cucu-cucunya sampai lupa membeli sekedar camilan untuk kedua bocah lucu itu.
Ting tung,
Ceklek ...
"Oryza," lirih Oma Neni yang langsung berhambur memeluk Oryza yang masih mematung. Ia terlalu terkejut saat melihat kedatangan tamu tak diundang. Bukan hanya karena kedatangan Hendrik, tapi juga Oma Neni dan Kiandra.
"Hai, Za," sapa Kiandra cepat .
"Malam Za, maaf ganggu malam-malam soalnya mama kangen sama kamu dan anak-anak," ujar Hendrik dengan tersenyum semanis mungkin menjelaskan agar ia diizinkan ikut masuk ke dalam.
"Siapa, Za?" tiba-tiba terdengar suara laki-laki dewasa dari dalam apartemen membuat ketiga orang yang masih berdiri di ambang pintu terperangah tak percaya. Apalagi saat mereka mendapati seorang pria tampan rupawan nan gagah tengah memakai apron keluar dari ruang tengah dengan Ratu yang bergelayut manja di gendongannya. Mereka persis keluarga kecil bahagia.
...****************...
...Yeay, akhirnya mereka reunian! 🤣😂...
...****************...
...Happy reading 🥰🥰🥰...