[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.36



Sebuah mobil Pajero sport berhenti tepat di depan sebuah gedung apartemen berlantai 30. Tak lama kemudian, seorang perempuan cantik turun dari dalamnya seraya mengulas senyum pada seseorang yang masih duduk di balik kemudi. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, mobil itu kemudian melaju meninggalkan pelataran lobi apartemen meninggalkan perempuan tadi yang telah terlebih dahulu membalik tubuhnya untuk masuk ke dalam lobi.


Brukkk ...


"Astagfirullahal adzim," serunya saat tiba-tiba saja tubuhnya tak sengaja menabrak dada bidang yang amat kokoh dari seseorang hingga ia nyaris terduduk. Namun, hal itu tak terjadi sebab sudah ada pergelangan tangan yang melingkari pinggangnya sehingga ia tidak jadi terjatuh.


Oryza pun lantas segera menegakkan tubuhnya seraya melepaskan tangan seseorang itu sambil menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang karena nyaris jatuh.


"Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang dengan suara yang cukup merdu di telinga Oryza. Oryza pun lantas mendongak untuk melihat siapa gerangan yang ditabraknya. Seketika matanya membulat saat mendapati atasannya lah yang berdiri tegak menjulang tinggi di hadapannya.


"Tu-tuan," cicit Oryza terkejut. "Emmm ... maaf, tuan, saya tadi tidak fokus saat berjalan," ucap Oryza gugup saat berhadapan dengan Damar yang memasang wajah datar tanpa ekspresi.


Kemudian Damar berjalan ke sisi Oryza membuat Oryza mendesah, ia pikir mungkin atasannya itu marah padanya.


'Huh, siap-siap harus cari pekerjaan baru nih!' gumamnya dalam hati. Ia masih berdiri di posisinya semula.


"Ini," tiba-tiba sebuah tangan terulur menyerahkan ponselnya membuat Oryza lagi-lagi terkejut.


"Jangan main ponsel saat berjalan! Bahaya. Beruntung kamu bukan berada di jalan raya," peringat Damar saat Oryza sudah mengambil ponselnya dari tangan Damar.


"Terima kasih. Maaf tuan, saya benar-benar tak sengaja," ucap Oryza sambil sedikit menunduk. Walaupun kini mereka tengah berada di luar kantor, tetap saja, Damar adalah atasannya jadi ia harus bersikap sopan padanya.


"Tidak apa-apa. Lain kali lebih berhati-hatilah!" ucap Damar seraya mengusap lembut kepala Oryza sebelum benar-benar berlalu dari hadapannya.


Mata Oryza seketika membulat saat tangan Damar mampir di atas kepalanya. Tiba-tiba saja, jantung Oryza berdebar tak menentu saat mengingat betapa lembutnya cara Damar mengusap kepalanya. Seakan mengusap kepala orang yang disayangi.


Oryza menggelengkan kepalanya. Ia tak mau berasumsi macam-macam. Mungkin Damar memang orang yang lembut dalam memperlakukan orang lain. Ia tak boleh terlalu baperan hanya karena sebuah usapan lembut di atas kepalanya.


"Eh, si bos kok ada di sini ya? Apa tuan Damar juga tinggal di sini?" Oryza bermonolog dengan dirinya sendiri. Tak mau banyak berpikir, Oryza pun segera melangkahkan kakinya menuju ke lift yang akan mengantarkannya ke lantai dimana unitnya berada.


...***...


Oryza kini tengah merebahkan tubuhnya lelahnya di atas tempat tidur. Ia duduk bersandar di kepala ranjang seraya menatap foto-foto Raja dan Ratu yang memang sering ia abadikan di setiap kesempatan. Akhirnya, rasa rindunya akan segera terobati. Ia sudah tak sabar memeluk tubuh anak-anaknya. Kerinduannya kini kian membuncah.


Lalu ia memilih salah satu foto dan mempostingnya di story WhatsApp miliknya.


...Finally, see you tomorrow kesayangan bunda. 😘...


dddrttt ....


"Hai," tiba-tiba terdengar sapaan ramah dari seberang telepon.


"Maaf, ini siapa?" tanya Oryza mengabaikan sapaan orang itu.


"Eh, maaf, kamu belum simpan nomor aku tadi ya! Ini aku, Kiandra. Maaf mengganggu waktu istirahat mu," ujar Kiandra ramah.


"Ah, iya, maaf. Iya, tadi kan aku belum save nomor kamu," sahut Oryza setelah tahu kalau yang menghubunginya adalah Kiandra.


"Belum tidur?" tanya Kiandra.


"Kalau udah?"


"Maaf," sahut Kiandra. "Tapi dari suaranya belum kan? Atau udah mau tidur?"


"Belum sih, sebentar lagi. Oh ya, sekali lagi terima kasih ya udah bantuin aku di persidangan tadi," ucap Oryza tulus.


"Aku nggak ngelakuin hal besar kok. Semua bukti udah tersedia, hal itu tentu mempermudah perceraian kalian. Tapi ... apa kamu nggak apa-apa?" tanya Kiandra dengan nada khawatir sebab setahunya perceraian akan membuat perempuan terluka bahkan terpuruk. Terlebih mereka bercerai karena sang suami berselingkuh.


"Maksudnya?" tanya Oryza bingung.


"Perceraian kalian, apa kamu nggak apa-apa?"


"Tenang aja, aku nggak apa-apa. Aku nggak selemah itu. Tak ada gunanya meratap, bukan? Justru aku kini tengah berbahagia sebab besok aku akan bertemu anak-anakku," ungkap Oryza jujur. Tak perlu sok tegar ataupun menutupinya, bukan karena memang ia justru sedang berbahagia.


"You are a great mom," puji Kiandra.


Oryza terkekeh, "Hebat apanya? Tak ada yang patut dibanggakan dari diriku."


"Tapi kau memang ibu yang hebat sebab bisa tetap tegar meskipun rumah tanggamu tengah dihantam gelombang sampai karam seperti ini."


"Ini bukan persoalan hebat atau tidaknya, tapi begitulah naluri seorang ibu. Perempuan memang makhluk yang paling lemah dan rapuh. Tapi ia bisa berubah menjadi kuat karena anak-anak sebab anak-anak adalah sumber kekuatan bagi seorang ibu. Di sini, aku berjuang bukan hanya untuk diriku sendiri. Tak dapat aku pungkiri kalau aku terluka, tapi bukan berarti aku harus terpuruk karena ada anak-anakku yang kini pasti sedang menantikan dan membutuhkan diriku. Because the source my happiness is my children." pungkas Oryza sebelum panggilan itu ditutup.


Baru beberapa detik panggilan itu ditutup, di layar ponselnya telah tampil nomor pemanggil kembali. Melihat nama penelpon, dengan cepat Oryza pun mengangkatnya. Mata Oryza seketika memanas. Bahkan bahunya telah bergetar. Tak mau membuang waktu lama-lama, Oryza segera berganti pakaian dan memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian keluar dari apartemennya menuju ke suatu tempat.


...***...