[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.91



"Hai, Sya!" sapa Kiandra pada Tisya yang sedang sibuk memilih ingin mengambil kudapan apa sebab semua menu yang terhidang sungguh menggugah seleranya. Apalagi dirinya memang penggemar makan. Untung saja tubuhnya tidak mudah melar. Bila iya, sudah dipastikan tubuhnya akan sebesar gentong karena doyan makan dan ngemil di setiap waktu.


"Eh, kak Kian. Mau ngambil kue juga?" tanya Tisya.


"Menurut kamu, kue mana yang enak?" Kiandra justru balik bertanya membuat bibir merah muda Tisya merekah.


"Apa ya? Kalau menurut Tisya sih, semuanya enak, kak. Apalagi kalau makannya sambil maandangin wajah Tisya, pasti bakal lebih enak lagi," ujarnya seraya nyengir 5 jari membuat Kiandra tergelak.


"Bisa ngegombal juga, heh?" cibir Kiandra seraya tersenyum mengejek.


"Ck ... kak Kian ih, buat Tisya malu aja. Kalau cowok lain Tisya gombalin dikit langsung klepek-klepek, kok kak Kian malah ngejek. Nggak asik ih!" Tisya mencebikkan bibirnya membuat Kiandra terkekeh lantas ia menjepit bibir Tisya dengan jarinya membuat Tisya melotot tajam.


"Kamu gemesin banget sih lagi manyun kayak gini, kayak bebek tau nggak!"


"Kak Kian ih. Tisya kasih tau ayah tau rasa loe!"


"Kasi tau aja, weekkk ... Palingan entar kita dikira pasangan yang lagi berantem terus dinikahin."


"Ih, ogah ya nikah sama kakak yang super nyebelin." Tisya menarik satu sudut bibirnya seraya mencibir.


"Emangnya kenapa kamu nggak mau?"


"Karena kakak ganteng," jawab Tisya membuat Kiandra menaikkan kedua alisnya bingung.


"Bukannya cewek suka cowok yang ganteng ya?"


"Itu cewek lain, kalo Tisya nggak tuh. Tisya alergi sama cowok ganteng. Selain papa, om Angga, om Lian, bang Damar and the gank, Tisya alergi. Bye kak Raden Kian Rantang." Tisya pun segera berlalu seraya melambaikan tangannya ala Miss abal-abal.


Sontak saja, aksi Tisya yang absurd itu membuat Kiandra membelalakkan matanya. Sungguh anak om Robi itu aneh bin ajaib pikirnya. Bila dimana-mana para gadis sangat menyukai cowok yang ganteng kok dia malah alergi.


"Apa jangan-jangan dia ... " Kiandra bergidik ngeri sendiri tapi pikiran buruk itu langsung ditepisnya saat ia melihat Tisya sedang curi-curi pandang dengan seorang pria yang saat ini sedang duduk di sebelah anak kecil dan ibunya.


"Katanya alergi cowok ganteng, lha itu ... Dasar bocah nakal!" desis Kiandra seraya tersenyum miring.


Sementara itu, di kursinya tampak Saturnus curi-curi pandang pada Siti yang kini sedang mengawasi sang putra yang tengah makan. Ingin ia menyapa Siti, tapi entah mengapa lidahnya begitu kaku walau sekedar untuk basa-basi.


Saturnus bukanlah pria yang suka bicara. Ia merupakan pria introvert. Sejak kecil, ia tak terbiasa bersosialisasi dengan orang lain kecuali keluarga. Karena itu, ia pun tidak memiliki teman. Hal yang membuatnya kian introvert adalah lingkungan. Dirinya yang berasal dari keluarga menengah ke bawah sering mendapatkan perlakuan kurang baik. Di sekolah pun ia kerap mendapatkan pembullyan sebab ia masuk ke sekolah melalui jalur siswa berprestasi. Ia kerap dibully karena dianggap tak pantas bersekolah di sekolah yang bonafid. Akibatnya, sisi introvert-nya makin parah membuat ia tak terbiasa bersosialisasi dengan orang lain pun membina pertemanan.


Saat matanya sibuk melirik ke arah Siti, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Saat melihat siapa yang menelponnya, Saturnus pun dengan sigap mengangkatnya. Wajah yang tadi datar kini berubah pias. Tanpa basa-basi, ia berdiri dan meraih pergelangan tangan Dodi dan Siti di sisi kiri dan kanannya membuat pandangan penuh tanya dari Siti.


"Tolong ikut aku sebentar! Kita ajak Dodi juga," ujarnya tanpa menjelaskan apa-apa membuat Siti terpaksa menyeret langkahnya mengikuti Saturnus pun dengan Dodi yang menatap keduanya bingung.


...***...


"Bang, kok Yesha tadi kayak murung gitu ya? Apa dia ada masalah?" tanya Oryza setibanya mereka di kamar yang telah dihiasi layaknya kamar pengantin. Bahkan lebih indah dengan taburan kelopak bunga mawar merah dan putih hampir di setiap sudut membuat kamar itu terasa begitu harum.


Bukannya menjawab, Damar justru melingkarkan tangannya di perut Oryza dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Oryza sambil meninggalkan jejak basah nan hangat membuat wanita itu seketika meremang hingga tidak menyadari ponsel yang digenggamnya berdering.


Karena serangan tiba-tiba itu, tanpa sadar Oryza menekan tombol hijau bersamaan suara ******* tertahan yang keluar dari bibir sensual Oryza.


"Aaaaakh ... a-bhaaang," desahnya lirih namun terdengar cukup jelas hingga ke seberang telepon membuat seseorang yang hendak menelponnya tadi seketika meradang.


Brakkkk ...


Ponsel yang digunakan orang itu untuk menelpon sampai jatuh ke lantai dan menimbulkan retakan di layar.


"Bang-sat, sialan, breng-sek. Apa yang mereka lakukan? Aaaarggghhh ... " Raungnya frustasi sambil melemparkan apa saja yang bisa ia jangkau.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...