[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.44 Jiwa yang rapuh



Entah apa yang ada dipikiran Damar saat ini, Oryza benar-benar penasaran. Begitu banyak drama mengejutkan yang terjadi hari ini, mulai dari jadi sekretaris pribadi dadakan, lalu kedatangan ibu dari atasannya yang begitu baik padanya sampai ia dibuat bingung, kemudian kini mereka belanja berdua dengan Damar seperti pasangan pengantin baru.


Flashback on


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang dengan suara lembutnya seraya membuka pintu. Oryza yang masih tampak mengelap seraya memilah buku-buku sesuai abjad pun lantas menoleh dan menyahuti ucapan itu bersamaan dengan Damar.


"Wa'alaikum salam," sahut Oryza dan Damar bersamaan. "Ah, mama akhirnya datang juga! Tahu banget Abang udah lapar banget ini," ujar Damar seraya tersenyum manis setelah menyalami sang ibu dan memeluknya sayang.


Oryza yang tangannya tengah memegang lap dan buku sampai terpaku dengan interaksi ibu dan anak itu. Atasannya bahkan sampai tersenyum sangat manis membuat kadar ketampanannya naik berkali-kali lipat. Oryza sampai tanpa sadar memujinya dalam hati.


"Za," panggil Damar. "Oryza," serunya seraya menepuk pundak Oryza yang termangu membuatnya tersentak dan merasa malu sendiri.


"Eh, i-a-ada apa tuan?" tanya Oryza gelagapan.


"Ngelamunin apa sih? Mama aku sampai nyapa kamu berkali-kali tapi nggak nyahut malah bengong. Oooh, pasti dia kagum sama mama nih, udah berumur tapi masih cantik banget," ucap Damar dengan memasang wajah ceria. Sangat berbeda dari kesehariannya selama ia bekerja di sini. Oryza sampai bertanya-tanya, apakah atasannya itu memiliki kepribadian ganda?


"Em ... maaf nyonya, saya ngelamun tadi," ujar Oryza terbata sambil tersenyum kikuk.


"Jangan panggil nyonya ah, panggil Tante, ibu, atau mama kayak Damar juga boleh," ujar Anggi seraya tersenyum penuh arti.


"Hah? Ah, nggak ah nyonya, nggak sopan kayak gitu. Saya kan cuma karyawan biasa di sini. Apa kata orang kalau tahu saya bersikap nggak sopan kayak gitu," tolak Oryza membuat Anggi terkekeh.


"Kamu gemesin banget, sayang. Kenapa mesti mikirin perkataan orang sih? Kan saya sendiri yang minta, jadi nggak masalah kan," ujar Anggi seraya mendudukkan bokongnya di sofa.


"Eeee ... kalau gitu, saya panggil ibu aja deh!" tukas Oryza seraya menggaruk-garuk samping lehernya dengan telunjuknya.


"Oh, ya udah. Kamu udah makan?" tanya Anggi seraya membuka satu persatu paper bag yang ia bawa.


Melihat Anggi sedang mengeluarkan sesuatu yang sepertinya makan siang sang atasan, Oryza pun segera berdiri dan menyiapkan perlengkapan makan Damar seperti piring, sendok, dan air putih.


"Wah, makasih ya sayang!" ujar Anggi yang tak henti-hentinya memasang wajah ramah. "Piring buat kamu mana? Kita makan bareng aja. Ibu masak banyak kok."


Oryza sampai tak menduga, orang tua atasannya ini begitu ramah dan lembut. Ia pikir, orang kaya pasti akan bersikap sok angkuh, tapi Anggi tidak sama sekali. Ia seperti melihat sosok ibu yang begitu sempurna pada diri Anggi. Sejak kecil, ia sering merasa iri melihat teman-temannya yang memiliki ibu yang begitu perhatian dan menyayangi mereka, tidak seperti ibunya yang justru menjaga jarak dan cenderung memasang wajah penuh kebencian.


Oryza memang masih memiliki seorang ibu, tapi ibunya selalu mengabaikannya. Dulu ia begitu penasaran alasan ibunya seperti tak menyukai dirinya dan ayahnya, ternyata itu karena ayah dan ibunya menikah akibat perjodohan. Karena itu, setelah ia lahir, ibu Oryza seakan melepas tanggung jawabnya. Ia merasa tugasnya sebagai seorang istri telah usai jadi ia bebas untuk melakukan apa yang ia inginkan. Hingga akhirnya ibunya berselingkuh kemudian benar-benar meninggalkan ayahnya. Membuat ayahnya jatuh terpuruk, sakit-sakitan, kemudian meninggal.


Mengingat hal itu, tiba-tiba dada Oryza terasa sesak dan matanya pun terasa panas. Kaca bening tampak membingkai bola mata jernih Oryza. Damar yang lebih dahulu menyadari hal tersebut lantas mendekat dan menepuk pelan pundak Oryza. Oryza lantas menoleh. Tatapan itu menyiratkan luka yang tak terkatakan. Oryza lantas berkedip pelan, bulir bening itu pun sukses membasahi pipinya yang putih mulus tanpa banyak polesan.


Dada Damar seketika sesak. Jantungnya seakan dicengkeram dan diremas begitu kuat. Ingin rasanya Damar merengkuh tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. Tapi sayangnya ia belum bisa melakukan itu.


Anggi yang paham situasi sepertinya Oryza tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya bersedih lantas berdiri dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Diusapnya punggung Oryza yang bergetar karena menahan isakan. Dapat ia rasakan, Oryza tengah menanggung duka yang mendalam dalam diamnya.


Anggi paham, Damar pun sudah menceritakan perihal perselingkuhan mantan suaminya yang menorehkan luka. Sebagai seorang wanita yang juga pernah merasakan sakitnya diduakan, tentu ia paham duka dan lara yang Oryza pendam. Namun sepertinya, ada luka lain yang tidak diketahui orang lain. Bagaimana pun, dirinya perempuan dan dirinya bisa merasakan. Namun, Anggi tidak bisa banyak bertanya. Akan ada hari, Oryza akan mengungkapkan segalanya tanpa rasa canggung lagi. Anggi yakin itu.


...***...


...**Satu dulu ye! Insya Allah nyusul 1 bab lagi....


...🥰🥰🥰...


...Happy reading**...