![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
"Sialan, kenapa dia ada di sini juga sih! Semoga dia nggak liat gue. Hufth ... semua gara-gara Ramon bajing-an," sentak Ayesha frustasi setelah masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan keras "Duh, gimana kalau papi tahu! Bisa mampus deh gue udah ngecewain mami dan papi. Aaargh ... sialan ... sialan ... breng-sek!" raungnya frustasi karena kejadian yang dialaminya beberapa hari lalu sebelum ia kembali dari London.
Ayesha pun dengan cepat menyalakan mobilnya lalu menekan persneling dan memutar kemudinya keluar dari basement hotel. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan mimik wajah yang sulit dimengerti.
(Cerita Ayesha kayaknya entar mau dibuat buku baru aja kak biar ada cuan kontraknya walaupun sedikit. Soalnya kalau digabung, sedih othor sehari cuma dapat 2.000'an doang perhari. 🤭 Kadang othor sampai mikir mau pindah lapak. Kalo yg udah femes mah enak. Mereka udah banyak pembaca setia jadi penghasilan mereka mengalir deras. Pantesan aja banyak author yg Hiatus pindah ke lapak lain krn ya gitu, hasil kerja keras mrk kyk nggak sebanding. Kalau gini terus, entah deh, bisa-bisa othor pun nyobain lapak lain. Doain othor semoga banyak pembaca ya kak, biar bisa tetap stay di sini. 😁 Maaf banget kalau ceritanya diselingin curcol. 🙏🙏🙏)
...***...
"Tha, ada yang ingin aku bicarakan!"
Terdengar panggilan Hendrik dari ambang pintu membuat Githa yang sedang memainkan ponselnya lantas menoleh.
"Mau bicara apa, mas? Bicara aja, aku pasti dengerin kok," ucap Githa lembut. Ia harap dengan bersikap lembut, Hendrik dapat melembutkan hatinya dan menerima keberadaan dirinya sebagai istri. Karena sebenarnya ia benar-benar mencintai Hendrik. Sejak pertama kali datang ke kantornya untuk mendampingi sang ayah mengajukan proposal kerja sama, semenjak itu ia jatuh hati pada sosok Hendrik.
Ayahnya sebenarnya sudah memperingatkannya kalau Hendrik telah menikah, tapi Githa kekeuh menginginkan Hendrik menjadi kekasihnya. Hingga akhirnya mereka ketahuan ngamar di salah satu hotel membuat Helmi terpaksa menikahkan mereka walaupun hanya secara siri. Terserah bila ada yang mengatakannya sekedar terobsesi, yang pasti ia menginginkan Hendrik hanya menjadi miliknya.
"Kita bicara di luar saja. Aku tunggu," ucap Hendrik dingin membuat Githa mendadak gelisah. Jantungnya berdegup kencang. Apalagi nada bicara Hendrik terdengar begitu dingin. Tidak seperti biasanya. Walaupun akhir-akhir ini hubungannya sedikit rumit dan cenderung memburuk, tapi Hendrik tak pernah bicara sedingin ini. Satu Minggu ini, Hendrik tak pernah mau bicara dengannya sama sekali. Hendrik selalu mengurung diri sepanjang hari, bahkan saat berada di meja makan yang sama, Hendrik diam tanpa suara. Dan pagi ini adalah untuk pertama kalinya Hendrik berbicara dengannya setelah kematian sang ibu.
"Baiklah, tunggu sebentar," ujar Githa berusaha menekan degupan jantungnya yang menggila karena khawatir. Ia benar-benar takut saat ini. Entahlah, ia merasakan firasat buruk.
Dengan cepat, Githa masuk ke kamar mandi lalu menyelesaikan hajatnya kemudian mencuci muka dan menggosok gigi. Merasa khawatir, ia pun sengaja berlama-lama untuk menenangkan hatinya yang dihantui pikiran buruk. Entah berapa lama ia habiskan waktu di dalam kamar mandi. Khawatir Hendrik murka, ia pun bergegas menuntaskan urusannya dan segera menyusul Hendrik yang telah duduk di ruang tamu.
Degupan jantungnya kian menggila. Di meja, ia melihat kunci mobil yang ia belikan untuk Hendrik tergeletak begitu saja. Mungkin setelah ini, Hendrik ingin pergi pikirnya. Githa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Dengan perasaan tak menentu, Githa pun duduk berseberangan dengan suaminya itu.
"Mas, mau bicara apa? Kayaknya penting banget?" tanya Githa lembut membuat Hendrik yang awalnya melamun tersentak dan menatap Githa yang telah duduk di seberangnya. Hendrik menghela nafasnya. Setelah beberapa hari berpikir, mungkin inilah saatnya ia membicarakan tentang kelanjutan hubungan mereka.
"Tha, sebelumnya aku minta maaf bila setelah mendengar ini kau mungkin akan sakit hati dan terluka. Tapi aku sudah memikirkan ini secara matang. Aku ... ingin kita bercerai," ucap Hendrik membuat Githa terlonjak kaget hingga berdiri dengan raut wajah penuh emosi.
"Apa maksud kamu, mas? Kau ingin menceraikan aku? Setelah segala pengorbanan aku? Apa karena aku tak kaya lagi? Ayahku di penjara? Iya? Kamu keterlaluan, mas. Atau ... ini karena jalaang itu? Kau ingin kembali padanya?" pekik Githa meluapkan segala asumsinya dengan buncahan emosi yang meletup-letup.
"Sudahlah, Tha, tak ada yang bisa kita pertahankan dari hubungan ini. Aku tahu, aku salah. Kita berdua salah. Dan aku ... ingin memperbaiki diriku. Hubungan ini salah. Aku ... aku tak pernah mencintaimu. Aku ingin bercerai demi kebahagiaanmu. Tak ada gunanya mempertahankan hubungan ini karena hanya akan membuatmu sakit hati. Kita sudahi saja. Aku ingin membebaskanmu dari hubungan yang hanya akan memberimu luka. Aku yakin, kau akan menemukan kebahagiaanmu sendiri. Aku yakin, kau akan menemukan seseorang yang dapat mencintaimu dengan tulus, tapi itu bukan aku. Apalagi pekerjaanku tak sebagus dulu. Aku takkan mungkin bisa memenuhi kebutuhan hidupmu. Maafkan aku," imbuh Hendrik dengan sorot mata sendu.
Mendengar penuturan Hendrik, air mata Githa turun membasahi pipinya. Ia tak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari Hendrik. Hatinya hancur berkeping-keping. Dirinya tidak pernah menyangka akan sesakit ini saat mendengar pernyataan Hendrik yang tak pernah mencintainya. Dirinya yang sejak kecil terbiasa mendapatkan segalanya merasa begitu shock saat tahu kenyataan pahit itu. Bahkan, Hendrik ingin menceraikannya dengan alasan agar ia bisa mendapatkan lelaki lain yang mencintai dirinya. Tidak, ia tidak menginginkan laki-laki lain. Yang ia inginkan hanya Hendrik. Ia akan mencoba menjadi seperti yang Hendrik inginkan asal Hendrik tetap mempertahankannya. Ia bahkan rela bila harus hidup sederhana asal ia tetap bersama Hendrik. Ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Ayahnya masuk rumah penjara, ibunya meninggal karena sakit jantung sehari setelah papanya ditangkap polisi. Kini dirinya hanya memiliki Hendrik. Ia tak sanggup kehilangan Hendrik. Ia tak mau kehilangan orang yang dicintainya.
"Mas, aku mohon, jangan ceraikan aku. Aku tak apa mendapatkan cintamu, aku yakin seiring bergulirnya waktu, rasa cintamu akan tumbuh untukku. Aku juga rela hidup sederhana asal kau tetap bersamaku, aku mohon!" bujuk Githa dengan raut wajah memelas.
"Maaf, Tha, keputusanku sudah bulat."
"Nggak," tiba-tiba Githa berteriak murka. Raut wajah sendunya seketika berubah merah padam. "Kamu nggak bisa buang aku gitu aja. Aku nggak mau. Kamu harus tetap jadi suami aku. Harus." Githa kembali berteriak. Sorot matanya tajam, giginya bergemeluk. Hendrik sampai bingung melihat perubahan mimik wajah Githa yang begitu tiba-tiba.
"Tha, tenanglah! Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Hendrik bicara dengan lembut untuk menenangkan Githa.
"Aku nggak mau cerai. Aku nggak mau cerai . Aku nggak mau. Aaaargh ... aku nggak mau ... " teriak Githa seperti kesetanan. Ia bahkan melemparkan apa saja yang ada di dekatnya membuat Hendrik makin terkejut dengan sikap Githa yang tak terkontrol.
"Tha, tenanglah!"
Hendrik berusaha menenangkan Githa dengan mencengkram tangannya erat, tapi Githa terus saja memberontak membuat Hendrik panik. Ia seperti melihat Githa yang berbeda dari Githa yang dikenalnya.
"Tuan, tuan, mohon tangan non Githa dipegang yang kuat ya, tuan! Kalau lagi kayak gini, non Githa harus disuntik pakai ini!" tiba-tiba art yang dibawa serta Githa dari rumahnya dahulu berlari dengan tergopoh-gopoh sambil membawa sebuah jarum suntik di tangannya. Hendrik sempat tercenung melihatnya. Tapi karena Githa terus mengamuk, Hendrik pun terpaksa mengangguk. Sepertinya ada sesuatu tentang Githa yang tidak ia ketahui.
Setelah mendapatkan suntikan, Githa pun berangsur tenang. Tak lama kemudian, matanya mulai sayu dan terpejam. Art itu pun mempersilahkan tuannya membawa Githa kembali ke kamarnya dan membaringkannya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...